home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

7 Langkah Mencegah Keputihan

7 Langkah Mencegah Keputihan

Sebanyak 75% wanita di dunia pernah mengalami keputihan setidaknya satu kali dalam hidupnya. Dan, 45% dari angka tersebut mengalami keputihan sebanyak dua kali, bahkan lebih. Wanita lebih berisiko terkena keputihan jika sedang mengalami stress, kurang istirahat, tidak melakukan pola hidup sehat, makan sembarangan, dan penyakit seksual.

Keputihan tidak dapat selalu diartikan sebagai infeksi atau gangguan kesehatan pada vagina. Vagina memang ‘dirancang’ untuk bisa menjaga kebersihannya sendiri dengan cara mengeluarkan cairan keputihan. Memang keputihan ada yang normal dan ada keputihan yang merupakan suatu gejala penyakit atau abnormal. Untuk menentukan abnormal atau tidak, Anda perlu memeriksakan diri ke tenaga medis. Berikut adalah cara untuk menghindari keputihan abnormal pada vagina.

1. Jaga kebersihan vagina

Menjaga kebersihan vagina merupakan hal yang paling penting untuk mencegah keputihan akibat infeksi berbagai bakteri. Tinggalkan kebiasaan Anda membersihkan vagina dengan sabun mandi biasa. Membersihkan vagina dengan sabun mandi akan mengganggu keseimbangan pH dan menyebabkan iritasi pada vagina. Normalnya, pH pada vagina adalah sekitar 3,8 hingga 4,5, sedangkan sabun mandi biasa cenderung memiliki pH sekitar 7 sampai 8. Setiap wanita memiliki tingkat sensitif yang berbeda pada vaginanya, ada wanita yang tidak memiliki masalah jika memakai sabun mandi biasa untuk membersihkan vagina, namun ada yang mengalami iritasi dan alergi jika memakai sabun biasa. Namun lebih baik Anda mencegah iritasi terjadi dengan tidak menggunakan sabun biasa ketika membersihkan vagina.

Gunakanlah sabun yang tidak memiliki bau atau harum untuk membersihkan bagian sekitar vagina. Sebuah hal yang normal jika vagina memiliki bau, karena bau pada vagina dapat berubah-ubah sesuai dengan siklus reproduksi yang terjadi, sehingga tidak melulu dapat dianggap terjadi infeksi ketika vagina mengeluarkan bau. Kemudian, ketika Anda sedang menstruasi, bersihkanlah vagina Anda lebih sering dan gantilah pembalut sesering mungkin, hal ini akan menjaga kebersihan vagina. Selain itu, lebih baik jika Anda menyeka vagina dengan tisu bersih, maka sekalah dari bagian depan ke belakang-arah vagina ke anus. Hal ini untuk menghindari bakteri yang ada di sekitar anus berpindah ke vagina.

2. Ganti pakaian dalam

Mengganti pakaian dalam setidaknya 2 hingga 3 kali dalam sehari dapat membantu menjaga kebersihan vagina. Dengan cara ini, menghindarkan bakteri ‘tinggal’ di vagina dan juga dapat menurunkan bau yang tidak sedap pada vagina Anda. Selain itu, pastikan Anda memilih bahan yang tepat untuk pakaian dalam yang akan Anda pakai. Pemakaian pakaian dalam yang salah dapat menjadi salah satu faktor risiko vagina terkena infeksi bakteri. Pilihlah pakaian dalam yang berbahan katun, hal ini memudahkan vagina Anda untuk ‘bernapas’. Kurangi pemakaian celana ketat seperti jeans yang dapat membuat vagina mudah mengalami iritasi.

3. Berikan ruang pada vagina

Vagina juga butuh ruang untuk bernapas, jika Anda sedang bersantai di rumah, cobalah sesekali untuk tidak memakai pakaian dalam. Udara membantu menurunkan risiko infeksi dan iritasi pada area sekitar vagina sehingga bisa mencegah keputihan.

4. Menggunakan pembalut atau pantyliner

Anda bisa menggunakan pantyliner atau pembalut yang tipis untuk menjaga kebersihan vagina, tapi jangan lupa untuk sering-sering mengganti pembalut tersebut dan tidak memakai satu pembalut dalam waktu yang lama.

5. Melakukan hubungan seksual yang aman

Banyak penyakit seksual yang diakibatkan oleh bakteri yang tertular ketika melakukan hubungan seksual, seperti klamidia, gonore, herpes genital, sifilis, dan HIV. Jika perlu, mintalah pasangan Anda untuk memakai kondom ketika melakukan hubungan seksual agar terhindar dari infeksi bakteri.

6. Pemeriksaan serviks rutin

Wanita yang berusia 25-64 tahun dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan serviks secara rutin. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mendeteksi apakah terdapat perubahan abnormal pada leher rahim dan jika ada dapat dideteksi dari awal. Hal ini juga dapat mendeteksi kanker leher rahim pada wanita,

7. Mengonsumsi makanan yang sehat

Makanan sangat berpengaruh pada kesehatan, termasuk kesehatan vagina. Mengonsumsi makanan yang sehat dan cairan yang cukup, dapat menjaga kesehatan reproduksi Anda sekaligus mencegah keputihan yang tidak normal. Contohnya jus atau yogurt cranberry dapat mencegah bakteri tumbuh pada vagina.

BACA JUGA:

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

8 Rules for a Healthy Vagina. Retrieved from http://www.everydayhealth.com/womens-health-pictures/hygiene-rules-for-a-healthy-vagina.aspx Accessed September 15, 2016

Abnormal vaginal discharge. Retrieved from http://www.std-gov.org/symptoms/abnormal_vaginal_discharge.htm Accessed September 15, 2016

Vaginal Discharge: What’s Abnormal? Retrieved from http://www.webmd.com/women/guide/vaginal-discharge-whats-abnormal Accessed September 15, 2016

 

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh Nimas Mita Etika M
Tanggal diperbarui 20/09/2016
x