Sakit Kepala Bagian Belakang? Ketahui Apa Penyebabnya

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum

Definisi

Apa itu sakit kepala bagian belakang?

Sakit kepala adalah kondisi yang bisa dialami oleh banyak orang. Kondisi ini bisa terjadi di seluruh bagian kepala, atau di bagian tertentu saja. Salah satunya adalah sakit kepala bagian belakang.

Sebenarnya, banyak sekali kondisi kesehatan yang berbeda-beda yang mungkin menjadi penyebab munculnya rasa sakit kepala bagian belakang. Bahkan, sakit ini juga bisa menyebabkan rasa sakit di bagian yang lain, atau timbul karena kondisi lainnya.

Rasa sakit yang muncul dan gejala yang dialami bisa berbeda-beda. Oleh sebab itu, Anda harus memberi tahu dokter rasa sakit seperti apa yang Anda rasakan agar dokter bisa membantu mendiagnosis apa penyebab dari rasa sakit itu. Kemudian, dokter baru bisa menentukan jenis pengobatan yang sesuai untuk Anda.

Seberapa umumkah sakit kepala bagian belakang?

Penyakit ini adalah penyakit yang cukup umum dan bisa dialami oleh orang dari berbagai usia, jenis kelamin, hingga ras. Namun, salah satu jenis sakit kepala di bagian belakang, yaitu migrain, tiga kali lipat lebih sering dialami oleh perempuan dibanding laki-laki. Selain itu, orang dengan usia 35-45 tahun lebih rentan terhadap kondisi tersebut dibandingkan dengan kelompok usia lainnya.

Tanda-tanda & Gejala

Apa saja tanda-tanda dan gejala sakit kepala bagian belakang?

Tanda atau gejala dari sakit kepala bagian belakang sangat beragam. Biasanya, gejala yang muncul berbeda, tergantung dari penyebabnya.

Jika rasa sakit muncul akibat sakit kepala tegang:

  • Rasa sakit yang cukup mengganggu
  • Sensasi seperti kepala ditekan mulai dari bagian depan kepala hingga sisi-sisi dan belakang kepala
  • Kulit kepala, leher, dan otot bahu terasa lunak

Jika rasa sakit muncul akibat migrain:

  • Rasa berdenyut-denyut yang cukup intens di bagian belakang kepala
  • Biasanya, kondisi ini akan disertai dengan mual dan muntah
  • Penglihatan sedikit terganggu
  • Anda akan semakin sensitif terhadap cahaya, bunyi, dan aroma tertentu
  • Otot menjadi lunak dan kulit menjadi lebih sensitif
  • Kondisi ini berlangsung selama beberapa jam hingga beberapa hari
  • Rasa sakit yang Anda alami mungkin akan semakin buruk jika Anda melakukan aktivitas fisik yang cukup berat

Jika rasa sakit muncul akibat sakit kepala cluster:

  • Tubuh tidak bisa diam dan terus bergerak
  • Mual
  • Mengeluarkan banyak air mata
  • Hidung mengeluarkan air
  • Garis mata seperti layu
  • Sensitivitas terhadap paparan cahaya dan suara meningkat

Jika sakit muncul akibat oksipital neuralgia:

  • Kepala terasa berdenyut dan tidak berhenti
  • Kepala mengalami sensasi seperti terbakar
  • Rasa sakit yang Anda alami bisa muncul saat terjadi pergerakan leher
  • Kulit kepala terasa lunak dan Anda semakin sensitif terhadap paparan cahaya

Penyebab

Apa penyebab sakit kepala bagian belakang?

Rasa sakit di bagian belakang kepala bisa disebabkan oleh beberapa kondisi kesehatan, termasuk:

1. Sakit kepala tegang (tension headache)

Sakit kepala bagian belakang adalah salah satu kondisi yang paling umum yang dapat menyebabkan rasa sakit di kepala bagian belakang. Rasa sakit ini bisa bertahan hingga tujuh hari lamanya, namun bisa juga berlangsung dalam waktu yang singkat. Misalnya, hanya bertahan selama 30 menit saja.

2. Migrain

Kondisi ini juga kondisi yang cukup umum menyebabkan rasa sakit di kepala. Bahkan, Anda mungkin sudah pernah mengalaminya saat masih kecil dan frekuensinya meningkat seiring dengan pertambahan usia.

Migrain umumnya terasa di kepala bagian kiri dan merambat hingga bagian belakang kepala. Pada orang dewasa, rasa sakit ini bisa muncul beberapa kali dalam seminggu, khususnya pada wanita dalam usia 35-45 tahun.

3. Sakit kepala cluster

Sakit kepala yang satu ini mungkin tergolong jarang terjadi, namun bisa terasa amat menyakitkan. Sesuai dengan namanya, sakit kepala ini terjadi setiap periode cluster. Artinya, penyakit ini muncul pada saat tertentu dan bisa terjadi berkali-kali dalam sehari.

Satu periode cluster bisa berlangsung berminggu-minggu hingga berbulan-bulan. Namun, saat tidak terjadi, Anda tidak akan merasakan sakitnya sama sekali. Kondisi ini bisa menyebabkan rasa sakit yang amat sangat di bagian belakang kepala atau di salah satu sisi kepala Anda. Kondisi ini mungkin akan terasa semakin parah saat Anda berbaring.

4. Oksipital neuralgia

Oksipital neuralgia adalah kondisi yang terjadi saat saraf yang menjalar dari bagian belakang leher, tulang belakang, hingga paha mengalami kerusakan atau iritasi.

Kondisi ini menyebabkan rasa sakit di leher yang lama-kelamaan menjalar hingga ke bagian belakang kepala dan belakang telinga. Rasa sakit ini biasanya terasa sakit seperti tajam menusuk dan berdenyut-denyut.

5. Arthritis

Rasa sakit kepala bagian belakang juga bisa disebabkan oleh arthritis, yaitu kondisi yang disebabkan karena terjadi peradangan dan pembengkakan di area leher dan sekitarnya. Biasanya, kondisi ini ini menyebabkan rasa sakit di bagian belakang kepala dan leher.

Saat mengalaminya, pergerakan yang Anda lakukan mungkin memperparah sakit yang Anda rasakan. Rasa sakit ini bisa disebabkan oleh rheumatoid arthritis dan osteoarthritis.

6. Postur yang buruk

Jika Anda membiasakan diri untuk membentuk postur tubuh yang buruk maka Anda mungkin akan mengalami rasa sakit di kepala bagian belakang dan juga leher. Pasalnya, postur tubuh yang kurang baik biasanya meningkatkan tekanan di bagian belakang, pundak, dan leher.

Tekanan itulah yang mungkin menyebabkan rasa sakit kepala bagian belakang. Saat mengalaminya, Anda mungkin merasakan rasa sakit dan berdenyut di tengkorak kepala Anda. Oleh karena itu, cobalah untuk mempraktikkan postur tubuh yang baik. 

7. Saraf terjepit

Adanya saraf yang terjepit di tulang belakang dapat menyebabkan rasa sakit dan tertekan di bagian leher. Hal ini bisa menyebabkan sakit kepala yang disebut servikogenik.

Biasanya rasa sakit ini berawal dari bagian belakang kepala. Lalu, mungkin rasa sakitnya akan menjalar hingga bagian belakang mata. Gejala lain yang mungkin Anda alami adalah rasa kurang nyaman di bagian bahu dan lengan bagian atas.

Kondisi ini mungkin meningkat saat Anda berbaring. Anda mungkin akan terbangun karena rasa sakit yang Anda rasakan mengganggu tidur Anda. Bahkan, saat berbaring Anda mungkin juga akan merasakan adanya tekanan seperti beban berat yang menimpa bagian atas kepala Anda.

Faktor-faktor risiko

Apa yang meningkatkan risiko saya mengalami sakit kepala bagian belakang?

Sakit kepala di bagian belakang dapat dialami oleh siapa saja. Namun, faktor risiko yang dimiliki orang-orang tertentu mungkin meningkatkan potensi sekelompok orang tersebut mengalami kondisi ini.

1. Jenis kelamin

Pada dasarnya, semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk mengalami kondisi ini, namun wanita memiliki potensi yang lebih tinggi mengalami kondisi ini akibat migrain, sementara pria lebih besar kemungkinan mengalami sakit kepala bagian belakang jika mengalami sakit kepala cluster.

2. Usia

Meski sakit kepala bagian belakang mungkin dialami oleh siapa saja dari berbagai kelas usia, tetapi ada beberapa penyebab dari kondisi ini yang memiliki kecenderungan dialami oleh kelas usia tertentu.

Misalnya, migrain lebih rentan terjadi pada wanita di usia 35 hingga 45 tahun. Sementara, orang dengan kelas usia 20 hingga 50 tahun lebih rentan mengalami sakit kepala cluster.

3. Genetik

Faktor genetik juga bisa menjadi salah satu faktor risiko dari beberapa penyebab sakit kepala ini. Misalnya, jika orangtua Anda menderita migrain, Anda memiliki potensi lebih tinggi dibanding orang yang tidak memiliki riwayat keluarga penderita migrain.

Begitu pula dengan salah satu penyebab sakit kepala di bagian belakang, yaitu osteoarthritis. Kondisi ini akan lebih rentan dialami orang yang memiliki riwayat keluarga penderita penyakit tersebut.

4. Kondisi medis tertentu

Faktor risiko lain adalah kondisi kesehatan tertentu. Misalnya, orang yang depresi dan sering merasa cemas memiliki potensi yang lebih besar mengalami sakit kepala tegang dan migrain. Sementara, orang yang pernah mengalami cedera di kepala atau menjalani operasi di bagian kepala memiliki kemungkinan untuk mengalami sakit kepala cluster.

5. Gaya hidup

Anda juga harus memperhatikan gaya hidup yang Anda pilih dan jalani. Sebab, gaya hidup tertentu meningkatkan faktor risiko Anda mengalami kondisi ini. Contoh, Anda yang terbiasa merokok lebih rentan terhadap sakit kepala cluster dan sakit kepala tegang.

Sedangkan orang yang terlalu memforsir dirinya hingga sering merasa terlalu lelah lebih besar kemungkinan mengalami sakit kepala tegang dan migrain. Kebiasaan mengonsumsi alkohol juga diduga meningkatkan potensi Anda mengalami migrain.

Oleh sebab itu, praktikkan gaya hidup sehat dan kurangi kebiasaan-kebiasaan yang meningkatkan potensi Anda mengalami kondisi tertentu.

Obat & Pengobatan

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Apa saja pilihan pengobatan saya untuk mengatasi penyakit sakit kepala bagian belakang?

Anda bisa mengatasi sakit kepala yang satu ini dengan menggunakan obat-obatan. Biasanya, obat yang digunakan bisa disesuaikan dengan penyebab rasa sakit ini muncul. Berikut adalah beberapa pilihan obat-obatan yang bisa Anda gunakan.

1. Obat untuk mengatasi sakit kepala tegang (tension headache)

Sakit kepala bagian belakang yang disebabkan tension headache dapat diatasi dengan menggunakan obat-obatan pereda sakit kepala. Misalnya, aspirin dan acetaminophen.

Namun, jika Anda mengalami sakit kepala kronis, dokter akan meresepkan obat lain yang bisa Anda gunakan. Ada pula obat-obatan yang bisa digunakan untuk mencegah munculnya sakit kepala ini. Contohnya, obat antidepresan, obat yang dapat membantu otot lebih rileks hingga obat yang bisa mengurangi munculnya rasa sakit di kemudian hari.

2. Obat anti migraine

Untuk mengatasi sakit kepala migrain, Anda bisa menggunakan obat-obatan yang disesuaikan dengan tingkat keparahannya. Misalnya, Anda bisa meredakan rasa sakitnya menggunakan obat-obatan pereda nyeri seperti aspirin, acetaminophen dan ibuprofen. Bahkan, ada pula obat yang mengandung kafein di dalamnya.

Namun, jika kondisi migrain sudah tergolong cukup serius, Anda bisa menggunakan obat-obatan lain yang diresepkan oleh dokter seperti obat-obatan triptan. Obat ini bisa tersedia dalam bentuk pil dan juga obat semprot hidung.

Obat ini dapat meredakan berbagai gejala migrain yang mungkin mengganggu. Tetapi, penggunaan obat ini hanya boleh jika dokter telah meresepkannya, karena obat ini mungkin berpotensi menyebabkan stroke dan serangan jantung pada orang tertentu.

Ada pula obat migrain yang tersedia dalam obat semprot hidung atau obat injeksi, yaitu dihydroergotamine. Obat ini paling efektif jika digunakan tepat saat migrain baru saja terasa. Pasalnya, efek dari penggunaan obat ini bisa bertahan hingga lebih dari 24 jam.

Hanya saja, obat ini mungkin dapat memberikan efek samping yang kurang baik seperti kondisi migrain yang justru semakin parah dan disertai dengan gejala lain seperti mual dan muntah. Obat ini tidak disarankan untuk digunakan oleh penderita arteri koroner, tekanan darah tinggi, atau masalah liver dan ginjal.

Tidak hanya itu, ada pula obat tablet lain seperti lasmiditan yang bisa digunakan untuk mengatasi migrain dengan atau tanpa aura. Obat ini dapat mengurangi rasa mual dan sakit serta sensitivitas terhadap cahaya dan suara pada penderita migrain.

Lalu, obat-obatan seperti obat opioid juga bisa digunakan untuk mengatasi migrain, khususnya yang mengandung codeine. Karena obat ini bersifat adiktif, obat ini hanya boleh digunakan jika obat-obatan lain tidak mempan untuk mengatasi masalah migrain yang Anda alami.

3. Obat untuk mengatasi cluster headache 

Pengobatan untuk mengatasi sakit kepala bagian belakang karena cluster headache biasanya digunakan untuk memperpendek periode sakit kepala muncul, mengurangi tingkat keparahan dan mencegah timbulnya serangan sakit kepala di kemudian hari.

Biasanya, obat yang digunakan untuk mengatasi sakit kepala cluster yang sudah akut adalah obat-obatan triptan yang juga bisa digunakan untuk mengatasi migrain. Selain itu, obat octreotide juga bisa digunakan. Obat ini adalah obat injeksi yang mengandung hormon somatostatin buatan.

Sementara, obat yang digunakan untuk mencegah adalah obat seperti kortikosteroid, calcium channel blockers, melatonin, dan nerve blockers. Jika sudah mencapai pada titik yang tergolong amat parah, penderita cluster headache mungkin membutuhkan operasi.

4. Obat untuk oksipital neuralgia

Pengobatan yang dilakukan untuk mengatasi kondisi ini biasanya adalah penggunaan obat-obatan non-steroidal anti-inflammatory drugs atau NSAID. Selain itu, ada juga terapi fisik, pijat, dan obat relaksasi otot.

Pada kasus yang sudah cukup parah, dokter mungkin memberikan anestesi lokal di area oksipital untuk memberikan pengobatan langsung.

5. Obat untuk mengatasi sakit kepala akibat kebiasaan postur yang buruk

Sakit kepala yang terjadi akibat postur tubuh yang buruk bisa diobati dengan acetaminophen. Untuk pengobatan jangka panjang, Anda bisa mengatasi atau mencegah timbulnya sakit kepala dengan membiasakan diri melakukan postur tubuh yang baik.

Apa saja tes yang biasa dilakukan untuk mendiagnosis penyakit sakit kepala bagian belakang?

Untuk mengetahui penyebab dari rasa sakit kepala di bagian belakang, ada beberapa hal yang dapat Anda lakukan.

1. Konsultasi dengan dokter

Umumnya, dokter sudah langsung mengetahui kondisi kesehatan Anda dari gejala yang Anda rasakan. Apalagi, kondisi kesehatan yang menjadi penyebab dari rasa sakit ini, memiliki gejala yang berbeda-beda. Sehingga, dokter lebih mudah mendiagnosis apa yang menjadi penyebab sakit kepala yang Anda rasakan.

2. Pemeriksaan saraf (neurological examination)

Jika dokter masih belum yakin dengan kondisi Anda, dokter mungkin akan melakukan pemeriksaan saraf untuk meyakinkan diagnosis. Dengan melakukan pemeriksaan saraf, dokter akan lebih mudah mendeteksi sinyal dari gangguan saraf yang Anda mungkin alami.

Biasanya, pemeriksaan ini meliputi penilaian terhadap fungsi otak, tes terhadap indera, reflek, dan saraf-saraf Anda.

3. CT-scan dan MRI

Cara lain yang mungkin akan dokter lakukan adalah melakukan Computerized tomography (CT) scan atau Magnetic resonance imaging (MRI). Jika CT scan adalah sekumpulan X-ray untuk menghasilkan gambar cross-sectional dari otak Anda, MRI menggunakan kekuatan magnet dan gelombang radio untuk menghasilkan gambar detil dari otak dan pembuluh darah Anda.  

Kedua tes tersebut digunakan untuk memastikan apakah Anda mengalami masalah lain pada otak Anda yang menyebabkan rasa sakit, seperti anumerisma atau tumor otak.

Pengobatan di rumah

Apa saja perubahan gaya hidup atau pengobatan rumahan yang dapat dilakukan untuk mengatasi sakit kepala bagian belakang?

Selain penggunaan obat-obatan, Anda juga bisa melakukan beberapa cara lain di rumah secara mandiri untuk mengatasi rasa sakit di kepala ini.

  • Pijat. Jika Anda merasa kurang pandai dalam pijat-memijat, Anda bisa meminta anggota keluarga yang lebih ahli melakukannya. Namun, jika tidak ada, Anda juga boleh memanggil tukang pijat yang sudah lebih profesional dan lebih mumpuni dalam memijat bagian tubuh termasuk kepala Anda.
  • Tidur yang cukup. Kurang tidur bisa menjadi salah satu penyebab sakit kepala di bagian belakang. Oleh karena itu, istirahat yang cukup mungkin dapat mengurangi rasa sakit yang Anda alami. Tidurlah tepat waktu dan kurangi begadang.
  • Kurangi kebiasaan merokok dan mengonsumsi alkohol. Kebiasaan merokok bahkan dapat meningkatkan faktor risiko Anda mengalami sakit kepala tegang dan sakit kepala cluster.
  • Hindari kegiatan yang berpotensi meningkatkan stres. Anda juga bisa melakukan perencanaan terhadap kegiatan Anda ke depan agar memiliki ruang dan waktu untuk lebih santai dan menikmati hari. Jika Anda sudah mulai merasa lelah, cobalah untuk beristirahat. Terlalu memforsir diri juga tidak baik untuk kesehatan.
  • Kompres dengan air panas atau dingin otot-otot yang terasa nyeri untuk mengurangi rasa sakit kepala.
  • Praktikkan postur tubuh yang baik. Misalnya, jangan duduk terlalu membungkuk, apalagi jika Anda harus duduk dalam waktu yang cukup lama. Berdiri dan duduklah dengan tegap.
  • Perbanyak konsumsi air mineral. Umumnya, jika Anda bisa menjaga tubuh agar tetap terus terhidrasi, Anda mungkin akan merasa lebih baik.

Hello Health Group tidak memberikan nasihat medis, diagnosis, maupun pengobatan.

Sumber
Yang juga perlu Anda baca