Apakah Diabetes Meningkatkan Risiko Infeksi Virus Hepatitis C?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 15/11/2019 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Diabetes makin lama makin umum terjadi. Meskipun penyakit satu ini sering dikaitkan dengan penerapan gaya hidup tak sehat, pola makan yang buruk bukanlah satu-satunya penyebab diabetes. Ya, diabetes bisa juga disebabkan oleh infeksi virus, salah satunya virus hepatitis c. Beberapa penderita diabetes bahkan lebih rentan untuk mengalami hepatitis kronis.

Tidak ada vaksin untuk virus hepatitis C, sehingga sangat penting untuk mengetahui risiko dan bagaimana pengaruhnya infeksi satu ini terhadap kesehatan Anda dalam jangka panjang.

Apa itu hepatitis C?

Hepatitis adalah virus yang menyebabkan peradangan hati/liver. Bentuk paling umum virus ini adalah hepatitis A, B, dan C.

Virus hepatitis C, yang ditularkan melalui darah, dianggap lebih berbahaya, karena tidak ada vaksin untuk virus ini. Hepatitis C mencegah hati melakukan fungsi normalnya, termasuk:

  • Mencerna makanan
  • Menyimpan nutrisi dan energi
  • Mencegah infeksi
  • Membersihkan bahan-bahan kimia dari aliran darah

Virus hepatitis C tak hanya menyebabkan peradangan hati saja

Hati memilliki fungsi yang penting dan hepatitis dapat merusak kesehatan Anda. Pada skala yang lebih besar, virus hepatitis C dapat dihubungkan dengan penyakit lain, termasuk diabetes.

Seseorang mengalami diabetes ketika tubuh mereka mengalami kesulitan menyerap gula darah (glukosa). Glukosa merupakan sumber energi yang juga memengaruhi semua organ dan otot dalam tubuh. Karena glukosa diproses melalui hati seperti nutrisi lainnya, hubungan antara hepatitis C dan diabetes seharusnya tidak mengejutkan.

Kesehatan hati dan diabetes

Hepatitis C dapat menyebabkan diabetes melalui dua cara utama. Pertama, diabetes dapat terjadi karena seseorang mengalami riwayat penyakit hepatitis C kronis. Virus hepatitis C kronis akhirnya mengakibatkan hati sulit untuk membuang kelebihan glukosa. Jika dibiarkan tanpa pengobatan yang tepat, kondisi ini lambat laun dapat menyebabkan hiperglikemia. Virus hepatitis C juga meningkatkan resistensi tubuh terhadap insulin. Ini merupakan faktor risiko utama terjadinya diabetes melitus tipe 2.

Di sisi lain, bila Anda sudah memiliki diabetes, kemudian terinfeksi hepatitis C, Anda dapat mengalami infeksi hepatitis C yang lebih parah. Hati Anda lebih rentan untuk mengalami sirosis, tubuh Anda cenderung memberikan respons yang kurang baik terhadap pengobatan, dan kemungkinan terbentuknya kanker hati pun lebih tinggi.

Insulin & pengobatan virus hepatitis C

Jika Anda memiliki riwayat penyakit diabetes, penting untuk menggunakan insulin seperti yang direkomendasikan dokter Anda. Namun, jika Anda juga memiliki hepatitis C, pengobatan mungkin bisa menjadi rumit. Tidak hanya insulin, obat-obatan juga memengaruhi metabolisme hati dan menurunkan resistensi Anda terhadap infeksi hepatitis.

Untuk mengurangi kemungkinan tertular virus hepatitis C, hindari penggunaan jarum suntik dengan orang lain yang memiliki diabetes.

Risiko jangka panjang

Memiliki diabetes dan virus hepatitis C dapat menyebabkan timbulnya komplikasi lain. Risiko terbesar adalah sirosis, alias kerusakan hati jangka panjang. Sirosis juga meningkatkan kadar insulin yang membuat perawatan diabetes menjadi lebih sulit.

Bentuk lanjutan dari penyakit hati ini dapat menyebabkan kegagalan hati, yang bisa berakibat fatal. Transplantasi hati biasanya dilakukan untuk mengobati sirosis, tetapi efek jangka panjang pada diabetes masih belum diketahui.

Bagaimana saya bisa mengatasi kedua kondisi ini?

Hubungan antara hepatitis C dan diabetes merupakan salah satu hal yang perlu dipertimbangkan. Tidak semua pasien yang terkena virus hepatitis C akan mengalami diabetes dan sebaliknya, tapi risikonya masih ada. Penting untuk menguji satu penyakit jika Anda memiliki penyakit lainnya.

Semua orang dengan diabetes harus melakukan tes hepatitis C. Dokter Anda mungkin memerintahkan tes antibodi darah untuk mengukur risiko terkena hepatitis C ke depannya.

Pasien yang terinfeksi virus hepatitis C harus terus melakukan tes darah rutin, yang juga mencakup pengecekan kadar gula darah. Langkah-langkah tersebut adalah cara terbaik untuk mencegah komplikasi kesehatan lebih lanjut terkait dengan kedua kondisi kesehatan tersebut.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

5 Penyakit Kulit yang Umum Menyerang Pasien Diabetes

Berbagai penyakit kulit ini bisa menjadi salah satu komplikasi yang muncul saat seseorang memiliki keadaan diabetes yang tidak terkontrol.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Diabetes, Health Centers 13/06/2020 . Waktu baca 4 menit

Benarkah Gerimis Lebih Bikin Sakit Daripada Hujan?

Waktu kecil Anda mungkin sering diingatkan bahwa gerimis bikin sakit. Namun, benarkah lebih aman main hujan-hujanan daripada kena gerimis? Cek di sini, yuk!

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Fakta Unik 31/05/2020 . Waktu baca 5 menit

Apa Bedanya Stres dan Depresi? Kenali Gejalanya

Stres dan depresi tidak sama, keduanya memiliki perbedaan mendasar. Maka jika penanganannya keliru, depresi bisa berakibat fatal. Cari tahu, yuk!

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Psikologi 26/05/2020 . Waktu baca 6 menit

Tunda Dulu ke Rumah Sakit Selama Wabah, Ini Tips untuk Diabetesi Selama di Rumah

Diabetesi termasuk golongan yang rentan terjangkit virus COVID-19. Selain lakukan upaya pencegahan, jaga juga kadar gula darah di rumah dengan tips berikut.

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Coronavirus, COVID-19 30/04/2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

mitos hepatitis C

Kenali Mitos Seputar Hepatitis C yang Perlu Diketahui Kebenarannya

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 27/06/2020 . Waktu baca 5 menit
arti kedutan

Otot Sering Kedutan, Bahaya atau Tidak?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 15/06/2020 . Waktu baca 5 menit
minyak esensial

6 Jenis Minyak Esensial untuk Mengatasi Masalah Pencernaan

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 13/06/2020 . Waktu baca 4 menit
sindrom pura-pura sakit

Pura-pura Sakit? Bisa Jadi Anda Mengidap Sindrom Munchausen

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 13/06/2020 . Waktu baca 5 menit