Diabetes Tipe 2

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 30 November 2020 . Waktu baca 9 menit
Bagikan sekarang

Pengertian

Apa itu diabetes tipe 2?

Diabetes tipe 2 adalah jenis diabetes melitus yang menyebabkan kadar gula darah tinggi akibat pola hidup yang tidak sehat. Penyakit ini disebut juga sebagai adult-onset diabetes karena biasanya menyerang orang dewasa atau lansia.

Namun, tidak menutup kemungkinan jika penyakit ini bisa menyerang orang usua muda karena berbagai macam faktor yang meningkatkan risiko Anda.

Pada diabetes tipe 1, tingginya kadar gula darah disebabkan oleh pankreas yang tidak dapat memproduksi hormon insulin secara optimal. Sementara itu, DM tipe 2 biasanya terjadi karena sel-sel tubuh yang tak lagi peka terhadap insulin sehingga kesulitan mengubah glukosa menjadi energi.

Dengan kata lain, pada orang yang memiliki DM tipe 2, pankreas tetap memproduksi insulin, hanya saja tubuh tak lagi sensitif terhadap keberadaannya.

Jika gula darah dibiarkan terus tinggi, penderita lebih berisiko mengalami komplikasi diabetes yang memengaruhi sistem saraf, jantung, ginjal, mata, pembuluh darah, serta gusi dan gigi. 

Tanda-tanda & gejala

Apa saja ciri-ciri dan gejala diabetes tipe 2?

Diabetes melitus tipe 2 sering tidak menunjukkan gejala diabetes yang kentara. Banyak orang yang malah tidak menyadari kalau dirinya terkena penyakit ini selama bertahun-tahun sekalipun gejala sudah muncul.

Berikut ini ada beberapa ciri-ciri diabetes tipe 2 yang harus Anda waspadai, seperti:

  • Buang air kecil terus-menerus
  • Sering merasa haus dan minum lebih banyak
  • Cepat lapar meskipun sudah makan banyak
  • Berat badan turun tanpa sebab yang jelas
  • Luka sulit sembuh dan mudah terkena infeksi
  • Masalah kulit seperti gatal-gatal dan kulit kehitaman, terutama bagian lipatan ketiak, leher, dan selangkangan
  • Gangguan penglihatan seperti pandangan kabur
  • Tangan dan kaki sering sakit, kesemutan, dan kebas (mati rasa)
  • Disfungsi seksual seperti gangguan ereksi

Kapan saya harus periksa ke dokter?

Jika Anda memiliki tanda atau ciri-ciri yang disebutkan di atas, segeralah berkonsultasi ke dokter Anda.

Tubuh setiap orang bisa menunjukan reaksi yang berbeda-beda sehingga gejala yang muncul bisa jadi berbeda. Berdiskusilah dengan dokter Anda untuk menentukan tindakan terbaik untuk mengatasinya.

Penyebab

Apa penyebab diabetes tipe 2?

Menurut studi American Diabetes Association, diabetes melitus tipe 2 umumnya disebabkan oleh resistensi insulin, yaitu kondisi ketika sel-sel kebal terhadap hormon insulin.

Ketika resistensi insulin terjadi, semakin banyak insulin yang dibutuhkan agar kadar gula (glukosa) dalam tubuh bisa tetap stabil.

Nah, guna mengimbangi kadar glukosa yang melimpah di aliran darah, sel-sel penghasil insulin di pankreas (disebut sel beta) akan menghasilkan insulin yang lebih banyak. Dengan harapan, semakin banyak insulin yang dihasilkan, semakin banyak pula glukosa yang diproses menjadi energi.

Sayangnya, karena terus-menerus “dipaksa” menghasilkan insulin, kemampuan sel beta lama-lama akan menurun. Akibatnya, kadar gula darah yang tinggi semakin tidak terkendali sehingga menyebabkan diabetes.

Kondisi resistensi insulin ini bisa disebabkan oleh beberapa hal, termasuk:

  • Kelebihan berat badan atau obesitas
  • Faktor genetik

Faktor-faktor risiko

Siapa yang berisiko kena diabetes tipe 2?

Terdapat beberapa hal yang jelas meningkatkan peluang seseorang mengalami diabetes melitus tipe 2, seperti:

1. Riwayat keluarga

Risiko mengalami penyakit ini semakin besar jika orangtua atau saudara kandung Anda memiliki diabetes tipe 2. Dibandingkan dengan diabetes tipe 1,  tipe 2 memiliki hubungan yang lebih kuat dengan riwayat dan keturunan keluarga.

2. Umur

Bertambahnya usia akan menambah risiko Anda untuk terkana penyakit ini, khususnya setelah umur 45 tahun.

Diduga hal ini disebabkan orang-orang pada usia ini cenderung kurang bergerak, kehilangan massa otot, dan mengalami pertambahan berat badan. Selain itu, proses penuaan juga mengakibatkan penurunan fungsi sel beta pankreas sebagai penghasil insulin.

3. Berat badan

Memiliki kelebihan berat badan merupakan faktor risiko utama untuk penyakit ini.  Orang yang obesitas berisiko 80 kali lebih mungkin terkena penyakit ini ketimbang yang memiliki berat badan ideal. 

4. Gaya hidup sedentari

Sedentari adalah pola perilaku minim aktivitas atau gerakan fisik. Anda mungkin lebih akrab dengan istilah mager, alias malas gerak. Padahal, aktivitas fisik membantu Anda mengontrol berat badan, menggunakan glukosa sebagai energi, dan membuat sel-sel Anda semakin sensitif terhadap insulin.

Semakin Anda pasif, semakin besar risiko Anda mengalami diabetes tipe 2.

5. Prediabetes

Prediabetes adalah kondisi saat kadar gula darah Anda lebih tinggi dari normal, tapi belum cukup tinggi untuk diklasifikasikan sebagai diabetes. Kondisi ini umumnya tidak menimbulkan gejala yang berarti sehingga sulit dideteksi.

6. Diabetes kehamilan

Ibu hamil yang pernah mengalami diabetes saat hamil (gestasional) dan sembuh memiliki kemungkinan tinggi terkena penyakit ini di kemudian hari.

7. Sindrom ovarium polikistik (PCOS)

PCOS erat kaitannya dengan resistensi insulin. Selain PCOS, sejumlah kondisi medis lain juga berisiko menyebabkan penyakit ini, seperti pankreatitis, sindrom Cushing, dan glukagonoma.

8. Obat-obatan tertentu

Obat steroid, statin, diuretik, dan beta-blocker merupakan beberapa jenis obat yang diketahui dapat memengaruhi kadar gula dalam darah yang berisiko menyebabkan diabetes tipe 2.

Diagnosis

Apa saja tes untuk mendiagnosis kondisi ini?

Penyakit diabetes tipe 2 dapat didiagnosis melalui pemeriksaan kadar gula dalam darah. Meskipun cek gula darah dapat dilakukan di rumah secara mandiri, untuk hasil yang lebih akurat sebaiknya dilakukan di rumah sakit atau klinik. Hasil pemeriksaan gula darah selanjutnya akan dianalisis oleh dokter.

Setidaknya ada 5 tes gula darah yang dilakukan untuk mendiagnosis penyakit diabetes tipe 2, yaitu:

  • Tes gula darah sewaktu: tes gula darah yang bisa dilakukan kapan saja.
  • Tes gula darah puasa: pemeriksaan gula darah yang dilakukan setelah berpuasa selama 8 jam.
  • Postprandial blood glucose test: dilakukan 2 jam setelah makan dan sebelumnya berpuasa selama 12 jam.
  • Tes HbA1c: tes pengukuran kadar gula darah rata-rata dalam 3 bulan terakhir.
  • Tes toleransi glukosa: dilakukan setelah 2 jam mengonsumsi 75 gram cairan glukosa dan berpuasa selama 8 jam terlebih dulu.

Dokter mungkin juga akan meminta Anda melakukan beberapa pemeriksaan lainnya seperti:

  • Pemeriksaan tekanan darah
  • Pemeriksaan insulin C-peptida untuk mengukur kadar insulin
  • Pemeriksaan tingkat kolesterol dan trigliserida

Obat & Pengobatan

Apa saja obat diabetes tipe 2 yang sering digunakan?

Perlu dipahami bahwa diabetes tipe 2 adalah kondisi yang tidak bisa disembuhkan. Meski begitu, Anda masih bisa mengelolanya agar tetap hidup sehat dan normal.

Pengobatan diabetes tipe 2 lebih berfokus pada perubahan pola hidup menjadi lebih sehat.

Beberapa hal yang umumnya akan dianjurkan oleh dokter untuk mengendalikan gula darah pada orang kencing manis tipe 2, antara lain:

1. Diet sehat

Pola makan sehat menjadi cara utama yang biasanya direkomendasikan dokter. Anda akan diminta untuk menghindari makanan tinggi gula dan memilih makanan dengan indeks glikemik rendah. Makanan ini membutuhkan proses pemecahan karbohidrat menjadi glukosa yang lebih lama.

2. Olahraga

Selain mengatur pola makan, pengobatan diabetes tipe 2 bisa dilakukan dengan olahraga. Anda sebaiknya melakukan olahraga secara teratur (3-4 kali seminggu selama kurang lebih 30 menit) dan perbanyak aktivitas fisik.

3. Teratur minum obat

Jika kedua cara di atas tidak bekerja efektif dalam menjaga kadar gula darah, dokter biasanya akan meresepkan obat diabetes untuk membantu mengendalikan kadar gula darah Anda.

Dokter mungkin akan memberikan satu jenis obat saja atau kombinasi obat. 

4. Terapi insulin

Perlu dipahami bahwa tidak semua penderita diabetes tipe 2 memerlukan terapi insulin. Biasanya, Anda akan diminta melakukan suntik insulin jika obat diabetes yang Anda minum tidak memberikan perbaikan yang signifikan.

Terapi insulin bisa diberikan dalam jangka pendek, terutama ketika diabetesi sedang mengalami stres.

Komplikasi

Apa saja komplikasi diabetes tipe 2?

Komplikasi diabetes tipe 2 lain yang mungkin terjadi, antara lain:

  • Penyakit kardiovaskuler, termasuk penyakit arteri koroner dengan nyeri di dada (angina), penyakit jantung, stroke, menyempitnya arteri (aterosklerosis), dan tekanan darah tinggi.
  • Neuropati atau kerusakan saraf, pada diabetes bisa memengaruhi kaki dan saluran pencernaan
  • Nefropati atau penyakit ginjal
  • Diabetes retinopati atau kerusakan berat pada penglihatan, seperti katarak glaukoma, dan kebutaan.
  • Diabetic foot, atau kaki diabetes, saat goresan dan luka di kaki dapat menjadi infeksi serius, yang susah diobati dan dapat berakibat amputasi kaki.

Selain itu, komplikasi yang paling memungkinkan dari diabetes tipe 2 adalah nekrosis, alias kematian sel. Kondisi ini bisa membuat Anda lumpuh.

Sel tubuh yang tidak mampu untuk menggunakan glukosa di dalam aliran darah akan mati secara perlahan. Nekrosis biasanya terjadi pada tubuh bagian bawah, seperti kaki.

Pengobatan di rumah

Apa saja perubahan gaya hidup untuk mengatasi kondisi ini?

Diabetes melitus tipe 2 adalah kondisi yang bisa dirawat dan dikendalikan dengan melakukan perubahan gaya hidup secara disiplin.

Selain cara pengobatan yang telah disebutkan, perawatan diabetes rumahan berikut ini juga perlu dilakukan agar kadar gula darah tetap normal:

  • Menjaga kadar gula darah tetap normal.
  • Menjaga berat badan ideal dengan target indeks massa tubuh 18,5 atau kurang dari 23.
  • Makan makanan gizi seimbang, meliputi serat, karbohidrat, protein, lemak baik, vitamin, dan mineral.
  • Jangan merokok dan kurangi minuman beralkohol.

Rutin konsultasi ke dokter

Anda juga disarankan konsultasi ke dokter setidaknya setiap 3 bulan sekali. Hal ini dilakukan untuk:

  • Memeriksa kulit dan tulang pada telapak kaki dan kaki.
  • Memeriksa jika telapak kaki Anda mati rasa.
  • Memeriksa tekanan darah Anda.
  • Memeriksa kesehatan mata.
  • Memeriksa HbA1c (setiap 6 bulan jika diabetes Anda terkontrol dengan baik)

Jika Anda memiliki pertanyaan, silakan konsultasikan dengan dokter Anda untuk pemahaman dan solusi terbaik bagi Anda.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Bisul

Bisul adalah benjolan berisi nanah yang berada di kulit Anda. Apa penyebabnya dan bagaimana cara mengobatinya? Simak ulasan lengkapnya di Hello Sehat.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Kesehatan Kulit, Penyakit Infeksi Kulit 9 November 2020 . Waktu baca 10 menit

Efek Makan Mi untuk Penderita Diabetes dan Tips Aman Mengonsumsinya

Meski populer, mi instan sering dicap sebagai makanan tidak sehat. Lantas, apakah diabetesi boleh makan mie instan? Jika boleh, bagaimana tips amannya?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Penyakit Diabetes, Diabetes Tipe 2 22 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit

5 Penyakit yang Banyak Menyerang Lansia di Indonesia

Semakin bertambah usia seseorang, pada umumnya semakin banyak penyakit yang diderita. Apa saja penyakit pada lansia yang sering terjadi?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Hidup Sehat, Tips Sehat 12 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit

Begini Trik Mudah untuk Mengurangi Konsumsi Gula

Mengurangi gula tak semudah berhenti minum teh pakai gula atau menghindari makan cake. Ada banyak makanan sehari-hari yang ternyata mengandung gula tinggi.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Hidup Sehat, Tips Sehat 12 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

10 Cara Ampuh Mencegah Penyakit Jantung dan Kekambuhannya

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 21 November 2020 . Waktu baca 12 menit
Konten Bersponsor
mencegah diabetes sejak dini

3 Langkah Lindungi Keluarga untuk Mencegah Diabetes Sejak Dini

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Dipublikasikan tanggal: 20 November 2020 . Waktu baca 5 menit
Konten Bersponsor
mencegah diabetes pada keluarga

Ibu, Ini Cara Cegah Risiko Diabetes pada Keluarga Tercinta Sejak Dini

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Maria Amanda
Dipublikasikan tanggal: 20 November 2020 . Waktu baca 11 menit
DVT deep vein thrombosis adalah trombosit vena dalam

Deep Vein Thrombosis (DVT)

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 16 November 2020 . Waktu baca 7 menit