backup og meta
Kategori
Cek Kondisi

34

Tanya Dokter
Simpan

Ada Darah pada Cairan Keputihan, Apakah Ini Normal?

Ditinjau secara medis oleh dr. Carla Pramudita Susanto · General Practitioner · Klinik Laboratorium Pramita


Ditulis oleh Ihda Fadila · Tanggal diperbarui 20/05/2022

    Ada Darah pada Cairan Keputihan, Apakah Ini Normal?

    Pada dasarnya, keputihan merupakan bagian dari proses alami tubuh untuk membersihkan dan melindungi vagina dari infeksi. Namun, jika keputihan yang keluar dari vagina tak biasa atau bercampur darah, ini bisa menjadi tanda adanya masalah kesehatan wanita tertentu.

    Ada berbagai faktor yang bisa menyebabkan terjadinya keputihan yang berdarah ini. Apa saja? Ketahui faktanya melalui ulasan berikut.

    Normal atau tidak bila keputihan bercampur darah?

    Keputihan yang normal umumnya berwarna bening atau putih dengan tekstur yang lengket, kental, atau encer dan basah.

    Warna dan tekstur tersebut bisa berubah-ubah sepanjang siklus menstruasi dan sering kali lebih kental dan banyak saat Anda berovulasi.

    Lalu, bagaimana bila cairan keputihan bersama dengan darah? Keputihan yang berdarah bisa terjadi karena berbagai penyebab.

    Pada beberapa kasus, keputihan yang berwarna merah atau kecokelatan karena darah atau bening tapi tercampur dengan sedikit darah bukanlah kondisi yang berbahaya.

    Namun, masalah yang lebih serius juga bisa menjadi penyebab dari kondisi ini. Pada kondisi ini, penanganan medis dari dokter sangat diperlukan.

    Berbagai penyebab keputihan bercampur darah

    Agar Anda lebih waspada, berikut adalah berbagai penyebab keputihan bercampur darah yang perlu Anda pahami dan waspadai.

    1. Menstruasi

    haid tidak teratur setelah melahirkan

    Terkadang, keputihan yang berdarah juga terkait dengan siklus menstruasi Anda.

    Ini bisa menjadi tanda bahwa Anda sedang berovulasi atau waktu menstruasi Anda akan dimulai.

    Hal ini sangat normal terjadi selama berada pada waktu menstruasi normal Anda, sehingga tak perlu Anda khawatirkan.

    2. Kehamilan

    Keputihan yang bercampur dengan sedikit darah juga bisa menjadi tanda dari kehamilan.

    Kondisi ini disebut juga dengan implantasi, yaitu ketika sel telur yang telah dibuahi menempel pada lapisan rahim.

    Keluarnya darah akibat implantasi juga umumnya terjadi sekitar periode menstruasi Anda. Namun, darah yang keluar umumnya lebih ringan.

    3. Penggunaan KB hormonal

    Penggunaan alat kontrasepsi hormonal juga dapat menyebabkan bercak darah dari vagina, sehingga sering bercampur dengan keputihan Anda.

    Ini termasuk penggunaan kontrasepsi hormonal yang berbentuk pil, KB suntik, hingga intrauterine device (IUD) atau KB spiral.

    Umumnya, keputihan yang bercampur dengan sedikit darah ini akan menghilang dengan sendirinya dalam beberapa bulan.

    4. Penyakit tiroid

    Keputihan yang disertai darah juga bisa terjadi akibat penyakit tiroid, terutama hipotiroidisme yang terjadi ketika kelenjar tiroid kurang aktif.

    Pasalnya, penyakit tiroid dapat menyebabkan ketidakseimbangan kadar hormon wanita.

    Hal ini dapat mengganggu siklus menstruasi, ovulasi, serta dapat menyebabkan keluarnya darah vagina di antara periode haid Anda.

    5. Infeksi pada sistem reproduksi

    penyebab vagina hitam

    Berbagai penyakit infeksi terkait sistem reproduksi wanita juga bisa menyebabkan perdarahan, bercak darah, atau keputihan bercampur darah.

    Infeksi yang dimaksud termasuk beberapa penyakit berikut.

    Kondisi-kondisi di atas umumnya memerlukan penanganan medis, sehingga Anda perlu berkonsultasi kepada dokter untuk mengatasinya.

    6. PCOS

    Sindrom ovarium polikistik (PCOS) adalah kondisi yang menyebabkan penderitanya memiliki banyak kista kecil pada indung telur atau ovarium.

    Ini terjadi ketika ovarium memproduksi hormon androgen (hormon pria) secara berlebih pada wanita.

    Nah, wanita dengan PCOS juga bisa mengalami keputihan yang berdarah karena gangguan hormon yang dialaminya.

    7. Fibroid rahim

    Fibroid rahim atau miom adalah tumor nonkanker yang tumbuh di rahim wanita.

    Penyakit ini sering tak disadari karena umumnya tak menimbulkan gejala apapun.

    Meski begitu, miom yang besar dapat menimbulkan gejala, termasuk bercak darah yang bukan menstruasi dan mungkin bisa bercampur dengan keputihan Anda.

    8. Komplikasi kehamilan

    Cara Mengatasi Sakit Perut Bagian Bawah Saat Hamil Tua

    Jika keputihan yang disertai dengan perdarahan muncul saat hamil, ini bisa menjadi tanda dari suatu komplikasi kehamilan.

    Misalnya, keguguran, persalinan prematur, infeksi selama kehamilan, atau kelainan plasenta.

    Oleh karena itu, bila gejala ini terjadi saat hamil, sebaiknya Anda segera memeriksakan diri ke dokter untuk keselamatan Anda dan bayi Anda.

    9. Endometriosis

    Periksakan diri ke dokter jika keputihan bercampur darah sering terjadi dan tak terkait dengan siklus menstruasi Anda.

    Apalagi, jika rasa nyeri dan kram pada bagian panggul juga sering muncul saat Anda menstruasi atau ketika berhubungan seksual.

    Pasalnya, kondisi ini bisa saja menjadi tanda dari endometriosis yang terjadi ketika lapisan rahim (endometrium) tumbuh di luar rahim.

    10. Kanker

    Keputihan bercampur dengan sedikit atau banyak darah tak boleh disepelekan, terutama jika sudah terjadi terlalu sering.

    Pasalnya, kondisi ini juga bisa saja menjadi tanda dari penyakit kanker, termasuk kanker rahim dan kanker serviks.

    Periksakan diri Anda ke dokter jika Anda mencurigai keputihan yang berdarah terjadi akibat kondisi medis yang serius seperti di atas.

    Kesimpulan

    Normalnya, ciri-ciri keputihan normal seharusnya tidak bercampur darah. Meski dalam beberapa kasus adanya sedikit darah di keputihan bukan hal yang membahayakan, pada kondisi lain hal ini dapat menandakan ada masalah pada kesehatan Anda. Jika frekuensi keputihan bercampur darah ini terbilang sering muncul, jangan tunda untuk berkonsultasi lebih lanjut dengan dokter.

    Catatan

    Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Ditinjau secara medis oleh

    dr. Carla Pramudita Susanto

    General Practitioner · Klinik Laboratorium Pramita


    Ditulis oleh Ihda Fadila · Tanggal diperbarui 20/05/2022

    advertisement iconIklan

    Apakah artikel ini membantu?

    advertisement iconIklan
    advertisement iconIklan