Waspadai Penyebab TBC, Penyakit Menular dan Mematikan

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 24 November 2020 . Waktu baca 8 menit
Bagikan sekarang

Tuberkulosis (TBC) jadi salah satu dari 10 penyakit mematikan di dunia. Orang yang terkena penyakit ini biasanya ditandai dengan gejala batuk terus-menerus, menurunnya berat badan, sesak napas, dan berkeringat di malam hari walaupun tidak sedang melakukan aktivitas. Lantas, sebenarnya apa penyebab dari TBC? Simak ulasannya berikut ini.

Bakteri Mycobacterium tuberculosis adalah penyebab TBC

Tuberkulosis adalah penyakit menular yang menyerang sistem pernapasan tepatnya di paru-paru. Jika tidak menjalani pengobatan TBC, penyakit ini juga dapat menyebar ke bagian tubuh yang lainnya, seperti ginjal, tulang belakang, dan otak.

Penyebab penyakit TBC adalah infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. Bakteri ini memiliki kekerabatan dekat spesies mikobakterial lainnya yang juga bisa menyebabkan tuberkulosis, yaitu M. bovis, M. africanum, M. microti, M. caprae, M. pinnipedii, M. canetti, dan M. mungi. Namun sebagian besar kasus tuberkolosis disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis.

Kemunculan bakteri ini memang masih belum diketahui secara pasti, tapi diperkirakan berasal dari hewan-hewan ternak.

Penularan TBC terjadi ketika seseorang menghirup udara yang telah terkontaminasi Mycobacterium tuberculosis. Setelah masuk ke dalam tubuh, bakteri akan mulai menginfeksi paru-paru, tepatnya di bagian alveoli, yaitu kantong udara yang menjadi tempat pertukaran oksigen dan karbon dioksida.

Infeksi Mycobacterium tuberculosis

perkembangan infeksi TB laten tuberkolosis

Saat masuk ke dalam tubuh, sebenarnya sebagian dari jumlah bakteri telah berkurang berkat perlawanan sel makfrofag, yakni bagian sel darah putih yang menjadi bagian dari sistem imun. Sebagian bakteri yang lolos dari perlawanan makrofag kemudian berkembang biak di alveoli paru.

Melansir penjelasan CDC, dalam waktu 2-8 minggu berikutnya sel-sel makrofag akan mengelilingi bakteri yang tersisa untuk membentuk granuloma atau dinding perekat. Granuloma berfungsi menjaga perkembangan Mycobacterium tuberculosis di paru-paru tetap terkendali. Dalam kondisi ini dapat dikatakan bakteri tidak aktif menginfeksi.

Ketika ada bakteri yang masuk ke dalam tubuh, tapi tidak aktif menginfeksi disebut dengan TB laten. Bakteri yang tidak dapat berkembang biak tidak merusak sel-sel sehat di paru. Itu sebabnya, penderita TB laten tidak mengalami gejala TBC. Mereka juga tidak dapat menyebarkan infeksi bakteri ke orang lain.

Apabila sistem imun tubuh ternyata tidak dapat menahan perkembangan bakteri, infeksi akan kembali aktif dan jumlah bakteri akan bertambah banyak dalam waktu cepat. Akibatnya, dinding granuloma akan runtuh dan bakteri akan menyebar dan merusak sel-sel sehat di paru-paru.

Pada tahap ini, penderita merasakan gejala TBC sehingga disebut juga dengan penyakit TB paru aktif. Penderita TB aktif dapat menularkan bakteri ke orang lain.

Jika jumlahnya terus bertambah, bakteri penyebab TBC bisa memasuki aliran darah atau sistem getah bening yang berada di seluruh tubuh. Ketika terbawa inilah, bakteri bisa mencapai organ-organ tubuh lainnya, seperti ginjal, otak, kelenjar getah bening, serta tulang. Infeksi Mycobacterium tuberculosis yang menyerang organ di luar paru-paru menyebabkan kondisi TB ekstra paru.

Bakteri penyebab TBC yang bermutasi (bisa disebabkan oleh tidak patuhnya pengobatan), juga bisa membuat tuberkulosis memburuk sehingga mengalami TBC resistan obat (TB MDR). TB MDR adalah kondisi di mana bakteri tuberkulosis yang ada di dalam tubuh kebal terhadap reaksi obat TBC. Bila TBC resisten obat terlambat dideteksi, hal ini menyebabkan penyakit semakin sulit untuk disembuhkan.

fakta tentang tbc tuberkulosis indonesia dan dunia

Faktor yang meningkatkan risiko seseorang terkena TBC

Apabila Anda memiliki salah satu atau beberapa faktor risiko tertentu peluang Anda untuk terkena TB paru akan lebih tinggi.

Faktor-faktor risiko yang akan dijelaskan di sini adalah kondisi yang berpotensi membuat seseorang terinfeksi TBC, baik laten maupun berkembang jadi aktif.

Berikut ini adalah beberapa faktor risiko yang menjadi penyebab Anda berpotensi memiliki TB paru aktif.

1. Sering kontak langsung dengan penderita TBC

Penyebab batuk tak kunjung sembuh

Orang yang sering kontak atau berhubungan dengan penderita TBC  sangat berisiko tertular. Sebagai contoh, orang yang tinggal satu rumah, melakukan kontak dekat, atau perawat yang merawat pasien TB setiap hari akan lebih berisiko terkena TBC dibandingkan orang yang berusaha menghindari kontak dengan penderita.

2. Memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah

Dalam artikel ilmiah berjudul Mycobacterium Tuberculosis, disebutkan beberapa kondisi dan penyakit yang dapat menurunkan sistem kekebalan tubuh sehingga meningkatkan risiko seseorang untuk mengalami TBC, yaitu:

Lansia dan anak-anak

Pada orang yang sistem imunnya baik, infeksi bakteri penyebab tuberkulosis masih bisa dikendalikan (TB laten) sehingga tidak langsung menimbulkan gejala (TB aktif).

Namun, jika kekebalan tubuh turun, tubuh tidak dapat melawan serangan infeksi bakteri penyebab TBC dengan maksimal. Akibatnya, TBC laten dapat berkembang menjadi TBC aktif.

Orang-orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah biasanya cenderung lebih mudah terinfeksi, terutama lansia.

Bayi dan anak-anak juga memiliki sistem kekebalan tubuh yang belum sempurna. Maka itu, mereka lebih rentan terhadap penularan TBC. Selain itu, Anda yang mengalami malnutrisi, memiliki berat badan di bawah indeks normal, ataupun anak-anak yang perkembangan sistem kekebalan tubuh belum sempurna juga berisiko mengalami penyakit TB paru aktif.

Selain rawan tertular, bayi dan anak-anak juga memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami komplikasi serius ketika anak sudah terinfeksi TBC.

Terinfeksi HIV/AIDS

HIV/AIDS merupakan infeksi virus yang secara langsung menyerang sistem kekebalan tubuh sehingga fungsi perlawanannya terhadap infeksi penyakit semakin lemah. Dengan kata lain, penderita HIV/AIDS perlu cek TB karena jauh lebih rentan terserang Mycobacterium tuberculosis.

Orang-orang dengan infeksi HIV/AIDS dengan bakteri penyebab TBC di tubuhnya berpeluang sekitar 7-10% setiap tahunnya untuk menderita TBC aktif. Persentase tersebut tentunya jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan orang-orang normal tanpa faktor risiko.

Penderita diabetes dan kondisi lainnya

Orang yang menderita tukak lambung, kanker, penyakit ginjal, hemofilia, atau diabetes berisiko mengalami TBC. Penderita penyakit-penyakit ini memiliki peluang lebih besar untuk terinfeksi bakteri TBC karena sistem imunnya tidak mampu menekan pertumbuhan bakteri.

Penderita diabetes yang memiliki bakteri penyebab TBC di dalam tubuhnya memiliki peluang mengembangkan TBC aktif lebih tinggi dibanding orang normal. Peluang tersebut dapat meningkat hingga sebesar 30% seumur hidupnya.

Mengalami stres

Ternyata, kondisi stres juga dapat meningkatkan risiko seseorang terhadap penularan TBC. Hal ini dikarenakan stres berpengaruh pada sistem kekebalan tubuh Anda.

3. Mengonsumsi obat-obatan tertentu

Terdapat beberapa jenis obat dan metode pengobatan yang dapat memengaruhi sistem imun, antara lain:

  • Menjalani pengobatan kemoterapi.
  • Mengonsumsi obat-obatan imunosupresan.
  • Mengonsumsi obat-obatan untuk mengatasi rheumatoid arthritis, penyakit Crohn, dan psoriasis.
  • Menggunakan obat-obatan TNF-α inhibitors (obat biologis) untuk mengatasi penyakit seperti rheumatoid arthritis.

4. Lokasi

Selain karena penyakit atau kondisi kesehatan tertentu, seseorang juga berisiko terjangkit penyakit TBC jika sedang bepergian atau tinggal di suatu daerah dengan kasus kejadian TBC yang tinggi.

Bakteri penyebab TBC paling banyak ditemukan di negara-negara berkembang, seperti negara-negara yang berada di:

  • Afrika
  • Eropa Timur
  • Asia, terutama Asia Tenggara
  • Rusia
  • Amerika Latin
  • Kepulauan Karibia

Tidak hanya negara tempat Anda tinggal, faktor lain yang menentukan penularan TBC adalah lingkungan tempat Anda bekerja, seperti rumah sakit atau fasilitisa kesehatan di daerah endemik TBC.

Baik pekerja rumah sakit, puskesmas, maupun klinik sama-sama memiliki peluang yang besar untuk terpapar bakteri penyebab TBC paru. Maka itu, penting bagi para pekerja tersebut untuk menggunakan masker dan sering mencuci tangan ketika sedang menangani pasien penderita TBC.

Selain rumah sakit dan pusat layanan kesehatan lainnya, penularan penyakit TBC juga lebih mudah terjadi di fasilitas penampungan, seperti penjara, tempat penampungan anak jalanan, panti, atau pengungsian. Orang-orang yang berada di tempat-tempat tersebut jauh lebih mudah terinfeksi bakteri penyebab TBC.

5. Kondisi tempat tinggal

Penyebab penularan TBC tidak selalu berkaitan dengan seberapa tinggi kasus kejadiannya, tapi juga bagaimana akses seseorang terhadap fasilitas kesehatan yang layak. Penderita TB laten yang tinggal di daerah terpencil dengan fasilitas kesehatan yang minim semakin berisiko terhadap TBC aktif.

Begitu pun dengan lingkungan tinggal yang lembap, sempit, dan tidak terpapar sinar matahari. Ruang tinggal dengan ventilasi udara yang buruk atau bahkan tidak terdapat ventilasi sama sekali akan meningkatkan risiko seseorang untuk terkena TB paru aktif. Hal ini dikarenakan bakteri yang dikeluarkan saat penderita batuk atau bersin akan terperangkap di dalam ruangan tersebut dan terus-menerus terhirup.

6. Gaya hidup tidak sehat

Faktor risiko lain yang memicu bakteri penyebab TBC untuk berkembang menjadi aktif adalah konsumsi rokok dan alkohol secara rutin, serta penggunaan obat-obatan rekreasional, seperti narkoba.

Zat-zat berbahaya yang terdapat di dalam rokok, alkohol, dan obat-obatan tersebut berpotensi melemahkan sistem kekebalan tubuh Anda. Ini artinya, peluang Anda untuk menderita penyakit TBC pun dapat meningkat.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Tips Sederhana Terhindar dari Penyebaran dan Penularan TBC

Tuberkulosis atau TBC dapat mudah menyebar melalui udara. Namun, mencegah TBC dan penularannya dapat dihindari dengan cara sederhana berikut ini.

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Hidup Sehat, Tips Sehat 24 Maret 2020 . Waktu baca 4 menit

Mengenal Penyakit TB XDR, Bahaya dan Pengobatannya

Lebih fatal dari MDR, kondisi TB XDR bahkan tidak dapat diobati, alias kebal, dengan obat lini kedua. Bagaimana cara mencegah dan mengobatinya?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Kesehatan Pernapasan, TBC 21 Maret 2020 . Waktu baca 6 menit

Panduan Merawat Orang yang Menderita Tuberkulosis di Rumah

Perawatan pasien tuberkulosis (TBC) di rumah membutuhkan pengetahuan khusus agar Anda sebagai perawat tidak tertular penyakit tersebut. Ini tips-tipsnya.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Kesehatan Pernapasan, TBC 9 Februari 2020 . Waktu baca 5 menit

Penyakit TBC Bisa Kambuh, Ini Ciri-Ciri, Penyebab, dan Cara Mencegahnya

Penyakit tuberkulosis (TBC) tidak hanya sulit diobati, tapi juga berisiko muncul kembali. Lalu, bagaimana cara mencegah agar TBC tidak kambuh?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Kesehatan Pernapasan, TBC 4 Januari 2020 . Waktu baca 6 menit

Direkomendasikan untuk Anda

obat alami tbc herbal atau tradisional

Berbagai Macam Pengobatan Alami untuk Mengatasi Gejala TBC

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Shylma Na'imah
Dipublikasikan tanggal: 10 Juni 2020 . Waktu baca 8 menit
tb ekstra paru atau di luar paru

Hal Yang Perlu Anda Ketahui Seputar Tuberkulosis (TB) Ekstra Paru

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Shylma Na'imah
Dipublikasikan tanggal: 28 Mei 2020 . Waktu baca 8 menit
olahraga untuk pasien tuberkulosis

Bantu Masa Penyembuhan, Berikut Pilihan Olahraga Aman untuk Pasien TBC

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Dipublikasikan tanggal: 24 April 2020 . Waktu baca 7 menit
perkembangan infeksi TB laten tuberkolosis

Mewaspadai TB Laten, Perlukah Melakukan Pengobatan?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Dipublikasikan tanggal: 31 Maret 2020 . Waktu baca 6 menit