home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Apakah Penderita Tuberkulosis (TBC) Bisa Sembuh Total?

Apakah Penderita Tuberkulosis (TBC) Bisa Sembuh Total?

Penyakit tuberkulosis (TBC) disebabkan bakteri Mycobacterium tuberculosis yang menginfeksi paru-paru. Infeksi bakteri tuberkulosis bisa menyebabkan gangguan pada fungsi paru-paru serta kerusakan jaringan yang serius. Lebih jauh, TBC bahkan bisa menyebabkan kematian. TBC di Indonesia menempati angka teratas kematian yang diakibatkan penyakit. Walaupun bisa berakibat fatal, TBC bisa disembuhkan melalui pengobatan yang tepat. Akan tetapi yang menjadi pertanyaan, apakah penderita TBC bisa sembuh total dalam pengertian infeksi bakteri tidak kembali aktif dan fungsi paru-paru kembali seperti sedia kala?

Apakah penderita TBC bisa sembuh total?

Penyakit TBC ditandai dengan kelompok gejala yang khas seperti batuk menerus selama lebih dari 2 minggu yang bisa juga disertai dengan batuk berdarah, berkeringat di malam hari, demam ringan, dan kehilangan berat badan secara drastis.

Meskipun termasuk penyakit kronis dengan gejala serius, TBC bisa sembuh total. Namun, apakah TBC bisa sembuh tanpa diobati? Tidak.

Kunci utama untuk penyakit ini bisa disembuhkan total adalah menjalani pengobatan medis yang tepat. Penderita TBC perlu minum obat antituberkulosis (OAT) sesuai dengan aturan pengobatan yang dianjurkan dokter.

Aturan pengobatan TBC mencakup 2 tahap pengobatan, yakni pengobatan intensif dan lanjutan dengan lama pengobatan yang bisa mencapai 6-12 bulan. Menurut CDC, penyakit TBC bisa sembuh total ketika penderita menjalani 2 tahap pengobatan hingga selesai. Sekalipun di tengah pengobatan Anda merasa kondisi kesehatan telah membaik dan tidak lagi mengalami gejala TBC yang disebutkan, Anda tetap harus minum obat TBC secara teratur.

Pada dua bulan pertama pengobatan, Anda biasanya memang merasa lebih membaik. Hal ini membuat Anda beranggapan bahwa Anda sudah sembuh. Padahal, sebenarnya bakteri penyebab TBC masih ada dalam tubuh dan hanya “tertidur” alias dorman atau tidak aktif memperbanyak diri.

Pengobatan untuk membasmi bakteri yang berada dalam keadaan tidur lebih sulit karena kebanyakan obat antibiotik bekerja saat bakteri dalam keadaan aktif. Selain itu, OAT juga membutuhkan waktu yang lama untuk bisa benar-benar membunuh bakteri tuberkulosis.

Penderita TBC bisa dinyatakan sembuh secara total dari infeksi bakteri ketika hasil pemeriksaan BTA (tes dahak TBC) menunjukkan hasil negatif. Hal ini didasarkan karena hasil BTA yang negatif menunjukkan risiko penularan TBC yang sangat rendah dari penderita ke orang lain.

Kondisi saat penderita TBC tidak bisa sembuh total

Jika Anda sering lupa minum obat TBC atau lalai mengikuti aturan pengobatan, bakteri yang semula tertidur saat kondisi Anda membaik akan kembali aktif menginfeksi dan menimbulkan gejala. Kondisi ini membuat seolah ciri-ciri TBC yang kambuh.

Lebih parah lagi, bakteri TBC berpotensi menjadi kebal atau resistan terhadap obat-obat antibiotik yang sudah Anda minum selama ini. Kondisi inilah yang disebut dengan Multi Drug Resistant Tuberculosis atau TB MDR.

TB MDR adalah masalah yang serius karena bakteri semakin sulit untuk dibunuh dan penyakit semakin sulit disembuhkan. Ditambah lagi, Anda perlu minum antibiotik yang lebih kuat yang berisiko untuk memberikan Anda efek samping OAT yang mengganggu.

Dilansir dari TB Facts, dalam kebanyakan kasus TB MDR umumnya tidak dapat disembuhkan secara total, meskipun telah mengganti obatan-obatan antituberkulosis dengan OAT lini kedua.

Di Indonesia, kasus TB MDR sudah cukup sering ditemukan. Beberapa penyebab kegagalan pengobatan tuberkulosis hingga bisa berkembang menjadi TB MDR adalah kurangnya informasi terkait perkembangan penyakit TBC, tidak tersedianya biaya dan akses yang terjangkau, efek samping pengobatan, dan kurangnya komitmen untuk mengonsumsi obat jangka panjang.

Bisakah fungsi paru kembali optimal setelah sembuh?

Seperti yang sudah disebutkan di atas, TBC bisa sembuh bila keberadaan bakteri TBC tidak terdeteksi lagi di dalam tubuh. Namun, tidak semua kasus kondisi paru-paru bisa kembali optimal seperti semula setelah pengobatan selesai. Pasalnya, infeksi tuberkulosis dapat mengakibatkan penurunan fungsi paru-paru baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Selain itu, penyakit tuberkulosis juga bisa menyebabkan komplikasi. Salah satu komplikasi yang mungkin Anda alami adalah penyakit paru obstruktif kronis (PPOK). Kondisi ini juga bisa membuat Anda sering mengalami sesak napas, meskipun kuman tuberkulosis sudah tidak terdeteksi.

Ketika kerusakan jaringan paru yang disebabkan infeksi bakteri bersifat permanen, kemungkinan gejala TBC tetap terasa bahkan hingga setelah pengobatan tuberkulosis selesai.

Pada penelitian tahun 2016 di jurnal BMC Pulmonary Medicine, kerusakan paru ditemukan sebanyak 74% kasus dari 501 pasien yang telah sembuh dan selesai menjalani pengobatan TBC.

Kerusakan jaringan paru biasanya ditunjukkan ketika Anda melakukan foto rontgen dada. Pada hasil pencitraan terlihat masih terdapat nodul bekas infeksi atau bercak-bercak putih di bagian paru. Namun, kondisi ini tidak lantas menunjukkan bahwa infeksi bakteri TBC masih berlangsung atau bakteri kembali aktif menginfeksi.

Meskipun demikian, bukan berarti fungsi paru-paru tidak bisa kembali seratus persen sehat. Selama pengobatan dan setelah dinyatakan bersih dari infeksi, penderita TBC bisa menjalani rehabilitasi atau tahapan pemulihan kondisi yang mencakup terapi dan latihan fisik untuk mengembalikan fungsi paru-paru.

Anda tak perlu khawatir akan kesulitan, jenis latihan fisik atau olahraga untuk penderita TBC yang dilakukan akan disesuaikan dengan kondisi serta kemampuan pernapasan Anda.

Dengan menjalani aturan pengobatan dengan baik serta melakukan program rehabilitasi TBC, maka peluang untuk penderita TBC sembuh total baik dari infeksi bakteri dan pulihnya kesehatan paru pun semakin besar. Keberhasilan pengobatan juga bisa dibantu dengan pendampingan perawatan TBC di rumah dari orang terdekat.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Ravimohan, S., Kornfeld, H., Weissman, D., & Bisson, G. P. (2018). Tuberculosis and lung damage: from epidemiology to pathophysiology. European respiratory review : an official journal of the European Respiratory Society, 27(147), 170077. https://doi.org/10.1183/16000617.0077-2017

Manji, M., Shayo, G., Mamuya, S., Mpembeni, R., Jusabani, A., & Mugusi, F. (2016). Lung functions among patients with pulmonary tuberculosis in Dar es Salaam – a cross-sectional study. BMC pulmonary medicine, 16(1), 58. https://doi.org/10.1186/s12890-016-0213-5

CDC. (2020). TB Can Be Treated. Retrieved 8 June 2020, from https://www.cdc.gov/tb/publications/factseries/cure_eng.htm

TB Facts. (2020). Cure For TB. Retrieved 8 June 2020, from https://tbfacts.org/cure-tb/

RadioGraphics. (2020). Thoracic Sequelae and Complications of Tuberculosis. Radiographics. Retrieved from https://pubs.rsna.org/doi/full/10.1148/radiographics.21.4.g01jl06839#

Foto Penulis
Ditulis oleh Fidhia Kemala pada 08/03/2018
Ditinjau oleh dr Mikhael Yosia
x