HIV dan AIDS (HIV/AIDS)

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 21/04/2020
Bagikan sekarang

Definisi

Apa itu HIV dan AIDS?

Sering dikira sebagai satu kesatuan, HIV dan AIDS adalah dua kondisi yang berbeda. Meski begitu, keduanya memang saling berhubungan. Sederhananya, HIV adalah kondisi yang bisa menyebabkan penyakit AIDS.

HIV itu sendiri adalah singkatan dari jenis virus bernama Human Immunodeficiency Virus. HIV secara spesifik menyerang dan menghancurkan sel CD4 yang menjadi bagian penting dari sistem kekebalan tubuh manusia untuk melawan infeksi.

Hilangnya sel CD4 akan melemahkan fungsi sistem imun hingga sangat drastis. Akibatnya, terinfeksi HIV akan membuat tubuh Anda rentan mengalami berbagai penyakit infeksi dari bakteri, virus, jamur, parasit, dan patogen merugikan lainnya.

Tubuh Anda tidak bisa menyingkirkan keberadaan HIV sepenuhnya. Jadi, jika Anda terinfeksi Human Immunodeficiency Virus, Anda akan memilikinya seumur hidup. Infeksi HIV dalam jangka panjang yang tidak terdiagnosis atau tidak diobati dengan tepat dapat meningkatkan risiko Anda mengalami AIDS.

AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah suatu kumpulan gejala yang muncul ketika stadium infeksi HIV sudah sangat parah. Biasanya kondisi ini ditandai dengan munculnya penyakit kronis lain, seperti kanker dan berbagai infeksi oportunis yang muncul seiring dengan melemahnya sistem kekebalan tubuh.

Seberapa umumkah HIV dan AIDS?

Menurut laporan UNAIDS, pada akhir 2017 ada sekitar 36,9 juta orang yang hidup dengan HIV/AIDS alias ODHA. Namun dari total populasi itu, hanya sekitar 75% orang yang menyadari mereka mengidap kondisi ini.

Laporan tersebut juga mencatat sekitar 940.000 orang di dunia meninggal akibat penyakit yang muncul sebagai komplikasi AIDS. 

Tanda-tanda dan gejala

Apa saja tanda-tanda dan gejala HIV/AIDS?

Infeksi Human Immunodeficiency Virus pada umumnya tidak menampakkan wujud yang jelas di awal masa paparan. Kebanyakan ODHA tidak menunjukkan tanda atau gejala HIV/AIDS yang khas dalam beberapa tahun pertama terinfeksi.

Jikalau mengalami gejala, kemungkinan intensitas yang dirasakan tidak begitu jelas atau ciri-ciri yang muncul kerap disalahpahami sebagai penyakit lain yang lebih umum. Anda mungkin juga sudah memiliki HIV tetapi masih terlihat sehat, bugar, dan bisa berkegiatan normal selayaknya orang sehat lainnya.

Infeksi Human Immunodeficiency Virus umumnya memakan waktu hingga 2 sampai 15 tahun sampai bisa memunculkan gejala pasti. HIV tidak akan langsung merusak organ tubuh Anda. Virus tersebut perlahan menyerang sistem kekebalan tubuh dan melemahkannya secara bertahap sampai kemudian tubuh Anda menjadi rentan diserang penyakit, terutama infeksi.

Gejala awal HIV umumnya mirip dengan infeksi virus lainnya, yaitu:

Jika Human Immunodeficiency Virus dibiarkan, kondisi ini bisa berubah semakin parah menjadi AIDS. Berikut ini adalah berbagai gejala AIDS yang dapat muncul:

  • Sariawan yang ditandai dengan adanya lapisan keputihan dan tebal pada lidah atau mulut. Sariawan ini disebabkan oleh infeksi jamur
  • Infeksi jamur vagina yang parah atau berulang
  • Penyakit radang panggul kronis
  • Infeksi parah dan sering mengalami kelelahan ekstrem yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya dan mungkin muncul bersamaan dengan sakit kepala dan atau pusing
  • Turunnya berat badan lebih dari 5 kg yang bukan disebabkan karena olahraga atau diet
  • Lebih mudah mengalami memar
  • Diare yang lebih sering
  • Sering demam dan berkeringat di malam hari
  • Pembengkakan atau mengerasnya kelenjar getah bening yang terletak di tenggorokan, ketiak, atau pangkal paha
  • Batuk kering yang terus menerus
  • Sering mengalami sesak napas
  • Perdarahan pada kulit, mulut, hidung, anus, atau vagina tanpa penyebab yang pasti
  • Ruam kulit yang sering atau tidak biasa
  • Mati rasa parah atau nyeri pada tangan atau kaki
  • Hilangnya kendali otot dan refleks, kelumpuhan, atau hilangnya kekuatan otot
  • Kebingungan, perubahan kepribadian, atau penurunan kemampuan mental

Selain itu, ada juga kemungkinan bahwa Anda akan mengalami berbagai gejala di luar yang telah disebutkan.

Anda tidak dapat mengetahui secara pasti apakah benar terjangkit HIV/AIDS sampai diperiksa secara medis dan menyeluruh. Jika Anda mempunyai kekhawatiran ata pertanyaan tentang suatu gejala, silakan berkonsultasi dengan dokter.

Kapan saya harus periksa ke dokter?

Jika Anda menunjukkan satu atau lebih gejala HIV/AIDS seperti yang telah disebutkan di atas, segera periksakan diri ke dokter.

Kondisi tubuh masing-­masing orang berbeda. Setiap orang mungkin menunjukkan tanda-tanda yang berbeda. Namun meski tidak merasa atau menunjukkan gejala apa pun, Anda masih dapat menularkan virus HIV ke orang lain. 

Untuk itu, selalu konsultasikan ke dokter jika Anda mengalami berbagai gejala yang tak biasa. Anda juga perlu segera berkonsultasi jika kondisi tubuh saat ini menghambat aktivitas keseharian.

Penyebab

Apa penyebab HIV/AIDS?

HIV adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh Human Immunodeficiency Virus. Adapun AIDS adalah kondisi yang terdiri dari kumpulan gejala terkait pelemahan sistem imun ketika infeksi HIV sudah berkembang parah dan tidak ditangani dengan baik. 

Faktor risiko

Apa saja faktor risiko dari HIV/AIDS?

Menurut Center for Disease Control and Prevention (CDC), penularan virus HIV dari pengidap hanya bisa diperantarai oleh cairan tubuh seperti darah, air mani, cairan pra-ejakulasi, cairan rektal (anus), cairan vagina, dan ASI yang berkontak langsung dengan luka terbuka di selaput lendir, jaringan lunak, atau luka terbuka di kulit luar tubuh orang sehat.

Jalur penularan virus umumnya terjadi dari hubungan seks tanpa kondom (penetrasi vaginal, seks oral, dan anal). Ingat, penularan HIV hanya bisa terjadi dengan syarat, Anda sebagai orang yang sehat memiliki luka terbuka atau lecet di organ seksual, di mulut, atau di kulit.

Biasanya perempuan remaja cenderung lebih rentan terhadap risiko infeksi HIV karena selaput vagina mereka lebih tipis sehingga lebih rentan lecet dan terluka dibandingkan wanita dewasa.

Penularan HIV lewat seks anal juga termasuk lebih rentan karena jaringan anus tidak memiliki lapisan pelindung layaknya vagina, sehingga lebih mudah sobek akibat gesekan.

Selain dari paparan antar cairan dengan luka lewat aktivitas seks, penularan HIV juga dapat terjadi jika cairan terinfeksi tersebut disuntikkan langsung ke pembuluh darah, misalnya dari:

  • Pemakaian jarum suntik secara bergantian dengan orang yang terkontaminasi dengan Human Immunodeficiency Virus.
  • Menggunakan peralatan tato (termasuk tinta) dan tindik (body piercing) yang tidak disterilkan dan pernah dipakai oleh orang dengan kondisi ini.
  • Memiliki penyakit menular seksual (PMS) lainnya seperti klamidia atau gonore. Virus HIV akan sangat mudah masuk saat sistem kekebalan tubuh lemah.
  • Ibu hamil pengidap HIV/AIDS dapat menularkan virus aktif kepada bayinya (sebelum atau selama kelahiran) dan saat menyusui.

Namun, jangan salah sangka. Anda TIDAK dapat tertular virus Human Immunodeficiency Virus melalui kontak sehari-hari seperti:

  • Bersentuhan
  • Berjabat tangan
  • Bergandengan
  • Berpelukan 
  • Cipika-cipiki
  • Batuk dan bersin
  • Mendonorkan darah ke orang yang terinfeksi lewat jalur yang aman
  • Menggunakan kolam renang atau dudukan toilet yang sama
  • Berbagi sprei
  • Berbagi peralatan makan atau makanan yang sama
  • Dari hewan, nyamuk, atau serangga lainnya

Komplikasi

Apa komplikasi dari HIV/AIDS?

Komplikasi dari infeksi virus Human Immunodeficiency Virus adalah penyakit AIDS. Artinya, AIDS menjadi kondisi lanjut dari infeksi HIV.

Infeksi Human Immunodeficiency Virus dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh, sehingga bisa menyebabkan berbagai infeksi lainnya.

Jika Anda juga memiliki AIDS, Anda mungkin memiliki beberapa komplikasi kondisi yang cukup parah, seperti:

1. Infeksi

Infeksi kuman lain bisa terjadi lebih dari satu dalam waktu yang bersamaan. Adapun berbagai infeksi yang biasanya muncul yaitu tuberkulosis, infeksi sitomegalovirus, kriptokokus meningitis, toksoplasmosis, dan cryptosporidiosis.

2. Kanker

Orang yang mengalami AIDS juga bisa terkena penyakit kanker dengan mudah. Jenis kanker yang biasanya muncul yaitu kanker paru-paru, ginjal, limfoma, dan sarkoma Kaposi.

3. Tuberkulosis (TBC)

Tuberkulosis (TBC) merupakan infeksi paling umum yang muncul saat seseorang mengidap HIV. Pasalnya, orang dengan HIV/AIDS tubuhnya sangat rentan terkena virus. Oleh sebab itu, tuberkulosis menjadi penyebab utama kematian di antara orang dengan HIV/AIDS.

4. Sitomegalovirus

Sitomegalovirus adalah virus herpes yang biasanya ditularkan dalam bentuk cairan tubuh seperti air liur, darah, urin, air mani, dan air susu ibu. Sistem kekebalan tubuh yang sehat akan membuat virus tidak aktif.

Namun, jika sistem kekebalan tubuh melemah karena Anda mengidap penyakit HIV dan AIDS, virus dapat dengan mudah menjadi aktif. Sitomegalovirus dapat menyebabkan kerusakan pada mata, saluran pencernaan, paru-paru, atau organ lain.

4. Candidiasis

Candidiasis adalah infeksi yang juga sering terjadi akibat HIV/AIDS. Kondisi ini menyebabkan peradangan dan menyebabkan lapisan putih dan tebal pada selaput lendir mulut, lidah, kerongkongan, atau vagina.

5. Kriptokokus meningitis

Meningitis adalah peradangan pada selaput dan cairan yang mengelilingi otak dan sumsum tulang belakang (meninges). Meningitis kriptokokal adalah infeksi sistem saraf umum pusat yang bisa didapat oleh orang dengan penyakit HIV/AIDS. Kriptokokus yang disebabkan oleh jamur di dalam tanah.

6. Toksoplasmosis

Infeksi yang mematikan ini disebabkan oleh Toxoplasma gondii, parasit yang menyebar terutama melalui kucing, Kucing yang terinfeksi biasanya memiliki parasit di dalam tinjanya. 

Tanpa disadari, parasit ini kemudian dapat menyebar ke hewan lain dan manusia. Jika orang dengan HIV/AIDS mengalami toksoplasmosis dan tidak segera ditangani, kondisi ini bisa menyebabkan infeksi otak serius seperti ensefalitis.

7. Cryptosporidiosis

Infeksi ini terjadi disebabkan oleh parasit usus yang umum ditemukan pada hewan. Biasanya seseorang bisa terkena parasit ini cryptosporidiosis ketika Anda menelan makanan atau air yang terkontaminasi. 

Nantinya, parasit akan tumbuh di usus Anda dan saluran empedu, menyebabkan diare parah kronis pada orang dengan AIDS.

Selain infeksi, Anda juga berisiko mengalami masalah neurologis dan masalah ginjal jika memiliki penyakit AIDS.

Diagnosis

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Bagaimana mendiagnosis HIV dan AIDS?

Mendiagnosis infeksi virus HIV biasanya akan dilakukan dengan tes darah. Ini adalah cara yang paling memungkinkan untuk dokter memeriksa sekaligus menentukan apakah Anda terinfeksi HIV atau tidak. 

Keakuratan tes tergantung pada waktu kapan paparan terakhir HIV. Misalnya kapan terakhir kali berhubungan seks tanpa kondom atau berbagi jarum suntik. Jika Anda pernah melakukan berbagai tindakan yang berisiko terkena Human Immunodeficiency Virus, Anda bisa saja benar terinfeksi virus HIV/AIDS. 

Oleh karena itu, lebih baik melakukan tes HIV untuk mengetahui status kesehatan Anda. Butuh waktu sekitar 3 bulan untuk antibodi Human Immunodeficiency Virus muncul pada tes HIV.

Jika hasil tes Anda positif (reaktif), tandanya Anda memiliki antibodi HIV dan memiliki infeksi penyakit tersebut. Meski positif HIV, namun belum berarti Anda juga  memiliki AIDS. 

TIdak ada yang tahu pasti kapan seseorang terinfeksi virus HIV akan mengalami AIDS. Jika hasil tes Anda negatif, artinya di dalam tubuh Anda tidak memiliki antibodi Human Immunodeficiency Virus. 

Obat & pengobatan

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Bagaiman cara mengobati HIV dan AIDS?

HIV/AIDS tidak bisa disembuhkan karena tidak ada obatnya.

Namun, gejala penyakit bisa dikendalikan dan sistem imun bisa ditingkatkan dengan pemberian terapi antiretoviral (ARV). Obat ARV tidak dapat menyembuhkan, tetapi bisa membantu orang dengan HIV hidup lebih lama dan lebih sehat. Selain itu, ARV juga membantu mengurangi risiko penularan HIV.

Terapi ARV adalah sekumpulan obat yang biasanya digunakan untuk mengobati infeksi akibat penyakit HIV. Tujuan utama obat ARV adalah mencegah dan mengurangi jumlah Human Immunodeficiency Virus dalam tubuh dan menghambat virus dalam memperbanyak diri. Dengan begitu, jumlah virusnya di dalam tubuh tidak terus bertambah. 

Berkurangnya virus HIV memberi kesempatan bagi sistem kekebalan tubuh untuk bisa pulih dan cukup kuat untuk melawan infeksi dan kanker.

Selain itu, ketika jumlah virusnya rendah dan tidak terdeteksi, kemungkinan untuk menularkan infeksi Human Immunodeficiency Virus ini ke orang lain pun berkurang.

Saat terdeteksi infeksi Human Immunodeficiency Virus, Anda biasanya diminta untuk minum obat ART sesegera mungkin.  Apalagi jika Anda sedang dalam kondisi berikut:

  • Hamil
  • Memiliki infeksi oportunistik (infeksi penyakit lain bersamaan dengan HIV)
  • Memiliki gejala yang parah
  • Jumlah sel CD4 di bawah 350
  • Memiliki penyakit ginjal akibat HIV
  • Sedang dirawat karena hepatitis B atau C

Selain ART, ada banyak obat untuk HIV yang biasanya dikelompokkan dan dikombinasikan sesuai dengan kegunaannya. Pemilihan rejimen ini akan berbeda tiap orangnya karena biasanya disesuaikan dengan efek samping dan interaksi obat lain yang digunakan.

Untuk itu dokterlah yang akan memilihkan kira-kira rejimen mana sekiranya cocok untuk mengobati kondisi Anda.

Pengobatan di rumah

Apa saja perubahan gaya hidup atau pengobatan rumahan yang dapat dilakukan untuk mengatasi HIV dan AIDS?

Berikut gaya hidup, pengobatan rumahan, serta pencegahan yang dapat membantu Anda mengatasi infeksi virus HIV/AIDS:

  • Makan makanan dengan gizi seimbang dan memperbanyak sayur, buah, biji-bijian, dan protein tanpa lemak.
  • Cukup istirahat.
  • Rutin berolahraga.
  • Menghindari obat-obatan terlarang termasuk alkohol.
  • Berhenti merokok.
  • Melakukan berbagai cara untuk mengelola stres seperti meditasi atau yoga.
  • Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun setiap habis memegang hewan peliharaan.
  • Menghindari daging mentah, telur mentah, susu yang tidak dipasteurisasi, dan makanan laut mentah.
  • Melakukan vaksin yang tepat untuk mencegah infeksi seperti radang paru dan flu.

Jika Anda positif terkena, Anda dapat menularkan virus ke orang lain meski tubuh tidak menunjukkan gejala apapun. Untuk itu, lindungi diri Anda dan orang lain dan cegah penyebaran HIV dengan cara:

  • Selalu menggunakan kondom saat berhubungan seks vagina, oral, atau anal.
  • Tidak berbagi jarum atau peralatan obat lainnya.

Jika Anda memiliki HIV dan hamil, berkonsultasilah dengan dokter yang memiliki pengalaman tentang pengobatan infeksi Human Immunodeficiency Virus. Tanpa pengobatan, sekitar 25 dari 100 bayi yang lahir dari ibu dengan HIV juga terinfeksi.

Namun, ibu hamil dapat secara langsung mengurangi risiko penularan kepada calon anaknya dengan rutin menggunakan obat-obatan HIV/AIDS, melahirkan lewat operasi caesar, dan tidak menyusui ASI eksklusif.

Jika memiliki pertanyaan, silakan berkonsultasi dengan dokter demi lebih memahami solusi terbaik untuk Anda.

Hello Health Group tidak memberikan saran medis, diagnosis atau pengobatan.

Baca Juga:

    Apakah artikel ini membantu Anda?
    happy unhappy"
    Sumber

    Yang juga perlu Anda baca

    Pasien Kedua yang Dinyatakan Sembuh dari HIV, Ini Faktanya

    Obat untuk menyembuhkan pasien HIV memang belum ditemukan. Namun, untuk kedua kalinya dalam sejarah ada pasien yang dinyatakan sembuh dari HIV.

    Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Nabila Azmi

    Cara Mengobati Penyakit HIV, Plus Mengatasi Gejala-Gejala yang Muncul

    HIV tidak ada obat penyembuhnya. Meski begitu, bukan berarti tidak ada cara sama sekali untuk mengatasi setiap gejala penyakit HIV yang muncul.

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Fidhia Kemala

    4 Alasan Kenapa Anda Harus Menjalani Tes Penyakit Kelamin

    Alasan menjalani tes penyakit kelamin memang untuk mendeteksi adanya penularan. Namun, tidak hanya itu saja alasannya. Cari tahu lebih lanjut berikut ini.

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Aprinda Puji

    Bagaimana Wanita Straight Berubah Orientasi Seksual Menjadi Lesbian?

    Sains menemukan bahwa wanita yang berorientasi heteroseksual alias straight ternyata juga dapat ‘berubah’ menjadi lesbian. Bagaimana bisa?

    Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Diah Ayu

    Direkomendasikan untuk Anda

    antibodi sars untuk covid-19 herd immunity indonesia

    Antibodi dari Pasien SARS Dikabarkan Dapat Melawan COVID-19

    Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Nabila Azmi
    Dipublikasikan tanggal: 28/05/2020

    Apakah HIV Bisa Sembuh dengan Sendirinya? Ini Jawabannya

    Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Nabila Azmi
    Dipublikasikan tanggal: 29/04/2020
    meningkatkan kekebalan tubuh meningkatkan daya tahan tubuh

    4 Cara Alami Meningkatkan Kekebalan Tubuh Saat Puasa

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Andisa Shabrina
    Dipublikasikan tanggal: 26/04/2020
    manfaat jus jambu biji

    3 Kandungan Jambu Biji yang Ampuh Menjaga Imun Tubuh

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
    Ditulis oleh: Roby Rizki
    Dipublikasikan tanggal: 07/04/2020