Apakah Penderita Tuberkulosis (TBC) Bisa Sembuh Total?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 7 September 2020 . Waktu baca 6 menit
Bagikan sekarang

Penyakit tuberkulosis (TBC) disebabkan bakteri Mycobacterium tuberculosis yang menginfeksi paru-paru. Infeksi bakteri tuberkulosis bisa menyebabkan gangguan pada fungsi paru-paru serta kerusakan jaringan yang serius. Lebih jauh, TBC bahkan bisa menyebabkan kematian. TBC di Indonesia menempati angka teratas kematian yang diakibatkan penyakit. Walaupun bisa berakibat fatal, TBC bisa disembuhkan melalui pengobatan yang tepat. Akan tetapi yang menjadi pertanyaan, apakah penderita TBC bisa sembuh total dalam pengertian infeksi bakteri tidak kembali aktif dan fungsi paru-paru kembali seperti sedia kala?

Apakah penderita TBC bisa sembuh total?

Penyakit TBC ditandai dengan kelompok gejala yang khas seperti batuk menerus selama lebih dari 2 minggu yang bisa juga disertai dengan batuk berdarah, berkeringat di malam hari, demam ringan, dan kehilangan berat badan secara drastis.

Meskipun termasuk penyakit kronis dengan gejala serius, TBC bisa sembuh total. Namun, apakah TBC bisa sembuh tanpa diobati? Tidak.

Kunci utama untuk penyakit ini bisa disembuhkan total adalah menjalani pengobatan medis yang tepat. Penderita TBC perlu minum obat antituberkulosis (OAT) sesuai dengan aturan pengobatan yang dianjurkan dokter.

Aturan pengobatan TBC mencakup 2 tahap pengobatan, yakni pengobatan intensif dan lanjutan dengan lama pengobatan yang bisa mencapai 6-12 bulan. Menurut CDC, penyakit TBC bisa sembuh total ketika penderita menjalani 2 tahap pengobatan hingga selesai. Sekalipun di tengah pengobatan Anda merasa kondisi kesehatan telah membaik dan tidak lagi mengalami gejala TBC yang disebutkan, Anda tetap harus minum obat TBC secara teratur.

Pada dua bulan pertama pengobatan, Anda biasanya memang merasa lebih membaik. Hal ini membuat Anda beranggapan bahwa Anda sudah sembuh. Padahal, sebenarnya bakteri penyebab TBC masih ada dalam tubuh dan hanya “tertidur” alias dorman atau tidak aktif memperbanyak diri.

Pengobatan untuk membasmi bakteri yang berada dalam keadaan tidur lebih sulit karena kebanyakan obat antibiotik bekerja saat bakteri dalam keadaan aktif. Selain itu, OAT juga membutuhkan waktu yang lama untuk bisa benar-benar membunuh bakteri tuberkulosis.

Penderita TBC bisa dinyatakan sembuh secara total dari infeksi bakteri ketika hasil pemeriksaan BTA (tes dahak TBC) menunjukkan hasil negatif. Hal ini didasarkan karena hasil BTA yang negatif menunjukkan risiko penularan TBC yang sangat rendah dari penderita ke orang lain.

Kondisi saat penderita TBC tidak bisa sembuh total

Jika Anda sering lupa minum obat TBC atau lalai mengikuti aturan pengobatan, bakteri yang semula tertidur saat kondisi Anda membaik akan kembali aktif menginfeksi dan menimbulkan gejala. Kondisi ini membuat seolah ciri-ciri TBC yang kambuh.

Lebih parah lagi, bakteri TBC berpotensi menjadi kebal atau resistan terhadap obat-obat antibiotik yang sudah Anda minum selama ini. Kondisi inilah yang disebut dengan Multi Drug Resistant Tuberculosis atau TB MDR.

TB MDR adalah masalah yang serius karena bakteri semakin sulit untuk dibunuh dan penyakit semakin sulit disembuhkan. Ditambah lagi, Anda perlu minum antibiotik yang lebih kuat yang berisiko untuk memberikan Anda efek samping OAT yang mengganggu.

Dilansir dari TB Facts, dalam kebanyakan kasus TB MDR umumnya tidak dapat disembuhkan secara total, meskipun telah mengganti obatan-obatan antituberkulosis dengan OAT lini kedua.

Di Indonesia, kasus TB MDR sudah cukup sering ditemukan. Beberapa penyebab kegagalan pengobatan tuberkulosis hingga bisa berkembang menjadi TB MDR adalah kurangnya informasi terkait perkembangan penyakit TBC, tidak tersedianya biaya dan akses yang terjangkau, efek samping pengobatan, dan kurangnya komitmen untuk mengonsumsi obat jangka panjang.

Bisakah fungsi paru kembali optimal setelah sembuh?

Seperti yang sudah disebutkan di atas, TBC bisa sembuh bila keberadaan bakteri TBC tidak terdeteksi lagi di dalam tubuh. Namun, tidak semua kasus kondisi paru-paru bisa kembali optimal seperti semula setelah pengobatan selesai. Pasalnya, infeksi tuberkulosis dapat mengakibatkan penurunan fungsi paru-paru baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Selain itu, penyakit tuberkulosis juga bisa menyebabkan komplikasi. Salah satu komplikasi yang mungkin Anda alami adalah penyakit paru obstruktif kronis (PPOK). Kondisi ini juga bisa membuat Anda sering mengalami sesak napas, meskipun kuman tuberkulosis sudah tidak terdeteksi.

Ketika kerusakan jaringan paru yang disebabkan infeksi bakteri bersifat permanen, kemungkinan gejala TBC tetap terasa bahkan hingga setelah pengobatan tuberkulosis selesai.

Pada penelitian tahun 2016 di jurnal BMC Pulmonary Medicine, kerusakan paru ditemukan sebanyak 74% kasus dari 501 pasien yang telah sembuh dan selesai menjalani pengobatan TBC.

Kerusakan jaringan paru biasanya ditunjukkan ketika Anda melakukan foto rontgen dada. Pada hasil pencitraan terlihat masih terdapat nodul bekas infeksi atau bercak-bercak putih di bagian paru. Namun, kondisi ini tidak lantas menunjukkan bahwa infeksi bakteri TBC masih berlangsung atau bakteri kembali aktif menginfeksi.

Meskipun demikian, bukan berarti fungsi paru-paru tidak bisa kembali seratus persen sehat. Selama pengobatan dan setelah dinyatakan bersih dari infeksi, penderita TBC bisa menjalani rehabilitasi atau tahapan pemulihan kondisi yang mencakup terapi dan latihan fisik untuk mengembalikan fungsi paru-paru.

Anda tak perlu khawatir akan kesulitan, jenis latihan fisik atau olahraga untuk penderita TBC yang dilakukan akan disesuaikan dengan kondisi serta kemampuan pernapasan Anda.

Dengan menjalani aturan pengobatan dengan baik serta melakukan program rehabilitasi TBC, maka peluang untuk penderita TBC sembuh total baik dari infeksi bakteri dan pulihnya kesehatan paru pun semakin besar. Keberhasilan pengobatan juga bisa dibantu dengan pendampingan perawatan TBC di rumah dari orang terdekat.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Sering Merasa Kebelet Pipis Saat Berhubungan Seks, Normalkah?

Mengompol bukan cuma dialami oleh bayi dan balita. Tak jarang ada orang dewasa yang tak sengaja ngompol, terutama saat seks. Apa penyebab ngompol saat seks?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Hidup Sehat, Seks & Asmara 13 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

Berbagai Tips Seputar Pencegahan Sinusitis yang Wajib Anda Tahu

Bersin dan pilek akibat sinus yang kambuh dapat menyulitkan Anda beraktivitas, tapi Anda bisa mencegah sinusitis dengan beberapa perubahan gaya hidup mudah

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Hidup Sehat, Tips Sehat 8 Oktober 2020 . Waktu baca 7 menit

10 Khasiat Mengejutkan Buah Mengkudu yang Wajib Anda Tahu

Meski berbau busuk tajam dan rasanya kurang menggugah selera, ada banyak manfaat buah mengkudu untuk kesehatan. Tertarik untuk mencobanya?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Hidup Sehat, Fakta Unik 7 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit

Ciri Kulit Sensitif dan 8 Cara Jitu Mengatasinya

Ciri kulit sensitif termasuk ruam kemerahan dan gatal-gatal setelah memakai produk perawatan kulit atau produk wewangian. Bagaimana cara mengatasinya?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Hidup Sehat, Kecantikan 7 Oktober 2020 . Waktu baca 6 menit

Direkomendasikan untuk Anda

obat herbal dan alami untuk kanker prostat

Pedoman Memilih Suplemen dan Obat Herbal yang Aman Dikonsumsi

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Dipublikasikan tanggal: 19 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit
tips menjaga kesehatan gigi dan mulut

11 Prinsip Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut Sehari-hari

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Dipublikasikan tanggal: 16 Oktober 2020 . Waktu baca 6 menit
cara masturbasi wanita

Panduan Masturbasi Aman untuk Perempuan, Bagaimana Caranya?

Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Dipublikasikan tanggal: 15 Oktober 2020 . Waktu baca 6 menit
persiapan naik gunung

7 Hal yang Harus Anda Persiapkan Sebelum Naik Gunung

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Dipublikasikan tanggal: 15 Oktober 2020 . Waktu baca 7 menit