TB MDR (TBC Resistan Obat)

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 29 Juli 2020 . Waktu baca 12 menit
Bagikan sekarang

Definisi

Apa itu TB MDR (multiple drug resistant)?

Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit menular akibat infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. Orang yang kena tuberkulosis (TBC) harus disiplin menjalani pengobatan. Pasalnya, jika tidak mematuhi aturan minum obat TBC dengan benar, kondisi pasien bisa memburuk dan mengalami resistansi (kebal) obat antibiotik atau disebut juga dengan TB MDR (multiple drug resistant).

Kondisi resistan antibiotik menandakan bakteri tidak lagi terpengaruh dengan reaksi antibiotik. Akibatnya, obat-obatan yang diberikan tidak lagi mempan untuk menyembuhkan infeksi bakteri. 

Saat seseorang resistan terhadap obat antituberkulosis, pengobatan menjadi lebih kompleks sehingga membutuhkan waktu yang lebih lama untuk sembuh. Pengobatan untuk tuberkulosis MDR juga memiliki efek samping yang lebih berat.

Pasien yang mengalami TB MDR biasanya adalah pasien yang kebal terhadap obat TBC lini pertama, yaitu isoniazid (INH) dan rifampisin. Kedua antibiotik ini bekerja paling efektif menghentikan infeksi bakteri penyebab tuberkulosis. Namun, tidak menutup kemungkinan jika pasien juga bisa resistan terhdap terhadap obat-obatan lini pertama lainnya, seperti etambutol, streptomisin, dan pirazinamid. 

Tuberkulosis MDR umumnya ditandai dengan memburuknya gejala tuberkulosis seperti batuk terus-menerus hingga batuk berdarah, sesak napas, demam ringan, dan berkeringat di malam hari.

Seberapa umumkah penyakit TBC resistan obat?

TB MDR adalah salah satu masalah kesehatan yang masih menjadi ancaman serius. Di negara-negara berkembang – terutama daerah di mana TBC adalah penyakit yang tergolong umum – kasus kejadian TB MDR cukup tinggi.

Menurut sebuah studi dari Tropical Diseases Travel Medicine and Vaccines, pada tahun 2016, terdapat sebanyak 4,1% kasus kebal obat tuberkulosis yang muncul pertama kali, dan 19% kasus tuberkulosis MDR yang berkembang dari TBC biasa. Diperkirakan terdapat 240.000 kasus kematian akibat resistansi obat TB di tahun yang sama.

Sementara itu, dilansir dari situs Badan Kesehatan Dunia (WHO), sebanyak 117 negara di dunia telah melaporkan terjadinya kasus resistansi obat TBC. Negara dengan kasus kejadian tuberkulosis MDR tertinggi adalah Tiongkok, India, dan Rusia.

Tingginya jumlah penderita TBC resistan obat dipicu oleh berbagai macam faktor. Beberapa fakor pemicu TB MDR adalah metode pengobatan yang kurang memadai dan pasien yang lalai menjalani pengobatan.

Tanda-tanda dan gejala

Apa saja tanda-tanda dan gejala TB MDR (multiple drug resistant) ?

Tanda-tanda dan gejala yang paling jelas dari MDR tentunya adalah kondisi kesehatan pasien TB yang tidak kunjung membaik bahkan bisa bertambah parah, sekalipun telah menjalani pengobatan antituberkulosis.

Kemungkinan lain Anda mengalami TBC resistan obat adalah ketika penyakit TBC kambuh lagi beberapa waktu setelah Anda tidak merasakan gejala TBC yang khas.

Gejala tuberkulosis MDR kurang lebih sama seperti pasien tuberkulosis pada umumnya adalah:

Penyebab

Apa penyebab TB MDR?

Saat ini, semakin banyak bakteri yang resistan atau kebal terhadap obat TBC lini pertama. Pada dasarnya, ada dua hal yang menjadi penyebab umum TB MDR, yaitu:

Pengobatan yang kurang tepat

Menurut spesialis paru, Erlina Burhan, yang dijumpai pada diskusi media perihal TB MDR pada Mei 2019, penyebab tuberkulosis MDR yang pertama adalah penggunaan obat TBC yang kurang memadai baik oleh tim medis maupun pasien.

Dokter atau petugas kesehatan tidak dapat memberikan panduan, informasi dosis dan waktu lama pengobatan secara baik kepada pasien.

Erlina juga mengungkapkan bahwa dalam pengobatan TBC lini pertama, pasien harus menghabiskan obat TBC sesuai dosis dan jadwal yang ditentukan. Jika lalai atau kurang disiplin minum obat sesuai aturan, pasien lebih berisiko mengalami efek resistansi (kebal) terhadap obat.

Di samping itu, kegagalan pengobatan TBC juga bisa terjadi lantaran pasien sulit memperoleh obat-obatan. Pasalnya, obat anti-TBC  tidak selalu tersedia di seluruh daerah di Indonesia.

Sifat resistansi obat dari bakteri

Kelalaian pengobatan sebenarnya adalah faktor eksternal yang menyebabkan bakteri penyebab TBC, yaitu Mycobacterium tuberculosis (MTB) jadi kebal terhadap obat TBC.

Ada pula faktor internal berupa sifat bakteri itu sendiri. Beberapa bakteri MTB bisa memiliki sifat genetik (genotipe) yang memang resistan terhadap antibiotik tertentu. Artinya, resistansi antibiotik juga bisa menjadi sifat alamiah atau bawaan bakteri tuberkulosis.

Peluang terjadinya resistansi bakteri juga akan meningkat apabila jumlah MTB di dalam tubuh sangat banyak. Artinya, semakin banyak bakteri yang resistan terhadap jenis antibiotik yang berbeda. Inilah sebabnya, durasi pengobatan TB MDR bisa berlangsung lebih panjang dari yang seharusnya.

Faktor risiko

Apa saja faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami TB MDR?

Tuberkulosis MDR adalah kondisi yang dapat terjadi pada hampir setiap penderita tuberkulosis. Namun, terdapat beberapa faktor yang membuat seseorang lebih berisiko mengalami resistansi terhadap obat anti-TBC.

Penting untuk Anda ketahui bahwa memiliki salah satu atau beberapa faktor risiko bukan berarti Anda pasti terkena penyakit TB MDR. Faktor risiko hanyalah sekumpulan kondisi yang dapat memperbesar peluang Anda untuk mengalami kondisi kesehatan tertentu.

Berikut adalah faktor-faktor risiko yang dapat memicu terjadinya TB MDR:

1. Pasien TBC paru aktif tidak menghabiskan obat

Beberapa pasien sudah merasa lebih baik setelah minum obat dalam jangka waktu tertentu, kemudian menghentikan pengobatan begitu saja sebelum obat habis.  Kondisi ini adalah salah satu faktor yang membuat seseorang lebih berisiko kena TB MDR.

2. Pasien TBC paru aktif tidak minum obat secara rutin

Selain tidak menghabiskan obat, terdapat pula beberapa pasien yang mungkin tidak minum obat sesuai dengan anjuran dan dosis dari dokter. Dengan kata lain, pasien mencoba mengatur dosis sesuai dengan kemauannya sendiri.

Kombinasi obat-obatan anti tuberkulosis yang telah diberikan dokter tentunya sudah disesuaikan dengan kondisi kesehatan pasien. Apabila dosis tersebut tidak diikuti dengan tepat, besar kemungkinan pasien untuk menderita resistansi obat TBC.

3. Pasien yang tidak minum seluruh obat

Kondisi lain yang dapat memicu terjadinya MDR adalah tidak meminum semua obat yang diberikan. Pengobatan TBC adalah kombinasi dari berbagai obat-obatan.

Lupa meminum obat tertentu atau malah hanya mengonsumsi beberapa jenisnya membuat TB MDR berpotensi terjadi.

4. Tinggal atau berada di daerah dengan kasus kejadian TBC resistan obat tinggi

Hal lain yang dapat menjadi penyebab TB MDR adalah tinggal atau bekerja di daerah dengan kasus TBC resistan obat yang tinggi. Daerah yang dimaksud bisa berupa penampungan, panti, pusat layanan kesehatan, dan penjara.

Kondisi tersebut meningkatkan potensi penularan bakteri tuberkulosis yang telah resistan obat pada orang-orang yang sehat.

5. Melakukan kontak dekat dengan penderita resistan obat TB

Penularan bakteri tuberkulosis yang bersifat resistan terhadap obat juga dapat terjadi sekalipun Anda belum pernah kena TBC sebelumnya. Penularan TBC ini dapat berlangsung ketika Anda berinteraksi dekat dengan orang yang mengalami TB MDR.

Meski begitu, tuberkulosis MDR adalah kondisi yang dapat diatasi dengan penanganan dan pengendalian faktor-faktor risiko yang tepat.

Diagnosis

Bagaimana dokter mendiagnosis penyakit ini?

Beberapa cara untuk mendiagnosis tuberkulosis MDR adalah dengan tes laboratorium khusus. Dokter akan melakukan tes teknik molekul, seperti Xpert MTB/RIF atau dikenal juga dengan Tes Cepat Molekuler (TCM).

TCM dilakukan untuk mendeteksi kuman Mycobacterium tuberculosis secara molekular sekaligus menentukan ada tidaknya resistansi terhadap jenis obat antituberkulosis tertentu. Hasil pemeriksaan dengan TCM dapat diperoleh dalam hitungan jam. Tingkat akurasinya pun cukup tinggi, sehingga kondisi resistansi obat dapat segera terdeteksi.

Selain, itu dokter juga bisa melakukan pemeriksaan TBC dengan cara menganalisis sampel cairan tubuh Anda, misalnya darah atau dahak.

Pengobatan

Apa saja pengobatan untuk TB MDR?

MDR adalah kondisi yang bisa disembuhkan. Jika peluang kesembuhan pasien TBC biasa adalah 90% saat menyelesaikan pengobatan lanjutan, pelulang pasien TB resistan obat untuk sembuh adalah 50%.

Namun, waktu pengobatan lebih lama dari penyembuhan tuberkulosis biasa lantaran bakteri tuberkulosis yang ada di dalam tubuh pasien sudah kebal, berevolusi, dan sulit untuk dikendalikan. 

Pengobatan TB MDR biasanya akan menggunakan obat anti tuberkulosis (OAT) lini kedua. Obat anti-TB lini kedua umumnya, seperti ciprofloxacin, ofloxacin, fluoroquinolone (levofloxacin), serta obat injeksi seperti amikacin dan kanamycin.

Selain itu, berikut ini adalah aturan pengobatan khusus yang dilakukan untuk mengatasi tuberkulosis MDR:

  1. Dosis pengobatan yang berbeda, bergantung pada gejala dan tempat bakteri TB menyerang.
  2. Jumlah dan varian obat lebih banyak.
  3. Waktu pengobatan lebih lama, umumnya sekitar 12-20 bulan.
  4. Pasien harus mendapatkan suntik obat 5 hari dalam seminggu, selama 8 bulan pertama.
  5. Menerapkan pola hidup sehat, seperti:

Pengobatan TB MDR harus intensif dan terisolasi

Dalam buku Tuberculosis yang ditulis oleh seorang dokter bernama Diane Yancey, prioritas utama untuk menangani pasien TBC kebal obat adalah dengan melakukan pengobatan sesegera mungkin di bawah pengawasan dokter yang lebih berpengalaman. Agar efektif, dokter menentukan dosis khusus untuk setiap jenis obat antituberkulosis.

Kondisi pasien pun perlu dimonitor secara ketat oleh tenaga medis. Oleh karena itu, Anda perlu menjalani pengobatan tahap intensif di fasilitas kesehatan.

Sementara apabila pasien resistan terhadap semua obat antituberkulosis atau mengalami kerusakan organ yang serius hingga perkembangan penyakit yang mengancam nyawa, kemungkinan besar dokter akan melakukan prosedur operasi.

TB MDR juga bisa mengarah pada resistansi yang serius. Dalam kondisi yang lebih parah, penderita TB MDR bahkan juga bisa mengalami resistansi pada pengobatan lini kedua. Kondisi ini disebut juga dengan TB XDR (Extensively drug-resistant/XDR tuberculosis). 

Efek samping pengobatan TB MDR

Oleh karena jumlah obatnya lebih banyak dan lebih beragam, pengobatan TB MDR bisa memberikan efek samping obat TBC yang lebih berat dibandingkan pengobatan TB aktif biasa.

Beberapa efek samping dari pengobatan tuberkulosis MDR adalah:

  • Mual
  • Muntah
  • Mengalami gangguan pencernaan
  • Hipotiroidisme (kekurangan hormon tiroid)
  • Kejang hingga epilepsi
  • Neuropati perifer (kerusakan pada sistem saraf tepi)
  • Hepatitis

Pencegahan

Bagaimana cara mencegah TB MDR?

Meskipun berbahaya, TB MDR adalah kondisi yang dapat dicegah. Tujuan dari pencegahan TB MDR adalah menghindari penularan bakteri TBC yang sudah resistan terhadap obat, serta mengurangi risiko berkembangnya tuberkulosis MDR menjadi TB XDR.

Berikut adalah beberapa cara untuk mencegah resistansi obat TBC:

1. Minum obat sesuai resep dokter

Pencegahan TB MDR yang paling utama adalah dengan minum obat sesuai resep dan anjuran dokter. Pasien tidak boleh menghentikan pengobatan sebelum obat habis, jangan melewatkan dosis, atau mengatur dosis sesuai keinginan sendiri.

Jika pasien TB akan bepergian ke tempat yang jauh, pasien harus berkonsultasi terlebih dahulu ke dokter untuk memastikan apakah ia memiliki persediaan obat yang cukup selama bepergian.

Dokter dan tim medis akan membantu mencegah terjadinya resistansi obat dengan cara memberikan edukasi mengenai cara minum obat TBC dengan benar. Selain itu, tim medis juga harus memastikan bahwa mereka telah memberi tahu pasien mengenai tata cara pengobatan secara jelas sehingga tidak terjadi kesalahpahaman.

2. Menghindari daerah yang ramai, penuh, dan sesak

Cara lain yang dapat dilakukan untuk mencegah tuberkulosis MDR adalah hindari tempat yang penuh dan tertutup. Terlebih jika di tempat tersebut terdapat penderita TB MDR. Beberapa tempat tersebut meliputi rumah sakit, puskesmas, penjara, penampungan, atau panti.

Jika Anda bekerja di rumah sakit atau pusat kesehatan lainnya, Anda sebaiknya rutin melakukan pemeriksaan atau kontrol infeksi. Anda juga dapat memikirkan cara terbaik untuk menyosialisasikan TB MDR ke orang sekitar, terutama yang memiliki faktor risiko penyakit ini.

3. Vaksinasi untuk TBC

TB MDR adalah kondisi yang dapat dicegah sedari dini dengan vaksin TBC. Vaksin yang disebut dengan Bacille Calmette-Guerin ini banyak tersedia di negara-negara berkembang dengan kasus TB yang tinggi. Tak hanya TB MDR, vaksinasi BCG merupakan upaya pencegahan TBC paling efektif untuk semua jenis tuberkulosis.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Tips Sederhana Terhindar dari Penyebaran dan Penularan TBC

Tuberkulosis atau TBC dapat mudah menyebar melalui udara. Namun, mencegah TBC dan penularannya dapat dihindari dengan cara sederhana berikut ini.

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Hidup Sehat, Tips Sehat 24 Maret 2020 . Waktu baca 4 menit

Mengenal Penyakit TB XDR, Bahaya dan Pengobatannya

Lebih fatal dari MDR, kondisi TB XDR bahkan tidak dapat diobati, alias kebal, dengan obat lini kedua. Bagaimana cara mencegah dan mengobatinya?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Kesehatan Pernapasan, TBC 21 Maret 2020 . Waktu baca 6 menit

Panduan Merawat Orang yang Menderita Tuberkulosis di Rumah

Perawatan pasien tuberkulosis (TBC) di rumah membutuhkan pengetahuan khusus agar Anda sebagai perawat tidak tertular penyakit tersebut. Ini tips-tipsnya.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Kesehatan Pernapasan, TBC 9 Februari 2020 . Waktu baca 5 menit

Penyakit TBC Bisa Kambuh, Ini Ciri-Ciri, Penyebab, dan Cara Mencegahnya

Penyakit tuberkulosis (TBC) tidak hanya sulit diobati, tapi juga berisiko muncul kembali. Lalu, bagaimana cara mencegah agar TBC tidak kambuh?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Kesehatan Pernapasan, TBC 4 Januari 2020 . Waktu baca 6 menit

Direkomendasikan untuk Anda

obat alami tbc herbal atau tradisional

Berbagai Macam Pengobatan Alami untuk Mengatasi Gejala TBC

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Shylma Na'imah
Dipublikasikan tanggal: 10 Juni 2020 . Waktu baca 8 menit
tb ekstra paru atau di luar paru

Hal Yang Perlu Anda Ketahui Seputar Tuberkulosis (TB) Ekstra Paru

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Shylma Na'imah
Dipublikasikan tanggal: 28 Mei 2020 . Waktu baca 8 menit
olahraga untuk pasien tuberkulosis

Bantu Masa Penyembuhan, Berikut Pilihan Olahraga Aman untuk Pasien TBC

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Dipublikasikan tanggal: 24 April 2020 . Waktu baca 7 menit
perkembangan infeksi TB laten tuberkolosis

Mewaspadai TB Laten, Perlukah Melakukan Pengobatan?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Dipublikasikan tanggal: 31 Maret 2020 . Waktu baca 6 menit