Migrain

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 7 Januari 2021 . Waktu baca 13 menit
Bagikan sekarang

Definisi migrain

Apa itu migrain?

Migrain atau migraine adalah jenis sakit kepala yang didasari oleh gangguan saraf dalam otak. Penyakit sistem saraf ini ditandai dengan serangan sakit kepala yang intens, melemahkan, dan berulang.

Rasa sakit kepala pada migrain sering digambarkan seperti denyutan yang parah, yang biasanya terjadi di satu sisi kepala, baik sebelah kiri maupun kanan. Bahkan, beberapa orang menggambarkan rasa sakit yang terjadi sangat ekstrem seperti kepala dihantam benda keras.

Selain serangan nyeri pada kepala, migrain juga kerap disertai dengan gejala lainnya, seperti mual, muntah, hingga peningkatan sensitivitas terhadap cahaya dan suara. Serangan dan gejala ini bisa muncul kapan saja. Ketika serangan datang, gejala dapat bertahan selama berjam-jam hingga berhari-hari, yang mungkin mengganggu aktivitas harian Anda.

Gejala penyakit ini umumnya bisa diredakan menggunakan obat-obatan dan perawatan rumahan. Namun, pengobatan hanya berfungsi untuk mengurangi frekuensi terjadinya serangan dan tingkat keparahan gejala dari setiap serangannya.

Seberapa umumkah sakit kepala ini?

Migrain adalah jenis sakit kepala primer yang cukup umum.

Dilansir dari Journal of Headache and Pain, migrain adalah penyakit ketiga yang paling banyak dialami oleh populasi di dunia sesudah karies gigi dan sakit kepala tegang. Diperkirakan 1 dari 7 orang di dunia memiliki penyakit ini.

Jenis-jenis migrain

Migrain adalah penyakit neurologis atau sistem saraf yang memiliki sejumlah subtipe. Setiap subtipe ini menimbulkan gejala yang berbeda. Berikut adalah klasifikasi, jenis-jenis, atau macam-macam migrain yang umum terjadi:

  • Migrain dengan aura

Jenis ini ditandai dengan aura, yaitu peringatan sensorik tepat sebelum atau saat serangan terjadi, seperti melihat kilatan cahaya atau titik-titik pada objek yang Anda lihat. Aura juga bisa berupa sensasi kesemutan atau mati rasa di salah satu sisi wajah, lengan, atau kaki, dan kesulitan berbicara.

  • Migrain tanpa aura

Kondisi ini ditandai dengan serangan sakit kepala yang terjadi tiba-tiba tanpa ditandai dengan peringatan khusus. Ini merupakan jenis yang paling umum.

  • Migrain aura tanpa sakit kepala

Jenis ini disebut juga dengan silent migraine, yaitu ketika aura atau gejala lain dialami, tetapi sakit kepala tidak berkembang.

  • Migrain kronis

Jika Anda sering mengalami sakit kepala yang terus menerus dan berkepanjangan hingga lebih dari 15 hari dalam sebulan, selama periode tiga bulan, Anda mungkin mengalami migrain kronis. Kondisi ini lebih parah dibandingkan migrain biasa atau episodik, yang hanya terjadi di bawah 15 hari dalam sebulan.

Adapun sering mengalami sakit kepala migrain, baik sebelah kanan maupun kiri, bisa memberi efek atau dampak lain yang bahaya bagi kesehatan Anda. Beberapa risiko kesehatan yang mungkin muncul akibat sering migrain, yaitu stroke, serangan jantung, penyakit jantung, tekanan darah tinggi, depresi, gangguan kecemasan, atau epilepsi.

  • Abdominal migraine

Abdominal migraine adalah kondisi yang sering dialami oleh anak-anak. Jenis ini ditandai dengan sakit perut, mual, dan muntah, yang dapat mengganggu aktivitas normal.

  • Retinal migraine

Retinal migraine adalah jenis yang menyebabkan kehilangan penglihatan, yang bisa berlangsung dalam satu menit hingga berbulan-bulan. Ini adalah jenis aura khusus yang menyertai serangan migrain, dan umumnya merupakan tanda dari masalah yang lebih serius.

  • Hemiplegic migraine 

Jenis ini biasanya ditandai dengan kelemahan di satu sisi tubuh dan seringkali disertai dengan gejala aura visual dan sensasi kesemutan atau mati rasa. Namun, gejala ini bisa tidak termasuk dengan sakit kepala yang parah.

Tanda-tanda & gejala migrain

Apa saja tanda-tanda dan gejala migrain?

Gejala atau ciri-ciri penyakit migrain yang paling khas adalah serangan sakit kepala sebelah, baik di kanan maupun kiri, dengan intensitas nyeri sangat kuat. Sakit kepala sebelah ini pun dapat menyebar ke bagian kepala lainnya.

Serangan dan gejala penyakit ini bisa dimulai pada masa kanak-kanak, remaja, atau dewasa muda, dan umumnya muncul secara bertahap dalam empat fase, yaitu prodromal, aura, serangan (attack), dan post-drome. Namun, tidak semua penderitanya akan mengalami semua fase tingkatan tersebut. Berikut adalah penjelasan dari masing-masing fasenya:

1. Fase prodromal

Fase prodromal biasanya akan muncul dalam beberapa hari sampai beberapa jam sebelum serangan. Pada fase ini, gejala yang umum terjadi yaitu:

  • Konstipasi atau sembelit.
  • Perubahan suasana hati (mood) ekstrem alias mood swing.
  • Perubahan nafsu makan.
  • Leher terasa kaku.
  • Hasrat ingin buang air kecil semakin meningkat.
  • Lebih mudah merasa haus.
  • Lebih sering menguap.

2. Fase aura

Pada beberapa orang, aura mungkin terjadi sebelum atau saat serangan terjadi, yang biasanya mulai perlahan dan bertahan hingga 20-60 menit. Gejala aura biasanya berupa:

  • Ada kilatan cahaya, bentuk-bentuk bayang tertentu, bercak, atau titik-titik cahaya pada objek yang sedang dilihat. Kondisi ini disebut floaters.
  • Penglihatan Anda tiba-tiba menghilang untuk sementara.
  • Tangan dan kaki terasa kebas, kesemutan, atau sensasi seperti ditusuk-tusuk jarum.
  • Tubuh terasa lemas.
  • Wajah atau salah satu sisi tubuh mati rasa.
  • Tiba-tiba merasa kesulitan berbicara.
  • Mendengar suara-suara atau lantunan musik.
  • Gerakan seperti kejang yang tidak bisa Anda kendalikan.

3. Fase attack atau serangan

Fase attack atau serangan adalah tahap di mana gejala migrain umumnya muncul. Serangan ini bisa bertahan hingga 72 jam atau lebih (status migrainosus) bila dibiarkan tanpa pengobatan. Gejala serangan yang akan muncul adalah:

  • Rasa sakit yang amat sangat di salah satu sisi kepala, tetapi juga sering menyerang kedua sisi kepala secara bersamaan.
  • Rasa nyeri yang seperti berdenyut-denyut.
  • Anda akan lebih sensitif terhadap cahaya atau suara. Bahkan, terkadang Anda juga menjadi sensitif terhadap bau dan sentuhan.
  • Mual dan muntah.
  • Nyeri yang semakin memburuk dengan gerakan, batuk, atau bersin.

4. Fase post-drome

Setelah mengalami serangan, Anda biasanya akan merasa lemas karena kehabisan energi juga kebingungan (linglung). Inilah yang disebut fase post-drome. Pada fase ini, gerakan kepala yang tiba-tiba bisa membuat Anda kembali merasakan serangan meski hanya sejenak.

Gejala-gejala di atas lebih sering terjadi pada pagi hari saat baru terbangun dari tidur. Beberapa orang pun mungkin mengalami serangan pada waktu yang dapat diprediksi, seperti sebelum menstruasi atau pada akhir pekan setelah seminggu bekerja dengan penuh tekanan.

Kapan saya harus periksa ke dokter?

Sebaiknya Anda segera mencari pertolongan medis atau berkonsultasi ke dokter jika memiliki gejala atau kondisi migrain tertentu. Ini bisa menjadi tanda bahwa Anda memiliki masalah kesehatan yang lebih serius, seperti stroke atau meningitis. Berikut adalah beberapa kondisi yang perlu diwaspadai:

  • Sakit kepala menyerang secara tiba-tiba dan terasa sangat sakit yang belum pernah Anda rasa sebelumnya.
  • Sakit kepala disertai dengan demam, leher kaku, kejang, ruam, kebingungan mental, pandangan mata berbayang, atau lemas.
  • Kelumpuhan atau kelemahan pada satu atau kedua lengan, atau satu sisi wajah.
  • Bicara cadel atau kesulitan bicara.
  • Anda sampai kehilangan kesadaran saat mengalaminya.
  • Sakit kepala yang baru muncul saat Anda sudah berusia 50 tahun ke atas.
  • Sakit kepala yang bertambah parah setelah Anda berolahraga, melakukan hubungan seks, batuk, atau bersin.
  • Migrain yang bermula setelah Anda mengalami cedera di kepala.

Status dan kondisi yang dialami dapat berbeda pada setiap orang. Maka adalah suatu kewajiban bagi Anda untuk selalu berdiskusi dengan dokter tentang metode diagnosis, pengobatan, dan perawatan terbaik bagi Anda.

Penyebab migrain

Hingga saat ini masih belum bisa dipastikan apa yang menjadi penyebab migrain. Namun, kondisi ini diduga sebagai akibat dari perubahan atau gangguan pada bahan kimia, saraf, dan pembuluh darah di otak.

Sekitar setengah dari penderita penyakit ini pun memiliki keluarga atau saudara dengan kondisi yang sama. Ini menunjukkan bahwa faktor genetik mungkin berperan dalam menyebabkan penyakit ini.

Sementara itu, serangan migrain pada penderitanya diketahui dapat dipicu oleh salah satu atau kombinasi dari beragam hal berikut:

  • Perubahan hormon pada wanita, seperti sebelum atau selama menstruasi, kehamilan, dan saat menopause.
  • Minuman beralkohol, seperti wine.
  • Minuman yang mengandung kafein, seperti teh dan kopi.
  • Stres.
  • Kelelahan yang amat sangat.
  • Paparan terhadap cahaya yang terlalu terang, aroma berbau tajam, atau suara yang terlalu keras.
  • Perubahan kebiasaan tidur, seperti kurang tidur atau justru tidur terlalu lama.
  • Jet lag.
  • Aktivitas fisik yang intens, seperti olahraga berat dan sakit kepala akibat seks.
  • Perubahan cuaca ekstrem.
  • Penggunaan obat-obatan tertentu, seperti nitrogliserin.
  • Makanan tertentu, seperti makanan olahan, makanan yang mengandung banyak garam, makanan yang dibuat dengan zat aditif seperti berpemanis buatan atau mecin (MSG).
  • Kebiasaan melewatkan waktu makan.

Faktor-faktor risiko migrain

Penyebab paling mendasar dari migrain itu sendiri memang belum diketahui. Namun, ada beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko Anda mengalaminya, yaitu:

  • Riwayat kesehatan keluarga

Jika ada anggota keluarga Anda yang memiliki migrain, maka risiko Anda mengalami kondisi ini akan lebih besar dibandingkan orang lain yang tidak.

  • Usia

Migrain bisa terjadi pada usia berapapun, termasuk anak-anak meski sering tidak terdiagnosis. Namun, kondisi ini lebih sering dimulai pada masa remaja dan cenderung memuncak saat usia 30-an. Kemudian secara bertahap, kondisinya menjadi tidak terlalu parah dan jarang terjadi pada dekade berikutnya.

  • Jenis kelamin

Jenis kelamin adalah salah satu faktor yang mungkin memengaruhi risiko Anda mengalami sakit kepala jenis ini. Wanita berpotensi tiga kali lebih besar mengalami jenis sakit kepala ini dibandingkan dengan pria.

  • Perubahan hormon

Sakit kepala pada wanita cenderung terjadi karena perubahan hormon, seperti sebelum menstruasi, selama kehamilan, atau saat menopause. Setelah menopause, umumnya serangan sakit kepala ini akan lebih membaik.

Selain itu, penggunaan obat-obatan yang mengandung hormon, seperti pil KB atau terapi penggantian hormon, juga berpotensi memperparah sakit kepala yang sedang Anda alami.

  • Kondisi medis tertentu

Selain faktor-faktor di atas, memiliki kondisi medis tertentu juga bisa meningkatkan risiko terjadinya migrain. Kondisi medis tersebut, yaitu depresi, kecemasan, gangguan bipolar, gangguan tidur, dan epilepsi.

Tidak memiliki faktor-faktor risiko di atas bukan berarti Anda tidak mungkin mengalami kondisi ini. Pasalnya, Anda masih mungkin terpapar oleh faktor eksternal yang dapat memicu serangan, seperti yang telah dijelaskan di atas. Konsultasikan dengan dokter untuk informasi lebih lanjut.

Diagnosis & pengobatan migrain

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Bagaimana cara dokter mendiagnosisnya?

Penyakit ini dapat didiagnosis dengan mengidentifikasi gejala, termasuk frekuensi dan durasi sakit kepala, serta riwayat medis dan faktor-faktor tertentu yang mungkin memicunya. Dokter pun akan melakukan pemeriksaan fisik dan neurologis untuk memastikan diagnosis migrain berdasarkan gejala tersebut.

Bila kondisi dan gejala yang Anda alami tidak biasa, rumit, atau parah, dokter spesialis saraf akan melakukan beberapa tes penunjang, seperti magnetic resonance imaging (MRI) dan computerized tomography (CT Scan). Tes-tes ini dapat membantu dokter mendiagnosis tumor, stroke, perdarahan di otak, infeksi, kerusakan otak, atau masalah lain terkait otak dan sistem saraf, yang mungkin menyebabkan sakit kepala.

Apa saja pilihan pengobatan untuk migrain?

Ada beberapa pilihan pengobatan migrain yang bisa Anda gunakan untuk meredakan rasa sakit di kepala. Biasanya, pengobatan akan disesuaikan dengan usia Anda, frekuensi dan tingkat keparahan gejala, hingga kondisi kesehatan lain yang Anda miliki.

  • Obat pereda nyeri

Obat-obatan pereda rasa nyeri yang bisa Anda gunakan untuk meredakan migrain, termasuk paracetamol, aspirin, dan ibuprofen. Obat ini dapat dibeli bebas tanpa resep dokter.

Namun, jika obat-obatan ini digunakan dalam jangka panjang, Anda justru berpotensi mengalami komplikasi migrain, yaitu rebound headache yang ditandai dengan sakit kepala berulang.

  • Obat-obatan triptan

Obat triptan, seperti sumatriptan dan rizatriptan, adalah obat resep yang bekerja dengan cara menghalangi sinyal rasa sakit masuk ke otak. Obat-obatan ini bisa berupa pil, obat suntik, atau obat semprot hidung. Namun, obat ini mungkin tidak aman untuk pasien yang menderita stroke atau serangan jantung.

  • Obat antimual

Jika Anda mengalami sakit kepala sebelah yang disertai dengan aura dan mual dan muntah, obat-obatan antimual dapat membantu Anda mengatasi kondisi ini. Obat-obatan antimual, termasuk chlorpromazine, metoclopramide, dan prochlorperazine bisa digunakan bersamaan dengan obat pereda rasa nyeri.

  • Obat opioid

Obat opioid biasanya diberikan pada pasien yang tidak bisa mengonsumsi obat migrain lainnya. Namun, obat ini bisa membuat penggunanya kecanduan jika digunakan sembarangan. Maka dari itu, dokter hanya akan meresepkan obat ini sebagai jalan terakhir untuk mengatasi kondisi Anda.

  • Obat dihidroergotamin

Obat dihidroergotamin tersedia dalam bentuk semprot hidung atau obat injeksi. Obat ini biasanya cukup efektif mengatasi gejala migrain, khususnya jika gejala bertahan hingga lebih dari 24 jam. Namun, penderita jantung koroner, tekanan darah tinggi, atau gangguan hati lebih baik menghindari penggunaan obat ini.

Pengobatan migrain di rumah

Selain dengan obat-obatan, beberapa perubahan gaya hidup sehat dan pengobatan rumahan yang dapat membantu Anda mengatasi migrain adalah:

  • Beristirahat dengan mata tertutup di ruangan tenang dan gelap. 
  • Kompres dingin di area dahi untuk mengurangi nyeri.
  • Perbanyak minum air putih.
  • Tidur yang cukup.
  • Olahraga rutin dan teratur, seperti latihan aerobik yang tidak terlalu berat. 
  • Pijat kepala untuk migrain.
  • Tidak melewatkan makan dan menerapkan pola makan sehat, termasuk mengonsumsi makanan pencegah migrain.  
  • Menggunakan minyak esensial untuk sakit kepala.
  • Mencoba teknik relaksasi untuk mengurangi stres sebagai pemicu sakit kepala, seperti biofeedback.

Bila ada pertanyaan mengenai migrain atau sakit kepala di satu sisi sebaiknya konsultasikan dengan dokter untuk solusi terbaik dari masalah Anda.

Pencegahan migrain

Cara utama untuk mencegah migrain adalah dengan menghindari berbagai pemicu yang dapat menyebabkan serangan dan gejala kambuh, seperti stres, makanan tertentu, dan lain sebagainya. Selain menghindari hal-hal tersebut, beberapa cara di bawah ini pun perlu Anda lakukan untuk mencegah penyakit ini terjadi:

  • Olahraga rutin dan teratur.
  • Tidak melewatkan waktu makan dan menerapkan pola makan sehat, termasuk membatasi konsumsi alkohol dan kafein.
  • Menghindari dehidrasi dengan perbanyak minum air putih.
  • Mengelola stres.
  • Tidur yang cukup dan teratur.
  • Mengonsumsi obat pencegah migrain dari dokter, seperti obat antikejang atau obat tekanan darah, terutama jika sudah dalam kondisi parah.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Neuroma Akustik

Neuroma akustik adalah penyakit. Cari tahu gejala, penyebab, diagnosis, pengobatan, obat, diet, serta cara mencegah penyakit ini di Hello Sehat.

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Kesehatan THT, Gangguan Telinga 3 Januari 2021 . Waktu baca 7 menit

Leukemia Limfositik Kronis

Chronic Lymphocytic leukemia (CLL) atau leukemia limfositik kronis adalah kondisi menyebabkan sumsum tulang memproduksi terlalu banyak sel darah putih.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Kanker, Kanker Darah 2 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit

Penyakit Meniere

Penyakit meniere adalah salah satu penyebab gangguan pendengaran. Cari tahu informasi penyakit, penyebab penyakit dan gejala penyakitnya di Hello Sehat.

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Kesehatan THT, Gangguan Telinga 2 Januari 2021 . Waktu baca 7 menit

Benarkah Makanan Pedas Bisa Mengatasi Sakit Kepala Migrain?

Makanan pedas sering kali diandalkan untuk mengatasi rasa sakit kepala atau migrain. Tapi benarkah makanan itu dapat menyembuhkan sakit kepala Anda?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Nutrisi 1 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit

Direkomendasikan untuk Anda

mengobati sakit kepala

5 Jenis Minyak Esensial untuk Meringankan Sakit Kepala dan Migrain

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Andisa Shabrina
Dipublikasikan tanggal: 15 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
sakit kepala setelah keramas

Tiba-tiba Sakit Kepala Setelah Keramas, Apa Penyebabnya?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 15 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
sakit kepala belakang

Sakit Kepala Belakang

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Dipublikasikan tanggal: 14 Januari 2021 . Waktu baca 16 menit
gegar otak adalah

Gegar Otak

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 3 Januari 2021 . Waktu baca 7 menit