Apa Itu Klamidia (Chlamydia)?

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum

Definisi

Apa itu klamidia (chlamydia)?

Klamidia atau chlamydia adalah infeksi menular seksual  yang disebabkan oleh bakteri bernama Chlamydia trachomatis. Penyakit ini bisa menyerang baik pria maupun wanita melalui kontak seksual.

Klamidia dapat menginfeksi serviks (leher rahim), anus, saluran kencing, mata, dan tenggorokan. Penyakit ini termasuk yang tidak begitu sulit diobati jika langsung ditangani di masa-masa awal kemunculannya. Namun, jika dibiarkan chlamydia bisa menyebabkan masalah kesehatan serius.

Pasalnya, penyakit kelamin ini bisa menyebabkan kerusakan serius dan permanen pada sistem reproduksi wanita. Akibatnya, wanita yang terserang chlamydia berisiko sulit hamil.

Seberapa umumkah klamidia (chlamydia)?

Dilansir dari laman Planet Parenthood, ada sekitar 3 juta orang penduduk Amerika yang terkena penyakit ini setiap tahunnya. Kebanyakan orang yang terkena biasanya berusia 14 sampai 24 tahun.

Dilansir dari medicalnewstoday Chlamydia 3 kali lebih umum dari gonore (kencing nanah) dan 50 kali lebih umum dibandingkan dengan sifilis. Jika Anda merasa bahwa Anda mungkin terinfeksi atau cukup berisiko segera konsultasikan ke dokter.

Tanda-tanda & gejala

Apa saja tanda-tanda dan gejala klamidia (chlamydia)?

Chlamydia termasuk ke dalam infeksi menular seksual yang jarang disadari. Pasalnya, penyakit ini sering kali tidak menunjukkan tanda dan gejal di awal kemunculannya.

Tanda dan gejala biasanya muncul satu hingga dua minggu setelah terpapar infeksi. Namun tanda ini pun sering kali ringan dan hilang begitu saja sehingga tak begitu dihiraukan.

Adapun berbagai tanda dan gejala yang biasanya muncul akan berbeda pada pria dan wanita, berikut selengkapnya:

Gejala klamidia pada wanita

  • Sakit perut bawah
  • Keputihan yang jauh lebih banyak dari biasanya dengan warna yang cenderung kuning serta berbau busuk
  • Perdarahan yang terjadi di antara siklus haid
  • Demam ringan
  • Sakit saat seks
  • Perdarahan setelah berhubungan seks
  • Rasa terbakar saat buang air kecil
  • Buang air kecil lebih sering
  • Pembengkakan di vagina atau sekitar anus
  • Iritasi di rektum

Gejala klamidia pada pria

  • Rasa sakit dan terbakar saat buang air kecil
  • Penis mengeluarkan cairan berupa nanah, cairan yang encer, atau putih dan kental seperti susu
  • Testis bengkak dan nyeri saat ditekan
  • Iritasi pada rektum

Berbagai gejala ini tidak selalu muncul pada orang yang terinfeksi klamidia. Ada orang yang bahkan tidak memiliki gejala sama sekali. Jika Anda mengalami satu atau lebih gejala, termasuk yang tidak disebutkan di atas, segera konsultasikan ke dokter.

Kapan saya harus periksa ke dokter?

Periksakan ke dokter jika Anda mengalami keluarnya cairan tak biasa dari vagina, penis, atau rektum. Selain itu, segera konsultasikan ke dokter jika Anda sering merasa sakit ketika buang air kecil.

Jangan tunda untuk berkonsultasi ke dokter jika Anda atau pasangan mengalami berbagai tanda dan gejala klamidia seperti yang telah disebutkan sebelumnya.

Selain itu, cobalah untuk memeriksakan diri ke dokter jika Anda merasa berisiko tinggi terkena penyakit kelamin. Tak perlu sungkan atau malu untuk memeriksakannya karena semakin cepat diketahui akan semakin cepat pula diobati.

Penyebab

Apa penyebab klamidia (chlamydia)?

Klamidia disebabkan oleh bakteri yang disebut Chlamydia trachomatis. Infeksi ini dapat menyebar dengan mudah melalui seks vagina, oral, dan anal.

Seorang wanita tetap bisa terkena penyakit ini meski pasangannya tidak ejakulasi saat seks. Pasalnya, tak hanya lewat air mani, bakteri juga terdapat dalam cairan praejakulasi.

Selain itu, jika sudah pernah memiliki infeksi ini, risiko untuk terkena kembali sangat mungkin. Hal ini biasanya terjadi ketika Anda melakukan seks tanpa kondom dengan orang yang terinfeksi.

Dikarenakan penyakit ini sering kali tidak menunjukkan gejala, orang yang telah terinfeksi bisa dengan mudah menularkan ke pasangannya tanpa disadari.

Jika Anda adalah seorang ibu hamil yang mengidap klamidia, Anda juga dapat menyebarkan infeksi ini ke bayi saat melahirkan. Penyakit ini nantinya bisa menyebabkan pneumonia atau infeksi mata serius pada buah hati Anda.

Oleh karena itu, jika seorang ibu memiliki klamidia selama kehamilan, diperlukan tes 3 hingga 4 minggu setelah perawatan untuk memastikan kondisinya.

Namun penting untuk diingat bahwa penyakit kelamin ini tidak dapat ditularkan melalui:

  • Dudukan toilet yang telah digunakan oleh orang yang terinfeksi
  • Berbagi sauna dengan orang yang terinfeksi
  • Berbagi kolam renang yang sama dengan orang yang terinfeksi
  • Berbagi makanan dan minuman yang sama
  • Ciuman, pelukan, dan pegangan tangan
  • Permukaan yang sebelumnya disentuh oleh orang yang terinfeksi
  • Berdiri di dekat orang yang terinfeksi dan menghirup udara setelah mereka batuk atau bersin

Faktor-faktor risiko

Apa yang meningkatkan risiko saya untuk klamidia (chlamydia)?

Anda berisiko tinggi terkena klamidia jika:

  • Aktif secara seksual sebelum berusia 25 ahun
  • Sering berganti-ganti pasangan seks
  • Tidak menggunakan kondom setiap kali berhubungan seks dengan pasangan yang berbeda
  • Memiliki riwayat penyakit kelamin

Untuk mengurangi risiko, sebaiknya praktikkan seks yang aman dan lakukan tes secara rutin.

Komplikasi

Apa saja komplikasi akibat klamidia (chlamydia)?

Selain menyebabkan infertilitas, klamidia juga dapat menyebabkan beberapa komplikasi penyakit, seperti:

Radang panggul

Radang panggul atau pelvic inflammatory disease terjadi ketika bakteri menyebar dan meninginfeksi serviks, rahim, saluran tuba, dan ovarium. Radang panggul bisa membuat seseorang menjadi tidak subur, mengalami nyeri panggul kronis, dan hamil anggur.

Epididimitis

Epididimitis adalah kondisi saat saluran belakang testis yang membawa sperma menuju uretra meradang. Peradangan ini muncul akibat infeksi bakteri chlamydia yang akhirnya menyebabkan demam, pembengkakan, dan nyeri pada skrotum.

Prostatitis

Prostatitis atau infeksi kelenjar prostat adalah kondisi saat bakteri klamidia mulai masuk dan menyerang prostat. Hal ini mengakibatkan seseorang akan merasa nyeri saat berhubungan seks, demam, meriang, sakit saat kencing, dan nyeri punggung bawah.

Infeksi menular seksual lainnya

Orang yang sudah terkena chlamydia biasanya berisiko lebih tinggi terkena infeksi menular seks lainnya seperti gonore, sipilis, hingga HIV. Oleh karena itu, segera periksakan ke dokter jika Anda memang berisiko tinggi dan mengalami berbagai gejala tak biasa beberapa waktu belakangan.

Infertilitas

Chlamydia bisa menyebabkan jaringan parut dan sumbatan pada tuba falopi. Kondisi ini membuat seorang wanita bisa mengalami kesulitan untuk memiliki anak. Oleh katena itu, pengobatan dini sangat diperlukan untuk mencegah hal ini terjadi.

Arthritis reaktif

Arthritis reaktif adalah kondisi saat sendi terasa nyeri dan bengkak akibat infeksi di bagian lain pada tubuh. Penyakit yang dikenal dengan istilah sindrom Reiter ini juga menyerang mata dan uretra, yaitu tabung yang membawa urine dari kandung kemih ke luar tubuh Anda.

Obat & Pengobatan

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Apa saja tes yang biasa dilakukan untuk klamidia (chlamydia)?

Anda harus melakukan tes tahunan jika berusia di bawah 25 tahun dan aktif secara seksual. Namun, jika usia Anda di atas 25 tahun, lakukan tes yang sama jika memiliki lebih dari satu pasangan seks dan faktor risiko lainnya.

Berikut berbagai skrining dan tes yang dilakukan untuk mendiagnosis klamidia, yaitu:

Tes urine

Tes ini dilakukan dengan mengambil sampel urine Anda untuk kemudian dianalisis di laboratorium. Jika Anda positif memiliki penyakit kelamin yang satu ini, tes akan menunjukkan hasil yang positif.

Tes swab

Tes swab biasanya dilakukan pada pria dan wanita untuk mendeteksi penyakit kelamin. Pada wanita tes ini dilakukan dengan mengambil sampel cairan dari serviks untuk dilihat keberadaan bakteri di dalamnya.

Sementara pada pria, dokter biasanya akan mengambil sampel cairan dari ujung penis. Cairan ini bisa diteliti karena berasal dari uretra, tempat di mana bakteri klamidia biasanya menginfeksi. Selain itu, dalam beberapa kasus dokter akan mengambil sampel cairan dari anus.

Jika Anda pernah diobati karena infeksi klamidia awal, Anda harus diuji ulang dalam waktu sekitar tiga bulan setelahnya.

Bagaimana cara mengobati klamidia (chlamydia)?

Klamidia dapat diobati dengan antibiotik. Dokter akan menyesuaikan dosis obat dengan keparahan kondisi. Biasanya antibiotik yang diberikan berbentuk pil. Dosis yang diberikan bisa satu kali setiap hari atau beberapa kali sehari dalam 5 hingga 10 hari.

Doxycycline menjadi antibiotik yang biasanya diresepkan dokter pada pasien. Pastikan untuk menghabiskan antibiotik sesuai anjuran dokter. Hal ini dilakukan untuk mencegah Anda terkena infeksi kembali dan bakteri resisten terhadap antibiotik.

Selain doxycycline, dokter biasanya memiliki beberapa alternatif antibiotik terutama untuk wanita hamil. Ini karena doxycycline atau tetracycline bisa menyebabkan masalah perkembangan tulang dan gigi bayi. Azithromycin termasuk salah satu obat yang terbukti aman dan efektif untuk wanita hamil.

Berikut ini beberapa antibiotik alternatif yang juga direkomendasikan oleh Centers Disease for Control and Prevention untuk mengobati klamidia, yaitu:

Sebagian orang biasanya akan mengalami berbagai efek samping ringan setelah minum antibiotik, seperti:

  • Diare
  • Sakit perut
  • Masalah pencernaan
  • Mual

Selain itu, orang yang minum doxycycline biasanya akan mengalami ruam kulit saat terpapar sinar matahari.

Dalam kebanyakan kasus, infeksi biasanya akan sembuh dalam waktu satu sampai dua minggu. Selama waktu pengobatan itu, Anda bisa tidak diperbolehkan berhubungan seks untuk mencegah penyebarannya.

Dokter juga akan menyarankan pasangan Anda untuk mendapatkan pengobatan yang sama meski tidak memiliki gejala. Jika tidak, infeksi bisa bolak balik muncul antara Anda dan pasangan.

Namun, meski klamidia telah diobati, tubuh tidak kebal terhadap bakteri ini. Artinya setelah sembuh Anda masih bisa terinfeksi lagi di masa mendatang jika terus melakukan hal berisiko.

Pengobatan di rumah

Apa saja perubahan gaya hidup atau pengobatan rumahan yang dapat dilakukan untuk mengatasi klamidia (chlamydia)?

Klamidia disebabkan oleh infeksi bakteri dan satu-satunya obat yang cocok yaitu antibiotik. Namun, ada beberapa pengobatan alternatif yang diduga mampu membantu meringankan gejala. Berikut berbagai pengobatan rumahan yang bisa Anda coba untuk meringankan gejala klamidia, yaitu:

Melakukan diet sehat

Meski memang belum terbukti, Anda bisa mengurangi gejala klamidia dengan melakukan diet sehat. Biasanya makanan yang dianjurkan yaitu buah, sayur, dan probiotik. Berbagai makanan ini memang tidak akan menyembuhkan klamidia tetapi bisa menjaga sistem kekebalan tubuh tetap kuat untuk melawan infeksi.

Selain itu, makanan yang mengandung probiotik juga membantu melindungi usus dan meminimalisir efek samping antibiotik pada saluran pencernaan Anda. Oleh karena itu, tak ada salahnya untuk melakukan diet sehat demi kondisi tubuh yang lebih baik.

Minum suplemen goldenseal

Goldenseal merupakan tanaman kecil dengan batang berbulu tunggal yang sangat dikenal di pasar obat Amerika. Tanaman satu ini bisa membantu mengatasi gejala infeksi klamidia dengan mengurangi peradangan.

Anda bisa mencari tanaman obat yang satu ini dalam bentuk suplemen yang banyak dijual di pasaran. Namun ingat, konsultasikan terlebih dahulu ke dokter sebelum meminumnya.

Minum suplemen echinacea

Echinacea adalah tanaman yang banyak digunakan untuk membantu meningkatkan sistem kekebalan tubuh.

Selain itu, tanaman ini juga mampu mengatasi berbagai infeksi dari mulai flu hingga luka pada kulit.

Namun, kandungan antiradang didalamnya dipercaya mampu membantu mengurangi gejala klamidia. Akan tetapi, pastikan untuk berkonsultasi  ke dokter terlebih dahulu.

Pencegahan

Apa yang bisa saya lakukan untuk mencegah klamidia (chlamydia)?

Berikut berbagai cara yang bisa dilakukan untuk mencegah infeksi akibat klamidia:

Menggunakan kondom

Kondom merupakan salah satu benda yang bisa melindungi Anda dari penyebaran penyakit kelamin termasuk klamidia.

Kondom berfungsi untuk mencegah perpindahan bakteri melalui cairan vagina dan air mani antarpasangan.

Oleh karena itu, usahakan untuk menggunakannya dengan benar setiap kali berhubungan seksual.

Membatasi jumlah pasangan seks

Memilki banyak pasangan seks membuat Anda sangat berisiko tertular infeksi kelamin. Untuk itu, cobalah untuk berkomitmen pada diri untuk hanya setia pada satu pasangan.

Menghindari douching

Douching adalah teknik mencuci vagina dengan menyemprotkan larutan khusus ke dalam saluran vagina. Teknik ini biasanya dilakukan dengan alat khusus berbentuk kantong dan selang.

Larutan yang dipakai dalam douching ini terbuat dari campuran air, cuka, dan baking soda. Namun, sekarang ini banyak larutan douche yang mengandung parfum dan bahan kimia lainnya.

Douching sangat tidak dianjurkan karena bisa mengurangi jumlah bakteri baik yang ada di vagina. Hal ini membuat vagina lebih rentan terkena infeksi.

Melakukan tes secara rutin

Jika Anda berisiko tinggi terhadap infeksi menular seksual ini misalnya sangat aktif secara seksual, lakukan tes secara rutin. Dengan begitu, Anda bisa terus memantau kondisi dan melakukan pengobatan dini jika memang diperlukan.

Bila ada pertanyaan, konsultasikanlah dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda.

Hello Health Group tidak memberikan nasihat medis, diagnosis, maupun pengobatan.

Sumber

Direview tanggal: April 23, 2019 | Terakhir Diedit: April 23, 2019

Yang juga perlu Anda baca