home
close

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Mendeteksi Gejala HIV & AIDS Sesuai Dengan Stadiumnya

Mendeteksi Gejala HIV & AIDS Sesuai Dengan Stadiumnya

HIV dan AIDS adalah penyakit menular seksual yang melemahkan sistem kekebalan tubuh manusia. Sebelum infeksi HIV akhirnya benar-benar menggerogoti tubuh, kebanyakan penderitanya awalnya “hanya” menampakkan gejala awal berupa flu umum yang dapat sembuh sewaktu-waktu. Saat terlambat didiagnosis dan diobati, gejala HIV/AIDS sangat mungkin bertambah parah hingga berakibat fatal.

Tanda-tanda dan gejala HIV per stadium

HIV dan AIDS bukanlah kondisi yang sama. HIV adalah nama virus yang merupakan kepanjangan dari human immunodeficiency virus.

Virus HIV dapat masuk ke dalam tubuh melalui pertukaran cairan tubuh, misalnya penularan lewat air mani, cairan vagina dari seks tanpa kondom, dan transfusi darah.

Sementara AIDS (aquired immune deficiency syndrome) adalah kumpulan gejala kronis yang muncul sebagai tahapan terakhir dari gejala HIV stadium lanjut.

Jadi, seseorang dapat mengalami AIDS jika ia sudah lebih dulu terinfeksi virus HIV.

Dalam banyak kasus, AIDS juga bisa muncul karena seseorang mengalami lebih dari satu penyakit infeksi akibat komplikasi HIV.

Seorang pengidap HIV/AIDS yang disebut ODHA (Orang Dengan HIV dan AIDS), bisa saja tidak menyadari mereka memiliki penyakit tersebut selama bertahun-tahun.

Ini karena orang tersebut tidak menyadari gejala atau tanda-tanda HIV/AIDS.

Maka dari itu, penting untuk mengetahui tanda dan gejala HIV sejak dini sebelum terlambat. Apalagi bila seseorang berisiko tinggi tertular HIV.

Ciri-ciri HIV umumnya tidak langsung muncul setelah paparan virus pertama sehingga sangat mungkin untuk terlambat dideteksi.

Tanda-tanda HIV awal

diare pada hiv

CDC telah membagi perkembangan infeksi HIV hingga menjadi AIDS berdasarkan gejala klinis dan beberapa tes diagnostik yang dilakukan dokter.

Gejala HIV awal dapat mulai terjadi dalam 3-6 minggu atau paling lama 3 bulan setelah virus masuk ke dalam tubuh.

Ketika virus sudah menginfeksi tubuh, seseorang dapat mengalami sejumlah gejala HIV yang mirip dengan gejala sakit flu, yaitu:

1. Demam

Demam sebagai gejala HIV terjadi akibat adanya peradangan dari dalam tubuh.

Demam dengan suhu kira-kira mencapai 38 derajat Celcius juga bisa menjadi gejala HIV pertama yang harus diwaspadai.

Ini bisa disebabkan dan menjadi tanda bahwa tubuh Anda sedang berusaha melawan infeksi

Gejala HIV tahap awal ini bisa berlangsung selama 1-2 minggu. Saat demam, virus HIV mulai masuk ke dalam aliran darah dan bertambah banyak.

Sistem kekebakan tubuh Anda lantas akan melawan virus HIV tersebut.

Setelah itu, tanda reaksi peradangan akan hadir dalam bentuk demam atau suhu badan yang meningkat.

2. Kelenjar getah bening membesar

Gejala HIV selanjutnya yang kerap muncul adalah pembengkakan pada kelenjar getah bening.

Kelenjar getah bening umumnya terletak di leher, ketiak, dan pangkal paha.

Kelenjar getah bening ini bertugas memproduksi sel-sel imun tubuh untuk melawan infeksi.

Pada saat terserang HIV, kelenjar getah bening akan bekerja keras mengeluarkan sel imun tubuh untuk melawan virus HIV.

Akibatnya, kelenjar getah bening, terutama di bagian leher akan membengkak dan meradang.

3. Badan terasa lemas

Salah satu gejala tanda HIV dan AIDS adalah badan yang terasa lelah terus-terusan.

Pengidap HIV sering merasa mudah lelah kurang lebih selama 1 minggu setelah pertama kali terinfeksi HIV.

Gejala HIV ini disebabkan karena tubuh Anda sedang melawan virus HIV yang sedang berkembang.

Kondisi ini tentu menyebabkan sistem kekebalan tubuh bekerja lebih keras untuk membunuh virus HIV tersebut.

Alhasil, badan jadi mudah lelah meskipun tidak melakukan aktivitas yang berat.

4. Sakit tenggorokan

Saat tubuh mengalami gejala HIV, terkadang sering ditandai dengan sakit tenggorokan.

Sakit tenggorokan juga kerap disertai dengan keluhan sakit saat menelan.

Gejala HIV merupakan dampak dari virus yang melemahkan sistem kekebalan tubuh Anda.

Alhasil, virus HIV mudah masuk lewat mulut dan membuat peradangan di tenggorokan.

5. Diare

Diare dapat menjadi salah satu gejala HIV dan AIDS yang harus diwaspadai.

Pasalnya, ketika Anda mulai terinfeksi HIV, bakteri seperti Mycobacterium avium complex (MAC) atau Cryptosporidium, dapat dengan mudahnya masuk ke dalam tubuh.

Bakteri-bakteri tersebut kemudian menyerang sistem kekebalan tubuh yang lemah.

Inilah yang menyebabkan penderita HIV mudah mengalami diare.

Gejala HIV ini dapat berlangsung beberapa hari, kemudian sembuh spontan walaupun tanpa pengobatan.

Saat mengalami gejala HIV yang satu ini, penderita sudah mulai dapat menularkan virus ke orang lain yang melakukan kontak erat.

6. Infeksi jamur

Sebenarnya, gejala HIV pada wanita sangat mirip dengan gejala HIV pada pria.

Satu-satunya gejala HIV yang khas pada wanita adalah tubuh yang lebih rentan terserang infeksi jamur.

Infeksi jamur atau ragi adalah kondisi yang dapat dialami oleh orang dengan gejala HIV awal.

Ragi atau jamur adalah mikroorganisme yang secara alami hidup di mulut dan vagina.

Pada kondisi tubuh yang normal dan sehat, jamur dapat tumbuh seimbang dan tidak menyebabkan masalah kesehatan apapun.

Namun saat tubuh terkena virus HIV, sistem kekebalan yang mengatur keseimbangan jamur jadi melemah.

Alhasil, jamur dapat tumbuh menyebar dan menyebabkan masalah kesehatan.

Segera periksakan ke dokter apabila Anda mengalami gejala HIV berupa infeksi jamur pada vagina.

Infeksi ragi ini bisa menjadi tanda awal bahwa tubuh Anda telah terinfeksi dan mengalami gejala HIV.

7. Ruam merah

Pada beberapa orang yang mengalami gejala HIV, kemungkinan di tubuhnya akan terdapat 1-2 bercak ruam merah di kulitnya.

Gejala HIV berupa ruam merah bisa terdapat di seluruh tubuh, misalnya di lengan, dada, dan kaki.

Ruam merah gejala HIV biasanya tidak benjol dan tidak gatal.

Ruam ini biasanya muncul bersamaan dengan demam akibat reaksi peradangan alami tubuh Anda saat melawan infeksi.

Tanda-tanda HIV stadium I

gejala HIV pada wanita

Stadium 1 adalah fase ketika gejala HIV awal sudah mulai hilang atau disebut sebagai infeksi HIV asimtomatik.

Meski begitu, fase ini belum dikategorikan sebagai AIDS. Pada stadium ini, penderita tidak menunjukkan gejala.

Jika ternyata ada gejala, biasanya hanya berupa pembesaran kelenjar getah bening di berbagai bagian tubuh, misalnya leher, ketiak, dan lipatan paha.

Periode tanpa gejala dapat terjadi selama bertahun-tahun sekitar 5-10 tahun tergantung daya tahan tubuh penderita.

Rata-rata, para penderita HIV (ODHA) akan berada di stadium I selama 7 tahun.

ODHA pun kerap masih tampak normal layaknya orang sehat pada umumnya.

Alhasil, banyak yang tidak menyadari bahwa mereka telah terinfeksi virus HIV dan bisa menularkan HIV ke orang lain.

Tanda-tanda HIV stadium II

Spyrocon obat antijamur gatal

Pada gejala HIV stadium II, daya tahan tubuh ODHA umumnya sudah mulai turun.

Meski gejala yang muncul masih beragam, gejalnya masih belum khas atau spesifik.

Biasanya, hal ini terjadi pada pasien yang memiliki gaya hidup tidak berisiko tinggi dan masih belum mengetahui bahwa dirinya sudah terinfeksi.

Akibatnya, mereka tidak melakukan pemeriksaan darah dan otomatis tidak memperoleh pengobatan dini untuk mencegah stadium infeksi HIV berikutnya.

Tanda dan gejala HIV stadium II berupa:

  • Penurunan berat badan yang drastis tanpa sebab jelas.
  • Infeksi saluran pernapasan atas yang sering kambuh, seperti sinusitis, bronkitis, radang telinga tengah (otitis media), radang tenggorokan (faringitis).
  • Herpes zoster yang berulang dalam 5 tahun.
  • Radang pada mulut dan stomatitis (sariawan) yang berulang.
  • Gatal pada kulit (papular pruritic eruption).
  • Dermatitis seboroik yang ditandai ketombe luas yang tiba-tiba muncul.
  • Infeksi jamur pada kuku dan jari-jari.

Penurunan berat badan pengidap HIV bisa mencapai kurang dari 10% berat badan sebelumnya.

Padahal, mereka tidak sedang menjalani diet atau pengobatan yang menyebabkan penurunan berat badan.

Tanda-tanda HIV stadium III

Infeksi rotavirus diare

Stadium III HIV disebut juga fase simptomatik yang umumnya sudah ditandai dengan adanya gejala-gejala infeksi primer.

Gejala yang timbul pada stadium III ini cukup khas sehingga bisa mengarah pada dugaan diagnosis infeksi HIV/AIDS.

Virus HIV menghancurkan sel CD4 (sel T), yaitu sel darah putih yang bertugas untuk melawan infeksi.

Semakin sedikit sel T CD4 yang Anda miliki, semakin lemah sistem kekebalan tubuh Anda.

Akibatnya, orang dengan HIV akan lebih rentan terhadap berbagai penyakit infeksi.

Penderita biasanya akan merasa lemah dan menghabiskan waktu 50% di tempat tidur.

Namun, diperlukan pemeriksaan darah untuk mengetahui diagnosis dengan tepat.

Rentang waktu dari gejala HIV stadium III hingga mengalami AIDS rata-rata 3 tahun.

Gejala HIV pada stadium III antara lain:

  • Penurunan berat badan melebihi 10% dari berat badan sebelumnya tanpa penyebab yang jelas.
  • Mencret (diare Kronis) yang tidak jelas penyebabnya dan sudah berlangsung lebih dari 1 bulan.
  • Demam terus menerus atau hilang timbul selama lebih dari 1 bulan tanpa penyebab yang jelas.
  • Infeksi jamur di mulut (candidiasis oral).
  • Oral hairy leukoplakia, yakni munculnya bercak putih pada lidah yang permukaannya kasar, tampak berombak, dan berbulu.
  • Tuberkulosis paru yang terdiagnosis 2 tahun terakhir.
  • Radang mulut akut nekrotik, gingivitis (radang gusi), serta periodontitis yang berulang dan tidak kunjung sembuh.
  • Hasil pemeriksaan darah menunjukkan penurunan sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit.

Tanda-tanda HIV/AIDS stadium IV

Perempuan mengalami batuk TBC

Stadium IV penyakit HIV disebut juga stadium akhir AIDS.

Biasanya, gejala AIDS ditandai dengan rendahnya kadar sel CD4 dalam tubuh, yaitu di bawah angka 200 sel/mm3.

Pada orang dewasa normal, kadar sel CD4 idealnya berkisar antara 500-1600 sel/mm3.

Tanda dan gejala AIDS pada stadium HIV akhir ini berupa munculnya pembesaran kelenjar limfa di seluruh tubuh.

Pengidapnya juga dapat merasakan beberapa infeksi oportunistik.

Infeksi oportunistik adalah infeksi pada sistem kekebalan tubuh yang lemah akibat jamur, virus, bakteri, maupun parasit lainnya.

Gejala AIDS atau gejala HIV tahap lanjut dapat meliputi:

  • HIV wasting syndrome, saat penderita menjadi kurus kering dan tidak bertenaga.
  • Pneumonia pneumocystis yang ditandai dengan batuk kering, sesak yang progresif, demam, dan kelelahan berat.
  • Infeksi bakteri yang berat seperti infeksi paru (pneumonia, empyema, pyomyositis), infeksi sendi dan tulang, dan radang otak (meningitis).
  • Infeksi herpes simplex kronis (lebih dari 1 bulan).
  • Penyakit tuberkulosis di luar paru, misalnya tuberkulosis kelenjar.
  • Candidiasis esofagus, yaitu infeksi jamur di kerongkongan yang membuat penderita sangat sulit untuk makan.
  • Sarcoma Kaposi, yakni salah satu jenis kanker yang disebabkan oleh infeksi virus human herpesvirus 8 (HHV8).
  • Toxoplasmosis cerebral, yaitu infeksi toksoplasma di otak yang dapat menyebabkan abses atau borok otak.
  • Encephalophaty HIV, yakni keadaan di mana penderita sudah mengalami penurunan dan perubahan tingkat kesadaran.

Khususnya pada wanita, ciri-ciri HIV/AIDS dapat pula berwujud sebagai:

  • Radang panggul, yang biasanya menyerang bagian reproduksi wanita seperti rahim, leher rahim, tuba fallopi, dan indung telur.
  • Perubahan terhadap siklus haid, menjadi lebih sering atau bahkan jarang, darah yang keluar sangat banyak, atau mengalami amenore alias tidak haid selama lebih dari 90 hari.

Selain mengalami berbagai gejala AIDS di atas, umumnya kondisi tubuh ODHA sudah sangat lemah sehingga sebagian besar aktivitas sehari-hari dilakukan di atas tempat tidur.

Memastikan gangguan yang dialami adalah HIV/AIDS

tes pemeriksaan HIV

Karena tanda dan gejala HIV AIDS sering kali tidak muncul di awal, cara terbaik untuk mendiagnosis penyakit tersebut adalah dengan melakukan tes HIV.

Tes HIV penting dilakukan terlebih untuk orang yang aktif secara seksual dan pernah berganti-ganti pasangan seks.

Selain untuk mendiagnosis orang yang baru terinfeksi virus, tes HIV juga dapat mendeteksi infeksi yang sebelumnya tidak diketahui.

Tak hanya itu, prosedur medis ini juga dapat memastikan status HIV pada orang yang berisiko tinggi mengalami infeksi.

Jika hasil tes positif, apalagi sudah sampai ke tahap infeksi yang lebih parah, dokter dapat segera menentukan tindakan pengobatan.

Hal ini dilakukan guna mencegah gejala AIDS yang Anda alami agar tidak semakin parah. Ingat, siapa pun dapat terkena virus HIV.

Semakin cepat ciri-ciri HIV/AIDS teridentifikasi dan terdiagnosis, semakin cepat Anda mendapatkan perawatan.

Perawatan tentunya berguna supaya kondisi tubuh Anda tetap sehat dan mengurangi kemungkinan penularan HIV ke pasangan maupun keturunan.

Nah, mengacu pada Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia, tes HIV biasanya direkomendasikan dilakukan sebelum mengalami gejala AIDS pada:

  • Ibu hamil di wilayah epidemi meluas dan epidemi terkonsentrasi.
  • Bayi yang baru lahir dari ibu terinfeksi HIV dan sudah mendapatkan tindakan pencegahan penularan dari ibu ke anak.
  • Anak yang riwayat keluarganya tidak diketahui dengan jelas.
  • Korban kekerasan seksual, entah itu anak-anak maupun orang dewasa.
  • Seseorang yang sering menerima transfusi berulang atau terpajan jarum suntik.
  • Pekerja seks.
  • Pengguna obat-obatan terlarang (NAPZA) terutama dalam bentuk suntik.
  • Laki-laki yang berhubungan seksual dengan laki-laki (LSL), dan waria.
  • Pasangan ODHA.
  • Orang yang sakit tuberculosis (TB).
  • Orang yang punya riwayat penyakit kelamin.
  • Orang yang punya riwayat penyakit hepatitis.

Dengan mendeteksi gejala HIV dan melakukan pemeriksaan sedini mungkin , penyakit HIV bisa segera ditangani lebih cepat.

Hal ini memperbesar peluang Anda untuk hidup sehat tanpa takut mengalami komplikasi serius.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Maartens, G., Celum, C., & Lewin, S. (2014). HIV infection: epidemiology, pathogenesis, treatment, and prevention. The Lancet, 384(9939), 258-271. https://www.doi.org/10.1016/s0140-6736(14)60164-1

Günthard, H. F., Saag, M. S., Benson, C. A., del Rio, C., Eron, J. J., Gallant, J. E., Hoy, J. F., Mugavero, M. J., Sax, P. E., Thompson, M. A., Gandhi, R. T., Landovitz, R. J., Smith, D. M., Jacobsen, D. M., & Volberding, P. A. (2016). Antiretroviral Drugs for Treatment and Prevention of HIV Infection in Adults: 2016 Recommendations of the International Antiviral Society-USA Panel. JAMA, 316(2), 191–210. https://doi.org/10.1001/jama.2016.8900

National Institute of Health. (2021). HIV Treatment: The Basics.  Retrieved 14 January 2021, from https://hivinfo.nih.gov/understanding-hiv/fact-sheets/hiv-treatment-basics

HIV gov. (2020). Symptoms of HIV. Retrieved 14 January 2021, from https://www.hiv.gov/hiv-basics/overview/about-hiv-and-aids/symptoms-of-hiv

WHO. (2020). HIV/AIDS. Retrieved 14 January 2021, from https://www.who.int/en/news-room/fact-sheets/detail/hiv-aids

CDC. (2021). About HIV/AIDS | HIV Basics | HIV/AIDS. Retrieved 14 January 2021, from https://www.cdc.gov/hiv/basics/whatishiv.html

CDC. (2021). Opportunistic Infections | Living with HIV | HIV Basics | HIV/AIDS. Retrieved 14 January 2021, from https://www.cdc.gov/hiv/basics/livingwithhiv/opportunisticinfections.html

Mayo Clinic. (2021). HIV/AIDS – Symptoms and causes. Retrieved 14 January 2021, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/hiv-aids/symptoms-causes/syc-20373524

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2014). Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 87 Tahun 2014 Tentang Pedoman Pengobatan Antiretroviral. Retrieved 14 January 2021, from https://siha.kemkes.go.id/portal/files_upload/Buku_Permenkes_ARV_Cetak.pdf

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh dr. Maizan Khairun Nissa Diperbarui 05/02/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.
x