backup og meta
Kategori
Cek Kondisi

4

Tanya Dokter
Simpan
Konten

PCOS (Sindrom Ovarium Polikistik)

Ditinjau secara medis oleh dr. Damar Upahita · General Practitioner · None


Ditulis oleh Putri Ica Widia Sari · Tanggal diperbarui 10/11/2023

PCOS (Sindrom Ovarium Polikistik)

PCOS atau sindrom ovarium polikistik adalah salah satu gangguan hormonal yang paling umum terjadi pada wanita dengan usia subur. Meskipun PCOS seringkali dikaitkan dengan masalah kesuburan, kondisi ini ternyata bisa berdampak pada kesehatan secara keseluruhan. 

Kira-kira apa yang menjadi penyebab PCOS? Simak ulasan berikut ini untuk mengetahui lebih jelas informasi seputar sindrom ini. 

Apa itu sindrom ovarium polikistik (PCOS)?

Sindrom ovarium polikistik atau polycystic ovary syndrome (PCOS) adalah kondisi ketika wanita mengalami peningkatan hormon androgen.

PCOS dapat menyebabkan penderitanya memiliki banyak kista kecil pada indung telur atau ovarium.

Kista adalah benjolan-benjolan kecil yang berisi cairan. Setiap benjolan mengandung sel telur yang belum matang dengan sempurna.

Penderita PCOS mungkin akan mengalami berbagai masalah, seperti masalah kesuburan, siklus menstruasi, penampilan, bahkan produksi hormon pria berlebih. 

Dalam kasus yang lebih serius, PCOS dapat berdampak pada berat badan dan fungsi jantung. Hal ini pun seringkali dikaitkan dengan kadar insulin yang tinggi dalam tubuh, yang dapat meningkatkan risiko terjadinya diabetes

Sayangnya, hingga saat ini, PCOS adalah salah satu penyakit yang masih belum dapat disembuhkan secara tuntas. Artinya, pengobatan yang dapat menyembuhkan penyakit ini secara tuntas masih belum tersedia.

Seberapa umumkah sindrom ovarium polikistik (PCOS)?

Sekitar 5% hingga 10% wanita berusia 15—44 tahun terdiagnosis dengan penyakit ini. Umumnya, usia 20—30 tahun adalah waktu di mana para penderita PCOS baru mengetahui mereka memiliki sindrom ini. PCOS adalah kondisi yang umum terjadi dan menyerang antara 1 dari 10—20 wanita berusia subur.

Apa saja ciri-ciri dan gejala PCOS?

tanda pcos sembuh

Masa awal pubertas adalah waktu di mana umumnya ciri-ciri atau gejala PCOS mulai berkembang, terutama ketika wanita mengalami menstruasi pertama kali atau menarche.

Namun, penyakit PCOS kemungkinan bisa berkembang di lain waktu. Misalnya, ketika seseorang mengalami kenaikan berat badan yang cukup drastis.

Ciri-ciri dan gejala dari penyakit ini cukup bervariasi. Namun, berikut ini adalah beberapa gejala umum dari PCOS. 

1. Siklus menstruasi tidak teratur

Pada penderita PCOS, siklus menstruasinya tidak teratur. Menstruasi bisa jadi sangat jarang, terlalu lama, atau malah tidak terjadi sama sekali selama beberapa tahun (amenore).

Kondisi ini berkaitan dengan menurunnya aktivitas ovulasi pada sistem reproduksi, sehingga dinding rahim tidak dapat meluruh. Bahkan sejumlah wanita dengan sindrom ini mengalami menstruasi kurang dari delapan kali selama setahun.

2. Perdarahan berat

Perdarahan berat adalah gejala PCOS lain yang harus Anda perhatikan. Hal ini terjadi karena dinding rahim membutuhkan waktu lebih lama untuk menumpuk dan meluruh.

Oleh karena itu, ketika penderita PCOS mengalami menstruasi, darah yang dikeluarkan akan lebih banyak dari wanita pada umumnya.

3. Pertumbuhan rambut berlebih

Gejala lainnya adalah memiliki rambut berlebih pada wajah dan tubuh. Lebih dari 70% orang yang menderita PCOS akan mengalami kondisi tersebut.

Dalam beberapa kasus, penderita memiliki rambut wajah yang lebih tebal dan gelap. Rambut berlebih juga dapat ditemukan pada dada, perut, dan punggung. Kondisi ini dinamakan dengan hirsutisme.

4. Muncul jerawat

Ciri-ciri PCOS selanjutnya adalah produksi hormon androgen atau hormon pria yang berlebihan.

Pasalnya, kondisi ini dapat menyebabkan kulit menjadi lebih berminyak dari biasanya. Kondisi ini menyebabkan Anda berjerawat di area wajah, dada, hingga punggung bagian atas.

5. Perubahan mood

Pada penderita PCOS, tubuh menghasilkan kadar hormon yang tidak teratur, sehingga suasana hati atau mood penderita pun dapat berubah secara terus menerus.

Kondisi ini berpotensi menyebabkan stres, bahkan depresi. Hal ini adalah salah satu pertanda atau ciri-ciri dari sindrom ovarium polikistik atau PCOS.

6. Berat badan naik secara drastis

Sebanyak 80% wanita yang menderita sindrom ovarium polikistik mengalami kenaikan berat badan secara signifikan.

Selain itu, penderita juga umumnya kesulitan menurunkan berat badan.

7. Muncul kebotakan

Seiring dengan bertambahnya usia, penderita PCOS mungkin akan mengalami kebotakan atau yang disebut juga dengan male-pattern baldness.

Gejala atau ciri-ciri PCOS ini adalah kondisi yang disebabkan oleh produksi hormon pria yang berlebih pada tubuh penderita.

8. Warna kulit menggelap

Gejala PCOS lain yang mungkin harus lebih Anda perhatikan adalah warna kulit yang berubah menjadi lebih gelap.

Kulit akan memiliki corak-corak atau warna yang lebih gelap pada bagian lipatan, seperti leher, pangkal paha, dan bawah payudara.

9. Sakit kepala

Sakit kepala adalah ciri-ciri lainnya dari PCOS atau sindrom ovarium polikistik. Perubahan hormon wanita yang terlalu ekstrem memang diketahui dapat menyebabkan sakit kepala. 

10. Gangguan kesuburan

Apabila tubuh tidak berovulasi dengan baik, maka bisa terjadi gangguan kesuburan. Kondisi ini menyebabkan tubuh tidak menghasilkan sel telur dengan cukup untuk dibuahi.

Jika penderita merasa sulit hamil, hal tersebut bisa jadi adalah salah satu gejala atau ciri-ciri wanita dengan kondisi PCOS.

11. Kesulitan tidur (sleep apnea)

PCOS atau sindrom ovarium polikistik, terutama pada penderita obesitas, adalah kondisi yang dapat mengganggu siklus tidur akibat pernapasan yang tidak teratur, bahkan terhenti.

Kondisi ini disebut dengan sleep apnea. Risiko penderita sindrom ovarium polikistik untuk mengalami ini adalah 5 hingga 10 kali lebih tinggi dibandingkan dengan orang normal.

Kapan harus periksa ke dokter?

Jika memiliki ciri-ciri atau gejala di atas, hal yang sebaiknya dilakukan adalah memeriksakan diri ke dokter.

Anda juga harus segera memeriksakan diri ke dokter jika merasakan gejala-gejala PCOS di bawah ini.

  • Tidak menstruasi dan Anda sedang tidak hamil.
  • Terdapat gejala-gejala PCOS seperti rambut tumbuh secara berlebihan.
  • Mencoba untuk hamil selama lebih dari 12 bulan, tetapi selalu gagal.
  • Memiliki gejala diabetes, seperti merasa haus dan lapar berlebihan, berat badan naik tiba-tiba, atau penglihatan buram.

Ciri-ciri atau gejala sindrom ovaroum polikistik yang ditunjukkan tubuh cukup bervariasi.

Untuk mendapatkan penanganan yang paling tepat dan sesuai dengan kondisi kesehatan Anda, pastikan selalu memeriksakan diri ke dokter.

Apa penyebab PCOS?

pcos

Hingga saat ini, penyebab pasti dari PCOS masih belum diketahui. Namun, para ahli meyakini bahwa terdapat beberapa kondisi yang memicu terjadinya sindrom ini.

1. Ketidakseimbangan hormon di dalam tubuh

Umumnya, wanita yang mengalami sindrom PCOS adalah yang memiliki ketidakseimbangan kadar hormon di dalam tubuhnya.

Meski demikian, belum dapat diketahui dengan pasti mengapa perubahan hormon ini adalah satu dari berbagai penyebab PCOS.

Berikut ini adalah beberapa gangguan hormon yang mungkin meningkatkan risiko seseorang mengalami sindrom ini. 

  • Kadar hormon androgen yang melebihi batas wajar. 
  • Peningkatan hormon testosteron.
  • Perubahan pada kadar Luteinising hormone (LH).
  • Sex hormone-binding globulin.
  • Jumlah hormon prolaktin yang berlebih.

2. Tingginya kadar insulin di dalam tubuh

Insulin adalah hormon yang mengatur bagaimana tubuh Anda mengubah glukosa di dalam darah menjadi energi.

Apabila hormon insulin mengalami peningkatan di dalam darah, tubuh akan mengalami resistensi insulin. Kondisi ini adalah salah satu penyebab dari PCOS.

Resistensi insulin bisa terjadi pada orang yang memiliki beberapa kondisi kesehatan seperti obesitas, tekanan darah tinggi, kadar kolesterol tinggi, dan diabetes tipe 2.

Tahukah Anda?

Sebuah penelitian yang dimuat di dalam jurnal Fertility and Sterility juga menyatakan bahwa PCOS adalah penyakit yang dialami oleh 70% wanita karena resistensi insulin. Artinya, sel-sel di dalam tubuhnya tidak bisa memproses insulin dengan baik.

3. Keturunan keluarga

Faktor genetik adalah salah satu penyebab PCOS yang umum. Artinya, jika ibu, kakak, atau saudara perempuan memiliki PCOS, peluang Anda mengalaminya akan lebih besar.

Namun, tidak ada gen tunggal yang menjadi penyebab terjadinya PCOS, sehingga kemungkinannya adalah kondisi ini disebabkan oleh kombinasi dari berbagai jenis gen.

4. Inflamasi atau peradangan tingkat rendah

Sebenarnya kondisi ini masih erat kaitannya dengan resistensi insulin, seperti yang telah disebutkan sebelumnya.

Pasalnya, peradangan yang terjadi di dalam tubuh Anda adalah salah satu pemicu dari peningkatan hormon androgen yang juga bisa memicu terjadinya PCOS.

5.  Peningkatan berat badan

Obesitas atau berat badan berlebih adalah penyebab lain dari PCOS. Saat tubuh memiliki berat badan yang melebihi batas ideal, resistensi terhadap insulin akan semakin parah.

Sebenarnya, wanita yang menderita PCOS mungkin juga mengalami resistensi terhadap insulin, tetapi gejalanya tidak timbul karena berat badan ideal.

Sementara, berat badan yang meningkat justru memicu resistensi insulin untuk menunjukkan berbagai gejala, seperti siklus menstruasi yang tidak teratur atau pertumbuhan rambut yang berlebih.

Apa saja komplikasi akibat sindrom ovarium polikistik?

PCOS adalah kondisi yang dapat mengakibatkan beberapa masalah kesehatan apabila tidak segera diatasi atau diderita dalam jangka waktu panjang.

Mulai dari diabetes, gangguan jantung, hingga kanker, berikut adalah komplikasi-komplikasi yang mungkin dapat terjadi. 

1. Sindrom metabolik

Sindrom metabolik merupakan kumpulan dari berbagai kondisi kesehatan yang terjadi secara bersamaan, meliputi peningkatan kadar kolesterol, kadar gula darah, serta kenaikan tekanan darah.

Diperkirakan lebih dari setengah wanita dengan penyakit ini berpotensi mengidap diabetes tipe 2 atau prediabetes (intoleransi glukosa) sebelum memasuki usia 40 tahun.

Selain itu, penderita sering kali memiliki kadar kolesterol jahat (LDL) yang tinggi dan kolesterol baik (HDL) yang rendah, yang dapat memicu terjadinya penyakit jantung dan stroke.

2. Komplikasi pada kehamilan

Sindrom ovarium polikistik adalah kondisi yang dapat memengaruhi siklus menstruasi, sehingga penderitanya semakin sulit untuk hamil.

Infertilitas adalah masalah yang dirasakan oleh sekitar 70 hingga 80% wanita dengan sindrom ovarium polikistik atau PCOS.

Lalu, sindrom ovarium polikistik adalah juga dapat memicu terjadinya komplikasi pada kehamilan. Berikut adalah risiko yang mungkin dialami oleh ibu hamil saat mengalami PCOS adalah. 

3. Stres berat

Komplikasi lain yang mungkin terjadi saat Anda mengalami PCOS adalah stres berlebihan.

Perubahan hormon dan gejala seperti pertumbuhan rambut berlebih dapat berakibat buruk pada emosi penderita.

Banyak pasien yang mengalami  sindrom ovarium polikistik ini yang berakhir dengan kondisi depresi dan kecemasan parah.

4. Kanker endometrium

Penyakit lain yang mungkin terjadi jika Anda mengalami penyakit PCOS adalah kanker endometrium.

Hal ini disebabkan oleh  ovarium tyang idak berovulasi dengan baik, sehingga dinding rahim terus menebal dan tidak kunjung meluruh.

Bagaimana PCOS didiagnosis?

usg pcos

Pada dasarnya, tidak ada tes khusus untuk mendiagnosis sindrom ovarium polikistik.

Umumnya, sindrom ovarium polikistik ini terdeteksi ketika penderita datang ke dokter untuk memeriksakan penyakit lainnya.

Dokter akan menanyakan tentang gejala, riwayat penyakit  keluarga, atau jika Anda pernah melakukan perawatan untuk kondisi kesehatan lainnya.

Untuk mengonfirmasi hasil diagnosis, dokter akan meminta Anda menjalani beberapa tes tambahan, seperti. 

  • Tes darah. Tes ini dilakukan untuk mengukur kadar hormon di dalam tubuh, terutama hormon androgen. 
  • USG panggul. Dokter akan memeriksa organ reproduksi menggunakan USG untuk mengetahui adanya pertumbuhan jaringan yang tidak wajar pada tubuh Anda, terutama ovarium.
  • Tes pencitraan. Tes ini dilakukan untuk memeriksa ovarium Anda secara lebih mendalam.

Bagaimana cara mengobati PCOS?

Tujuan dari pengobatan PCOS adalah untuk mengendalikan gejala dan mencegah pertumbuhan kista yang lebih parah di dalam indung telur.

Tergantung pada gejala, perawatan yang dilakukan pun bervariasi, seperti berikut ini.

1. Memperbaiki siklus menstruasi

Untuk mengatur siklus menstruasi, dokter mungkin akan merekomendasikan pengobatan berikut. 

  • Pil KB yang mengandung estrogen dan progestin dapat mengurangi produksi androgen dan mengatur estrogen di dalam tubuh.
  • Terapi progestin selama 10—14 hari hingga 2 bulan dapat mengatur siklus menstruasi dan melindungi Anda dari risiko kanker endometrium. Obat ini cocok untuk Anda yang ingin menjalani program kehamilan.

2. Memberi obat untuk membantu proses ovulasi

Untuk membantu tubuh berovulasi dengan normal, dokter akan memberikan obat-obatan seperti:

Metmorfin sebagai obat diabetes juga bisa diresepkan untuk obat PCOS. Obat ini secara spesifik bekerja untuk mengurangi resistensi insulin dan masalah kesuburan akibat PCOS.

3. Mengurangi pertumbuhan rambut berlebih

Dokter akan memberikan pil KB untuk mencegah rambut yang tumbuh di tubuh muncul secara berlebihan.

Selain itu, ada pula beberapa jenis obat sebagai alternatif. 

  • Spironolactone (Aldactone)
  • Eflornithine (Vaniqa)
  • Electrolysis

4. Bedah ovarium

Pembedahan yang disebut ovarium drilling juga mungkin dilakukan untuk membuat ovarium bekerja lebih baik.

Dokter akan membuat luka kecil di perut menggunakan laparoskopi dengan jarum untuk menusuk ovarium dan menghancurkan sebagian kecil jaringannya.

Prosedur ini mengubah kadar hormon yang akhirnya membuat Anda lebih mudah berovulasi.

Dokter juga mungkin akan menyarankan pasien yang memiliki berat badan berlebih untuk menurunkan berat badan. Hal ini karena penurunan berat badan dapat meringankan gejala  yang terjadi. 

Selain itu, pasien juga akan diminta untuk menghindari makanan tertentu dan rutin berolahraga guna membantu mengatasi PCOS atau sindrom ovarium polikistik. 

Catatan

Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.

Ditinjau secara medis oleh

dr. Damar Upahita

General Practitioner · None


Ditulis oleh Putri Ica Widia Sari · Tanggal diperbarui 10/11/2023

ad iconIklan

Apakah artikel ini membantu?

ad iconIklan
ad iconIklan