backup og meta
Kategori
Cek Kondisi

1

Tanya Dokter
Simpan
Konten

Cara Penularan TBC Paling Umum yang Perlu Diwaspadai

Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H. · General Practitioner · Medicine Sans Frontières (MSF)


Ditulis oleh Fidhia Kemala · Tanggal diperbarui 3 hari lalu

Cara Penularan TBC Paling Umum yang Perlu Diwaspadai

Penting bagi Anda untuk mengetahui cara penularan TBC, sehingga Anda dapat menghindari risiko terinfeksi dari orang yang sakit. Pasalnya, Indonesia menempati urutan kedua sebagai negara dengan kasus TBC terbanyak di dunia, menyusul India.

Data terbaru dari Kementerian Kesehatan melaporkan ada 821.200 kasus TBC di Indonesia pada tahun 2023. Meningkatnya kasus TBC di tanah air dipengaruhi oleh kurangnya kesadaran masyarakat dan terbatasnya informasi mengenai penyakit ini.

Mengenal karakteristik bakteri penyebab tuberkulosis

Sebelum mengetahui cara penularan TBC, Anda perlu memahami terlebih dahulu bagaimana bakteri penyebab tuberkulosis bisa hidup dan berkembang biak dalam tubuh.

Tuberkulosis adalah infeksi sangat menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Bakteri TB memiliki karakteristik layaknya jenis bakteri pada umumnya.

  • Mampu bertahan hidup di suhu rendah, antara 4 sampai minus 70 derajat Celcius pada waktu yang lama.
  • Kuman yang terpapar sinar ultraviolet secara langsung akan mati dalam beberapa menit.
  • Udara segar biasanya juga dapat membunuh bakteri dalam waktu singkat.
  • Bakteri akan mati dalam jangka waktu satu minggu jika terdapat di dalam dahak yang berada pada suhu di antara 30—37 derajat celcius.
  • Kuman bisa tidur dan tidak berkembang di dalam tubuh dalam waktu yang lama.

Ketika bakteri TBC masuk ke dalam tubuh Anda, bakteri belum tentu langsung berkembang menjadi penyakit.

Dalam sebagian besar kasus, kuman akan tidur dan tidak berkembang dalam jangka waktu tertentu. Kondisi tersebut dinamakan dengan TB laten.

Bagaimana cara penularan bakteri TBC?

Batuk menular

Mycobacterium tuberculosis menyebar dari satu orang ke orang lainnya ketika penderita TB mengeluarkan dahak atau cairan liur dari mulutnya yang berisi kuman ini ke udara—misalnya saat batuk, bersin, berbicara, bernyanyi, atau bahkan tertawa.

Bahkan, menurut Stat Pearls, cara penularan TBC umumnya terjadi ketika penderita berbicara selama kurang lebih 5 menit atau batuk sekali saja.

Dalam kurun waktu tersebut, droplet atau percikan dahak yang mengandung bakteri dapat terlepas dan bertahan di udara selama kurang lebih 30 menit.

Adapun dalam satu kali batuk, melansir Kemenkes RI, seseorang biasanya menghasilkan sekitar 3.000 percikan dahak atau droplet.

Tergantung pada bagaimana keadaan lingkungan, kuman yang keluar dari batuknya penderita TB dapat bertahan di udara lembap yang tidak terpapar sinar matahari selama berjam-jam.

Akibatnya, setiap orang yang berdekatan dan memiliki kontak dengan penderita TBC secara langsung berpotensi menghirupnya sehingga akhirnya tertular.

Ketika seseorang menghirup droplet yang mengandung bakteri M. tuberculosis, bakteri tersebut kemudian masuk ke alveoli (kantung udara tempat pertukaran oksigen dan karbondioksida).

Sebagian besar bakteri akan dihancurkan oleh makrofag yang dihasilkan oleh sel darah putih.

Sisa bakteri yang ada dapat tertidur dan tidak berkembang di dalam alveoli. Kondisi ini yang dinamakan dengan TB laten. Saat bakteri tertidur, Anda tidak dapat menularkan bakteri TB ke orang lain.

Jika sistem kekebalan tubuh melemah, TB laten dapat berkembang menjadi penyakit TB aktif. Saat inilah bakteri akan menyebar ke bagian tubuh lainnya dan dapat menular ke orang lain.

Tempat yang rentan jadi penularan TBC

Mengetahui karakter bakteri penyebab TB juga membantu Anda memahami tempat-tempat yang berisiko. Dengan begitu, penularan TBC pun dapat dicegah.

Secara umum, cara penularan TBC dapat terjadi di tiga tempat, yaitu di fasilitas kesehatan, rumah, dan tempat-tempat khusus, seperti penjara.

1. Penularan di fasilitas kesehatan

Kasus penularan TBC di fasilitas kesehatan sangat sering terjadi, khususnya di negara berkembang, seperti Afrika Selatan dan Asia Tenggara.

Kondisi ini umumnya disebabkan oleh fasilitas kesehatan, seperti rumah sakit atau puskesmas, terlalu ramai dipadati orang, sehingga risiko penularan pun lebih tinggi.

Bahkan, menurut Stat Pearls, penularan penyakit di rumah sakit atau fasilitas kesehatan lainnya ini 10 kali lebih tinggi dibanding tempat lainnya.

2. Penularan di rumah

Apabila Anda tinggal bersama atau bahkan merawat pasien TBC di rumah, penularan pun lebih mudah terjadi.

Hal ini dikarenakan Anda terpapar bakteri dalam durasi yang lebih lama. Ada kemungkinan pula bakteri hidup lebih lama di udara dalam rumah Anda.

Diperkirakan, kemungkinan seseorang untuk tertular TBC apabila tinggal bersama penderita dapat mencapai 15 kali lipat lebih besar dibanding penularan di luar rumah.

3. Penularan di penjara

Di penjara, baik tahanan maupun petugasnya, sama-sama memiliki risiko yang cukup tinggi tertular TB paru. Risiko tersebut semakin tinggi di penjara-penjara yang berada di negara berkembang.

Umumnya, kondisi di penjara yang tidak dilengkapi dengan ventilasi yang cukup membuat sirkulasi udara memburuk. Hal inilah yang menyebabkan penularan TBC lebih mudah terjadi.

Berdasarkan sebuah studi pada jurnal Plos One mengenai kasus TBC di penjara di Afrika Selatan, persentase risiko penularan TBC di penjara dapat mencapai sekitar 90%.

Penting untuk Anda ketahui bahwa cara penularan TBC hanya terjadi melalui penyebaran di udara. Ini artinya, Anda tidak akan tertular hanya dengan menyentuh penderita yang mengidap penyakit ini.

Meski begitu, perlu Anda ketahui bahwa bakteri TBC tidak ditularkan lewat hal-hal berikut ini.

  • Makanan atau air.
  • Melalui kontak kulit seperti bersalaman atau berpelukan dengan penderita TBC.
  • Duduk di kloset.
  • Berbagi sikat gigi dengan penderita TBC.
  • Mengenakan pakaian penderita TBC.
  • Melalui aktivitas seksual.

Lain lagi ceritanya jika Anda berdekatan dengan penderita dan tidak sengaja menghirup udara yang mengandung droplet dari tubuh penderita.

Droplet tersebut dapat menyebar di udara ketika penderita bersin atau batuk, bahkan mungkin saat berbicara.

Sayangnya, stigma mengenai cara penularan penyakit TBC masih cukup tinggi di negara-negara berkembang, terutama yang masih belum mendapatkan edukasi mengenai TBC secara mendalam.

Akibatnya, banyak orang yang masih percaya bahwa penularan dapat terjadi melalui makanan, minuman, kontak kulit, atau bahkan keturunan.

Faktor yang meningkatkan risiko penularan TBC

Batuk menerus

Terpaparnya seseorang terhadap penularan bakteri TBC ditentukan oleh beberapa faktor, yaitu sebagai berikut.

  • Kedekatan atau jarak antara penderita dengan orang yang sehat: semakin dekat jarak kontak antara orang yang sehat dengan penderita, semakin besar peluang terinfeksi bakteri TBC.
  • Frekuensi atau seberapa sering Anda terpapar: semakin sering orang sehat berinteraksi dengan pasien, maka semakin berisiko tertular TBC.
  • Durasi atau seberapa lama paparan terjadi: semakin lama orang sehat berinteraksi dengan pasien, maka risiko penularan TBC semakin tinggi.
  • Kerentanan seseorang: yang biasanya bergantung pada kondisi sistem kekebalan tubuhnya.

Risiko penularan TBC akibat faktor di atas akan semakin tinggi jika pada kondisi berikut.

  • Kadar konsentrasi droplet nuklei. Semakin banyak droplet yang terdapat di udara, semakin mudah bakteri TBC ditularkan.
  • Ruang. Paparan terhadap bakteri di ruangan kecil dan tertutup meningkatkan risiko penularan TBC.
  • Ventilasi. Potensi penularan TBC lebih besar jika terpapar di ruangan dengan ventilasi yang buruk (bakteri tidak dapat keluar ruangan).
  • Sirkulasi udara. Sirkulasi udara yang buruk juga menyebabkan droplet bakteri dapat bertahan hidup di udara lebih lama.
  • Penanganan medis yang tidak tepat. Prosedur medis tertentu dapat menyebabkan droplet bakteri menyebar dan meningkatkan risiko penularan TBC.
  • Tekanan udara. Tekanan udara dalam keadaan tertentu dapat mengakibatkan bakteri M. tuberculosis menyebar ke tempat lain.

Oleh karena itu, Anda perlu mewaspadai jika berinteraksi dengan orang yang menunjukkan gejala TBC seperti:

  • batuk terus-menerus (selama lebih dari 3 minggu),
  • sesak napas, dan
  • sering berkeringat di malam hari.
  • Bagi penderita TB paru aktif, Anda bisa membuat orang sehat jadi lebih berisiko tertular jika pada kondisi berikut.

    • Tidak menutup hidung dan mulut saat sedang batuk.
    • Tidak menjalani pengobatan TBC dengan tepat, misalnya tidak sesuai dosis atau berhenti sebelum habis.
    • Menjalani prosedur medis seperti bronkoskopi, induksi dahak, atau menerima obat-obatan aerosol.
    • Adanya kelainan saat dicek dengan radiografi dada.
    • Hasil pemeriksaan TBC yaitu kultur dahak menunjukkan adanya bakteri M. tuberculosis.

    Konsultasikan kepada dokter jika Anda sudah terlalu lama kontak dekat dengan pasien TBC dan curiga telah tertular untuk mendapat pemeriksaan dan penanganan yang tepat.

    Kesimpulan

    • Tuberkulosis adalah infeksi sangat menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Bakteri ini menyebar dari satu orang ke orang lainnya ketika penderita TB mengeluarkan dahak atau cairan liur dari mulutnya yang berisi kuman ini ke udara—misalnya saat batuk, bersin, berbicara, bernyanyi, atau bahkan tertawa.
    • Oleh karena itu, Anda perlu mewaspadai bila berinteraksi dengan orang yang menunjukkan gejala TBC, seperti batuk, sesak napas, hingga sering berkeringat di malam hari.

    Catatan

    Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Ditinjau secara medis oleh

    dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.

    General Practitioner · Medicine Sans Frontières (MSF)


    Ditulis oleh Fidhia Kemala · Tanggal diperbarui 3 hari lalu

    advertisement iconIklan

    Apakah artikel ini membantu?

    advertisement iconIklan
    advertisement iconIklan