home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Pentingnya Pola Makan Sehat untuk Penderita HIV/ AIDS, Bagaimana Aturannya?

Pentingnya Pola Makan Sehat untuk Penderita HIV/ AIDS, Bagaimana Aturannya?

Seseorang yang terkena infeksi HIV/AIDS (ODHA) membutuhkan asupan makanan yang sehat. Pasalnya, perkembangan penyakit memungkinkan ODHA untuk mengalami penurunan berat badan yang drastis. Infeksi HIV juga memperlemah sistem imun sehingga ODHA rentan mengalami penyakit lain. Artinya, pola makan pengidap HIV/AIDS bukan hanya harus bergizi lengkap dan seimbang, melainkan juga higienis untuk mencegah kemungkinan infeksi dari makanan yang terkontaminasi.

Aturan pola makan sehat untuk pengidap HIV/AIDS

Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan nutrisi berperan penting dalam peningkatan kualitas hidup pengidap HIV/AIDS.

Infeksi HIV dapat membuat pengidapnya mengalami gangguan pencernaan seperti diare.

Hal ini tidak terlepas dari kerja sistem imun yang menurun sehingga tubuh sangat sensitif terhadap kuman penyakit yang berasal dari makanan.

Terlebih lagi, obat-obatan HIV juga bisa menimbulkan efek samping yang menurunkan nafsu makan. Tak heran, banyak ODHA yang kesulitan menaikkan berat badan atau menjaganya tetap ideal.

Oleh karena itu, penting bagi pengidap HIV/AIDS untuk mengikuti panduan pola makan yang bisa mendukup pengendalian penyakit seperti di bawah ini.

1. Memperbanyak kalori

makan karbohidrat cepat lapar

Semakin sering pengidap HIV/AIDS mengalami penurunan berat badan, semakin banyak asupan kalori yang dibutuhkan untuk mengembalikan berat badan yang hilang.

Kalori yang masuk nantinya akan diubah menjadi energi yang diperlukan untuk menjalankan fungsi setiap organ tubuh, termasuk sistem imun yang bekerja melawan infeksi HIV.

Nah, kalori bisa Anda dapatkan dari setiap makanan, baik sumber protein maupun lemak. Namun, cobalah untuk mengonsumsi lebih banyak sumber karbohidrat seperti nasi, jagung, kentang, dan ubi.

Kebutuhan kalori harian Anda tergantung dari kondisi kesehatan dan aktivitas yang dijalani. Berikut ini adalah perkiraan kebutuhan kalori per hari untuk diet penderita HIV/AIDS.

  • 17 kalori x 0,5 kg berat badan, jika Anda sedang menjaga berat badan.
  • 20 kalori x 0,5 kg berat badan, jika mengalami penyakit infeksi.
  • 25 kalori x 0,5 kg berat badan, jika Anda mengalami kehilangan berat badan.

WHO menganjurkan untuk meningkatkan asupan kalori sekitar 20-30% untuk pasien yang mengalami infeksi oportunistik (memasuki tahapan AIDS).

Meski begitu, upaya menjaga berat badan pada ODHA melalui penambahan kalori dibarengi dengan waktu istirahat yang cukup.

2. Memenuhi asupan protein

kebutuhan protein

Protein diperlukan untuk membantu membangun otot, organ, dan sistem kekebalan tubuh pasien HIV/AIDS.

Protein bisa Anda dapatkan dari hewan ataupun tumbuhan, seperti ayam, daging, ikan, susu, telur, kacang-kacangan, dan biji-bijian.

Saat merencanakan pola makan untuk pengidap HIV/AIDS, sebaiknya pilih daging tanpa lemak, daging ayam tanpa kulit, dan susu rendah lemak.

Kebutuhan protein dalam diet untuk penderita HIV/ AIDS adalah sebagai berikut.

  • 100-150 gram per hari untuk pria yang positif HIV.
  • 80-100 gram per hari untuk wanita yang positif HIV.

Sementara pengidap HIV/AIDS yeng memiliki penyakit ginjal harus membatasi asupan protein karena jika terlalu banyak bisa memperberat kerja ginjal.

Maka dari itu, pastikan asupan protein tidak lebih dari 15-20% dari kebutuhan kalori per hari.

3. Menambah konsumsi karbohidrat

karbohidrat untuk diet

Karbohidrat adalah sumber energi utama bagi tubuh yang penting dalam diet untuk penderita HIV/AIDS.

Kebutuhan karbohidrat bagi ODHA untuk menjalani hidup sehat setiap harinya rata-rata adalah sekitar 60%.

Untuk jenis karbohidrat berkualitas dengan jumlah yang cukup, pengidap HIV/AIDS bisa mendapatkannya dari beberapa sumber makanan sehat berikut ini.

  • Konsumsi buah-buahan dan sayuran sebanyak 5-6 porsi per hari.
  • Pilih berbagai jenis sayuran dan buah-buahan dengan warna yang berbeda sehingga Anda bisa mendapatkan semua nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh.
  • Konsumsi karbohidrat dengan serat tinggi, seperti beras merah, quinoa, gandum, oat, dan masih banyak lagi.
  • Batasi konsumsi gula sederhana yang bisa Anda dapatkan dari permen, cake, biskuit, atau es krim.

4. Sertai dengan sumber vitamin dan mineral yang bervariasi

jenis dan fungsi vitamin adalah

Vitamin dan mineral dibutuhkan tubuh Anda untuk membantu mengatur proses dalam tubuh Anda.

ODHA membutuhkan lebih banyak vitamin dan mineral untuk membantu memperbaiki sel-sel dan jaringan tubuh yang rusak akibat infeksi.

Selain itu, vitamin dan mineral membantu meningkatkan sistem kekebalan tubuh.

Berikut ini adalah daftar vitamin dan mineral yang perlu disertakan dalam diet untuk penderita HIV/AIDS.

  • Vitamin A dan betakaroten: sayuran dan buah berwarna hijau tua, kuning, oranye, dan merah, serta dari hati, telur, dan susu.
  • Zat besi: sayuran berdaun hijau, daging merah, hati, ikan, telur, seafood, dan gandum.
  • Vitamin B: daging, ikan, ayam, kacang-kacangan, biji-bijian, alpukat, dan sayuran berwarna hijau.
  • Selenium: kacang-kacangan, biji-bijian, unggas (ayam, bebek), ikan, telur, dan selai kacang.
  • Vitamin C: jeruk, kiwi, dan jambu biji.
  • Seng: daging, unggas, ikan, susu dan produk susu, serta kacang-kacangan.
  • Vitamin E: sayuran berwarna hijau, kacang-kacangan, dan minyak nabati.

Jika sulit untuk mendapatkan semua jenis vitamin dan mineral yang dibutuhkan oleh tubuh, Anda bisa memperolehnya dari konsumsi suplemen.

Namun, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter mengenai jenis suplemen yang dikonsumsi dan reaksinya dengan obat-obatan HIV.

5. Mengutamakan minum air putih

Minum air putih selama puasa sebelum tes darah

Air juga banyak dibutuhkan oleh tubuh Anda untuk membantu proses metabolisme yaitu penyerapan makanan menjadi energi.

Selain itu, tambahan konsumsi air juga dibutuhkan untuk kondisi berikut:

  • mengurangi efek samping obat,
  • membantu tubuh dalam mengeluarkan sisa-sisa obat atau membuang racun dalam tubuh, serta
  • mencegah dehidrasi, mulut kering, dan sembelit.

Untuk menjalani pola makan yang tepat, setidaknya pengidap HIV/AIDS harus minum sebanyak 8-10 gelas per hari.

Namun, terkadang Anda membutuhkan cairan lebih banyak dari ini karena mengalami gejala HIV/AIDS seperti diare atau muntah.

6. Mengatur konsumsi makanan berlemak

Lemak: Tokoh Jahat Dalam Diet

Lemak memberikan energi tambahan bagi Anda untuk beraktivitas. Kebutuhan lemak untuk penderita HIV/ AIDS adalah 30% dari total kebutuhan kalori per hari.

Pada diet untuk penderita HIV/AIDS, usahakan untuk memenuhi 10% kebutuhan lemak Anda dari lemak tak jenuh tunggal atau lemak baik.

Supaya mendapatkan lemak baik, Anda bisa mengonsumsi:

  • kacang-kacangan,
  • biji-bijian,
  • alpukat, dan
  • ikan.

Saat mengolah makanan, Anda bisa menggunakan minyak kanola, minyak zaitun, minyak kenari, minyak jagung, dan minyak biji bunga matahari.

Batasi penggunaan mentega dan minyak kelapa sawit.

7. Menjaga kebersihan makanan

kulit kering akibat sabun cuci piring

Pengidap HIV/AIDS rentan mengalami gangguan pencernaan yang disebabkan oleh infeksi bakteri atau virus yang berasal dari makanan.

Maka dari itu, dalam menjalani pola makan sehat, sangat penting bagi pengidap HIV/AIDS menyantap makanan yang bebas dari kontaminasi kuman penyakit.

Menurut National Institute of Health, berikut ini adalah langkah sederhana untuk menjaga makanan tetap higienis sehingga aman dikonsumsi.

  • Saat mempersiapkan makanan, cuci tangan, peralatan makan, bahan makanan mentah dengan bersih, terutama untuk sayur dan buah.
  • Pisahkan makanan yang siap disajikan sesuai dengan jenisnya guna menghindari penyebaran kuman dari satu makanan ke makanan lainnya. Sebagai contoh, menyimpan daging dengan sayuran dalam wadah yang berbeda.
  • Pastikan memasak makanan hingga matang. Bila perlu gunakan termometer makanan untuk mengukur kematangannya agar lebih akurat.
  • Simpan daging, telur, ikan, atau makanan lain yang cepat basi pada kulkas dalam temperatur dingin.
  • Pastikan untuk selalu mengecek tanggal kedaluwarsa sebelum mengonsumsi makanan yang dikemas.
  • Selalu panaskan kembali makanan sisa yang akan dikonsumsi.

Pada diet untuk penderita HIV, patuhi juga pantangan makanan untuk ODHA berikut karena lebih berisiko menyebabkan infeksi pencernaan:

  • telur mentah, setengah matang, atau saus salad yang mengandung telur,
  • sushi, hidangan laut, daging mentah, serta
  • susu atau produk susu yang tidak disterilisasi dengan pemanasan pada suhu 60°C–70°C selama 30 menit.

Pemenuhan nutrisi berperan penting dalam kesuksesan pengobatan setiap penyakit, terlebih untuk HIV/AIDS.

Berbeda dengan penyakit lainnya, pola makan untuk pengidap HIV/AIDS membutuhkan tambahan nutrisi yang lebih banyak. Anda juga perlu menerapkan kebersihan makan yang lebih ketat.

Jika kesulitan untuk menentukan menu makanan yang memenuhi kebutuhan nutrisi dan sesuai dengan kondisi penyakit Anda, konsultasikan dengan dokter spesialis gizi.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

WHO. (2003). Nutrient requirements for people living with HIV/AIDS. WHO Library Cataloguing-in-Publication Data. https://www.who.int/nutrition/publications/Content_nutrient_requirements.pdf

NIH. (2021). HIV and Nutrition and Food Safety. Retrieved 26 April 2021, from https://hivinfo.nih.gov/understanding-hiv/fact-sheets/hiv-and-nutrition-and-food-safety

UCSF Center for HIV. (2021). Diet and Nutrition. Retrieved 26 April 2021, from http://hivinsite.ucsf.edu/hiv?page=pb-daily-diet#S1X

Academy of Nutrition and Dietetics. (2020). Nutrition Tips to Keep the Immune System Strong for People with HIV/AIDS. Retrieved 26 April 2021, from https://www.eatright.org/health/diseases-and-conditions/hiv-aids/nutrition-tips-to-keep-the-immune-system-strong-for-people-with-hiv-aids

HIV.gov. (2017). Food Safety and Nutrition. Retrieved 26 April 2021, from https://www.hiv.gov/hiv-basics/living-healthy-with-hiv/taking-care-of-yourself/food-safety-and-nutrition

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Arinda Veratamala Diperbarui 08/07/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.