home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Berbagai Metode Pemeriksaan untuk Mendiagnosis TBC

Berbagai Metode Pemeriksaan untuk Mendiagnosis TBC

Tuberkulosis atau TBC adalah penyakit pernapasan yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. Terkadang, penyakit ini sulit terdeteksi di awal karena bakteri penyebab TBC bisa dalam keadaan “tidur” atau tidak aktif menginfeksi paru-paru. Oleh karena itu, penting bagi Anda untuk menjalani pemeriksaan TBC, terutama jika Anda memiliki faktor-faktor risiko tertular bakteri M. tuberculosis. Seperti apa proses diagnosis TBC, dan siapa saja yang harus menjalani pemeriksaan? Simak penjelasannya di bawah ini.

Kenapa perlu melakukan pemeriksaan TBC?

Penularan penyakit TBC terjadi melalui udara. Saat penderita TBC batuk atau bersin, ia mengeluarkan droplet (percikan dahak) yang mengandung bakteri tuberkulosis. Droplet yang berisi bakteri bisa bertahan di udara selama beberapa waktu.

Saat droplet mengandung bakteri terhirup orang lain, bakteri akan berpindah ke tubuh orang tersebut melalui mulut atau saluran pernapasan atas.

Faktanya, kebanyakan orang telah terpapar bakteri TBC selama hidupnya. Namun, kebanyakan memang tidak menunjukkan gejala, alias dalam keadaan TB laten atau tidur

Meski begitu, 10% di antara orang yang terinfeksi tuberkulosis menderita TB paru aktif. Itu sebabnya, penderita TB laten tetap perlu mewaspadai perkembangan penyakit ini di dalam tubuh, salah satunya dengan melakukan pemeriksaan.

Beberapa faktor dapat meningkatkan risiko seseorang untuk terinfeksi bakteri tuberkulosis. Orang yang memiliki faktor risiko tersebut disarankan untuk mengikuti pemeriksaan TBC. Dari hasil pemeriksaan, dokter akan menentukan apakah Anda perlu menjalani pengobatan TBC atau tidak.

Selain memastikan status infeksi agar tidak terlambat berobat, diagnosis TBC sedari dini untuk orang dengan faktor risiko juga berguna untuk menghindari penyebaran penyakit ke orang lain. Anda yang dinyatakan positif menularkan TBC sejak awal bisa segera melakukan langkah pencegahan penularan TBC.

Berbagai metode pemeriksaan dalam diagnosis TBC

Jika Anda atau tim medis mencurigai adanya infeksi TBC di dalam tubuh, Anda harus menjalani pemeriksaan fisik terlebih dahulu sebelum pengobatan.

Dokter akan mengawali proses diagnosis TBC dengan menanyakan faktor-faktor risiko yang ada. Kapan terakhir kali pergi ke daerah endemik TBC, kapan melakukan kontak dengan pasien TBC, apa pekerjaan Anda adalah pertanyaan yang mungkin akan ditanyakan.

Selain itu, dokter juga akan mencari tahu apakah Anda memiliki penyakit atau kondisi kesehatan tertentu yang menurunkan sistem kekebalan tubuh Anda, seperti infeksi HIV atau diabetes.

Tidak hanya itu saja, dokter juga akan mengecek apakah ada pembengkakan pada kelenjar getah bening Anda, serta mendengarkan bunyi paru-paru Anda dengan stetoskop saat Anda bernapas.

Apabila terdapat dugaan infeksi TBC, dokter akan meminta Anda melakukan tes-tes tambahan agar hasil diagnosis TBC lebih akurat.

Beberapa prosedur pemeriksaan medis yang umum dilakukan untuk mendiagnosis TBC adalah:

1. Tes kulit (Mantoux test)

Tes kulit, atau mantoux tuberculin skin test (TST), merupakan metode yang paling sering digunakan dalam pemeriksaan TBC. Biasanya, tes ini dilakukan di negara-negara dengan angka kejadian TBC yang rendah, di mana kebanyakan orang hanya memiliki TBC jenis laten di dalam tubuhnya.

Tes ini dilakukan dengan cara menyuntikkan cairan yang disebut dengan tuberkulin. Itu sebabnya, tes ini disebut juga dengan nama uji tuberkulin. Tuberkulin disuntikkan di bagian bawah lengan Anda. Setelah itu, Anda akan diminta untuk kembali ke dokter dalam waktu 48-72 jam setelah tuberkulin disuntikkan.

Tim medis akan mengecek apakah terdapat pembengkakan (benjolan) atau pengerasan—atau disebut indurasi—di bagian tubuh Anda. Jika ternyata ada, tim medis akan mengukur indurasi tersebut.

Hasil diagnosis TBC akan bergantung pada ukuran pembengkakan tersebut. Semakin besar area yang bengkak akibat suntikan tuberkulin, semakin besar pula kemungkinan Anda terinfeksi oleh bakteri TBC.

Sayangnya, tes kulit dengan cairan tuberkulin belum dapat menunjukkan apakah Anda memiliki TBC jenis laten atau penyakit TBC aktif.

2. The Interferon Gamma Release Assays (IGRA)

IGRA adalah jenis pemeriksaan TBC terbaru yang dilakukan dengan mengambil sedikit sampel darah Anda. Tes darah dilakukan untuk mengetahui bagaimana sistem imun tubuh Anda merespons bakteri penyebab TBC.

Pada prinsipnya, sistem imun tubuh Anda memproduksi molekul yang disebut dengan sitokin. Tes IGRA bekerja dengan cara mendeteksi salah satu jenis sitokin bernama interferon gamma.

Terdapat dua jenis IGRA yang sudah disetujui dan sesuai dengan standar FDA, yaitu QuantiFERON®–TB Gold In-Tube test (QFT-GIT) dan T-SPOT® TB test (T-Spot).

Tes IGRA untuk diagnosis TBC biasanya akan berguna ketika hasil tes kulit tuberkulin Anda menunjukkan adanya bakteri M. tuberculosis, tapi Anda masih perlu memastikan jenis TBC tersebut.

3. Sputum smear microscopy

Pemeriksaan lain yang dapat dilakukan untuk mendeteksi adanya TBC adalah sputum smear microscopy, atau mengambil sedikit cairan dahak untuk diperiksa di bawah mikroskop. Anda mungkin lebih mengenalnya dengan nama tes dahak atau pemeriksaan BTA.

Saat Anda batuk, dokter akan mengambil sampel dari dahak Anda. Dahak kemudian akan dioleskan ke lapisan kaca tipis. Proses ini disebut dengan smear.

Setelah itu, cairan tertentu akan diteteskan ke sampel dahak tersebut. Dahak yang telah tercampur dengan tetesan cairan tersebut akan diperiksa dengan mikroskop untuk mengetahui adanya bakteri TBC.

Terkadang, ada cara lain yang dapat meningkatkan akurasi sputum smear, yaitu dengan menggunakan mikroskop fluorescent. Cahaya yang dikeluarkan dari mikroskop jenis ini menggunakan lampu berkekuatan merkuri yang tinggi, sehingga lebih banyak area sampel dahak yang terlihat dan proses mendeteksi bakteri akan jauh lebih cepat.

Potensi penularan TBC ditentukan oleh banyaknya kuman yang terdapat dalam pemeriksaan sputum atau sampel dahak. Makin tinggi derajat positif hasil pemeriksaan sputum untuk TBC, makin tinggi risiko penderita menularkan penyakitnya kepada orang lain.

4. Rontgen thorax TB paru

Hasil rontgen dada (thorax) dapat memberikan gambaran klinis dari kondisi paru-paru seseorang sehingga bisa mendeteksi penyakit TBC.

Pemeriksaan TBC ini mungkin dilakukan setelah satu spesimen tes dahak BTA menunjukkan hasil positif dan dua spesimen lainnya negatif. Anda juga akan diminta melakukan rontgen thorax apabila hasil tes Anda negatif semua dan Anda telah diberikan obat antibiotik non-TB paru, tapi tak ada perbaikan.

Dari foto rontgen thorax dapat diketahui apakah terdapat tanda-tanda infeksi bakteri di paru-paru. Hasil foto rontgen thorax yang abnormal menunjukan bakteri TB aktif menginfeksi bagian paru-paru. Itu sebabnyan sering disebut dengan gambaran tuberkulosis aktif.

Dalam artikel ilmiah Pulmonary Tuberculosis: Role of Radiology, menjelaskan hasil rontgen abnormal ditandai dengan kemunculan area putih berbentuk iregular di sekitar area paru-paru yang ditunjukkan dengan bayangan berwarna hitam. Area putih tersebut merupakan lesi, yaitu kerusakan jaringan yang terjadi akibat infeksi. Semakin luas area putih menandakan semakin besar kerusakan yang disebabkan infeksi bakteri di paru-paru.

Dokter akan memeriksa bentukan lesi untuk melakukan diagnosis lanjutan terhadap perkembangan penyakit tuberkulosis. Lesi dapat ditunjukkan dalam bentuk dan ukuran yang berbeda-beda yang diklasifikasikan sebagai kavitas, infiltrat dengan pembesaran kelenjar, dan nodul. Masing-masing lesi menunjukkan tahap perkembangan infeksi ataupun tingkat keparahan penyakit TBC.

Bagaimana dengan tingkat keakuratan pemeriksaan TBC?

Masing-masing metode pemeriksaan TBC memiliki kelebihan dan kekurangan. Beberapa jenis tes tidak dapat menunjukkan hasil yang cukup akurat, bahkan berpotensi memberikan hasil yang salah.

Tes mantoux dinilai salah satu yang berpotensi kurang akurat. Pasalnya, uji tuberkulin ini tidak mampu membedakan apakah Anda menderita TB laten atau aktif. Hasil yang muncul pada orang yang telah menerima vaksinasi BCG juga kurang optimal.

Hasil tes bisa saja menunjukkan positif terkena infeksi TBC jika pernah menerima vaksinasi tersebut. Padahal, Anda mungkin belum terpapar bakteri TBC sama sekali.

Uji tuberkulin negatif juga sering terjadi pada kalangan tertentu, seperti anak-anak, lansia, dan penderita HIV/AIDS.

Tes dahak (pemeriksaan BTA) hanya memiliki persentase akurasi sebesar 50-60 persen. Bahkan, di negara-negara dengan kasus kejadian TBC yang tinggi, akurasinya malah semakin menurun.

Hal ini kemungkinan disebabkan karena TBC pada penderita penyakit lainnya, seperti HIV, memiliki kadar bakteri TBC yang rendah di dalam dahaknya. Akibatnya, bakteri sulit dideteksi.

Metode pemeriksaan TBC yang terbukti menunjukkan hasil diagnosis paling akurat sejauh ini adalah tes darah IGRA. Sayangnya, tes IGRA belum tersedia di beberapa daerah, terutama kawasan dengan fasilitas medis yang kurang memadai.

Siapa saja yang perlu melakukan pemeriksaan TBC?

Dilansir dari situs Centers for Disease Control and Prevention, terdapat beberapa orang dengan faktor risiko, kondisi kesehatan atau penyakit tertentu seperti diabetes diharuskan menjalani pemeriksaan TBC, yaitu:

  • Orang yang tinggal atau sering menghabiskan waktu dengan penderita TBC
  • Orang yang tinggal atau bepergian ke daerah dengan kasus TBC yang tinggi, seperti Amerika Selatan, Asia Tenggara, Afrika, dan Eropa Timur.
  • Orang yang tinggal atau bekerja di tempat dengan risiko tertular tinggi, seperti rumah sakit, puskesmas, panti, penampungan anak jalanan, pengungsian, dan lain sebagainya.
  • Bayi, anak-anak, dan remaja yang berdekatan dengan orang dewasa penderita TBC.
  • Orang dengan sistem imun lemah.
  • Orang dengan penyakit yang menyebabkan penurunan sistem imun tubuh, seperti HIV/AIDS, atau rheumatoid arthritis.
  • Orang yang pernah menderita penyakit TBC dan tidak menjalani pengobatan dengan tepat.

Tes pemeriksaan TBC umumnya tidak perlu dilakukan oleh orang-orang yang tidak memiliki faktor-faktor risiko di atas.

Selain itu, terlepas dari apakah Anda memiliki faktor-faktor risiko di atas atau tidak, Anda perlu mempertimbangkan untuk menjalani diagnosis TBC jika muncul tanda-tanda dan gejala TBC sebagai berikut:

  • Batuk berlangsung lebih dari 3 minggu
  • Hemoptisis (batuk berdarah)
  • Sesak napas
  • Penurunan berat badan secara drastis
  • Nafsu makan menurun
  • Berkeringat di malam hari
  • Demam
  • Kelelahan

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

TB Facts. (2020). Tests for TB – Sputum microscopy, skin test, IGRAs. Retrieved 18 May 2020, from https://tbfacts.org/tests-tb/

CDC. (2020). Who Should be Tested | Testing & Diagnosis | TB. Retrieved 18 May 2020, from https://www.cdc.gov/tb/topic/testing/whobetested.htm

CDC. (2020). Testing for TB Infection | Testing & Diagnosis | TB. Retrieved 18 May 2020, from https://www.cdc.gov/tb/topic/testing/tbtesttypes.htm

CDC. (2020). Diagnosing Latent TB infection & Disease | Testing & Diagnosis | TB. Retrieved 18 May 2020, from https://www.cdc.gov/tb/topic/testing/diagnosingltbi.htm

Mayo Clinic. (2020). Tuberculosis – Diagnosis and treatment. Retrieved 18 May 2020, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/tuberculosis/diagnosis-treatment/drc-20351256

NHS. (2018). Tuberculosis (TB) – Diagnosis. Retrieved 18 May 2020, from https://www.nhs.uk/conditions/tuberculosis-tb/diagnosis/

Nachiappan, A. C., Rahbar, K., Shi, X., Guy, E. S., Mortani Barbosa Jr, E. J., Shroff, G. S., … & Hammer, M. M. (2017). Pulmonary tuberculosis: role of radiology in diagnosis and management. Radiographics, 37(1), 52-72.

Kementrian Kesehatan RI. (2009). Pedoman Penanggulangan Tuberkulosis (TB). Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 364/Menkes/SK/V/2009 Retrieved 10 June 2020, from https://www.persi.or.id/images/regulasi/kepmenkes/kmk3642009.pdf


Foto Penulis
Ditinjau oleh dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh Shylma Na'imah
Tanggal diperbarui 07/03/2018
x