Penelitian Menemukan Insomnia Bisa Menurun dalam Keluarga, Ini Penjelasannya

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Patricia Lukas Goentoro

Ada banyak faktor yang bisa memicu insomnia. Faktor luar dapat berupa konsumsi kafein dan alkohol, lingkungan kamar yang tidak mendukung, hingga jet lag. Sementara faktor internal biasanya berasal dari stres dan gangguan psikologis. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa insomnia bisa jadi merupakan penyakit keturunan.

Faktanya, terdapat gen-gen tertentu yang memengaruhi kualitas tidur Anda. Gen-gen ini dapat berdampak langsung terhadap siklus tidur atau memicu gangguan psikologis yang ditandai dengan gejala berupa insomnia.

Insomnia bersifat keturunan pada beberapa orang

penyebab mati muda

Jika seorang anggota keluarga Anda mengalami insomnia, Anda berkemungkinan mengalami kondisi yang sama.

Risikonya bahkan bisa meningkat hingga 30 persen, sebagaimana dilansir dari penelitian dalam jurnal Nature Reviews Disease Primers.

Pada penelitian lain dalam jurnal Sleep , faktor genetik diketahui memicu insomnia dengan membuat Anda sering terbangun pada malam hari.

Studi tersebut juga menemukan bahwa wanita lebih rentan mewarisi gejala insomnia dibandingkan pria. Beragam temuan ini menunjukkan bahwa insomnia memang memiliki karakteristik seperti penyakit keturunan.

Meski begitu, berbagai penelitian tersebut tidak secara spesifik menerangkan hubungan antara kondisi genetik seseorang dengan gejala insomnia.

Pasalnya, gen yang memicu insomnia pada seseorang tidak hanya ada satu, melainkan ratusan.

Hal ini ditemukan dalam kumpulan data yang melibatkan lebih dari 1,3 juta orang di Inggris. Data tersebut adalah hasil penelitian terhadap set DNA lengkap responden.

Hasilnya, terdapat 202 jenis lokus gen dan 956 jenis gen yang selalu ditemukan pada penderita insomnia. Lokus gen adalah posisi suatu gen dalam kromosom seseorang.

Jika letaknya salah, efeknya adalah kelainan, penyakit, atau dalam kasus ini, insomnia. Oleh karena itu, insomnia bisa dikatakan sebagai salah satu penyakit keturunan.

Kromosom

Insomnia kerap dikatakan sebagai penyakit keturunan karena kesalahan pada gen-gen tersebut dapat diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Kesalahan pada gen inilah yang akhirnya menimbulkan gangguan pada tiga jenis sel, yakni:

  • Sel striatal, sel-sel ini mengatur banyak fungsi otak, termasuk motivasi, gerak motorik, kemampuan belajar, dan ingatan.
  • Sel hippocampus, hippocampus adalah bagian otak yang mengatur kemampuan belajar, pemahaman, ingatan, dan perilaku.
  • Claustrum, claustrum adalah lapisan tipis materi kelabu pada otak. Fungsinya adalah menghubungkan dan menyampaikan sinyal antara beberapa bagian otak.

Insomnia bisa timbul akibat gangguan psikologis yang diwariskan

insomnia penyakit keturunan

Insomnia juga merupakan gejala dari berbagai gangguan psikologis. Misalnya saja gangguan kecemasan, depresi, ADHD, gangguan bipolar, skizofrenia, dan lain sebagainya.

Pada beberapa orang, insomnia juga bisa timbul akibat stres berat dan berkepanjangan.

Kondisi yang bersifat keturunan dari keluarga terkadang bukanlah insomnia itu sendiri, melainkan penyakit mental yang menjadi pemicunya.

Autisme, ADHD, gangguan bipolar, depresi, dan skizofrenia hanyalah segelintir contoh gangguan psikologis yang bersifat menurun.

Berdasarkan penelitian dalam laman National Institutes of Health, kelainan pada gen CACNA1C akan mengganggu fungsi otak yang mengatur emosi, pikiran, perhatian, dan ingatan.

Inilah yang menjadi cikal-bakal gangguan bipolar, skizofrenia, dan depresi.

Kondisi yang sama dapat terjadi pada seseorang yang mewarisi kelainan pada gen CACNB2.

Kelainan pada gen ini akan menghambat jalur sinyal otak dan akhirnya menimbulkan gangguan psikologis tertentu.

Walaupun bukan merupakan penyakit yang sesungguhnya, insomnia memang dapat bersifat keturunan.

Kondisi ini kerap dianggap sebagai penyakit karena sering muncul bersamaan dengan beragam gangguan psikologis.

Apabila anggota keluarga Anda mengalami insomnia, langkah terbaik yang bisa Anda lakukan untuk menurunkan risikonya adalah membangun kebiasaan tidur yang baik.

Dengan demikian, Anda dapat mempertahankan siklus tidur yang normal dan terhindar dari gangguan ini.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca