home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Kenapa Stres Bikin Sakit Kepala?

Kenapa Stres Bikin Sakit Kepala?

Stres tidak cuma bikin Anda jadi tidak fokus karena pikiran yang mumet. Seringnya, stres yang terus dibiarkan menumpuk malah membuat kepala terasa nyut-nyutan. Sakit kepala itu bahkan bisa semakin parah ketika stres Anda juga makin meningkat. Kenapa, sih, stres bikin sakit kepala?

Apa yang menyebabkan stres bikin sakit kepala?

Tubuh membaca stres yang Anda alami sebagai sebuah ancaman. Maka untuk melindungi dirinya, tubuh akan melepaskan sekelompok hormon stres seperti adrenalin, kortisol, dan norepinefrin dalam jumlah banyak. Hormon-hormon ini bekerja mematikan fungsi-fungsi tubuh yang sedang tidak diperlukan, misalnya pencernaan.

Di saat yang bersamaan, hormon adrenalin dan kortisol menyebabkan peningkatan detak jantung danpelebaran pembuluh darah untuk mengalirkan darah ke bagian-bagian tubuh yang berguna untuk merespon secara fisik, seperti kaki dan tangan. Karena jantung memusatkan aliran darahnya ke bagian bawah tubuh, otak jadi tidak mendapatkan asupan darah beroksigen yang cukup. Akibatnya, fungsi otak menurun. Inilah penyebab kenapa banyak orang yang justru mengalami sakit kepala saat sedang stres. Selain itu, stres juga menyebabkan ketegangan berlebihan pada otot daerah kepala anda.

Sakit kepala akibat stres disebabkan oleh jenis sakit kepala tensi (sakit kepala tegang). Sakit kepala tegang ditandai dengan nyeri tumpul yang terasa menekan dan mengikat kepala dan menyebar di seluruh bagian kepala, tapi tidak berdenyut. Seringnya juga diikuti oleh sensasi ketidaknyamanan atau ketegangan di leher belakang. Sakit kepala tensi dapat Anda rasakan selama 30 menit, atau bahkan lebih (hingga 7 hari).

Sakit kepala akibat stres bukan karena migrain

Sakit kepala tegang berbeda dengan sakit kepala migrain. Jika sakit kepala tensi dirasakan menyebar di seluruh kepala, nyeri migrain seringnya terasa berdenyut dan hanya terpusat di salah satu sisi kepala.

Selain itu, sakit kepala akibat migrain bisa diperparah dengan aktivitas fisik yang Anda lakukan, misalnya naik-turun tangga, atau cahaya terang dan suara keras. Sakit kepala tegang tidak dipengaruhi oleh aktivitas fisik maupun sensitivitas suara dan cahaya.

Selain itu, migraine juga dapat disertai dengan gejala lain, seperti mual dan muntah. Sakit kepala tensi tidak menunjukkan gejala-gejala ini.

Mengobati dan mencegah sakit kepala akibat stres di kantor

Ada beberapa hal yang bisa Anda lakukan untuk mencegah stres bikin sakit kepala di kantor. Misalnya:

  • Minum obat antinyeri NSAID atau paracetamol begitu nyeri menghampiri.
  • Praktikkan tenik pernapasan dalam, meditasi, atau peregangan sederhana untuk meredakan stres.
  • Tempelkan kompres dingin pada leher belakang yang terasa pegal atau di pelipis untuk meredakan sakit kepala.
  • Perbaiki postur tubuh saat duduk. Jangan duduk membungkuk.
  • Beristirahatlah sejenak bila sudah lelah saat bekerja.
  • Hindari rokok, karena rokok dapat memperparah sakit kepala akibat stres.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber
  1. Anugroho D. Tension Type Headache. Neuroscience Department, Brain and Circulation Institute of Indonesia. 2014 (41): 186-191
  2. Aura M. Headache. 2011: 1-3
  3. Waldie K, Buckley J, Bull P, Poulton R. Tension-Type Headache: A Life-Course Review. Journal of Headache and Pain Management. 2015 (1): 1-9
  4. Yerdelen D, Acil T, Goksel B, Karatas M. Autonomic function in tension-type headache. Acta neurol. belg. 2007 : 108-111
  5. Diagnosis of tension-type headache, migraine and cluster headache. National Institute for Health and Clinical Exellence. 2012: 1
  6. Singh G, Gupta P, Gupta A, Khanal M. Clinical Approach to a Patient with Headache. Medicine Update. 2013: 514-518
  7. Millea P, Brodie J. Tension-Type Headahe. American Family Physcian. 2002 (66): 797-803
Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh dr. Ivena
Tanggal diperbarui 12/04/2018
x