Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya
ask-doctor-icon

Tanya Dokter Gratis

Kirimkan pertanyaan atau pendapatmu di sini!

Obesitas Sentral, Ketika Perut Buncit Picu Penyakit Kronis

Obesitas Sentral, Ketika Perut Buncit Picu Penyakit Kronis

Berat badan berlebih bisa menyebabkan kegemukan, bahkan obesitas. Akan tetapi, ada pula kondisi yang bernama obesitas sentral. Obesitas dan obesitas sentral memang sama-sama muncul akibat penumpukan lemak, tetapi ada perbedaan yang perlu Anda ketahui.

Apa yang dimaksud dengan obesitas sentral?

Obesitas sentral atau abdominal obesity adalah penumpukan lemak yang berpusat di bagian perut.

Pemilik obesitas sentral biasanya diikuti dengan ciri-ciri perut buncit, bentuk tubuh menyerupai apel, dan memiliki lingkar pinggang yang lebar.

Lantas, apa bedanya jenis obesitas ini dengan perut buncit biasa?

Pria memiliki obesitas sentral bila lingkar pinggangnya sebesar 90 cm ke atas. Sementara itu, perempuan dapat dikatakan memiliki kondisi ini jika ukuran lingkar pinggang sebesar 80 cm ke atas.

Apa penyebab obesitas sentral?

Pengertian obesitas sentral

Penumpukan lemak di perut umumnya terjadi akibat asupan kalori yang lebih besar daripada kalori yang digunakan untuk beraktivitas.

Meski demikian, ada pula penyebab lainnya yang meningkatkan risiko abdominal obesity ini. Apa saja?

1. Pola makan tidak sehat

Salah satu penyebab obesitas sentral adalah mengonsumsi makanan pemicu obesitas, seperti makanan tinggi gula. Dalam hal ini, asupan kaya gula tambahan menyebabkan:

  • kenaikan berat badan,
  • mengganggu metabolisme lemak dan karbohidrat, serta
  • mengurangi kemampuan tubuh untuk membakar lemak.

Asupan rendah protein pun menyebabkan Anda mudah lapar sehingga ada kecenderungan makan berlebihan dan meningkatkan asupan kalori Anda.

Konsumsi lemak trans berlebihan juga meningkatkan kadar kolesterol jahat dan membuat lemak menumpuk di perut.

2. Konsumsi terlalu banyak alkohol

Jika ada banyak anggapan bahwa alkohol menyebabkan perut buncit, itu tidak sepenuhnya salah.

Menurut beberapa penelitian memang ada kaitan antara konsumsi alkohol dengan lemak yang berkumpul di bagian perut. Alkohol mengakibatkan perut buncit karena:

  • menghambat pembakaran lemak,
  • tinggi kalori,
  • memicu rasa lapar dan sulit kenyang, serta
  • membuat Anda rentan memilih makanan tak sehat lainnya.

3. Kurang bergerak

Obesitas sentral bisa muncul akibat kurang beraktivitas fisik. Jika Anda tidak aktif bergerak, tubuh tidak banyak membakar kalori dari makanan untuk menghasilkan energi.

Tubuh akan menyimpan kelebihan kalori ini dalam bentuk lemak. Ketika Anda terus menambah asupan kalori, tapi tetap jarang bergerak, tubuh semakin banyak menumpuk lemak.

Lemak sendiri akan lebih mudah menumpuk di sekitar perut. Akibatnya, muncul timbunan lemak yang membuat perut buncit.

Bahaya obesitas sentral

Mengapa obesitas sentral lebih berbahaya daripada kegemukan pada umumnya?

Pemilik abdominal obesity memiliki dua jenis lemak yang mengumpul di perut, yaitu lemak subkutan dan lemak viseral.

Lemak subkutan adalah lemak yang terletak tepat di bawah kulit. Ciri-ciri lemak ini sama dengan lemak yang ditemukan pada bagian tubuh lainnya.

Sementara itu, lemak viseral adalah lemak yang terletak di bagian organ dalam. Lemak inilah yang berbeda dengan jenis lemak lainnya.

Lemak viseral ini lebih berbahaya daripada lemak subkutan. Pasalnya, sel-sel lemak viseral ini nantinya melepaskan asam lemak bebas ke daerah vena portal, yaitu pembuluh darah dari usus ke liver.

Akibatnya, sel-sel lemak viseral membesar, kadar lemak di dalam darah atau trigliserida naik, serta asam lemak masuk ke liver.

Tidak hanya itu, asam lemak pun ikut masuk ke pankreas, jantung, dan organ-organ lainnya.

Akibatnya, berbagai organ mengalami disfungsi yang berdampak pada kenaikan gula darah, resistensi insulin, kadar kolesterol naik, dan masalah jantung.

Studi terbitan Archives of Medical Science (2017) juga memaparkan bahwa lemak viseral bisa memicu peradangan.

Hal ini dikarenakan jenis lemak yang satu ini melepaskan senyawa adipokin atau senyawa pemicu peradangan atau inflamasi.

Bila lemak perut ada dalam jangka waktu yang lama, peradangan yang terjadi pun berlangsung lebih lama sehingga bisa menimbulkan berbagai penyakit kronis.

Peringatan

Obesitas sentral bisa muncul pada orang dengan indeks massa tubuh ideal, bahkan kurus. Waspada jika punya berat badan ideal tetapi lingkar pinggang besar.

Cara mengatasi obesitas sentral

Satu-satunya cara mengatasi obesitas sentral adalah dengan menurunkan berat badan. Bagaimana caranya?

1. Kurangi asupan kalori harian

Jika Anda ingin menurunkan berat badan untuk mengatasi obesitas sentral, Anda bisa mengurangi jumlah kalori harian.

Pastikan jumlah asupan kalori dari makanan lebih kecil daripada kalori yang dibakar menjadi energi.

Anda bisa memilih tips diet untuk menurunkan berat badan yang sesuai dengan kondisi tubuh.

Umumnya, kebutuhan kalori harian untuk perempuan dewasa sebesar 2.250 kkal dan 2.650 untuk laki-laki dewasa.

Anda bisa memulai perlahan dengan mengurangi asupan kalori harian sebanyak 500 kkal. Jika kebutuhan kalori harian sebesar 2.250 kkal, Anda bisa membatasi menjadi 1.750 kkal per hari.

Begitu juga bila kebutuhan kalori harian Anda sebesar 2.650, maka Anda bisa menguranginya menjadi 2.150 kkal per hari.

2. Aktif bergerak

Anda bisa memilih olahraga untuk turunkan berat badan agar obesitas sentral berkurang.

Pastikan Anda berolahraga sebanyak 30 menit per hari atau 150 menit dalam seminggu dengan intensitas sedang hingga tinggi.

Untuk mempercepat pembakaran lemak dan metabolisme, Anda bisa memilih olahraga kardio maupun latihan beban.

Selain itu, pastikan Anda sering melakukan aktivitas fisik setiap hari.

Sebagai contoh, Anda bisa memilih menggunakan transportasi umum agar bisa berjalan dari halte ke tempat tujuan alih-alih menggunakan kendaraan pribadi atau ojek online.

Anda juga bisa memilih naik tangga alih-alih menggunakan eskalator atau lift. Seluruh aktivitas fisik ini juga membantu meningkatkan penggunaan kalori.

Oleh karena itu, asupan kalori tetap lebih kecil dibandingkan kalori yang keluar.

Cara mencegah obesitas sentral

Mengatasi abdominal obesity dengan kurangi asupan kalori dan berolahraga memang penting.

Meski begitu, pencegahan tetap merupakan hal yang penting agar mengurangi berbagai bahaya perut buncit di kemudian hari.

Pencegahan juga membantu mempertahankan hasil yang sudah Anda dapatkan setelah rutin olahraga dan kontrol kalori.

Apa saja yang bisa dilakukan?

  • Hindari alkohol: agar menghindari asupan kalori berlebih pemicu perut buncit dan kesulitan membakar lemak.
  • Rutin latihan beban: mencegah kehilangan massa otot yang justru menurunkan metabolisme.
  • Perbanyak protein: protein membuat kenyang lebih lama, tidak mudah lapar, dan membangun massa otot yang baik untuk metabolisme.

Obesitas sentral ditandai dengan perut buncit dengan lingkar pinggang sebesar 80 – 90 cm ke atas.

Meski Anda punya berat badan ideal atau kurus, Anda tetap bisa memiliki abdominal obesity bila lingkar pinggang Anda besar. Selalu lakukan pola hidup sehat untuk mencegah kondisi ini.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

What Your Body Type Reveals About Your Health. (2022). Retrieved 30 May 2022, from https://www.pennmedicine.org/updates/blogs/health-and-wellness/2022/march/body-shape

Abdominal obesity and your health – Harvard Health. (2005). Retrieved 30 May 2022, from https://www.health.harvard.edu/staying-healthy/abdominal-obesity-and-your-health

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2015). Retrieved 30 May 2022, from https://www.kemkes.go.id/article/view/15012300021/25-januari-hari-gizi-nasional.html

Stanhope, K. (2015). Sugar consumption, metabolic disease and obesity: The state of the controversy. Critical Reviews in Clinical Laboratory Sciences, 53(1), 52-67. doi: 10.3109/10408363.2015.1084990

Bendsen, N., Chabanova, E., Thomsen, H., Larsen, T., Newman, J., & Stender, S. et al. (2011). Effect of trans fatty acid intake on abdominal and liver fat deposition and blood lipids: a randomized trial in overweight postmenopausal women. Nutrition & Diabetes, 1(1), e4-e4. doi: 10.1038/nutd.2010.4

Alcohol and weight gain – Better Health Channel. (2022). Retrieved 30 May 2022, from https://www.betterhealth.vic.gov.au/health/healthyliving/Alcohol-and-weight-gain

Fat and Calories: The Difference & Recommended Intake. (2022). Retrieved 30 May 2022, from https://my.clevelandclinic.org/health/articles/4182-fat-and-calories

Ellulu, M., Patimah, I., Khaza’ai, H., Rahmat, A., & Abed, Y. (2017). Obesity and inflammation: the linking mechanism and the complications. Archives of Medical Science, 4, 851-863. doi: 10.5114/aoms.2016.58928

Bagaimana cara menurunkan berat badan yang baik? – Direktorat P2PTM. (2019). Retrieved 30 May 2022, from http://p2ptm.kemkes.go.id/infographic-p2ptm/obesitas/bagaimana-cara-menurunkan-berat-badan-yang-baik

Melawan Obesitas dengan Bariatric Surgery – Direktorat P2PTM. (2016). Retrieved 30 May 2022, from http://p2ptm.kemkes.go.id/artikel-penyakit/melawan-obesitas-dengan-bariatric-surgery

Strength training: Get stronger, leaner, healthier. (2022). Retrieved 30 May 2022, from https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/fitness/in-depth/strength-training/art-20046670

Building better muscle – Harvard Health. (2022). Retrieved 30 May 2022, from https://www.health.harvard.edu/staying-healthy/building-better-muscle

How much exercise do you really need?. (2022). Retrieved 30 May 2022, from https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/fitness/expert-answers/exercise/faq-20057916

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Larastining Retno Wulandari Diperbarui Jun 14
Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan
Next article: