Terus pantau perkembangan soal COVID-19 di sini.

home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Infeksi Virus

Pengertian infeksi virus|Tanda-tanda dan gejala infeksi virus|Penyebab infeksi virus|Diagnosis |Cara mengobati infeksi virus|Pencegahan infeksi virus
Infeksi Virus

Pengertian infeksi virus

Infeksi virus adalah kondisi saat virus masuk ke dalam tubuh, lalu memperbanyak diri sehingga menimbulkan penyakit. Infeksi virus bisa menyerang berbagai bagian tubuh seperti sistem pernapasan, pencernaan, saraf atau kulit, tergantung dari jenis virus yang menginfeksi.

Virus sendiri adalah organisme mikroskopis (tidak bisa dilihat kasatmata) yang tersusun dari protein dan pelindung. Organisme ini bisa ditularkan.

Penularan virus bisa berlangsung di antara manusia ataupun melalui kontak dengan hewan, benda, dan makanan yang terkontaminasi.

Penyakit akibat virus bisa menimbulkan gejala yang berbeda-beda tergantung jenis virus dan organ tubuh yang terkena. Namun, kondisi ini umumnya ditunjukkan dengan gejala demam, nyeri otot dan sendi, dan tubuh lemas.

Pengobatan yang diberikan biasanya akan menyesuaikan virus penyebabnya dan keparahan gejala. Penularan virus selalu bisa dicegah dengan menghindari paparan, faktor-faktor yang meningkatkan risiko penularan, dan vaksinasi.

Seberapa umumkah kondisi ini?

Virus merupakan penyebab dari berbagai penyakit infeksi yang sering dialami, seperti pilek, flu, diare akibat radang lambung atau usus, dan lain-lain. Virus penyebab penyakit tersebut biasanya memang mudah ditularkan.

Namun, beberapa jenis virus juga bisa menyebabkan penyakit lain yang kurang umum. Media penularan seperti air liur (droplet), darah, atau cairan tubuh lainnya dan ketahanan virusnya bisa menjadi faktor yang menentukan seberapa cepat virus menyebar.

Tanda-tanda dan gejala infeksi virus

Gangguan kesehatan akibat virus bisa bervariasi tergantung organ tubuh yang terinfeksi. Tingkat keparahan gejala pun bisa bersifat ringan hingga berat.

Pada umumnya, infeksi virus akan menyebabkan gejala demam sebagai respons sistem kekebalan tubuh dalam memerangi virus. Gejala lain yang kerap dialami seperti nyeri pada otot dan sendi dan kelelahan.

Berikut ini adalah tanda-tanda sekaligus macam-macam gejala yang bisa ditimbulkan akibat infeksi virus:

  • Demam
  • Nyeri otot dan sendi (pegal linu)
  • Tubuh lemas atau kelelahan
  • Sakit kepala
  • Bersin
  • Hidung berair
  • Batuk
  • Mual dan Muntah
  • Sakit perut
  • Diare
  • Nafsu makan berkurang
  • Ruam kulit
  • Kulit dan selaput mata menguning
  • Warna urin menggelap
  • Bengkak pada bagian tubuh yang terinfeksi
  • Perdarahan pada bagian tubuh yang terinfeksi

Lama periode berlangsungnya gejala juga bisa berbeda-beda tergantung dengan jenis virus dan organ yang terdampak. Gejala juga belum tentu selalu muncul. Artinya, respons imun tubuh cukup kuat untuk mengatasi virus tersebut.

Kapan harus pergi ke dokter?

Selama sakit, Anda perlu memantau perkembangan gejala yang Anda alami. Jika gejala yang Anda alami tidak juga mereda dalam waktu beberapa hari, Anda harus segera mewaspadainya. Berkonsultasilah ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang lebih tepat.

Tanda-tanda infeksi virus yang harus segera mendapatkan penanganan medis, antara lain:

  • Demam terus berlangsung atau naik hingga 38 derajat Celsius.
  • Kesulitan bernapas.
  • Sakit kepala parah.
  • Muntah terus-menerus.
  • Gejala dehidrasi.
  • Nyeri yang kuat pada bagian tubuh yang terinfeksi.

Penyebab infeksi virus

Infeksi virus berlangsung ketika virus berhasil memperbanyak diri sehingga menimbulkan gangguan.

Saat virus masuk ke dalam tubuh, virus tidak langsung memperbanyak diri. Virus akan membunuh, merusak, atau mengubah struktur sel-sel sehat di dalam tubuh terlebih dulu dan menginvasi sel tersebut untuk dijadikan inangnya.

Hal itu karena virus tidak dapat bertahan hidup tanpa bantuan dari sel-sel pada tubuh makhluk hidup. Menurut U.S. National Library of Medicine, keluhan akan muncul ketika virus mulai merusak sel-sel di dalam tubuh sampai akhirnya memperbanyak diri.

Berdasarkan organ atau bagian tubuh yang terinfeksi, secara garis besar berikut adalah jenis-jenis virus yang bisa menyebabkan infeksi.

1. Infeksi di saluran pernapasan

Infeksi virus yang menyerang saluran pernapasan, seperti hidung, tenggorokan, dan paru-paru dapat menimbulkan gejala seperti batuk, bersin, hidung berair, atau sesak napas.

Jenis virus penyebab infeksi pernapasan di antaranya adalah:

Penularan virus penyebab penyakit pernapasan umumnya berlangsung melalui droplet (percikan air liur) atau menghirup udara terkontaminasi virus yang dikeluarkan saat penderita bersin atau batuk.

2. Infeksi di saluran pencernaan

Infeksi virus pada saluran pencernaan biasanya menyerang lambung, hati, dan usus. Gangguan pencernaan yang umum ditimbulkan infeksi ini seperti mual, muntah, nyeri perut, atau diare.

Beberapa jenis virus yang dapat menyerang sistem pencernaan adalah:

Virus tersebut biasanya masuk ke saluran cerna melalui mulut. Oleh karena itu, penularannya lebih sering berlangsung melalui makanan (foodborne), air, atau penggunaan alat-alat makan yang terkontaminasi.

Namun, menyentuh mulut setelah kontak dengan makanan atau benda terkontaminasi juga bisa menularkan virus ini.

3. Infeksi virus di kulit

Virus juga bisa menginfeksi kulit. Ruam, rasa perih, atau gatal merupakan gejala utama dari infeksi virus pada kulit. Bagian tubuh yang terdampak bisa bervariasi, termasuk kulit di area kelamin.

Jenis virus penyebab infeksi kulit yaitu:

  • Varicella-zoster: penyebab cacar air dan cacar api
  • Human papilomavirus: penyebab penyakit kelamin HPV
  • Herpes simpleks: penyebab herpes oral dan kelamin
  • Rubella: penyebab campak jerman
  • Variola: penyebab cacar (smallpox)
  • Molluscum contagiosum: penyebab bintil-bintil di kulit
  • Monkeypox: penyebab cacar monyet

Penularannya terjadi melalui kontak dengan ruam atau luka kulit yang terinfeksi. Menghirup udara yang terkontaminasi virus juga bisa menularkan beberapa virus penyebab penyakit kulit.

4. Infeksi virus di sistem saraf

Virus yang menginfeksi sitem saraf (otak dan sumsum tulang belakang) bisa menyebabkan berbagai penyakit, seperti meningitis (radang selaput otak), radang otak atau ensefalitis, rabies, dan polio.

Jenis-jenis virus yang bisa menginfeksi saraf di antaranya adalah:

  • Enterovirus
  • Arbovirus
  • Poliovirus

Virus bisa menular melalui berbagai seperti melalui droplet yang dikeluarkan penderita saat bersin atau batuk atau gigitan serangga dan hewan.

5. Infeksi virus lainnya

Selain yang disebutkan, beberapa jenis virus bisa menginfeksi bagian-bagian tubuh lain, seperti pembuluh darah sehingga menyebabkan pembekuan darah hingga perdarahan.

Virus yang bisa menyebabkan gangguan ini seperti virus ebola dan virus penyebab demam berdarah.

Adapula virus yang langsung menyerang sel-sel di dalam sistem imun, seperti HIV penyebab penyakit HIV/AIDS. Virus ini menular melalui cairan tubuh, seperti sperma, cairan vagina, dan darah.

Diagnosis

Anda perlu menjalani pemeriksaan medis untuk mengetahui infeksi virus apa yang menyebabkan penyakit yang dialami. Diagnosis ini akan membantu dokter menentukan pengobatan yang tepat.

Dalam mendiagnosis, terlebih dulu dokter akan melakukan evaluasi riwayat kesehatan dan pemeriksaan fisik. Jika dari pemeriksaan awal penyebab masih sulit ditentukan, dokter mungkin perlu meminta Anda menjalankan tes seperti:

Cara mengobati infeksi virus

Pengobatan yang dilakukan bertujuan sebagai cara mengurangi, menghambat, atau menghilangkan infeksi virus.

Obat yang paling efektif tentunya adalah jenis antiviral atau antivirus yang memiliki kemampuan untuk mencegah perkembangan infeksi. Antibiotik adalah obat untuk bakteri yang tidak akan ampuh untuk menghilangkan virus dari tubuh.

Namun, infeksi yang memunculkan gejala ringan biasanya tidak perlu mendapatkan pengobatan intensif. Pasalnya, beberapa penyakit yang disebabkan oleh virus, seperti pilek, hepatitis A, atau cacar air memiliki sifat self-limited diseases. Artinya, penyakit itu bisa sembuh dengan sendirinya tanpa pengobatan khusus.

Sebagian besar obat-obatan untuk penyakit yang disebabkan oleh virus memang diperuntukkan untuk mengatasi gejala sampai sistem imun tubuh mampu melawan infeksi tersebut. Umumnya obat antivirus juga tidak dapat langsung membasmi virus yang ada.

Beberapa jenis obat-obatan yang digunakan untuk mengatasi infeksi virus, yakni:

Dosis dan lama waktu pengobatan akan disesuaikan dengan keparahan gejala. Jika infeksi menyebabkan gangguan yang serius, perawatan intensif di rumah sakit bisa diperlukan. Obat-obatan bisa diberikan melalui cairan infus.

Pencegahan infeksi virus

Pengobatan infeksi virus sangat menekankan pada peningkatan kekebalan tubuh untuk mempercepat proses pemulihan. Oleh karena itu, ada beberapa cara alami yang bisa Anda lakukan untuk mempercepat penyembuhan infeksi virus, seperti:

  • Memperbanyak konsumsi cairan, seperti air putih atau jus tanpa gula, dan makanan bernutrisi, seperti sup dan makanan berkuah sehingga mudah ditelan.
  • Memperbanyak istirahat selama mengalami gejala sampai proses pemulihan.
  • Mengonsumsi suplemen, seperti vitamin C.

Beberapa penyakit yang disebabkan oleh virus dapat dicegah melalui vaksinasi atau pemberian plasma darah.

Selain itu, beberapa cara mencegah infeksi lainnya dengan menerapkan pola hidup bersih dan sehat, antara lain:

  • Menjaga jarak dengan orang yang terinfeksi (2 meter selama berinteraksi).
  • Rajin mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir.
  • Memastikan makanan dimasak sampai matang.
  • Menggunakan masker setiap pergi ke tempat umum atau berinteraksi dengan orang yang sakit.
  • Menggunakan kondom saat berhubungan seksual dan tidak bergonta-ganti pasangan.

Jika terdapat pertanyaan atau keluhan yang dicurigai sebagai infeksi virus, segera berkonsultasi lebih lanjut untuk solusi terbaik Anda.

Lawan COVID-19 bersama!

Ikuti informasi terbaru dan cerita para pejuang COVID-19 di sekitar kita. Ayo gabung komunitas sekarang!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Medline Plus. (2020). Viral Infection | Viral Infection Symptoms. Retrieved 1 December 2020, from https://medlineplus.gov/viralinfections.html

American Lung Association. (2020). Facts About the Common Cold. Retrieved 1 December 2020, from https://www.lung.org/lung-health-diseases/lung-disease-lookup/influenza/facts-about-the-common-cold

CDC. (2020). RSV | Symptoms and Care | Respiratory Syncytial Virus. Retrieved 1 December 2020, from https://www.cdc.gov/rsv/about/symptoms.html

Mayo Clinic. (2020). Smallpox – Symptoms and causes. Retrieved 1 December 2020, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/smallpox/symptoms-causes/syc-20353027

CDC. (2020). About Monkeypox | Monkeypox | Poxvirus. Retrieved 1 December 2020, from https://www.cdc.gov/poxvirus/monkeypox/about.html

CDC. (2020). Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) – Prevention & Treatment. (2020). Retrieved 1 December 2020, from https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/prevent-getting-sick/prevention.html?CDC_AA_refVal=https%3A%2F%2Fwww.cdc.gov%2Fcoronavirus%2F2019-ncov%2Fprepare%2Fprevention.html

Mayo Clinic. (2020). Severe acute respiratory syndrome (SARS) – Symptoms and causes. Retrieved 1 December 2020, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/sars/symptoms-causes/syc-20351765

CDC. (2019). Middle East Respiratory Syndrome (MERS). Retrieved 1 December 2020, from https://www.cdc.gov/coronavirus/mers/index.html

Mayo Clinic. (2020). Rabies – Symptoms and causes. Retrieved 1 December 2020, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/rabies/symptoms-causes/syc-20351821

CDC. (2020). Hantavirus. Retrieved 30 March 2020, from https://www.cdc.gov/hantavirus/index.html

Mayo Clinic. (2020). Norovirus infection – Symptoms and causes.  Retrieved 1 December 2020, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/norovirus/symptoms-causes/syc-20355296

Mayo Clinic. (2020). Mumps – Symptoms and causes. Retrieved 1 December 2020, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/mumps/symptoms-causes/syc-20375361

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Fidhia Kemala Diperbarui 26/07/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.