home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Buang Air Besar (BAB) Normal Itu Berapa Kali Sehari, Ya?

Buang Air Besar (BAB) Normal Itu Berapa Kali Sehari, Ya?

Ada dua tipe orang saat akan buang air besar (BAB). Satu, Si Disiplin yang memiliki jadwal ketat soal urusan “ke belakang”. Lalu, ada si Suka-Suka yang BAB kapan saja tanpa ritual khusus. Terlepas dari keduanya, BAB normal itu seharusnya yang bagaimana?

Frekuensi BAB pada setiap orang berbeda-beda

waktu buang air besar BAB

Buang air besar (BAB) adalah cara tubuh membuang zat-zat atau racun dari dalam tubuh yang tidak perlu. Feses mengandung 75% air yang sisanya yaitu bakteri (baik sudah mati maupun masih hidup), protein, serat, serta zat sisa dari organ hati dan usus.

Rata-rata orang mengeluarkan feses seberat 28 gram setiap 5 kilogram berat badan. Hal tersebut membuat frekuensi BAB pada setiap orang memang berbeda-beda.

Selain banyaknya makanan yang dikonsumsi, perbedaan frekuensi BAB juga dipengaruhi oleh kebiasaan makan, seberapa banyak aktivitas fisik yang dilakukan, juga seberapa tinggi tingkat stres Anda.

Orang yang terbiasa mengonsumsi makanan berserat tentu akan lebih sering BAB daripada yang jarang. Orang yang rajin olahraga umumnya lebih lancar BAB, sebab dapat meningkatkan pergerakan otot dalam usus untuk mengeluarkan kotoran.

Stres menjadi faktor lainnya yang tak kalah penting. Ini karena otak dan usus saling terhubung oleh saraf dan neurotransmitter (senyawa kimiawi yang berfungsi menyampaikan pesan antara satu sel saraf ke sel saraf yang menjadi target pada otot).

Saat cemas, tubuh akan lebih banyak mengirimkan darah ke organ vital seperti jantung dan paru-paru, sehingga sistem pencernaan bisa terganggu. Proses ini kemudian menyebabkan frekuensi BAB jadi lebih jarang atau malah lebih sering.

Lantas, berapa kali BAB yang dianggap normal?

bakteri penyebab diare

Sebenarnya, tidak ada satu pun aturan baku perihal BAB normal harus berapa kali dalam sehari. Kembali lagi, urusan buang air besar merupakan hal unik milik pribadi karena setiap orang berbeda satu sama lainnya.

Walau begitu, para ahli biasanya menetapkan bahwa BAB yang normal yakni antara tiga kali dalam sehari atau tiga kali dalam seminggu.

Rata-rata BAB normal ini sudah pernah dikaji oleh penelitian yang terbit pada jurnal Scandinavian Journal of Gastroenterology. Penelitian menunjukkan bahwa hampir 100% peserta buang air besar antara 3 kali sehari sampai 3 kali seminggu.

Studi lainnya dari Singapore Medical Journal mendukung penelitian tersebut dan menyebutkan bahwa paling normalnya, orang-orang buang air besar sebanyak sekali sehari.

Namun, hal ini juga bergantung pada warna dan bentuk feses yang dikeluarkan. Asal feses tidak terlalu halus dan tidak terlalu keras, ditambah dengan frekuensi yang sudah disebutkan, maka kebiasaan BAB Anda masih bisa dibilang normal.

Konsistensi feses juga memengaruhi BAB yang normal

bab yang normal

Ya, selain frekuensi atau seberapa sering, karateristik pada warna dan bentuk feses juga menjadi tolak ukur untuk menentukan apakah BAB Anda benar-benar normal.

Dari segi warna, biasanya feses normal yakni yang berwarna cokelat. Warna cokelat ini didapatkan dari bilirubin, senyawa yang terbentuk dari pemecahan sel darah merah dalam tubuh. Feses juga termasuk normal bila memiliki sedikit warna hijau.

Warna feses bergantung pada makanan yang dimakan. Maka itu, jangan dulu merasa cemas bila feses berwarna hitam, hijau, atau merah. Bisa jadi, warna itu merupakan hasil proses pencernaan makanan yang berwarna tajam seperti buah bit atau licorice.

Namun, bila Anda tidak mengonsumsi makanan tersebut, Anda mungkin patut waspada karena mungkin ada masalah pada pencernaan.

Sedangkan, feses warna putih atau pucat dapat menandakan bahwa tubuh Anda mengalami kekurangan cairan empedu. Lalu, feses berwarna kuning dapat menjadi tanda bahwa Anda telah terlalu banyak mengonsumsi lemak.

Lagi-lagi, bila hanya terjadi dalam sehari, ingatlah makanan atau obat yang Anda konsumsi. Bila berlangsung selama beberapa hari, Anda mungkin perlu periksa ke dokter.

Tak hanya warna, bentuk feses juga menjadi ukuran untuk menentukan BAB yang normal. Bentuk feses tergolong normal bila bentuknya seperti lonjongan sosis atau ular, dengan tekstur yang terlihat kental dan tidak encer.

Feses yang berbentuk seperti kacang dan sulit dikeluarkan kemungkinan menandakan Anda terkena sembelit (konstipasi). Sedangkan bila feses menyebar dan tak berbentuk, Anda bisa saja sedang mengalami diare.

Jangan menunda buang air besar!

BAB yang normal terjadi antara tiga kali sehari sampai paling sedikitnya tiga kali seminggu dengan warna cokelat, tidak keras, dan tidak terlalu encer. BAB kurang dari tiga kali sehari dengan feses keras dan menyakitkan bisa dianggap sebagai sembelit.

Sementara itu, lebih dari 3 kali buang air besar yang berair sehari bisa menunjukkan ada terkena sakit diare. Jika pola, tekstur, atau bau BAB Anda berubah tiba-tiba, ini kemungkinan sesuatu yang layak untuk dikonsultasikan dengan dokter.

Yang paling penting, saat panggilan alam memanggil Anda untuk ke belakang, jangan menahannya. Menahan dorongan BAB atau menunggu untuk pergi ke kamar mandi dapat menyebabkan sembelit atau membuat gejala sebuah penyakit semakin buruk.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Bristol Stool Chart. (2021). Continence Foundation of Australia. Retrieved 29 April 2021, from https://www.continence.org.au/bristol-stool-chart

Walter, S. A., Kjellström, L., Nyhlin, H., Talley, N. J., & Agréus, L. (2010). Assessment of normal bowel habits in the general adult population: the Popcol study. Scandinavian journal of gastroenterology, 45(5), 556–566. Retrieved 29 April 2021.

Stool color: When to worry. (2020). Mayo Clinic. Retrieved 29 April 2021, from https://www.mayoclinic.org/stool-color/expert-answers/faq-20058080

How Often Does The Average Person Poop? (n.d.). University of Massachusetts. Retrieved 29 April 2021, from  http://www.umass.edu/mycenter/documents/bb/poop.pdf

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Winona Katyusha Diperbarui 02/08/2021
Ditinjau secara medis oleh dr Patricia Lukas Goentoro
x