Tuberkulosis (disingkat sebagai TB) membutuhkan pengobatan yang sangat lama, sekitar 6 bulan. Bahkan, pengobatannya bisa menjadi lebih lama jika pasien mengalami resistensi obat tuberkulosis, atau dikenal juga dengan TB MDR (Multi-drug Resistant).

TB adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Pengobatan yang umum diberikan adalah antibiotik khusus tuberkulosis.

Obat TBC biasa mungkin tidak akan ampuh untuk mengobati tuberkulosis pada pasien MDR. Itu sebabnya, pasien resisten tuberkulosis membutuhkan perawatan khusus, baru, dan lebih lama waktu pengobatannya.

Apa itu TB MDR (resistensi obat tuberkulosis)?

gejala TBC

Multi Drug Resistant Tuberculosis (TB MDR) atau resistensi obat tuberkulosis adalah kondisi berbahaya yang berakibat fatal.

Hal ini diperjelas oleh Dr. dr. Erlina Burhan. MSc, Sp.P(K), ahli paru dan pakar tuberkulosis yang ditemui di K-Link Tower, Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Rabu lalu (8/5).

Saat ditemui tim Hello Sehat, dr. Erlina menyatakan bahwa resistensi obat tuberkulosis menghambat penanggulangan penyakit TB di Indonesia.

Pasien yang mengalami TB MDR umumnya resisten terhadap 2 obat tuberkulosis paling ampuh, antara lain INH (isoniazid) dan Rifampisin.

Selain itu, dikatakan resisten obat apabila pasien kebal terhadap obat TB lini pertama seperti etambutol, streptomisin, dan pirazinamid.

Tuberkulosis umumnya ditandai dengan gejala batuk terus-menerus, sesak napas, serta tubuh lesu dan emas.

Penyebab resistensi obat tuberkulosis (TB MDR)

pengawas minum obat

Ada beberapa kondisi yang menyebabkan pasien kebal terhadap obat utama. Dr. Erlina mengatakan bahwa pasien dan dokter TB sendiri bisa menjadi penyebab kondisi ini terjadi.

Pertama, resistensi obat tuberkulosis bisa disebabkan karena pemberian obat dari dokter yang tidak tepat.

Selain itu panduan pengobatan, seperti informasi dosis, lamanya pengobatan, maupun kualitas obat yang tidak disampaikan dengan baik akan memengaruhi pengobatan TB.

Kedua, pasien juga bisa menyebabkan dirinya kebal terhadap obat tuberkulosis. Saat pasien tidak patuh pada waktu minum obat, atau pasien berhenti minum obat sebelum sembuh, ini bisa menyebabkan TB MDR. 

Selain itu, kondisi kebal obat tuberkulosis ini juga bisa disebabkan karena obat TB tidak selalu tersedia secara merata di tiap daerah di Indonesia.

Lalu, bagaimana rencana pengobatan resistensi obat TB (TB MDR)?

obat batuk

Kondisi TB MDR bisa disembuhkan dengan waktu pengobatan yang lebih lama. Menurut dr. Erliana, berikut adalah beberapa rencana pengobatan resistensi obat tuberkulosis:

  • Perbedaan dosis obat
  • Jumlah obat yang lebih banyak
  • Waktu pengobatan yang lebih lama, sekitar 20 bulan atau lebih
  • Suntik setiap hari selama 4 sampai 8 bulan
  • Menjaga lingkungan tempat tinggal tetap bersih

Pasien yang resisten terhadap obat TB diwajibkan untuk mematuhi semua rencana pengobatan yang dianjurkan dokter. Nantinya dokter akan mendiagnosis dini setiap pasien yang terduga resisten obat. 

Apabila telah terdiagnosis resisten, pasien akan diobati dengan obat anti tuberkulosis lini kedua, seperti siprofloksasin, ofloksasin, levoflosaksin, dan kanamin.

Baca Juga:

Sumber
Ingin hidup lebih sehat dan bahagia?
Dapatkan update terbaru dari Hello Sehat seputar tips dan info kesehatan
Yang juga perlu Anda baca