Enzim SGOT dan SGPT

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 14 Januari 2021 . Waktu baca 7 menit
Bagikan sekarang

Habis Minum Minuman Beralkohol?

Ukur berapa kadar alkohol dalam darahmu sekarang!

Hitung di Sini!
general

Definisi

Apa itu SGOT dan SGPT?

Serum glutamic oxaloacetic transaminase (SGOT) adalah enzim yang biasanya ditemukan pada organ hati (liver), jantung, ginjal, hingga otak. 

Sementara itu, SGPT atau serum glutamic pyruvic transaminase adalah enzim yang paling banyak dijumpai dalam liver. Meski begitu, SGPT dapat ditemukan organ lainnya dalam jumlah yang sedikit. 

SGPT dan SGOT memiliki fungsi yang sama dalam sistem pencernaan, yaitu membantu mencerna protein dalam tubuh. Kadar kedua enzim ini dapat diketahui lewat pemeriksaan fungsi hati melalui tes darah. 

Berapa kadar normalnya? 

Pada orang yang sehat, kedua enzim ini biasanya akan terlihat normal. Batas normal yang seharusnya dimiliki yakni:

  • SGOT: 5-40 µ/L (mikro per liter)
  • SGPT: 7-56 µ/L (mikro per liter)

Bila melebihi dari angka tersebut, ada kemungkinan Anda mengalami gangguan fungsi hati atau penyakit lainnya. Namun, ada kemungkinan parameter nilai laboratorium yang satu berbeda dengan yang lain. Itu sebabnya, pemeriksaan SGOT dan SGPT diperlukan untuk mendeteksi penyakit liver sejak dini agar Anda segera mendapatkan perawatan.

Persiapan

Bagaimana persiapan sebelum pemeriksaan dilakukan? 

Pemeriksaan fungsi hati yang satu ini biasanya dilakukan ketika Anda mengalami tanda-tanda kerusakan hati, mulai dari penyakit kuning hingga perubahan warna urine

Tes SGOT dan SGPT juga dilakukan pada pasien yang tengah menjalani pengobatan yang menyebabkan kadar kedua enzim ini lebih tinggi. 

Sebelum menjalani pemeriksaan, dokter mungkin akan meminta Anda untuk menghindari makanan dan minum obat. Pasalnya, makanan dan obat-obatan tertentu dapat memengaruhi hasil pemeriksaan atas fungsi hati Anda. 

Selain itu, Anda mungkin akan disarankan untuk menggunakan pakaian berlengan pendek untuk mempermudah petugas mengambil sampel darah. 

Prosedur

Bagaimana prosedur pemeriksaan SGOT dan SGPT? 

Pada dasarnya, pemeriksaan SGOT dan SGPT sama seperti prosedur pemeriksaan darah lainnya. Petugas kesehatan nantinya akan mengambil sampel dari pembuluh darah dengan langkah-langkah sebagai berikut.

  • Membersihkan kulit.
  • Menempelkan pita elastis (tourniquet) pada area yang akan diambil sampel.
  • Memasukkan jarum pada lengan di dalam siku atau punggung tangan.
  • Menarik sampel darah ke dalam botol.
  • Melepaskan karet gelang dan melepaskan jarum dari vena. 

Pemeriksaan fungsi hati ini biasanya hanya berlangsung dalam waktu yang sebentar. Meski begitu, Anda mungkin akan merasakan sedikit nyeri sesaat setelah kulit disuntikkan oleh jarum.

Risiko

Apa saja risiko dari pemeriksaan ini?

Baik tes SGPT maupun pemeriksaan SGOT sama-sama memiliki risiko yang rendah. Namun, Anda dianjurkan untuk minum air lebih banyak untuk mencegah pusing hingga pingsan. 

Bila Anda merasa pusing atau tidak sadarkan diri setelah pemeriksaan, beri tahu petugas kesehatan.

Petugas kesehatan mungkin akan meminta Anda untuk tetap duduk dan membawakan air hingga Anda cukup sehat untuk bangun dan pergi.

Hasil

Apa artinya bila kadar SGPT tinggi? 

Bila kadar enzim SGPT (disebut ALT) melebihi 10 kali dari batas normal, Anda perlu waspada. Pasalnya, tingkat ALT yang tinggi bisa menjadi pertanda Anda tengah mengalami penyakit tertentu, seperti

Infeksi virus hepatitis

Pada pasien hepatitis akut biasanya memiliki tingkat ALT yang cukup tinggi. Hal ini bisa berlangsung selama sekitar 1 – 2 bulan.

Namun, beberapa pasien juga memakan waktu selama 3 – 6 bulan untuk mengembalikan kadar normal enzim pada hati ini.

Sementara itu, pasien dengan hepatitis kronis mungkin tidak mengalami peningkatan sebanyak pasien hepatitis akut. Bahkan, ada kalanya penyakit ini justru mengurangi kadar SGPT dalam hati. 

Terpapar obat atau zat racun

Selain penyakit hepatitis, SGPT yang tinggi juga dapat disebabkan paparan zat beracun atau bahkan obat yang merusak hati. Tidak hanya itu, kondisi ini juga bisa diakibatkan oleh masalah aliran darah ke hati yang menurun. 

Penyebab lainnya

SGPT yang tinggi tidak selalu disebabkan oleh gangguan fungsi hati, melainkan juga dipengaruhi oleh kondisi lainnya, seperti: 

Apa penyebab SGOT tinggi?

Bila hasil pemeriksaan SGOT Anda tinggi, artinya salah satu organ atau otot yang mengandung enzim ini mengalami kerusakan. Kondisi ini dapat terjadi pada hati, otot, jantung, otak, hingga ginjal. 

Penyebab meningkatnya SGOT pun tidak jauh berbeda dengan SGPT yang tinggi, meliputi: 

  • infeksi virus hepatitis A, hepatitis B, dan hepatitis C, 
  • kerusakan sistem peredaran darah, 
  • sirosis hati
  • setelah mengalami serangan jantung,
  • hepatitis alkoholik
  • paparan zat beracun, serta 
  • efek samping dari penggunaan obat-obatan secara berlabihan, seperti acetaminophen

Perlu diingat bahwa batas normal dari angka SGOT dan SGPT akan berbeda-beda. Hal ini dipengaruhi bagaimana teknik dan prosedur yang digunakan ketika hasil tes darah enzim ini diperiksa. 

Anda bisa melihat angka normal yang biasanya tertera pada hasil tes agar tahu, apakah kadar kedua enzim tersebut termasuk tinggi atau tidak. 

Apa yang terjadi bila hasil SGOT dan SGPT tinggi? 

Jika hasil pemeriksaan SGOT dan SGPT tinggi akibat kerusakan hati, ada beberapa pemeriksaan darah yang nantinya perlu Anda jalani, seperti: 

Selalu diskusikan dengan dokter terkait hasil pemeriksaan yang didapatkan untuk mengetahui penanganan apa yang tepat sesuai dengan kondisi Anda. 

Tips

Kadar enzim SGOT dan SGPT sebenarnya akan turun seiring dengan berjalannya waktu. Namun, ada kalanya kedua enzim ini akan menyesuaikan diri ketika dokter mengatasi apa yang menjadi penyebab mendasarinya. 

Selain perawatan dari dokter, berikut ini cara lain yang bisa dilakukan untuk membantu menurunkan SGOT dan SGPT yang tinggi. 

Hindari makanan berlemak

Salah satu penyebab enzim yang menjadi penanda kerusakan hati ini menjadi tinggi adalah makanan berlemak. Begini, kedua enzim tersebut berfungsi memecah lemak di dalam tubuh.

Bila lemak yang masuk terlalu banyak, organ hati tidak mampu mengolahnya dan menyebabkan kerusakan sel hati. 

Walaupun bukan alasan utama dari gangguan fungsi hati, Anda tetap perlu menghindari makanan berlemak. Tambah asupan serat dengan makan lebih banyak sayur dan buah untuk menjaga kesehatan liver.

Hentikan konsumsi alkohol

Minum alkohol berlebihan merupakan salah satu kebiasaan yang sering menjadi penyebab kerusakan hati. Bagaimana bisa? 

Hati adalah organ yang berperan menetralkan dan menyaring racun dari darah. Sementara itu, minuman beralkohol mengandung berbagai zat beracun yang nantinya akan diolah di hati. 

Bila dikonsumsi terlalu banyak dan sering, organ hati tidak lagi mampu mengolah racun yang masuk, sehingga sel-sel hati pun rusak. Akibatnya, SGOT dan SGPT pun mulai meningkat. 

Minum obat sesuai aturan

Sama seperti alkohol, zat obat yang masuk ke dalam tubuh akan diolah langsung oleh hati karena dianggap sebagai racun. Walaupun dapat meredakan penyakit, beberapa obat dapat merusak hati ketika dikonsumsi sembarangan dan berlebihan. 

Hal ini memberatkan kerja hati dan kadar kedua enzim tersebut pun meningkat. Selalu konsultasikan dengan dokter terkait obat-obatan yang akan dikonsumsi, terutama ketika Anda mengalami penyakit liver. 

Rutin berolahraga

Rajin berolahraga adalah bagian penting dari menjaga fungsi hati dan membantu menurunkan SGPT dan SGOT yang tinggi. Cobalah berolahraga setiap hari selama 30 menit. 

Anda bisa memulai dari olahraga dengan intensitas ringan hingga sedang, seperti berjalan atau jogging. Dengan begitu, tumpukan lemak di tubuh pun ikut terbakar.

Bila Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut, silakan hubungi dokter.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Cara Menahan Rasa Lapar Saat Melakukan Diet

Sering kali diet Anda gagal karena Anda tak bisa menahan lapar dan akhirnya menyerah dan kembali makan dengan porsi besar. Begini cara mengatasinya.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Tips Berat Badan Turun, Nutrisi 21 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

Baru Pakai Skincare Antiaging Usia 50 Tahun ke Atas, Bermanfaatkah?

Produk skincare antiaging fungsinya adalah mencegah penuaan dini. Namun, kalau baru pakai antiaging di usia 50 tahun ke atas, apa hasilnya akan sama?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Kesehatan Lansia, Gizi Lansia 21 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit

3 Manfaat yang Bisa Didapat dari Minum Kopi Sebelum Olahraga

Suka olahraga di pagi hari dan harus minum kopi dulu biar segar? Penelitian membuktikan kalau minum kopi sebelum olahraga ternyata baik buat tubuh, lho!

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Gizi Olahraga, Nutrisi 21 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

Berbagai Pilihan Pengobatan untuk Atasi Tipes

Gejala tipes umumnya dapat diobati di rumah. Selain minum obat dari dokter, apa saja cara mengobati tipes lainnya di rumah?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Penyakit Infeksi, Demam Tifoid (Tifus) 20 Januari 2021 . Waktu baca 8 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Mengurangi Bau Badan

Deodoran Tidak Mempan Kurangi Bau Badan? Atasi Dengan Bahan Alami Berikut Ini

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: dr. Marsha Desica Arsanta
Dipublikasikan tanggal: 21 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit
tips lari untuk penderita rematik

6 Kesalahan Saat Olahraga Lari yang Wajib Dihindari

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Dipublikasikan tanggal: 21 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
olahraga malam hari

4 Jenis Olahraga yang Aman Dilakukan di Malam Hari

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 21 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit
sakit kepala setelah makan

Sakit Kepala Setelah Makan? Ini 4 Hal yang Bisa Jadi Penyebabnya

Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 21 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit