Apa itu Hepatitis D?

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Hepatitis D adalah penyakit hati akibat virus yang disebabkan oleh virus hepatitis D, atau disebut juga virus delta. Infeksi hepatitis D bisa terjadi sebagai co-infeksi, yang berarti terjadi bersamaan dengan infeksi hepatitis B. Virus ini merupakan salah satu dari beberapa jenis virus hepatitis yang menyebabkan peradangan dan memengaruhi kemampuan hati untuk berfungsi.

Apa penyebab hepatitis D?

HDV ditularkan melalui tusukan jarum (medis atau narkoba) yang tidak steril atau dipakai berbarengan. Virus ini juga dapat ditularkan lewat paparan darah atau cairan tubuh lainnya yang terinfeksi, misalnya urin, sekresi vagina, air mani, darah, dan persalinan (dari ibu yang positif hepatitis D ke bayi baru lahirnya).

Namun perlu dicatat bahwa Anda hanya dapat terkena hepatitis D jika Anda sudah menderita hepatitis B sebelumnya. Anda bisa terinfeksi HDV dan HBV di saat yang bersamaan. Menurut Children’s Hospital of Philadelphia, sekitar 5% penderita hepatitis B akan terkena hepatitis D.

Siapa saja yang berisiko tinggi terinfeksi hepatitis D?

Semua orang bisa terkena hepatitis. Namun ada beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko Anda terkena hepatitis D, yaitu::

Apa saja tanda dan gejala hepatitis D?

Gejala hepatitis D serupa dengan gejala hepatitis B, sehingga bisa sulit bagi dokter untuk menentukan diagnosis penyakit dari gejala Anda. Gejala umum HDV, termasuk:

  • Hilang nafsu makan
  • Mual dan muntah
  • Keletihan
  • Nyeri pada hati (di sisi kanan atas perut)
  • Nyeri otot dan sendi
  • Meguningnya mata dan kulit, urin gelap dan feses berwarna pucat (gejala penyakit kuning, tanda kerusakan hati)

Kebanyakan orang yang terinfeksi HDV sewaktu dewasa bisa pulih sepenuhnya, meski tanda-tanda dan gejala yang dialami bersifat parah.

Apa saja komplikasi hepatitis D yang mungkin terjadi?

Orang yang terinfeksi hepatitis D dan hepatitis B berisiko tinggi untuk terkena penyakit hati kronis, seperti kanker hati, dan sirosis (kerusakan jaringan hati).

Bagaimana dokter mendiagnosis hepatitis D?

Dokter biasanya menyarankan Anda untuk tes darah untuk mendeteksi keberadaan virus hepatitis dalam tubuh, dan apakah ada antibodi dalam tubuh. Tes darah bisa membantu dokter memulai pengobatan atau menganjurkan perubahan gaya hidup yang bisa memperlambat proses kerusakan hati.

Apa saja pengobatan hepatitis D yang tersedia?

Tidak ada vaksin HDV untuk mencegah infeksi sebelum maupun setelah paparan. Pasien terkadang bisa membaik dengan α-interferon. Belum ada pula terapi antivirus efektif yang tersedia untuk pengobatan HDV, sehingga pasien hepatitis D akut dan kronis stadium akhir mungkin akan dianjurkan transplantasi hati.

Bisakah penularan hepatitis D dicegah?

Satu-satunya cara yang diketahui bisa mencegah hepatitis D adalah dengan menghindari infeksi hepatitis B. Anda bisa melakukan tindakan pencegahan berikut untuk mengurangi risiko Anda terkena hepatitis B:

  • Lakukan vaksinasi. Ada vaksin hepatitis B untuk semua anak. Orang dewasa yang beresiko tinggi terkena hepatitis D juga harus divaksinasi, seperti mereka yang menggunakan narkoba suntik seperti heroin atau kokain. Vakinasi biasanya diberikan dalam rangkaian tiga suntikan per enam bulan. Pastikan untuk menggunakan jarum steril setiap Anda menyuntikkan obat. Jangan pernah menggunakan jarum yang sama dengan orang lain.
  • Lakukan aktivitas seksual dengan kondom dengan semua pasangan seksual. Anda tidak boleh terlibat melakukan seks tanpa kondom kecuali jika Anda yakin bahwa pasangan Anda tidak terinfeksi hepatitis atau infeksi menular seksual lainnya.
  • Berhati-hatilah dalam melakukan tato dan tindik tubuh. Pergilah ke toko yang terpercaya setiap kali Anda menato atau menindik tubuh. Tanyakan bagaimana mereka membersihkan peralatan mereka dan pastikan para karyawan menggunakan jarum steril.

Hello Health Group tidak menyediakan nasihat medis, diagnosis, maupun pengobatan.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca