Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Waspadai Kekurangan Gizi, Apa Bedanya dengan Malnutrisi?

Waspadai Kekurangan Gizi, Apa Bedanya dengan Malnutrisi?

Tubuh membutuhkan makanan untuk bisa menjalankan fungsi normalnya. Kekurangan energi dan zat gizi dari makanan tidak hanya dapat mengganggu fungsi tubuh, tapi juga meningkatkan risiko berbagai penyakit.

Apa itu kekurangan gizi?

Kekurangan gizi, atau undernutrition, adalah istilah untuk menggambarkan kurangnya asupan energi (kalori) dan zat gizi penting yang dibutuhkan seseorang untuk menjaga kesehatannya.

Istilah kekurangan gizi sering kali dikaitkan dengan malnutrisi. Namun, malnutrisi sendiri merupakan masalah kesehatan serius yang terjadi akibat asupan gizi yang tidak seimbang.

Baik kekurangan maupun kelebihan gizi sama-sama tergolong sebagai malnutrisi.

Kurangnya asupan gizi menyebabkan berat badan rendah (underweight atau kurus), sedangkan kelebihan gizi merupakan penyebab overweight dan obesitas.

Kedua kondisi malnutrisi tersebut sama-sama dapat mengakibatkan berbagai masalah kesehatan.

Jenis-jenis kekurangan gizi

wanita terlalu kurus sulit hamil

Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), ada empat bentuk umum kekurangan gizi, yaitu wasting, stunting, underweight, serta kekurangan vitamin dan mineral.

Kondisi tubuh yang kurang gizi membuat anak-anak lebih rentan terhadap penyakit dan kematian. Berikut perbedaan antara keempat jenisnya.

1. Wasting

Jika seorang anak memiliki berat badan yang rendah dibandingkan tinggi badannya (tinggi tapi kurus), ia dikatakan mengalami wasting.

Kondisi ini biasanya menandakan penurunan berat badan dalam jumlah besar dan waktu yang cepat (bersifat akut).

Seseorang dapat mengalami wasting setelah tidak makan dalam waktu lama dan/atau mengalami penyakit infeksi, misalnya diare.

Anak-anak yang mengalami wasting parah lebih berisiko mengalami kematian, tapi ada beberapa metode untuk menanganinya.

2. Stunting

Kekurangan gizi juga bisa menyebabkan stunting, yaitu tinggi badan anak lebih pendek dibandingkan tinggi badan anak-anak seusianya.

Kondisi ini biasanya berkaitan dengan kurangnya asupan gizi dalam jangka panjang dan penyakit yang muncul berulang.

Ada pula faktor kurangnya asupan gizi ibu selama hamil, kondisi sosioekonomi yang tidak memadai, dan asupan makanan yang tidak seimbang selama masa balita.

Tanpa penanganan, stunting bisa menghambat perkembangan fisik dan mental anak.

3. Underweight

Anak-anak dengan berat badan yang rendah pada usia rata-ratanya disebut mengalami underweight.

Mereka juga dapat mengalami stunting, wasting, atau keduanya. Dalam jangka panjang, kondisi ini juga bisa meningkatkan risiko penyakit.

Pada orang dewasa, underweight akibat kekurangan gizi ditandai dengan indeks massa tubuh (IMT) kurang dari 18,5.

Penyebabnya cukup beragam, seperti masalah pada metabolisme dan pencernaan, gangguan makan, dan olahraga yang berlebihan.

4. Kekurangan zat gizi mikro

Beberapa orang mungkin mendapatkan asupan zat gizi mikro yang cukup dari makanan sehari-hari.

Zat gizi mikro merupakan zat gizi yang tubuh butuhkan dalam jumlah kecil, yaitu vitamin dan mineral.

Meski kebutuhannya kecil, kekurangan vitamin dan mineral bisa menyebabkan banyak masalah kesehatan.

Kekurangan vitamin D dan kalsium bisa menyebabkan osteoporosis. Begitu pun kekurangan zat besi dapat menyebabkan anemia.

Gejala kekurangan gizi

penderita anoreksia

Gejala kekurangan gizi dapat berbeda-beda pada tiap individu, tergantung asupan zat gizi apa yang kurang.

Namun, ciri utama dari kondisi ini ialah penurunan berat badan secara drastis, tepatnya 5-10% berat badan dalam 3-6 bulan.

Jika seseorang kurang mendapatkan asupan energi dan zat gizi selama satu bulan, ia akan kehilangan sekitar seperempat bobot tubuhnya.

Apabila hal ini terus berlanjut, ia bisa kehilangan sekitar setengah dari total berat badan awal.

Penurunan berat badan secara ekstrem biasanya juga disertai dengan perubahan lain, seperti:

  • kulit menjadi lebih tipis, kering, atau pucat,
  • pipi dan mata tampak cekung, dan
  • rambut menjadi kering dan mudah rontok.

Selain itu, orang yang kekurangan gizi lebih sering kedinginan, tidak nafsu makan, mudah marah, dan rentan terkena penyakit.

Begitu sakit, ia membutuhkan waktu lebih lama untuk pulih dan kembali bugar.

Kekurangan energi juga membuat Anda gampang lesu dan tidak mampu melakukan aktivitas sehari-hari dengan baik.

Pada wanita, siklus menstruasi mungkin menjadi tidak teratur atau berhenti sama sekali.

Penyebab kekurangan gizi

efek penyakit crohn

Berikut beberapa faktor yang dapat mengurangi asupan kalori dan gizi seseorang.

1. Kondisi medis tertentu

Ada sejumlah kondisi medis yang bisa menyebabkan kurangnya asupan gizi. Kondisi ini membuat Anda enggan makan atau tidak mampu makan karena keterbatasan tertentu.

Berikut beberapa contoh kondisi medis yang bisa menyebabkan tubuh kekurangan gizi.

  • Penyakit yang mengganggu pencernaan, menyebabkan mual, atau menurunkan nafsu makan, seperti kanker, penyakit hati, dan diare kronis.
  • Kondisi yang mengganggu proses pencernaan atau penyerapan gizi, misalnya penyakit Crohn atau ulseratif kolitis.
  • Gangguan kejiwaan atau gangguan makan yang memengaruhi keinginan untuk makan, seperti depresi atau anoreksia.
  • Demensia atau kepikunan yang membuat seseorang lupa makan.

2. Faktor psikis dan sosial

Kekurangan gizi juga dapat berawal dari faktor-faktor psikis dan sosial sebagai berikut.

  • Keterbatasan fisik yang menyebabkan kesulitan untuk bergerak, memasak, atau makan.
  • Masalah dengan gigi, misalnya gigi palsu yang tidak cocok sehingga membuat makan menjadi sulit atau menyakitkan.
  • Kurangnya pengetahuan tentang makanan bergizi seimbang.
  • Penghasilan yang rendah atau kemiskinan.

3. Konsumsi obat-obatan tertentu

Beberapa jenis obat bisa meningkatkan risiko kekurangan gizi. Obat-obatan ini biasanya memiliki efek samping yang mengganggu proses penyerapan gizi dari makanan.

Menurut sebuah penelitian dalam Journal of Aging Science, berikut beberapa jenis obat yang bisa meningkatkan risiko malnutrisi.

  • Obat NSAID, kortikosteroid, dan bifosfonat dapat menyebabkan kerusakan pada lapisan lambung dan usus.
  • Opioid, obat antikanker, dan digoxin menyebabkan mual dan muntah.
  • Obat hipertensi tertentu mengganggu indera pengecapan sehingga mengurangi nafsu makan.
  • Beberapa obat antikolinergik mengurangi produksi liur sehingga menyebabkan kesulitan menelan.

Pengobatan untuk kekurangan gizi

kekurangan gizi

Pengobatan setiap orang mungkin berbeda-beda, tergantung kesehatan dan seberapa parah kondisi yang dialami.

Langkah-langkah pertama dalam mengatasi kondisi kekurangan gizi biasanya meliputi pemberian:

Beberapa orang mungkin memiliki kondisi medis yang membuatnya tidak bisa mengonsumsi makanan padat.

Pada kasus tersebut, dokter dapat menyarankan penggunaan tabung makan (feeding tube) untuk menyalurkan makanan secara langsung ke lambung.

Jika pasien tidak dapat menggunakan feeding tube, dokter bisa memberikan makanan melalui pembuluh darah yang dikenal sebagai nutrisi parenteral.

Pemberian makanan lewat jalur apa pun harus dilakukan perlahan untuk mencegah refeeding syndrome.

Kekurangan gizi merupakan masalah kesehatan serius yang disebabkan oleh banyak faktor.

Perawatan yang menyeluruh dapat membantu pemulihan pasien dan mencegah komplikasi lebih lanjut.

Verifying...
health-tool-icon

Kalkulator Kebutuhan Kalori

Gunakan kalkulator ini untuk menentukan berapa kebutuhan kalori harian Anda berdasarkan tinggi, berat badan, usia, dan aktivitas sehari-hari.

Laki-laki

Wanita

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Fact sheets – Malnutrition. (2021). Retrieved 27 October 2021, from https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/malnutrition

Malnutrition. (2017). Retrieved 27 October 2021, from https://www.nhs.uk/conditions/malnutrition/

Malnutrition – Causes . (2017). Retrieved 27 October 2021, from https://www.nhs.uk/conditions/malnutrition/causes/

Underweight | Office on Women’s Health. (2021). Retrieved 27 October 2021, from https://www.womenshealth.gov/healthy-weight/underweight

Kose, E. and Yasuno, N. (2020). Drug-Induced Nutrient Deficiencies Among Older Adults. Journal of Aging Science, 8(3). p:1-3. DOI: 10.35248/2329-8847.20.08.235.

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Diah Ayu Lestari Diperbarui Nov 03, 2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan