Panduan Memilih Makanan Bagi Pasien Cuci Darah

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 28 September 2020 . Waktu baca 3 menit
Bagikan sekarang

Seseorang yang mengalami kerusakan ginjal parah seringnya dianjurkan untuk melakukan cuci darah (dialisis). Hal ini dilakukan sebagai upaya menggantikan fungsi ginjal yang sudah tidak berfungsi dengan normal. Saat melakukan prosedur ini, dokter Anda mungkin akan meminta setiap pasiennya untuk mengikuti pola makan khusus selama melakukan tindakan cuci darah. Pasalnya, mengonsumsi makanan dan minuman yang tepat dapat membantu meningkatkan kesehatan pasien yang harus melakukan prosedur cuci darah. Lantas, seperti apa pola makan terbaik bagi pasien cuci darah? Cari tahu jawabannya dalam artikel ini.

Pola makan bagi pasien cuci darah

1. Cukupi kebutuhan protein

Pasien cuci darah umumnya membutuhkan asupan protein yang tinggi karena banyak protein yang hilang saat proses cuci darah berlangsung. Meskipun kebanyakan pasien cuci darah dianjurkan untuk mengonsumsi protein berkualitas tinggi, Anda tetap harus memperhatikan jumlah dan jenis protein yang dikonsumsi

Pasalnya, konsumsi protein yang terlalu tinggi bisa mengakibatkan naiknya jumlah urea dalam darah yang justru akan membebani ginjal yang sudah lemah.

Itu sebabnya, konsultasikan ke dokter atau ahli gizi terlebih dulu supaya Anda tahu seberapa banyak protein yang bisa dikonsumsi sesuai dengan kebutuhan Anda.

2. Perhatikan asupan cairan

Fungsi ginjal yang terganggu berdampak pada kemampuan ginjal dalam menyingkirkan kelebihan cairan dalam tubuh. Itu sebabnya, penting bagi orang yang mengalami kerusakan ginjal untuk memerhatikan asupan cairannya.

Nah, bagi pasien cuci darah, dokter atau ahli gizi Anda biasanya akan menentukan seberapa banyak cairan yang bisa Anda konsumsi setiap hari. Ini dilakukan karena kelebihan cairan dalam tubuh dapat meningkatkan tekanan darah, membuat jantung bekerja lebih keras, dan meningkatkan stres selama cuci darah.

Ingat, asupan cairan ini tidak hanya sebatas air mineral atau air putih saja. Anda pun harus membatasi asupan cairan dari buah dan sayur yang mengandung banyak air.

3. Batasi garam

Asupan garam yang berlebih bagi orang yang memiliki kerusakan ginjal kronis bisa membuat Anda lebih cepat haus, membuat jantung bekerja lebih keras untuk memompa cairan, serta menyebabkan tekanan darah tinggi dan gagal jantung kongestif.

Itu sebabnya, penting bagi Anda untuk membatasi asupan makanan yang tinggi garam atau bahkan hindari garam sama sekali pada makanan Anda.

Beberapa jenis makanan tinggi garam yang harus Anda hindari seperti daging kalengan, keripik asin, mie instan, dan makanan cepat saji. Sebaliknya, tingkatkan asupan sayur yang kadar garamnya rendah seperti kubis, timun, dan terong.

4. Konsumsi fosfor secukupnya saja

Asupan fosfor dibutuhkan tubuh untuk membantu ginjal dalam menyaring zat sisa yang sudah dibutuhkan lagi oleh tubuh. Sayangnya, terlalu banyak mengonsumsi makanan yang tinggi fosfor justru akan memperparah kerusakan ginjal. Itu sebabnya, kebanyakan dokter umumnya menganjurkan pasien untuk membatasi konsumsi fosfor agar tidak memberatkan kerja ginjal yang semakin lemah.

Beberapa makanan tinggi fosfor yang harus Anda hindari seperti susu dan produk olahan susu, sarden, minuman bersoda, dan bir.

Pada dasarnya, untuk memastikan apa saja asupan makanan terbaik bagi pasien cuci darah, sebaiknya Anda berkonsultasi ke dokter atau ahli gizi. Pasalnya, berbagai asupan makanan yang sudah disebutkan di atas akan disesuaikan dengan kebutuhan kalori, berat badan, dan kondisi Anda.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

    Apakah artikel ini membantu Anda?
    happy unhappy"
    Sumber

    Yang juga perlu Anda baca

    Tertarik untuk Donor Ginjal? Simak Baik-Baik Prosedur dan Syaratnya

    Tidak sembarang orang bisa mendonorkan ginjalnya untuk yang membutuhkan. Apa saja syarat donor ginjal dan bolehkah seorang perokok melakukannya?

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Ajeng Quamila
    Urologi, Ginjal 15 September 2020 . Waktu baca 7 menit

    Diet Gagal Ginjal: Seberapa Penting dan Bagaimana Caranya?

    Selain menjalani perawatan, pasien gagal ginjal ternyata juga perlu melakukan diet khusus. Apa saja hal yang perlu dipersiapkan?

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Risky Candra Swari
    Urologi, Ginjal 31 Agustus 2020 . Waktu baca 9 menit

    Untuk Apa Cuci Darah, dan Siapa yang Harus Rutin Cuci Darah?

    Mendengar istilah cuci darah dapat membuat bulu kuduk merinding. Tapi satu hal yang pasti, prosedur medis ini bertujuan untuk menyelamatkan nyawa.

    Ditulis oleh: Priscila Stevanni
    Hidup Sehat, Tips Sehat 28 Agustus 2020 . Waktu baca 4 menit

    Anuria (Kencing Tidak Keluar): Penyebab, Pengobatan, dll.

    Anuria adalah kondisi di mana air kencing atau urine tidak bisa keluar. Umumnya, penyebab anuria itu gangguan ginjal. Apakah kondisi ini berbahaya?

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Nabila Azmi
    Urologi, Ginjal 27 Agustus 2020 . Waktu baca 7 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    ensefalopati uremikum

    Ensefalopati Uremikum, Komplikasi Gangguan Ginjal yang Menyerang Otak

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Nabila Azmi
    Dipublikasikan tanggal: 25 September 2020 . Waktu baca 4 menit
    hemodialisis

    Hemodialisis, Prosedur Cuci Darah untuk Penyakit Gagal Ginjal

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
    Dipublikasikan tanggal: 21 September 2020 . Waktu baca 11 menit
    penyakit ginjal adalah

    Penyakit Ginjal

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Risky Candra Swari
    Dipublikasikan tanggal: 16 September 2020 . Waktu baca 12 menit
    transplantasi ginjal

    Transplantasi Ginjal

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
    Dipublikasikan tanggal: 15 September 2020 . Waktu baca 11 menit