Berbagai Obat TBC yang Umum Diresepkan dalam Pengobatan

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 6 Agustus 2020 . Waktu baca 12 menit
Bagikan sekarang

Meski membutuhkan waktu lama, tuberkulosis (TBC) bisa sembuh total dengan minum obat yang tepat dan selalu patuh mengikuti aturan minum obat TBC. Pasalnya, jika pengobatan TBC gagal, penyakit ini akan semakin sulit untuk disembuhkan. Pengobatan TBC sendiri terdiri dari dua tahap yang menggunakan kombinasi beberapa obat antitbiotik.

Apa saja jenis obat antibiotik yang digunakan untuk TBC dan bagaimana aturan mengonsumsinya? Simak penjelasan mengenai pengobatan TBC secara lebih lengkap pada ulasan berikut ini.

Dua tahapan pengobatan TBC di Indonesia

Penyakit tuberkulosis terjadi saat bakteri penyebab TBC, yaitu Mycobacterium tuberculosis, aktif menginfeksi atau berkembang biak di dalam tubuh (TB aktif). Tuberkulosis yang menyerang paru-paru bisa disembuhkan dengan menjalani pengobatan selama 6-9 bulan.

Bentuk pengobatan TBC di Indonesia terdiri atas 2 tahap, yaitu tahap pengobatan intensif dan pengobatan lanjutan.

Dilansir dari Pusat Informasi Obat Nasional, selama menjalani dua tahap pengobatan pasien mengonsumsi obat TBC jenis antibiotik dan anti-infeksi sintesis.

Pengobatan dilakukan dengan kombinasi beberapa jenis antibiotik yang disebut dengan golongan antituberkulosis. Obat-obatan yang digunakan bekerja untuk 3 fungsi klinis, yaitu membunuh, mensterilisasi (membersihkan tubuh), dan mencegah resistansi (kebal) bakteri.

1. Tahap intensif

Pada tahap pengobatan intensif, pasien perlu minum obat TBC setiap hari dalam kurun waktu 2 bulan. Pengobatan intensif ditujukan untuk menekan jumlah bakteri penyebab TBC dan menghentikan infeksinya sehingga pasien tidak bisa lagi menularkan penyakit.

Sebagian besar pasien yang berstatus menularkan infeksi berpotensi menjadi tidak menular (nonifeksi) dalam waktu 2 minggu apabila menjalani pengobatan intensif dengan benar. Jenis obat TBC yang digunakan dalam tahap ini bisa berbeda-beda, tergantung dari regimen pengobatan yang disesuaikan dengan kategori pasien.

Kategori pasien tuberkulosis

Kategori pasien sendiri ditentukan dari riwayat pengobatan dan hasil BTA (pemeriksaan dahak). Secara umum, terdapat 3 katergori pasien TBC yaitu:

  • Kategori I kasus baru
    Pasien dengan BTA positif tapi belum pernah mendapatkan pengobatan antituberkulosis selama kurang dari 4 minggu, atau BTA negatif dengan TB ekstra paru (infeksi bakteri menyerang organ selain paru) yang berat.
  • Kategori II relaps
    Pasien yang telah dinyatakan sembuh setelah menyelesaikan pengobatan, tapi hasil BTA kembali positif.
  • Kategori II kasus gagal
    Pasien dengan dengan BTA tetap positif atau kembali positif setelah pengobatan selama 5 bulan.
  • Kategori II pengobatan terputus
    Pasien yang telah berobat, tapi berhenti dan kembali dengan keadaan BTA positif atau hasil radiologi menunjukan status TB aktif.
  • Kategori III
    Pasien dengan hasil rontgen positif dengan kondisi TB ekstra paru ringan.
  • Pasien kasus kronik
    Pasien dengan BTA tetap positif setelah menjalani pengobatan ulang.

Pasien dengan BTA negatif dan mengalami TB ekstra paru bisa mendapatkan jumlah obat yang lebih sedikit di tahap ini.

2. Tahap lanjutan

Di pengobatan tahap lanjutan, jumlah dan dosis obat TBC yang diberikan akan berkurang. Biasanya hanya 2 jenis obat. Namun, durasinya justru lebih lama, yaitu sekitar 4 bulan pada pasien dengan kategori kasus baru. 

Tahap pengobatan lanjutan penting untuk memastikan bahwa bakteri yang sudah tidak aktif menginfeksi (dorman) benar-benar hilang dari tubuh, sehingga mencegah gejala TBC kambuh

Tidak semua pasien TBC perlu melakukan pengobatan intensif dan lanjutan secara rawat inap di rumah sakit. Namun, untuk kasus parah (mengalami sesak napas berat atau gejala TB ekstra paru), pasien perlu menjalani rawat inap di rumah sakit.

Jenis-jenis obat TBC lini pertama

Terdapat 5 jenis obat TBC yang umum diresepkan, yaitu:

  • Isoniazid
  • Rifampicin
  • Pyrazinamide
  • Etambutol
  • Strptomisin

Kelima jenis obat TBC di atas biasa disebut obat primer atau obat lini pertama.

Dalam setiap tahapan pengobatan TBC, dokter akan dokter akan memberikan kombinasi dari beberapa antituberkulosis. Kombinasi obat TBC dan dosisnya ditentukan dari kondisi dan kategori pasien TBC sehingga bisa berbeda-beda.

Berikut adalah penjelasan mengenai masing-masing obat TBC lini pertama:

1. Isoniazid (INH)

Isoniazid merupakan jenis antituberkulosis yang paling ampuh untuk membunuh bakteri penyebab tuberkulosis. Obat ini bisa membunuh 90% kuman TB dalam beberapa hari pada tahap pengobatan intensif.

Isoniazid lebih efektif membunuh bakteri yang sedang aktif berkembang. Obat ini bekerja dengan cara mengganggu pembuatan mycolic acid, yaitu senyawa yang berperan dalam membangun dinding bakteri.

Beberapa efek samping obat TBC isoniazid meliputi:

  • Efek neurologis, seperti gangguan penglihatan, vertigo, insomnia, euforia, perubahan tingkah laku, depresi, gangguan ingatan, gangguan otot.
  • Hipersentivitas, seperti demam, menggigil, kulit kemerahan, pembengkakan kelenjar getah bening, vaskulitis (peradangan pembuluh darah).
  • Efek hematologis, seperti anemia, hemolisis (kerusakan sel darah merah), trombositopenia (penurunan kadar trombosit).
  • Gangguan saluran pencernaan: mual, muntah, sembelit, nyeri ulu hati.
  • Hepatotoksisitas: kerusakan hati yang disebabkan oleh zat kimia dalam obat.
  • Efek samping lainnya: sakit kepala, jantung berdebar, mulut kering, retensi urin, rematik.

Apabila Anda menderita penyakit hati kronis, masalah fungsi ginjal, atau riwayat kejang, informasikan kepada dokter. Dengan begitu, pemberian isoniazid akan lebih cermat. Selain itu, peminum alkohol, penderita berusia di atas 35 tahun, serta wanita hamil harus mendapat pengawasan khusus.

2. Rifampicin

Obat ini adalah jenis antibiotik turunan dari rifamicin, sama seperti isoniazid. Rifampicin bisa membunuh kuman yang tidak dapat dibunuh oleh obat isoniazid. 

Rifampicin dapat membunuh bakteri bersifat setengah aktif yang biasanya tidak bereaksi terhadap isoniazid. Obat ini bekerja dengan cara mengganggu kerja enzim bakteri.

Beberapa efek samping yang mungkin dapat muncul akibat pengobatan TBC dengan rifampicin adalah:

  • Gangguan pencernaan, seperti panas di perut, sakit perut, mual, muntah, kembung, anoreksia, kejang perut, diare.
  • Gangguan sistem saraf pusat, seperti mengantuk, letih, sakit kepala, pusing, bingung, sulit berkonsentrasi, gangguan penglihatan, otot mengendur
  • Hipersensitivitas, seperti demam, sariawan, hemolisis, pruritus, gagal ginjal akut
  • Urine berubah warna akibat zat berwarna merah di dalam obat rifampicin
  • Gangguan menstruasi atau hemoptisis (batuk berdarah)

Namun, jangan khawatir karena efek samping ini bersifat sementara. Rifampicin juga berisiko apabila dikonsumsi ibu hamil karena meningkatkan peluang kelahiran dengan masalah tulang belakang (spina bifida).

3. Pyrazinamide

Kemampuan pyrazinamide adalah membunuh bakteri yang bertahan setelah dilawan oleh makrofag (bagian dari sel darah putih yang pertama kali melawan infeksi bakteri di dalam tubuh). Obat ini juga bisa bekerja membunuh bakteri-bakteri yang berada dalam sel dengan pH asam.

Efek samping yang khas dalam penggunaan obat TBC ini adalah peningkatan asam urat dalam darah (hiperurisemia). Itu sebabnya penderita TB paru yang diresepkan obat ini harus juga rutin mengontrol kadar asam uratnya.

Selain itu, kemungkinan efek samping lainnya adalah penderita juga akan mengalami anoreksia, hepatotoksisitas, mual, dan muntah.

4. Etambutol

Etambutol adalah antituberkulosis yang bisa menghambat kemampuan bakteri menginfeksi, tapi tidak dapat membunuh bakteri secara langsung. Obat ini diberikan khusus untuk pasien dengan risiko terjadinya resistansi (kebal) obat TBC. Namun, jika risiko resistansi obat termasuk rendah, pengobatan TBC dengan etambutol dapat dihentikan.

Cara kerja etambutol bersifat bakteriostatik, artinya menghambat pertumbuhan bakteri M. tuberculosis yang kebal terhadap obat isoniazid dan streptomisin. Obat TBC ini juga menghalangi pembentukan dinding sel oleh mycolic acid.

Penggunaan etambutol tidak direkomendasikan untuk TBC pada anak di bawah 8 tahun karena dapat menyebabkan gangguan penglihatan dan efek sampingnya sangat sulit dikendalikan. Efek samping dari ethambutol yang mungkin akan timbul adalah:

  • Gangguan penglihatan
  • Buta warna
  • Penyempitan jarak pandang
  • Sakit kepala
  • Mual dan muntah
  • Sakit perut

5. Streptomisin

Streptomisin adalah antibiotik pertama yang dibuat khusus untuk melawan bakteri penyebab tuberkulosis. Pada pengobatan tuberkulosis sekarang ini, streptomisin digunakan untuk mencegah terjadinya efek resistansi antituberkulosis. 

Cara kerja obat TBC ini adalah dengan membunuh bakteri yang sedang membelah diri, yaitu dengan menghambat proses pembuatan protein bakteri.

Obat TBC streptomisin ini diberikan lewat suntikan ke jaringan otot (intramuskular/IM). Biasanya obat TBC jenis suntik ini diberikan jika Anda sudah mengalami penyakit TB untuk kedua kali atau konsumsi obat minum streptomisin tidak efektif lagi.

Pemberian obat TBC ini harus memperhatikan apakah pasien memiliki gangguan ginjal, sedang hamil, atau gangguan pendengaran. Obat ini memiliki efek samping yang mengganggu keseimbangan pendengaran jika dikonsumsi lebih dari 3 bulan.

Regimen pengobatan TBC berdasarkan kategori pasien

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, terdapat 3 kategori pasien TBC yang ditentukan berdasarkan hasil BTA dan riwayat pengobatan. Kategori ini selanjutnya menentukan jenis regimen pengobatan seperti apa yang tepat.

Mengutip laman TB Facts, regimen pengobatan merupakan kesatuan kombinasi obat-obatan yang digunakan untuk penderita TB dengan kode standar tertentu, biasanya berupa angka dan huruf kapital yang menentukan tahap, lama pengobatan, dan jenis obat.

Di Indonesia kombinasi obat antituberkulosis bisa disediakan dalam bentuk paket obat lepas kombipak ataupun bentuk obat antituberkulosis kombinasi dosis tetap (OAT-KDT). Paket kombipak inilah yang menunjukan regimen pengobatan TBC di Indonesia. Satu paket kombipak ditujukan untuk satu kategori pasien dalam satu masa pengobatan.

Dilansir dari dokumen Departemen Kesehatan RI, kode-kode yang digunakan dalam regimen pengobatan tuberkulosis adalah:

Kombipak kategori I

(Tahap intensif/tahap lanjutan)

• 2HRZE/4H3R3

• 2HRZE/4HR

• 2HRZE/6HE

Kombipak kategori II

(Tahap intensif/ tahap lanjutan)

• 2HRZES/HRZE/5H3R3E3

• 2HRZES/HRZE/5HRE

Kombipak kategori III

(Tahap intensif/ tahap lanjutan)

• 2HRZ/4H3R3

• 2HRZ/4HR

• 2HRZ/6HE

Dengan keterangan yang menunjukan:

H = Isoniazid, R = Rifampisin, Z = Pirazinamid, E = Etambutol, S = Streptomisin

Sementara angka dalam kode menunjukkan waktu dan frekuensi. Angka yang terdapat di depan menunjukan durasi konsumsi, misalnya pada 2HRZES, artinya digunakan selama 2 bulan setiap hari. Sementara itu, angka di belakang huruf menandakan berapa kali pemakaian obat, seperti dalam 4H3R3 berarti 3 kali pemakaian dalam seminggu selama 4 bulan.

Saat berkonsultasi, dokter biasanya akan memberikan panduan mengenai aturan penggunaan kombipak ini.

OAT-KDT

Sementara itu, OAT-KDT atau dalam istilah umumnya adalah Fix Dose Combination (FDC) merupakan campuran 2-4 obat anti-TBC yang telah dimasukkan ke dalam satu tablet.

Penggunaan obat ini sangat menguntungkan karena bisa menghindari risiko kesalahan peresepan dosis dan memudahkan pasien mematuhi aturan pengobatan. Dengan jumlah tablet yang lebih sedikit, pasien pun jadi lebih mudah mengelola dan mengingat pemakaian obat.

Terdapat juga jenis obat tuberkulosis sisipan yang diberikan setiap hari selama satu bulan jika pada akhir tahap intensif pasien kategori I dan pasien pengobatan ulang (kategori II) menunjukan BTA positif.

Jika Anda memiliki TBC laten yaitu kondisi di mana tubuh Anda telah terinfeksi bakteri M. tuberculosis, tapi bakteri tidak aktif memperbanyak diri, Anda juga perlu mendapatkan obat TBC meskipun tidak menunjukkan gejala TB paru aktif. Biasanya, TBC laten akan ditangani dengan kombinasi obat rifampicin dan isoniazid selama 3 bulan. 

Obat lini kedua untuk TB resistan obat

Saat ini, semakin banyak bakteri yang kebal terhadap obat TBC lini pertama. Resistansi bisa disebabkan oleh pengobatan yang terputus, jadwal minum obat yang tidak teratur, atau sifat bakteri yang resistan terhadap jenis antibiotik tertentu. 

Kondisi tersebut dikenal dengan TB MDR (Multidrug Resistance). Biasanya, bakteri penyebab TBC resisten terhadap dua jenis obat TB, yaitu rifampicin dan isoniazid.

Orang dengan TB MDR akan menjalani pengobatan TBC menggunakan obat lini kedua. Pada studi berjudul Tuberculosis Treatment and Drug Regimens, penggunaan obat yang dianjurkan WHO untuk pasien tuberkulosis resistan obat, yakni:

  • Pyrazinamide
  • Amikacin bisa diganti dengan kanamycin
  • Ethionamide atau prothionamide
  • Cycloserine atau PAS

Beberapa obat TB lini kedua lainnya yang juga diperbolehkan oleh WHO adalah:

  • Capreomycin
  • Para-aminosalicylic acid (PAS)
  • Ciprofloxacin
  • Ofloxacin
  • Levofloxacin

Pasien TB resistan obat juga harus mengulang kembali tahap pengobatan TBC dari awal sehingga secara total memerlukan lebih panjang, yaitu minimal 8-12 bulan, kemungkinan buruknya bisa sampai 24 bulan. Efek samping pengobatan pun bisa lebih berat.

Mengapa pengobatan TBC memerlukan waktu lama?

Bakteri penyebab TBC, Mycobacterium tuberculosis (MTB), adalah jenis bakteri yang tahan terhadap kondisi lingkungan yang asam. Begitu masuk ke dalam tubuh, bakteri ini bisa “tertidur” lama alias berada di fase dorman. Artinya, berada di tubuh, tapi tidak berkembang biak.

Kebanyakan jenis antibiotik, termasuk yang digunakan sebagai obat TBC, hanya berfungsi membunuh bakteri saat berada di fase aktif. Padahal, pada kasus penyakit tuberkulosis aktif, terdapat juga bakteri yang berada dalam fase dorman (nonaktif).

Dalam studi berjudul Why Is Long-Term Therapy Required to Cure Tuberculosis? juga disebutkan terdapat dua tipe resistansi yang bisa dimiliki MTB ini, yaitu fenotipe (dipengaruhi lingkungan) dan genotipe (faktor genetik). 

Studi tersebut menyebutkan bahwa jumlah bakteri yang berlimpah akan meningkatkan peluang tejadinya resistansi obat secara fenotipe. Alhasil, beberapa bakteri bisa resistan terhadap beberapa jenis antibiotik dalam satu periode pengobatan yang sama. Hal itu membuat bakteri yang mungkin resistan harus tetap diobati. Itulah yang menyebabkan durasi pengobatan TBC memakan waktu yang lebih lama.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Tips Sederhana Terhindar dari Penyebaran dan Penularan TBC

Tuberkulosis atau TBC dapat mudah menyebar melalui udara. Namun, mencegah TBC dan penularannya dapat dihindari dengan cara sederhana berikut ini.

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Hidup Sehat, Tips Sehat 24 Maret 2020 . Waktu baca 4 menit

Mengenal Penyakit TB XDR, Bahaya dan Pengobatannya

Lebih fatal dari MDR, kondisi TB XDR bahkan tidak dapat diobati, alias kebal, dengan obat lini kedua. Bagaimana cara mencegah dan mengobatinya?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Kesehatan Pernapasan, TBC 21 Maret 2020 . Waktu baca 6 menit

Penyakit TBC Bisa Kambuh, Ini Ciri-Ciri, Penyebab, dan Cara Mencegahnya

Penyakit tuberkulosis (TBC) tidak hanya sulit diobati, tapi juga berisiko muncul kembali. Lalu, bagaimana cara mencegah agar TBC tidak kambuh?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Kesehatan Pernapasan, TBC 4 Januari 2020 . Waktu baca 6 menit

Jangan Sampai Pengobatan Gagal, Ini Cara Agar Taat Minum Obat TBC

Pasien TBC harus taat dan disiplin minum obat agar kesembuhannya optimal. Selain punya pengawas minum obat, ini tips dan cara minum obat tbc yang benar.

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Kesehatan Pernapasan, TBC 9 November 2019 . Waktu baca 7 menit

Direkomendasikan untuk Anda

obat alami tbc herbal atau tradisional

Berbagai Macam Pengobatan Alami untuk Mengatasi Gejala TBC

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Shylma Na'imah
Dipublikasikan tanggal: 10 Juni 2020 . Waktu baca 8 menit
tb ekstra paru atau di luar paru

Hal Yang Perlu Anda Ketahui Seputar Tuberkulosis (TB) Ekstra Paru

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Shylma Na'imah
Dipublikasikan tanggal: 28 Mei 2020 . Waktu baca 8 menit
olahraga untuk pasien tuberkulosis

Bantu Masa Penyembuhan, Berikut Pilihan Olahraga Aman untuk Pasien TBC

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Dipublikasikan tanggal: 24 April 2020 . Waktu baca 7 menit
perkembangan infeksi TB laten tuberkolosis

Mewaspadai TB Laten, Perlukah Melakukan Pengobatan?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Dipublikasikan tanggal: 31 Maret 2020 . Waktu baca 6 menit