Tips Memilih Makanan untuk Gastroparesis, Agar Perut Tak Terasa Penuh

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 18/04/2018
Bagikan sekarang

Sering merasa kembung, nyeri perut, serta mual dan muntah? Mungkin Anda mengalami gastroparesis. Gastroparesis adalah gangguan kesehatan yang menyebabkan lambatnya pengosongan lambung, sehingga menimbulkan berbagai gejala. Nah, bila hal ini terjadi tentu apapun aktivitas yang Anda lakukan jadi berantakan. Maka itu, untuk mengatasi dan mencegah kondisi ini, Anda dapat mengubah, memilih, serta mengatur makanan yang tepat. Lalu, bagaimana panduan makanan untuk gastroparesis?

Gastroparesis, perut kembung akibat lambung yang tak kunjung kosong

Gastroparesis adalah kondisi medis yang menyebabkan lambatnya pengosongan lambung. Ini terjadi karena gerakan normal otot perut yang seharusnya mendorong makanan melalui saluran pencernaan tidak berfungsi dengan benar atau pergerakannya melambat.

Gejala yang ditimbulkan pada pasien gastroparesis adalah kembung, rasa terbakar di dada, mual, muntah, dan nyeri perut. Tingkat keparahan penyakit ini bisa ringan hingga berat. Pada kondisi yang ringan akan sedikit menimbulkan gejala tapi pada kondisi berat akan menyebabkan komplikasi seperti malnutrisi, dehidrasi, dan kondisi gula darah yang tidak teratur.

Penyebab gangguan ini belum diketahui secara pasti, diduga ada hubungannnya dengan sinyal saraf yang terganggu di perut. Selain itu, beberapa kasus juga dihubungkan dengan kondisi ini seperti lupus, diabetes dan prosedur operasi bariatrik.

Aturan makan dan  memilih makanan untuk gastroparesis

Menurut International Foundation for Functional Gastrointestinal Disorders, penanganan untuk gastroparesis utamanya dilakukan dengan perubahan pola makan, dan diikuti dengan obat-obatan sebagai pilihan tambahannya.

Makan dalam porsi kecil

Dengan sedikitnya makanan yang masuk, ini akan membantu meringankan kerja perut untuk mengosongkan lambung. Porsi kecil ini juga dapat membantu mencegah terjadinya perut kembung pada orang dengan gastroparesis.

Karena porsi makanan harus kecil, maka orang dengan gastroparesis membutuhkan waktu makan sekitar 6 kali atau lebih dalam sehari untuk memenuhi kebutuhan gizinya.

Makanan harus dikunyah dengan sangat baik

Orang dengan gastroparesis harus mengunyah makanannya sampai benar-benar halus. Mereka tidak bisa sembarangan mengunyah seperti orang pada umumnya, yang hanya beberapa kali dikunyah langsung ditelan.

Ketika makanan yang masuk masih dalam bentuk yang besar karena kurang dikunyah, maka ini akan memperberat kerja organ pencernaan di dalam tubuh. Makanan yang tidak terurai dengan benar dalam perut akan semakin menyulitkan perpindahan makanan dari lambung ke dalam usus kecil.

Hindari berbaring selama dan setelah makan

Makan sambil berbaring bisa menunda pengosongan lambung. Bahkan, Anda harus menunggu hingga tiga jam setelah makan jika ingin berbaring, agar makanan bisa dicerna.

Sulitnya mengosongkan lambung saat berbaring disebabkan oleh adanya pengaruh dari gaya gravitasi. Berbaring saat atau setelah makan menyebabkan terjadinya refluks (naiknya) asam lambung ke mulut. Kondisi ini akan semakin memperberat orang dengan gastroparesis untuk mengosongkan lambungnya setelah makan.

Mengonsumsi suplemen harian

Kebanyakan orang dengan gastroparesis memiliki risiko besar mengalami kekurangan zat gizi. Oleh karena itu, beberapa orang dengan gastroparesis dianjurkan untuk mengonsumsi suplemen multivitamin dan multimineral setiap hari untuk mencegah kekurangan zat gizi, atau untuk menjaga kondisi kekurangan gizinya semakin memburuk.

Makanan berbentuk cair

Jika mengurangi ukuran makan tidak berfungsi, melunakan makanan juga masih menimbulkan gejala yang semakin parah, langkah selanjutnya lumatkan makanan dengan blender dan buat makanan tersebut hingga memiliki tekstur yang cair. Agar lebih mudah diterima tubuh dan mencegah terjadinya kekurangan zat gizi.

Orang dengan gastroparesis lebih mudah menolerir cairan dibandingkan makanan padat. Pengosongan cairan di perut berbeda caranya dengan pengosongan makanan padat di dalam perut sehingga lebih mudah diterima oleh penderita gastroparesis.

Makanan untuk gastroparesis yang harus dikonsumsi

Batasi makanan mengandung lemak tinggi

Makanan untuk gastroparesis yang kurang baik adalah makanan berlemak tinggi. Sebab, lemak dapat menunda pengosongan makanan di dalam lambung, sehingga makanan jenis ini perlu dibatasi. Namun bukan berarti dilarang mengonsumsi lemak, lemak tetap dibutuhkan oleh karena itu pilihlah makanan mengandung lemak sehat.

Cairan yang mengandung lemak seperti smoothie atau milkshake lebih mudah dicerna daripada lemak dalam makanan padat. Membatasi daging berlemak dan produk susu yang berlemak tinggi juga dapat membantu mengurangi keparahan gejalanya yang muncul.

Jalani diet rendah serat

Serat pada dasarnya dibutuhkan oleh tubuh. Namun, serat ini harus diperhatikan khususnya untuk orang dengan gastroparesis yang memiliki gangguan dalam pencernaan.

Serat menunda pengosongan lambung dan mengikat zat dan berkumpul membentuk formasi bernama benzoar, sehingga ini dapat menimbulkan penyumbatan di lambung orang dengan gastroparesis.

Oleh karena itu, sebaiknya hindari makanan dengan serat tinggi dan keras seperti:

  • Kacang-kacangan atau kacang kering (kacang panggang, kacang polong, lentil, kacang hitam, kacang merah, kacang kedelai, kacang gurbanzo, kacang navy)
  • Sereal gandum utuh
  • Buah-buahan (blackberry,clueberry, jeruk, strawbery, kiwi, apel)
  • Buah kering (aprikot, kurma, buah ara, plum, kismis)
  • Sayuran (brokoli)
  • Popcorn

Apakah saya harus ke dokter? Atau mengubah pola makan saja sudah cukup?

Ketika pemilihan makanan untuk gastroparesis sudah baik dan sesuai anjuran, tapi gejala tak kunjung mereda maka Anda harus memeriksakan diri ke dokter. Mungkin saat itu terjadi, tubuh Anda membutuhkan pengobatan khusus.

Pengobatan yang akan diberikan yakni, obat untuk mempercepat pengosongan perut dan obat-obatan untuk mengurangi mual serta muntah. Anda juga diminta untuk menghindari obat-obatan yang memberikan efek memperlambat pengosongan lambung dan memperparah gejala gastroparesis seperti, obat antasida, anticholinergic, dan narkotika.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Kenali Sirtfood Diet yang Bikin Berat Badan Adele Turun

Baru-baru ini masyarakat dikejutkan dengan foto Adele yang terlihat langsing di akun Instagramnya. Nyatanya, penyanyi terkenal ini menjalani sirtfood diet.

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi

Manfaat Masak Sendiri bagi Kesehatan Fisik dan Mental

Saat mengakhiri hari yang sibuk, makan di luar rasanya menjadi pilihan tercepat dan mudah, padahal masak makanan sendiri punya banyak manfaat lho.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu

Panduan Berpuasa Bagi Penderita Maag

Makan sekaligus dalam porsi besar baik saat berbuka maupun sahur, justru bisa memicu serangan maag kambuh. Simak berbagai tips berpuasa untuk penderita maag.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: dr. Angga Maulana
Hari Raya, Ramadan 30/04/2020

Vitamin Terbaik untuk Sistem Pencernaan Anak

Vitamin merupakan salah satu nutrisi yang penting untuk kesehatan sistem pencernaan anak. Lantas, jenis vitamin mana yang paling baik? Lihat di sini.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji

Direkomendasikan untuk Anda

karbohidrat untuk diet

7 Sumber Karbohidrat Terbaik untuk Anda yang Sedang Diet

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Dipublikasikan tanggal: 28/05/2020

Berbagai Manfaat Daun Kale, Si Hijau yang Kaya Zat Gizi

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 28/05/2020
cara menurunkan berat badan tanpa olahraga

10 Cara Mudah Turun Berat Badan Tanpa Olahraga

Ditulis oleh: Rizki Pratiwi
Dipublikasikan tanggal: 28/05/2020
makanan lebaran sehat

3 Rumus Menjalani Lebaran Sehat

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: dr. Maizan Khairun Nissa
Dipublikasikan tanggal: 21/05/2020