Trikomoniasis adalah salah satu infeksi menular seksual yang sering tidak disadari karena gejalanya yang ringan atau bahkan tidak muncul sama sekali. Meski begitu, infeksi ini tetap bisa menimbulkan dampak serius jika tidak ditangani dengan baik.
Trikomoniasis adalah salah satu infeksi menular seksual yang sering tidak disadari karena gejalanya yang ringan atau bahkan tidak muncul sama sekali. Meski begitu, infeksi ini tetap bisa menimbulkan dampak serius jika tidak ditangani dengan baik.

Trikomoniasis atau trichomoniasis adalah penyakit infeksi pada alat kelamin yang menular melalui hubungan seksual.
Penyakit menular seksual ini disebabkan oleh infeksi parasit bernama Trichomonas vaginalis yang bisa menyebabkan rasa gatal dan sakit saat buang air kecil pada wanita.
Namun, kebanyakan pria yang terkena penyakit ini biasanya tidak akan mengalami gejala apa pun.
Infeksi ini biasanya tidak bersifat fatal, tapi berisiko memicu beberapa komplikasi, seperti ketidaksuburan pada wanita dan tersumbatnya uretra pada pria.
Selain itu, penyakit ini berpotensi mengakibatkan komplikasi kehamilan bila terjadi pada ibu hamil.
Penyakit ini merupakan salah satu yang paling umum dari kelompok penyakit infeksi menular seksual.
Menurut WHO, trikomoniasis pada wanita mencapai sekitar 5,3%, dan pria sebanyak 0,6%. Selain itu, penyakit ini paling banyak terjadi pada wanita berusia 16 – 35 tahun.
Namun, kasus kejadian sesungguhnya kemungkinan bisa melebihi angka statistik di atas karena penyakit ini sulit dideteksi, terutama pada pasien laki-laki.

Mendeteksi tanda dan gejala trikomoniasis kadang cukup sulit. Ini karena sekitar 70% orang dengan penyakit ini tidak mengalami gejala penyakit kelamin sama sekali.
Jika gejala muncul, artinya penyakit ini sudah mengakibatkan iritasi dan peradangan yang tergolong sedang hingga parah.
Gejala trichomoniasis juga bisa datang dan pergi sewaktu-waktu. Pada wanita, trikomoniasis dapat menimbulkan berbagai gejala, seperti berikut ini.
Sementara itu, dibandingkan dengan wanita, pria dengan penyakit ini biasanya tidak menunjukkan gejala. Ketika muncul, gejala trikomoniasis pada pria bisa menunjukkan kondisi berikut.
Kemungkinan ada beberapa tanda dan gejala yang tidak disebutkan di atas. Jika Anda khawatir mengenai gejala tertentu yang tidak wajar, segera konsultasikan dengan dokter.
Sebaiknya, segera periksa ke dokter jika mengalami tanda dan gejala berikut.
Setiap orang yang mengalami trikomoniasis mungkin akan merasakan tanda-tanda dan gejala yang bervariasi.
Oleh karena itu, selalu periksakan kondisi kesehatan Anda kepada dokter untuk mendapatkan pengobatan yang sesuai dengan kondisi.
Meski belum ada gejala yang muncul, Anda bisa mencari saran tentang apa saja gejala yang perlu diwaspadai dan apa yang bisa dilakukan jika terkena penyakit ini.
Bila mengalami trichomoniasis, hindari berhubungan intim sampai Anda tidak lagi mengidap infeksi untuk mencegah menularnya penyakit kepada orang lain.
Penyebab trikomoniasis adalah parasit protozoa dengan nama Trichomonas vaginalis. Parasit ini dapat ditemukan di mana saja dan sifatnya sangat mudah menular.
Parasit Trichomonas vaginalis sering kali ditularkan selama berhubungan seksual dari orang yang terinfeksi ke orang lain yang sehat.
Pada wanita, bagian tubuh yang paling sering terinfeksi parasit Trichomonas vaginalis yaitu vulva, vagina, serviks (leher rahim), dan uretra (saluran kencing).
Sementara pada pria, parasit paling sering menginfeksi bagian dalam penis atau uretra. Selama berhubungan seksual, parasit bisa menyebar ketika penis bersentuhan dengan vagina.
Selain alat reproduksi, trikomoniasis berisiko menginfeksi bagian tubuh lain, seperti tangan, mulut, atau anus.
Namun, perlu diingat bahwa penyakit ini tidak dapat ditularkan melalui bersentuhan, berpelukan, atau berciuman.
Masa inkubasi atau perkembangan penyakit sejak parasit masuk ke dalam tubuh sampai gejala muncul belum dapat ditetapkan secara pasti, tetapi biasanya sekitar 5 – 28 hari.
Akan tetapi, belum diketahui penyebab trikomoniasis terkadang tidak menunjukkan gejala.
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, trikomoniasis bisa menginfeksi baik pria maupun wanita. Namun, ada beberapa faktor yang berperan dalam penularan penyakit ini.
Berikut adalah berbagai faktor yang meningkatkan risiko Anda mengalami trikomoniasis.
Tidak memiliki faktor risiko bukan berarti Anda terbebas dari penyakit ini.
Faktor tersebut yang paling umum terjadi, tetapi Anda sebaiknya berkonsultasi lebih lanjut dengan dokter untuk informasi selengkapnya.
Meski penyakit ini bisa diatasi dengan pengobatan, tidak menutup kemungkinan trikomoniasis dapat mengakibatkan masalah kesehatan lain yang lebih serius.
Berikut adalah beberapa komplikasi kesehatan yang bisa terjadi akibat infeksi parasit Trichomonas vaginalis yang tidak ditangani dengan tepat.
Biasanya, penyakit ini terdeteksi saat sedang menjalani tes skrining atau pemeriksaan penyakit menular seksual. Tes skrining direkomendasikan untuk Anda dengan kondisi sebagai berikut.
Selain itu, Anda harus memeriksakan diri jika sudah mengalami gejala-gejala yang telah disebutkan sebelumnya.
Selama proses diagnosis, dokter akan memeriksa alat kelamin untuk mengambil sampel cairan dari vagina atau penis.
Hasil diagnosis baru dapat dipastikan ketika parasit ditemukan pada sampel saat diperiksa dengan mikroskop di laboratorium.
Selain dengan memeriksa cairan tubuh, diagnosis bisa dilakukan dengan tes darah. Tes lain seperti nucleic acid amplification juga dapat menjadi alternatif lain untuk mendeteksi keberadaan parasit di dalam tubuh.

Pengobatan trikomoniasis umumnya dilakukan dengan pemberian antibiotik dari dokter.
Antibiotik dapat membantu mengatasi parasit Trichomonas vaginalis di dalam tubuh serta mengurangi risiko penularan ke orang lain.
Berikut adalah jenis obat antibiotik yang direkomendasikan untuk mengobati trikomoniasis beserta dosisnya.
Jika Anda terkena infeksi trikomoniasis, Anda dan pasangan sebaiknya sama-sama mendapatkan pengobatan. Bagi Anda yang sedang hamil, obat metronidazole tidak disarankan.
Efek samping obat-obatan tersebut mungkin termasuk mual, muntah, diare, kram di daerah perut, rasa logam di mulut, dan neuropati perifer (gangguan pada saraf).
Selama minum obat-obatan, Anda sebaiknya tidak minum alkohol. Pasalnya, kombinasi obat dan alkohol berisiko mengakibatkan kulit memerah, sakit kepala, sakit di daerah perut, mual, dan muntah.
Untuk membantu mempercepat proses penyembuhan, satu-satunya cara yang bisa Anda lakukan adalah mengikuti arahan dokter dan menghindari kontak seksual selama masa pengobatan.
Bagi Anda yang berniat mencegah penyakit trikomoniasis, sebaiknya menghindari melakukan hubungan seks yang tidak aman.
Artinya, Anda sebaiknya tidak berhubungan seksual dengan lebih dari 1 pasangan, bahkan tanpa menggunakan kondom.
Apabila Anda memutuskan untuk tetap aktif secara seksual, berikut beberapa tips yang bisa Anda ikuti.
Bila ada pertanyaan, konsultasikanlah dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda.
Catatan
Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.
Trichomoniasis: Fact Sheet – CDC. (2024). Retrieved 28 March 2025, from https://www.cdc.gov/std/trichomonas/stdfact-trichomoniasis.htm
Trichomoniasis – Mayo Clinic. (2025). Retrieved January 28 March 2025, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/trichomoniasis/symptoms-causes/syc-20378609
Trichomoniasis – NHS. (2024). Retrieved 28 March 2025, from https://www.nhs.uk/conditions/trichomoniasis/
Trichomoniasis (Trich) – Planned Parenthood. (n.d.). Retrieved 28 March 2025, from https://www.plannedparenthood.org/learn/stds-hiv-safer-sex/trichomoniasis
Trichomoniasis – Cleveland Clinic. (2025). Retrieved 28 March 2025, from https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/4696-trichomoniasis
Trichomoniasis – Office on Women’s Health. (2020). Retrieved 28 March 2025, from https://www.womenshealth.gov/a-z-topics/trichomoniasis
Kissinger, P. J., et all. (2022). Diagnosis and Management of Trichomonas vaginalis: Summary of Evidence Reviewed for the 2021 Centers for Disease Control and Prevention Sexually Transmitted Infections Treatment Guidelines. Clinical infectious diseases : an official publication of the Infectious Diseases Society of America, 74(Suppl_2), S152–S161. https://doi.org/10.1093/cid/ciac030
Versi Terbaru
15/04/2025
Ditulis oleh Shylma Na'imah
Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.
Diperbarui oleh: Fidhia Kemala
Ditinjau secara medis oleh
dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.
General Practitioner · Medicine Sans Frontières (MSF)