home
close

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Trikomoniasis

Definisi trikomoniasis|Tanda dan gejala trikomoniasis|Penyebab trikomoniasis|Faktor-faktor risiko trikomoniasis|Komplikasi trikomoniasis|Diagnosis trikomoniasis|Pengobatan trikomoniasis|Pengobatan di rumah dan pencegahan
Trikomoniasis

Definisi trikomoniasis

Trikomoniasis atau trichomoniasis adalah penyakit infeksi pada alat kelamin yang disebarkan melalui hubungan seksual.

Penyakit ini disebabkan oleh infeksi parasit bernama Trichomonas vaginalis. Trikomoniasis adalah penyakit menular seksual yang bisa menyebabkan rasa gatal dan sakit saat buang air kecil pada wanita.

Namun, kebanyakan pria yang terkena penyakit ini biasanya tidak akan mengalami gejala apa pun.

Infeksi ini biasanya tidak bersifat fatal. Namun, trikomoniasis berisiko memicu beberapa komplikasi, seperti ketidaksuburan pada wanita dan tersumbatnya uretra pada pria.

Selain itu, penyakit ini juga berpotensi mengakibatkan komplikasi kehamilan bila terjadi pada ibu hamil.

Seberapa umumkah trikomoniasis?

Penyakit ini merupakan salah satu yang paling umum dari kelompok penyakit infeksi menular seksual.

Menurut WHO, trikomoniasis pada wanita mencapai sekitar 5,3%, dan pria sebanyak 0,6%. Selain itu, penyakit ini paling banyak terjadi pada wanita berusia 16-35 tahun.

Namun, kasus kejadian sesungguhnya kemungkinan bisa melebihi angka statistik di atas karena penyakit ini sulit dideteksi, terutama pada pasien laki-laki.

Tanda dan gejala trikomoniasis

Mendeteksi tanda dan gejala trikomoniasis kadang cukup sulit. Ini karena sekitar 70% orang dengan penyakit ini tidak mengalami gejala penyakit kelamin sama sekali.

Jika gejala muncul, artinya penyakit ini sudah mengakibatkan iritasi dan peradangan yang tergolong sedang hingga parah.

Gejala trichomoniasis juga bisa datang dan pergi sewaktu-waktu.

Pada wanita, trikomoniasis dapat menimbulkan berbagai gejala, seperti:

  • Bau tidak sedap pada vagina.
  • Cairan vagina berwarna aneh (hijau atau kekuningan) dan memiliki tekstur berbuih.
  • Rasa gatal, bengkak, atau panas pada vagina.
  • Sakit saat berhubungan seksual.
  • Sakit saat buang air kecil.

Sementara itu, dibandingkan dengan wanita, pria dengan penyakit ini biasanya tidak menunjukkan gejala.

Namun, ketika terjadi, gejala trikomoniasis pada pria meliputi:

  • Kesulitan buang air kecil.
  • Rasa sakit atau panas saat ejakulasi.
  • Rasa gatal atau iritasi di penis.
  • Keluar cairan dari penis.

Kemungkinan ada beberapa tanda dan gejala yang tidak disebutkan di atas. Jika Anda khawatir mengenai gejala tertentu yang tidak wajar, segera konsultasikan dengan dokter.

Kapan saya harus periksa ke dokter?

Sebaiknya, segera periksa ke dokter jika mengalami tanda dan gejala berikut:

  • Terasa panas saat buang air kecil.
  • Cairan vagina berbau tidak sedap.
  • Rasa sakit ketika buang air kecil.
  • Rasa sakit ketika berhubungan seksual.
  • Mengalami efek samping obat-obatan.

Setiap orang yang mengalami trikomoniasis mungkin akan merasakan tanda-tanda dan gejala yang bervariasi.

Oleh karena itu, selalu periksakan kondisi kesehatan Anda ke dokter untuk mendapatkan pengobatan yang sesuai dengan kondisi.

Meski belum ada gejala yang muncul, Anda bisa mencari saran tentang apa saja gejala yang perlu diwaspadai dan apa yang bisa dilakukan jika terkena penyakit ini.

Bila mengalami trichomoniasis, hindari juga berhubungan intim sampai Anda tidak lagi mengidap infeksi untuk mencegah menularnya penyakit ke orang lain.

Penyebab trikomoniasis

Trikomoniasis adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit protozoa dengan nama Trichomonas vaginalis. Parasit ini dapat ditemukan di mana saja dan sifatnya sangat mudah menular.

Parasit Trichomonas vaginalis sering kali ditularkan selama berhubungan seksual dari orang yang terinfeksi ke orang lain yang sehat.

Pada wanita, bagian tubuh yang paling sering terinfeksi parasit Trichomonas vaginalis adalah:

  • Vulva
  • Vagina
  • Serviks (leher rahim)
  • Uretra (saluran kencing)

Sementara pada pria, parasit paling sering menginfeksi bagian dalam penis atau uretra. Selama berhubungan seksual, parasit bisa menyebar ketika penis bersentuhan dengan vagina.

Selain alat reproduksi, trikomoniasis juga berisiko menginfeksi bagian tubuh lain, seperti tangan, mulut, atau anus.

Namun, perlu diingat bahwa penyakit ini tidak dapat ditularkan melalui bersentuhan, berpelukan, atau berciuman.

Masa inkubasi atau perkembangan penyakit sejak parasit masuk ke dalam tubuh sampai gejala muncul belum dapat ditetapkan secara pasti, tetapi biasanya sekitar 5-28 hari.

Akan tetapi, belum diketahui penyebab trikomoniasis terkadang tidak menunjukkan gejala.

Faktor-faktor risiko trikomoniasis

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, trikomoniasis bisa menginfeksi baik pria maupun wanita. Namun, ada beberapa faktor yang berperan dalam penularan penyakit ini.

Berikut adalah berbagai faktor yang meningkatkan risiko Anda mengalami trikomoniasis:

  • Memiliki pasangan seksual lebih dari satu.
  • Pernah terkena trikomoniasis sebelumnya.
  • Pernah mengalami infeksi menular seksual sebelumnya.
  • Tidak menggunakan kondom saat berhubungan seksual.
  • Memiliki sistem imun tubuh yang lemah.

Tidak memiliki faktor risiko bukan berarti Anda terbebas dari penyakit ini.

Faktor tersebut yang paling umum terjadi, tetapi Anda sebaiknya berkonsultasi lebih lanjut dengan dokter untuk informasi selengkapnya.

Komplikasi trikomoniasis

Meski penyakit ini bisa diatasi dengan pengobatan, tidak menutup kemungkinan trikomoniasis dapat mengakibatkan masalah kesehatan lain yang lebih serius.

Berikut adalah beberapa komplikasi kesehatan yang bisa terjadi akibat infeksi parasit Trichomonas vaginalis yang tidak ditangani dengan tepat:

1. Komplikasi kehamilan

Pada ibu hamil yang terinfeksi penyakit ini, kehamilan bisa jadi mengalami gangguan, seperti melahirkan lebih cepat atau prematur.

Selain itu, bayi juga berisiko mengalami berat badan saat lahir di bawah normal (BBLR).

Ditambah lagi, trikomoniasis pada ibu berpotensi ditularkan ke bayi selama proses persalinan, baik itu melahirkan normal maupun operasi caesar.

2. Colpitis macularis

Colpitis macularis atau yang juga diketahui dengan nama strawberry cervix adalah kondisi saat terjadi peradangan dan muncul bintik-bintik merah di dalam leher rahim.

Kondisi ini ditemukan pada hampir 50% pasien wanita yang terkena trikomoniasis.

3. Epididimitis

Komplikasi lain dari penyakit ini adalah epididimitis, yaitu peradangan pada saluran epididimis. Saluran ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan dan penyaluran sperma pada pria.

4. HIV/AIDS

Trikomoniasis juga menyebabkan Anda 2-3 kali lebih rentan untuk terkena penyakit menular seksual lainnya, terutama HIV/AIDS.

Diagnosis trikomoniasis

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Biasanya, penyakit ini terdeteksi saat sedang menjalani tes skrining atau pemeriksaan penyakit menular seksual.

Tes skrining direkomendasikan untuk Anda dengan kondisi sebagai berikut:

Selain itu, Anda juga harus memeriksakan diri jika sudah mengalami gejala-gejala yang telah disebutkan sebelumnya.

Selama proses diagnosis, dokter akan memeriksa alat kelamin untuk mengambil sampel cairan dari vagina atau penis.

Hasil diagnosis baru dapat dipastikan ketika parasit ditemukan pada sampel saat diperiksa dengan mikroskop di laboratorium.

Selain dengan memeriksa cairan tubuh, diagnosis juga bisa dilakukan dengan tes darah. Tes lain seperti nucleic acid amplification juga dapat menjadi alternatif lain untuk mendeteksi keberadaan parasit di dalam tubuh.

Pengobatan trikomoniasis

Pengobatan umum untuk mengatasi trikomoniasis adalah antibiotik.

Antibiotik dapat membantu mengatasi parasit Trichomonas vaginalis di dalam tubuh serta mengurangi risiko penularan ke orang lain.

Berikut adalah jenis obat antibiotik yang direkomendasikan untuk mengobati trikomoniasis beserta dosisnya:

  • Metronidazole: 2 gram (gr) diminum 1 kali, atau 500 mg diminum 2 kali sehari selama 7 hari
  • Tinidazole: 2 gr diminum 1 kali

Jika Anda terkena trikomoniasis, Anda dan pasangan sebaiknya sama-sama mendapatkan pengobatan. Bagi Anda yang sedang hamil, obat metronidazole tidak disarankan.

Efek samping obat-obatan tersebut mungkin termasuk mual, muntah, diare, kram di daerah perut, rasa logam di mulut, dan neuropati perifer (gangguan pada saraf).

Selama minum obat-obatan, Anda sebaiknya tidak minum alkohol.

Pasalnya, kombinasi obat dan alkohol berisiko mengakibatkan kulit memerah, sakit kepala, sakit di daerah perut, mual, dan muntah.

Apakah trikomoniasis bisa muncul lagi setelah saya sembuh?

Menurut CDC, tidak menutup kemungkinan seseorang yang sudah sembuh dari penyakit ini bisa kembali terinfeksi T. vaginalis di lain waktu.

Kemungkinan infeksi kembali muncul yakni sekitar 17%, dalam waktu 3 bulan setelah selesai menjalani pengobatan.

Oleh karena itu, Anda diharuskan untuk menjalani pemeriksaan ulang setelah obat antibiotik yang diminum sudah habis.

Pemeriksaan dilakukan untuk mengecek apakah masih ada parasit yang tersisa di dalam tubuh Anda.

Pengobatan di rumah dan pencegahan

Untuk membantu mempercepat proses penyembuhan, satu-satunya cara yang bisa Anda lakukan adalah mengikuti arahan dokter dan menghindari kontak seksual selama masa pengobatan.

Bagi Anda yang berniat mencegah penyakit trikomoniasis, sebaiknya menghindari melakukan hubungan seks yang tidak aman.

Artinya, Anda sebaiknya tidak berhubungan seksual dengan lebih dari 1 pasangan, bahkan tanpa menggunakan kondom.

Namun, apabila Anda memutuskan untuk tetap aktif secara seksual, berikut beberapa tips yang bisa Anda ikuti:

  • Pastikan melakukan hubungan seksual yang aman. Gunakan kondom lateks jika terdapat kemungkinan adanya penyakit menular seksual dari pasangan Anda.
  • Kurangi jumlah pasangan seksual Anda. Semakin banyak pasangan Anda, semakin besar risiko Anda tertular penyakit kelamin.
  • Setia kepada satu pasangan seksual saja dan pastikan pasangan Anda sudah menjalani tes skrining dengan hasil negatif.

Bila ada pertanyaan, konsultasikanlah dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Trichomoniasis: Fact Sheet – CDC. (2020). Retrieved January 18, 2021, from https://www.cdc.gov/std/trichomonas/stdfact-trichomoniasis.htm 

2015 Sexually Transmitted Diseases Treatment Guidelines: Trichomoniasis – CDC. (2015). Retrieved January 18, 2021, from https://www.cdc.gov/std/tg2015/trichomoniasis.htm 

Chlamydia, gonorrhoea, trichomoniasis and syphilis: global prevalence and incidence estimates, 2016 – WHO. (2016). Retrieved January 18, 2021, from https://www.who.int/bulletin/volumes/97/8/18-228486/en/ 

Trichomoniasis – Mayo Clinic. (2020). Retrieved January 18, 2021, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/trichomoniasis/symptoms-causes/syc-20378609 

Trichomoniasis – NHS. (2019). Retrieved January 18, 2021, from https://www.nhs.uk/conditions/trichomoniasis/ 

Trichomoniasis (Trich) – Planned Parenthood. (n.d.). Retrieved January 18, 2021, from https://www.plannedparenthood.org/learn/stds-hiv-safer-sex/trichomoniasis 

Trichomoniasis – Cleveland Clinic. (2020). Retrieved January 18, 2021, from https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/4696-trichomoniasis 

Trichomoniasis – Office on Women’s Health. (2019). Retrieved January 18, 2021, from https://www.womenshealth.gov/a-z-topics/trichomoniasis 

Kissinger P. (2015). Trichomonas vaginalis: a review of epidemiologic, clinical and treatment issues. BMC infectious diseases, 15, 307. https://doi.org/10.1186/s12879-015-1055-0 

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Shylma Na'imah Diperbarui 2 minggu lalu
Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.
x