Retensi, Ketika Cairan yang Harusnya Dibuang Malah Menumpuk Dalam Tubuh

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 17/03/2019
Bagikan sekarang

Kira-kira 70% tubuh manusia terdiri dari air. Namun, sediaan cairan ini akan terus menerus silih diganti agar tidak menumpuk berlebihan dalam tubuh. Nah ketika tubuh gagal mengeluarkan kelebihan cairannya, terjadilah retensi. Retensi adalah gangguan yang bisa terjadi secara tiba-tiba atau berkembang perlahan dalam jangka waktu lama. Jika tidak segera ditangani dengan pengobatan yang tepat, retensi bisa menyebabkan berbagai komplikasi serius.

Retensi adalah masalah cairan tubuh

Retensi adalah kondisi kelebihan cairan atau zat-zat tertentu yang seharusnya dikeluarkan oleh tubuh. Retensi cairan dan retensi urin adalah dua kondisi yang paling sering dialami oleh banyak orang.

Retensi cairan

Retensi air terjadi ketika kelebihan cairan menumpuk di dalam tubuh. Kondisi ini juga dikenal sebagai edema. Penumpukan cairan biasa terjadi dalam sistem peredaran darah atau di dalam jaringan dan rongga tubuh.

Ini bisa menyebabkan pembengkakan di tangan, kaki, pergelangan kaki, dan wajah. Penumpukan cairan juga dapat menaikkan berat badan air dan menyebabkan kulit Anda mengeriput seperti ketika terlalu lama berendam di dalam air.

Ada banyak faktor yang dapat menyebabkan kondisi ini, beberapa di antaranya meliputi:

  • Berdiri atau duduk terlalu lama
  • Siklus menstruasi dan perubahan hormon
  • Terlalu banyak mengonsumsi garam/natrium
  • Mengonsumsi obat-obatan tertentu, seperti kemoterapi, obat penghilang rasa sakit, obat tekanan darah, dan antidepresan
  • Kondisi tertentu, seperti lemah jantung, deep vein thrombosis, dan hamil

Retensi urin

Retensi urin adalah gangguan pada kandung kemih yang menyebabkan Anda kesulitan untuk buang air kecil. Retensi urin dibagi menjadi dua jenis, yaitu:

  • Retensi urin akut, terjadi secara tiba-tiba dalam waktu singkat. Gejala yang paling sering dikeluhkan adalah kesulitan mengeluarkan urin meski Anda sudah sangat ingin buang air kecil. Akibatnya rasa nyeri dan tidak nyaman di bagian bawah perut.
  • Retensi urin kronis. Retensi urin kronis terjadi dalam jangka waktu yang lama. Kondisi ini terjadi ketika Anda ingin buang air kecil, namun kandung kemih Anda tidak dapat dikosongkan secara maksimal. Alhasil, orang dengan kondisi ini sering mengalami buang air kecil yang tidak tuntas. Orang awam sering mengartikannya sebagai anyang-anyangan. Anda mungkin akan merasa ingin selalu buang air kecil meski baru saja melakukannya.

Retensi urin bisa disebabkan oleh banyak hal. Salah satu yang paling sering terjadi karena adanya penyumbatan uretra, alias saluran kemih.

Penyumbatan ini bisa terjadi akibat kelenjar prostat yang membesar, striktur uretra, adanya benda asing di saluran kemih, atau peradangan uretra yang parah. Gangguan sistem saraf yang ada di saluran kemih dan penggunaan obat-obatan tertentu juga bisa jadi penyebab retensi urin.

Bagaimana cara mengatasi kondisi ini?

Dalam banyak kasus, pengobatan retensi cairan lebih mudah ketimbang retensi urin. Pasalnya, kondisi ini bisa diatasi dengan perawatan rumahan yang sederhana. Beberapa perawatan rumahan yang bisa dilakukan untuk mengatasi retensi cairan adalah:

  • Menghindari makanan dengan kandungan garam tinggi karena garam dapat mengikat air yang ada di dalam tubuh.
  • Mengonsumsi makanan yang mengandung vitamin B6 seperti beras merah dan daging merah.
  • Mengonsumsi makanan tinggi kalium seperti pisang dan tomat.
  • Minum obat diuretik (pil air). Namun, pastikan Anda berkonsultasi terlebih dahulu ke dokter sebelum minum obat ini. Tidak semua orang dengan retensi cairan membutuhkan obat diuretik.

Sementara dalam kasus retensi urin, beberapa pilihan pengobatan yang biasa dilakukan oleh dokter untuk retensi adalah:

  • Obat-obatan tertentu. Dokter mungkin akan meresepkan obat-obatan tertentu tergantung penyebab dari retensi urin itu sendiri. Konsultasi ke dokter sebelum Anda mengonsumsi obat-obatan tersebut.
  • Kateterisasi kandung kemih. Prosedur ini dilakukan dengan memasukkan alat berupa selang kecil tipis ke dalam saluran kencing. Maka, urin Anda dapat keluar dengan mudah. Kateterisasi adalah prosedur tercepat dan termudah untuk menobati retensi urin.
  • Pemasangan stent. Stent, atau tabung kecil bisa dimasukkan ke dalam saluran kemih untuk mempermudah urin keluar dari tubuh. Stenda dapat dipasang secara sementara atau permanen supaya uretra Anda tetap dalam keadaan terbuka.
  • Operasi. Jika berbagai cara yang sudah disebutkan di atas tidak juga bisa meredakan gejala, operasi bisa jadi pilihan terbaik. Dokter spesialis urologi bisa melakukan prosedur transurenthal, urethrotomy, ataupun laparoskopi.

Komplikasi yang perlu diwaspadai

Entah itu retensi cairan maupun retensi urin, keduanya sama-sama bisa menyebabkan komplikasi serius jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat.

Retensi cairan

Retensi cairan dapat menjadi salah satu gejala gagal jantung dan gagal ginjal. Pada kedua penyakit tersebut, penumpukan cairan dapat menumpuk di berbagai organ, termasuk di paru-paru (edema paru). Ketika kondisi ini terjadi, maka Anda akan merasakan sesak napas. Pada kasus gagal ginjal, tekanan darah pun dapat meningkat.

Retensi urin

Beberapa komplikasi yang mungkin terjadi akibat retensi urin adalah:

  • Infeksi saluran kencing. Infeksi saluran kencing atau ISK adalah infeksi yang terjadi jika terdapat bakteri pada organ saluran kencing. Retensi urin menyebabkan aliran urin menjadi tidak normal, sehingga memungkinkan bakteri menginfeksi saluran kemih Anda.
  • Kerusakan ginjal. Pada beberapa orang, retensi urin menyebabkan urin mengalir mundur ke ginjal. Nah, aliran balik ini, yang disebut refluks, dapat merusak atau melukai ginjal penderitanya.
  • Kerusakan kandung kemih. Otot-otot di otot sekitar kandung kemih bisa rusak secara permanen dan kehilangan kemampuan untuk berkontraksi akibat tekanan berlebih.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

7 Penyebab Leher Bengkak yang Tak Boleh Diremehkan

Leher bengkak seringkali membuat Anda merasa terganggu. Lalu, apa saja penyebab bengkak di leher? Temukan 6 penyebabnya di artikel Hello Sehat berikut ini.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari

5 Kondisi yang Jadi Penyebab Edema, dari yang Umum Sampai Perlu Diwaspadai

Edema menyebabkan beberapa bagian tubuh mengalami pembengkakan karena dipenuhi oleh cairan. Simak penyebab edema yang perlu Anda waspadai disini!

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri

Selain di Kaki, Edema (Pembengkakan) Bisa Terjadi di Bagian Tubuh Apa Saja?

Edema atau pembengkakan tak hanya terjadi pada ibu hamil. Faktanya, ada jenis-jenis edema yang mungkin belum banyak diketahui, misalnya di paru dan otak.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini

5 Penyebab Mengapa Tangan Tiba-tiba Membengkak di Pagi Hari

Bukannya merasa segar ketika bangun tidur di pagi, Anda malah mengalami pembengkakan pada tangan. Sebenarnya, apa penyebab tangan bengkak di pagi hari ini?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri

Direkomendasikan untuk Anda

edema makula diabetik

Edema Makula Diabetik, Komplikasi Diabetes yang Bisa Sebabkan Kebutaan

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 13/02/2020
payudara bengkak saat menyusui

Normalkah Jika Payudara Bengkak Saat Menyusui?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 18/10/2019
sindrom angioedema

Mengenal Sindrom Angioedema, Pembengkakan Pada Kaki Hingga Organ Intim

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 11/08/2019
bangun tidur bibir bengkak

4 Penyebab Bibir Bengkak Saat Bangun di Pagi Hari (Plus Cara Tepat Mengatasinya)

Ditinjau secara medis oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 15/06/2019