Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Kenali 9 Penyebab Perut Buncit dan Cara Mengatasinya

Kenali 9 Penyebab Perut Buncit dan Cara Mengatasinya

Perut buncit memang mampu memengaruhi penampilan Anda. Tidak hanya itu, kondisi ini juga tidak sehat dan memicu obesitas dan penyakit kronis seperti diabetes serta penyakit jantung.

Cari tahu berbagai penyebab perut buncit dan cara ampuh mengatasinya dalam artikel ini.

Berbagai penyebab perut buncit

kebiasaan yang menyebabkan perut buncit

Berikut ini berbagai penyebab perut buncit yang harus Anda waspadai:

1. Hormon seks

Tubuh pria dan wanita memiliki tempat penyimpanan lemak utama yang berbeda.

Hormon estrogen pada wanita membantu menyebarkan lemak di bagian pinggul, bokong, dan paha.

Sementara itu, hormon testosteron pada pria bisa menyebabkan penumpukan lemak ke bagian tubuh yang berbeda dari wanita.

Penumpukan lemak ini mengelilingi organ tubuh di bagian perut atau lemak visceral. Lemak inilah yang membuat pria lebih rentan mengalami perut buncit.

2. Pertambahan usia

Seiring bertambahnya usia, pria lebih rentan memiliki perut buncit pada usia lebih dari 40 tahun.

Pasalnya, berkurangnya hormon testosteron pada pria menyebakan lemak berlebih di tubuh lebih mudah tersimpan dan menumpuk menjadi lemak visceral.

Seiring bertambahnya usia, metabolisme tubuh pun akan menurun sehingga mengurangi kemampuan sel-sel organ tubuh dalam menyimpan lemak.

Akibatnya, kelebihan asupan lemak akan langsung disimpan di bagian perut yang mana menyebabkan perut buncit.

3. Stres

Stres juga menjadi penyebab perut buncit. Faktor stres mampu menyebabkan berat badan naik sehingga menyebabkan penumpukkan lemak di perut.

Saat mengalami stres, kadar hormon kortisol meningkat. Hormon ini meningkatkan nafsu makan, terutama konsumsi makanan manis, tinggi kalori, dan tinggi lemak.

Karena tingginya nafsu makan, Anda terus menambah asupan kalori dari makanan berlemak. Kalori yang berlebih akan menyebabkan penumpukan lemak di perut.

Selain itu, menurut studi dalam jurnal Obesity hormon kortisol alias hormon stres bisa meningkatkan jumlah lemak dalam tubuh dan melebarkan ukuran sel lemak.

Inilah mengapa tingginya kadar hormon kortisol dalam tubuh erat kaitannya dengan meningkatnya lemak perut.

4. Malas berolahraga

Malas olahraga adalah masalah utama yang menjadi penyebab perut buncit.

Jika jarang bergerak dan berolahraga, lemak dari makanan yang Anda makan tidak akan terbakar, lemak tertimbun di satu bagian saja yaitu perut.

Lemak visceral sangat mudah terbakar selama melakukan aktivitas fisik. Olahraga aerobik terbukti membantu membakar lemak perut dengan efektif.

Jadi, Anda bisa memulai olahraga aerobik dengan intensitas sedang, seperti jalan cepat, senam aerobik, zumba, dan jogging.

Selain itu, latihan kekuatatan otot penting untuk membentuk massa otot yang mengendur karena efek penuaan.

Massa otot membantu menjaga metabolisme sehingga mencegah perut buncit.

5. Kurang tidur

Memiliki waktu tidur yang cukup adalah salah satu hal penting yang dapat memengaruhi kesehatan.

Banyak penelitian menemukan bahwa kurang tidur mampu meningkatkan risiko kenaikan berat badan. Hal ini tentu berpengaruh pada penumpukan lemak visceral.

Jika tidur kurang dari enam jam setiap malam, Anda lebih berisiko memiliki perut buncit karena penumpukan lemak.

Selain itu, kurang tidur memicu hormon ghrelin dan menurunkan hormon leptin. Hal ini membuat Anda cepat lapar dan ingin makan terus-menerus.

6. Konsumsi alkohol

Perut buncit bisa muncul akibat konsumsi alkohol. Pasalnya, alkohol mampu meningkatkan jumlah lemak pada perut.

Melansir jurnal Current Obesity Reports, ada beberapa alasan mengapa hal ini terjadi.

Pertama, alkohol ternyata meningkatkan kalori makanan yang Anda konsumsi sebelum atau saat Anda meminumnya.

Kedua, alkohol terbukti menurunkan hormon glucagon-like peptide 1 (GLP-1) dan hormon leptin. Rendahnya kedua hormon ini membuat tubuh mudah lapar.

Selain itu, konsumsi alkohol akan meningkatkan asupan glukosa sehingga akan menumpuk lemak di dalam perut.

7. Menopause

Penyebab perut buncit juga bisa disebabkan faktor menopause.

Beberapa wanita mengalami kenaikan lemak perut saat berada pada fase menopause, tepatnya satu tahun setelah periode menstruasi terakhirnya.

Pada waktu tersebut, kadar estrogen turun drastis sehingga menyebabkan lemak menumpuk di perut, bukan lagi pada pinggul dan paha.

Satu studi menemukan wanita yang menopause dini cenderung mendapatkan lemak perut tambahan.

8. Postur tubuh yang buruk

Faktor lain penyebab perut buncit adalah memiliki kebiasaan berdiri dan duduk yang buruk. Pasalnya, hal ini bisa memengaruhi postur tubuh Anda.

Postur tubuh yang buruk bisa membuat tubuh terlihat gemuk dan perut membuncit.

Postur yang burut terlihat dari badan yang membungkuk dan panggul menonjol ke depan. Hal ini membuat punggung bagian bawah dan bokong melengkung.

Efeknya, bagian perut pun ikut menonjol sehingga menciptakan ilusi perut buncit.

9. Adanya bakteri di usus

Ratusan jenis bakteri hidup dalam usus Anda, terutama di usus besar. Beberapa bakteri ada yang bermanfaat bagi kesehatan, ada juga yang merugikan.

Para peneliti menemukan bahwa orang gemuk cenderung memiliki jumlah bakteri Firmicutes di usus lebih banyak dari pada orang dengan berat badan ideal.

Penelitian juga menunjukkan bahwa jenis bakteri tersebut dapat meningkatkan jumlah kalori dari makanan sehingga mampu menaikan berat badan, termasuk lemak perut.

Masalah kesehatan yang muncul akibat perut buncit

cek ceramah (cek tekanan darah di rumah)

1. Kolesterol tinggi

Lemak di perut bisa memengaruhi peningkatan kadar lemak dalam darah, khususnya kolesterol.

Ini karena lemak perut terletak dekat dengan pembuluh darah yang menghubungkan usus ke hati.

Lemak perut akan melepaskan asam lemak bebas ke aliran darah kemudian terbawa ke hati. Hal ini menyebabkan Anda terkena kolesterol tinggi.

2. Tekanan darah tinggi

Sel-sel lemak di perut memproduksi suatu jenis protein yang berpotensi menyumbat pembuluh darah dan menyebabkan meningkatnya tekanan darah.

Selain itu, lemak yang tersimpan di dekat organ dalam perut bisa meningkatkan tekanan darah.

Retroperitoneal fat yaitu jenis lemak yang terdapat di sekitar ginjal dan kelenjar adrenal dapat memengaruhi kerja ginjal.

Mengingat ginjal berperan dalam meregulasi tekanan darah, gangguan pada fungsi ginjal pun bisa menyebabkan kenaikan tekanan darah.

3. Diabetes

Perut buncit merupakan salah satu faktor risiko diabetes mellitus tipe 2.

Lemak perut dapat memproduksi suatu senyawa protein yang disebut retinol-binding 4 (RBP4) yang berkaitan dengan terjadi resistensi insulin.

Resistensi insulin adalah awal mula terjadinya penyakit diabetes tipe 2.

Pada kondisi resistansi insulin, sel-sel tubuh tidak dapat merespons insulin sehingga kadar gula dalam darah meningkat.

4. Penyakit jantung dan stroke

Lemak perut mengeluarkan suatu senyawa yang disebut sitokin. Sitokin berperan dalam penyakit jantung dan penyakit lain yang berhubungan dengan peradangan.

Saat tubuh Anda mengalami peradangan, organ hati akan memproduksi kolesterol dan toksin atau zat beracun lain yang dapat membentuk plak di pembuluh arteri.

Pemberntukan plak di pembuluh darah merupakan faktor risiko terjadinya penyakit jantung serta stroke.

5. Demensia

Penelitian menyatakan bahwa orang yang perutnya buncit cenderung berisiko mengalami demensia.

Ternyata, ada perubahan pada volume otak bagian hipokampus dan resistensi insulin pada orang yang memiliki kadar lemak perut tinggi.

Riset yang terbit pada jurnal Annals of Neurology juga menemukan semakin banyak lemak yang menumpuk di perut, maka volume otak akan semakin mengecil.

Ini menandakan adanya kemampuan kognitif yang buruk serta meningkatkan risiko demensia di kemudian hari.

Cara sehat mengecilkan perut buncit

Menjaga bentuk tubuh tetap sehat dan ideal sesuai BMI bukan sesuatu yang mustahil.

Berikut beberapa hal sederhana bisa Anda lakukan untuk mengecilkan perut buncit.

1. Olahraga teratur

Kunci sukses mengecilkan perut buncit adalah dengan aktif bergerak dan olahraga rutin. Cobalah untuk berolahraga setidaknya 30 menit sehari.

Selain membakar lemak, olahraga meningkakan massa otot.

Jika massa otot Anda bertambah, Anda akan membakar kalori lebih banyak sekaligus mengurangi tumpukan lemak pada perut.

2. Perhatikan asupan makanan sehari-hari

Saat ingin mengurangi perut buncit, Anda harus memperhatikan porsi makan dan asupan zat gizi.

Makanan yang Anda pilih harus mengandung serat, protein, lemak, karbohidrat, vitamin dan mineral yang seimbang. Jumlahnya mencukupi kebutuhan gizi harian.

Selain itu, serat tak kalah penting untuk mencegah timbunan lemak.

Riset menemukan bahwa mengonsumsi 10 gram serat per hari (seperti satu buah apel kecil ataupun secangkir kacang hijau) dapat mencegah timbulnya lemak visceral.

3. Pastikan Anda cukup tidur

Tidur bermanfaat untuk kesehatan termasuk dalam upaya untuk mengecilkan perut Anda.

Orang yang tidur cukup sebanyak 6-7 jam per hari terbukti memiliki sedikit lemak visceral daripada orang yang tidur kurang dari lima jam per hari.

Jadi, pastikan Anda cukup tidur setiap malamnya, ya.

4. Hindari stres

Selain tidur yang cukup, penting bagi Anda untuk mengelola stres karena dapat membantu dalam mengecilkan perut buncit.

Saat ingin menghilangkan stres, cobalah untuk bersantai dengan keluarga atau teman, bermeditasi, olahraga, jalan-jalan, atau melakukan berbagai hal yang Anda sukai.

Hal ini membuat Anda tetap bahagia dan terhindar dari stres.

5. Perbanyak konsumsi cairan

Minum air putih, sup rendah garam, maupun jus dan smoothies rendah gula saat sarapan membuat Anda kenyang lebih cepat. Ini mencegah makan berlebih.

Selain itu, asupan cairan yang cukup membantu melancarkan pencernaan Anda.

Perut buncit bisa muncul akibat berbagai penyebab, mulai dari perubahan hormon, kebiasaan sehari-hari, hingga infeksi bakteri yang tidak Anda sadari.

Untuk menguranginya, Anda bisa memulai dengan pola hidup sehat yang menjaga kesehatan fisik dan mental.

health-tool-icon

Kalkulator BMI (IMT)

Gunakan kalkulator ini untuk memeriksa Indeks Massa Tubuh (IMT) dan mengecek apakah berat badan Anda ideal atau tidak. Anda juga dapat menggunakannya untuk memeriksa indeks massa tubuh anak.

Laki-laki

Wanita

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Belly fat in men: Why weight loss matters. (2021). Retrieved 23 November 2021, from https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/mens-health/in-depth/belly-fat/art-20045685

Why your waist size matters. (2021). Retrieved 23 November 2021, from https://www.bhf.org.uk/informationsupport/heart-matters-magazine/medical/measuring-your-waist

Belly fat in women: Get rid of it — for good!. (2021). Retrieved 23 November 2021, from https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/womens-health/in-depth/belly-fat/art-20045809?pg=

Mongraw-Chaffin, M., Anderson, C., Allison, M., Ouyang, P., Szklo, M., & Vaidya, D. et al. (2015). Association Between Sex Hormones and Adiposity: Qualitative Differences in Women and Men in the Multi-Ethnic Study of Atherosclerosis. The Journal Of Clinical Endocrinology & Metabolism, 100(4), E596-E600. doi: 10.1210/jc.2014-2934

Chao, A., Jastreboff, A., White, M., Grilo, C., & Sinha, R. (2017). Stress, cortisol, and other appetite-related hormones: Prospective prediction of 6-month changes in food cravings and weight. Obesity, 25(4), 713-720. doi: 10.1002/oby.21790

Vissers, D., Hens, W., Taeymans, J., Baeyens, J., Poortmans, J., & Van Gaal, L. (2013). The Effect of Exercise on Visceral Adipose Tissue in Overweight Adults: A Systematic Review and Meta-Analysis. Plos ONE, 8(2), e56415. doi: 10.1371/journal.pone.0056415

Kim, K., Oh, S., Kwon, H., Park, J., Choi, H., & Cho, B. (2012). Alcohol Consumption and Its Relation to Visceral and Subcutaneous Adipose Tissues in Healthy Male Koreans. Annals Of Nutrition And Metabolism, 60(1), 64-73. doi: 10.1159/000334710

Traversy, G., & Chaput, J. (2015). Alcohol Consumption and Obesity: An Update. Current Obesity Reports, 4(1), 122-130. doi: 10.1007/s13679-014-0129-4

Can Overeating Cause Sleep Disturbances? | Sleep Foundation. (2020). Retrieved 23 November 2021, from https://www.sleepfoundation.org/physical-health/sleep-and-overeating

Crovesy, L., Masterson, D., & Rosado, E. (2020). Profile of the gut microbiota of adults with obesity: a systematic review. European Journal Of Clinical Nutrition, 74(9), 1251-1262. doi: 10.1038/s41430-020-0607-6

Debette, S., Beiser, A., Hoffmann, U., DeCarli, C., O’Donnell, C., & Massaro, J. et al. (2010). Visceral fat is associated with lower brain volume in healthy middle-aged adults. Annals Of Neurology, n/a-n/a. doi: 10.1002/ana.22062

 

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Larastining Retno Wulandari Diperbarui Dec 01, 2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan