home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Berbagai Cara Penularan HIV, dari yang Umum Sampai Tak Terduga

Berbagai Cara Penularan HIV, dari yang Umum Sampai Tak Terduga

Kesadaran masyarakat mengenai penyakit HIV dan AIDS (HIV/AIDS) telah meningkat dalam beberapa dekade terakhir. Namun, bukan berarti upaya kita mencari cara memberantas penularan HIV berhenti sampai di situ. Sebab kenyataannya kasus HIV dan angka kematian akibat AIDS secara global masih cukup tinggi.

Memahami bagaimana cara penularan HIVmerupakan inti dari pencegahan penyebaran penyakitnya beserta komplikasi HIV yang merugikan. Terlebih, masih banyak mitos tentang penyebaran HIV dan AIDS beredar di luaran sana yang harus diluruskan agar kesalahpahaman tidak lagi menelan korban.

Cara penularan HIV yang paling umum

fantasi seks

Merangkum rilis media dari Kementerian Kesehatan RI, jumlah kasus baru HIV di Indonesia masih terus mengalami kenaikan sejak tahun 2005-2019.

Persentase kasus HIV sampai Juni 2019 naik sekitar 60,7% dari jumlah orang dengan HIV/AIDS (ODHA) pada tahun 2016 yang mencapai 640.443 jiwa.

Gambaran situasi ini menunjukkan bahwa masih diperlukan kesadaran yang lebih tinggi lagi agar berhasil mencegah penyebaran HIV semakin meluas.

Menurut Center for Disease Control and Prevention (CDC), penularan HIV hanya bisa terjadi lewat perantara cairan tubuh tertentu.

Cairan tubuh tersebut yaitu darah, air mani, cairan praejakulasi, cairan anus, cairan vagina, dan ASI.

Namun, agar virus penyebab HIV dapat berpindah dari orang yang terinfeksi, cairan tersebut haruslah masuk ke dalam tubuh orang yang sehat melalui:

  • Luka terbuka di kulit, seperti luka di sekitar organ intim, sariawan terbuka di bibir, luka pada gusi atau lidah.
  • Selaput lendir pada dinding vagina.
  • Jaringan tubuh yang rusak seperti luka lecet pada anus.
  • Aliran darah dari suntikan jarum.

Berikut ini adalah beberapa cara penularan HIV/AIDS yang utama:

1. Hubungan seks tanpa kondom

Hubungan seks yang melibatkan penetrasi vaginal (penis ke vagina) atau penetrasi anus (penis ke dubur) tanpa menggunakan kondom merupakan cara penularan HIV/AIDS yang paling umum.

Penularan virus HIV lewat hubungan seks rentan terjadi dari kontak darah, air mani, cairan vagina, atau cairan praejakulasi milik orang yang terinfeksi HIV.

Cairan tersebut bisa dengan mudah menginfeksi tubuh orang lain ketika ada luka terbuka atau lecet pada alat kelamin.

Penularan dari seks vaginal paling umum terjadi pada kelompok pasangan heteroseksual, sedangkan seks anal lebih berisiko menularkan HIV pada kelompok pasangan homoseksual.

Oleh sebab itu, penting untuk selalu melindungi diri Anda dengan menggunakan kondom saat melakukan aktivitas seksual apa pun.

Kondom dapat mencegah penularan HIV karena menghalangi masuknya virus pada cairan sperma atau vagina.

2. Memakai jarum suntik bekas atau bergantian

Menggunakan jarum suntik bekas secara bergantian juga termasuk cara penularan HIV/AIDS yang umum. Risiko ini tinggi khususnya di kalangan pengguna narkoba suntik.

Jarum yang telah digunakan oleh orang lain akan meninggalkan sisa-sisa darah. Jika orang tersebut terinfeksi HIV, darah mengandung virus yang tertinggal pada jarum dapat berpindah ke tubuh pemakai jarum selanjutnya melalui luka bekas suntikan.

Virus HIV nyatanya dapat hidup di dalam jarum suntik selama 42 hari setelah kontak pertama kali tergantung pada suhu dan faktor lainnya.

Ada kemungkinan bahwa satu jarum bekas dapat menjadi perantara penularan HIV kepada banyak orang yang berbeda.

Maka dari itu, pastikan untuk selalu minta peralatan seperti jarum atau alat kesehatan lainnya yang masih dalam kemasan baru tersegel dan belum pernah dipakai sebelumnya.

3. Penularan HIV dari ibu ke bayi

Ibu hamil yang terjangkit HIV sebelum maupun selama masa kehamilan dapat menularkan infeksi kepada bayinya lewat tali plasenta di dalam kandungan.

Risiko penularan virus HIV dari ibu ke bayi juga dapat terjadi selama proses persalinan, baik melahirkan normal maupun operasi caesar.

Di sisi lain, Ibu dengan HIV yang menyusui juga bisa menularkan virus pada bayi melalui ASI.

Atas dasar itulah, tantangan bagi ibu menyusui yang mengidap HIV yakni dilaran memberikan ASI kepada bayinya.

Selain itu, penularan juga dapat terjadi pada bayi melalui makanan yang dikunyahkan oleh ibu atau perawat yang terinfeksi HIV, meski risikonya sangatlah rendah.

Sebagai upaya menghindari penyebaran HIV dari ibu ke bayi, penting untuk selalu berkonsultasi ke dokter saat sedang merencanakan kehamilan.

Apabila HIV pada ibu bisa dideteksi sejak awal, penularan ke bayi bisa dicegah dengan minum obat secara rutin.

Berbagai cara penularan HIV yang tidak umum

Penularan hepatitis C melalui ransfusi darah

Berikut ini adalah cara penularan tidak terduga atau kurang umum yang dapat menyebabkan Anda mengidap virus HIV dan kemudian AIDS:

1. Seks oral

Semua bentuk hubungan seks oral dianggap berisiko rendah untuk penularan virus HIV, tetapi bukan berarti mustahil. Risiko penularan dari seks oral masih tetap ada.

Bahkan, risiko tersebut bisa semakin besar jika Anda melakukan ejakulasi di dalam mulut dan tidak menggunakan kondom maupun pelindung mulut lain (seperti dental dan/kondom wanita).

Penularan HIV dapat terjadi saat Anda merangsang atau mengulum kelamin pasangan yang terinfeksi HIV dengan lidah dan Anda sedang memiliki luka atau sariawan terbuka di dalam mulut.

Bagaimana dengan ciuman? Jika ciuman hanya terjadi pertukaran liur saja, virus HIV tidak akan menyebar.

Berbeda jika saat berciuman terdapat luka, sariawan, atau kontak darah antara Anda dan pasangan yang memiliki virus HIV, penularan dapat terjadi.

Hal yang sama juga berlaku bila bibir atau lidah Anda tak sengaja tergigit oleh pasangan selama berciuman, luka baru itu dapat menjadi gerbang masuk bagi virus HIV melalui air liur pasangan.

2. Donor darah dan cangkok organ

Transfusi darah langsung dari donor darah yang terinfeksi berisiko tinggi untuk menularkan virus HIV.

Namun, penularan virus HIV melalui donor darah dan cangkok organ termasuk kurang umum. Pasalnya, ada seleksi yang cukup ketat bagi calon pendonor sebelum melakukan donor darah.

Pendonor darah atau organ biasanya menjalani pemeriksaan terlebih dahulu, termasuk tes darah HIV.

Hal ini bertujuan untuk meminimalisir penularan HIV dengan cara donor organ dan darah.

Risiko lolosnya darah yang terinfeksi HIV hingga digunakan untuk transfusi sebenarnya kecil. Ini karena pendonor darah dan organ cangkok wajib melalui proses seleksi yang ketat.

Jadi, transfusi darah yang diterima dan nantinya diberikan kepada orang yang membutuhkan darah sebenarnya aman.

Jika ternyata ada satu saja donasi yang terlambat diketahui positif, darah akan langsung dibuang sementara organ calon pencangkokan juga tidak akan dipakai.

Sayangnya, beberapa negara berkembang mungkin tidak memiliki teknologi atau peralatan terkait untuk menguji semua darah dan mencegah penularan HIV/AIDS.

Mungkin ada beberapa sampel sumbangan produk darah yang telah diterima ternyata mengandung HIV. Untungnya, kejadian ini terhitung langka.

3. Digigit oleh orang dengan HIV

Menurut sebuah penelitian tahun 2011 dari jurnal AIDS Research and Therapy, ada kemungkinan biologis yang menyatakan gigitan sesama manusia dapat menjadi cara penularan HIV yang tak terduga.

Air liur selama ini diteliti kurang efektif sebagai perantara pembawa virus HIV karena punya sifat penghambat virus. Namun, kasus yang diteliti dalam jurnal tersebut terbilang unik.

Dalam jurnal tersebut diceritakan bahwa jari tangan seorang pria sehat non-HIV yang memiliki diabetes digigit oleh anak angkatnya yang positif HIV. Jari tangan pria tersebut digigit cukup keras dan dalam sehingga bagian dalam kukunya berdarah.

Beberapa waktu setelah digigit, pria tersebut dinyatakan positif HIV dan terdeteksi memiliki viral load tinggi setelah mengalami demam HIV tinggi dan berbagai infeksi.

Para dokter dan peneliti pada akhirnya menyimpulkan sementara bahwa air liur bisa menjadi media penyebaran HIV, meski belum yakin benar bagaimana mekanisme pastinya.

Diperlukan penelitian dan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan cara penularan HIV yang satu ini.

4. Pakai mainan seks (sex toys)

Penetrasi seks, entah itu lewat vaginal (penis ke vagina), oral (alat kelamin dan mulut), atau anal (penis ke dubur), dengan pasangan yang mengidap HIV dan AIDS bisa membuat Anda tertular.

Tidak hanya lewat kelamin ke kelamin secara langsung, penggunaan benda atau mainan seperti boneka seks berisiko menularkan penyakit, termasuk HIV. Kondisi tersebut semakin berisiko jika mainan seks yang Anda pakai tidak dilapisi pelindung.

Penularan virus HIV dan AIDS dari satu orang ke yang lainnya sering terjadi ketika mainan seks dipakai bergantian. Bila Anda atau pasangan mengidap HIV, jangan menggunakan mainan seks secara bergantian dalam satu sesi bercinta.

Virus HIV memang umumnya tidak bisa hidup lama-lama di permukaan benda mati. Namun, mainan seks yang masih basah oleh sperma, darah, atau cairan vagina bisa saja menjadi perantara virus berpindah ke orang lain.

5. Melakukan piercing, sulam alis, tato alis, sulam bibir

Menindik bagian tubuh atau membuat tato juga dapat meningkatkan risiko penularan HIV. Cara penularan HIV pada proses ini terjadi apabila saat proses menindik dan membuat tato, kulit yang ditusuk kemudian terluka hingga mengeluarkan darah.

Jika alat dipakai secara bergantian, bisa saja orang yang terinfeksi HIV meninggalkan bekas darahnya yang mengandung virus.

Sebenarnya melakukan sulam alis, tato alis, dan sulam bibir cukup aman untuk kesehatan. Namun, tren kecantikan yang sedang naik daun ini juga dapat menjadi cara penularan HIV dan AIDS.

Hal ini bisa terjadi jika proses tersebut dilakukan oleh pegawai yang tidak berpengalaman dan tidak menggunakan peralatan steril. Pasalnya, prosedur sulam atau tato wajah ini melibatkan pengirisan kulit terbuka.

Untuk mencegah penyebaran HIV, sebelum Anda duduk dan disulam alis atau bibirnya, pastikan bahwa semua peralatan yang digunakan masih steril.

6. Bekerja di rumah sakit

Mungkin sekilas Anda berpikir bahwa petugas medis adalah orang paling sehat karena memiliki akses dan pengetahuan yang mumpuni tentang kesehatan.

Namun, selain pengguna narkoba yang berbagi jarum suntik secara sengaja, risiko penularan HIV juga tinggi pada tenaga medis.

Tenaga medis ini meliputi dokter, perawat, petugas laboratorium, hingga petugas pembersih limbah fasilitas kesehatan lewat perantara alat medis.

Jarum suntik dapat menjadi perantara virus HIV saat darah pasien yang positif HIV dapat berpindah kepada petugas kesehatan jika mereka memiliki luka terbuka yang tidak terlindungi oleh pakaian.

HIV juga dapat ditularkan ke petugas kesehatan lewat cara berikut:

  • Jika jarum suntik yang telah dipakai oleh pasien positif HIV tidak sengaja tertancap ke petugas kesehatan (disebut juga needle-stick injury).
  • Jika darah yang terkontaminasi HIV mengenai membran mukosa, seperti mata, hidung, dan mulut.
  • Lewat peralatan kesehatan lain yang digunakan tanpa disterilkan.

Meski begitu, peluang penyebaran virus HIV di antara petugas medis di fasilitas kesehatan melalui jarum suntik bekas tergolong kecil.

Ini karena semua fasilitas kesehatan dari yang paling kecil maupun skala internasional memiliki protokol keamanan yang sudah terstandarisasi.

Risiko penularan HIV tinggi apabila viral load tinggi

Ciri HIV di Tahun Pertama

Selain mempertimbangkan risiko penularan dari jenis cairan perantaranya, Anda juga perlu mengetahui jumlah viral load HIV di dalam tubuh.

Viral load adalah jumlah partikel virus dalam 1 ml atau 1 cc darah. Semakin banyak jumlah virus dalam darah, berarti semakin tinggi risiko Anda untuk menularkan HIV pada orang lain.

Maka ketika viral load dari orang yang positif HIV berhasil diturunkan lewat pengobatan HIV, peluang penularan HIV juga ikut berkurang.

Namun, penyebaran HIV dari seseorang yang terinfeksi virus kepada pasangannya masih mungkin terjadi meski hasil tes viral load menunjukkan bahwa virus sudah tidak lagi terdeteksi.

Risiko penularan HIV dari ODHA ke pasangan seksnya tetap akan ada karena:

  • Tes viral load hanya mengukur jumlah virus dalam darah. Jadi, virus HIV masih dapat ditemukan dalam cairan kelamin (sperma, cairan vagina).
  • Viral load dapat meningkat di antara jadwal tes rutin. Jika ini terjadi, pengidap HIV berpeluang lebih besar untuk menularkan HIV kepada pasangannya.
  • Memiliki penyakit menular seksual lainnya dapat meningkatkan viral load dalam cairan kelamin.

Jika Anda aktif secara seksual, Anda dan pasangan harus mempertimbangkan menjalani tes HIV sebagai langkah untuk mencegah penularan penyakit.

Cara penularan HIV yang tidak mungkin

kurang tidur merusak hubungan

HIV tidak dapat bereproduksi dalam inang selain manusia, dan tidak mampu bertahan di luar tubuh manusia dalam waktu yang lama.

Maka, penularan HIV tidak akan mungkin terjadi lewat cara berikut:

  • Gigitan hewan, seperti gigitan nyamuk, kutu, atau serangga lainnya.
  • Interaksi fisik antarmanusia yang tidak melibatkan pertukaran cairan tubuh, misalnya:
    • Bersentuhan dan berpelukan
    • Berjabat atau berpegangan tangan
    • Tidur bersama di satu ranjang tanpa melakukan aktivitas seksual
    • Cipika-cipiki
  • Berbagi alat makan dan saling pinjam pakaian atau handuk dengan pengidap HIV.
  • Menggunakan kamar mandi/toilet yang sama.
  • Berenang di kolam renang umum bersama pengidap HIV.
  • Air liur, air mata, atau keringat yang tidak bercampur dengan darah dari orang yang positif HIV.
  • Aktivitas seksual lainnya yang tidak melibatkan pertukaran cairan tubuh, misalnya ciuman bibir dan petting (menggesekkan alat kelamin) dengan masih saling berpakaian lengkap.

Air liur, air mata, dan keringat bukanlah perantara penularan HIV yang ideal. Hal ini dikarenakan cairan-cairan tersebut tidak mengandung jumlah virus aktif yang cukup banyak untuk bisa menularkan infeksi ke orang lain.

Selain itu, virus HIV hanya bisa bertahan selama beberapa hari atau minggu di laboratorium dengan kondisi yang sesuai seperti di dalam tubuh manusia.

Berikut adalah prinsip-prinsip yang perlu dipahami soal peluang virus HIV bertahan hidup:

  • HIV sensitif terhadap suhu tinggi, yakni akan mati pada suhu panas, yakni di atas 60 derajat Celcius.
  • HIV lebih mampu bertahan hidup di laboratorium pada suhu dingin, yaitu sekitar 4 hingga -70 derajat Celsius.
  • HIV sangat sensitif terhadap perubahan kadar pH atau tingkat basa-asam. Kadar pH di bawah 7 (asam) atau di atas 8 (basa) tidak mendukung kelangsungan hidup HIV.
  • HIV bisa bertahan dalam darah kering di laboratorium pada suhu kamar selama 5-6 hari, tetapi harus dengan tingkat pH yang mendukung.

HIV adalah virus yang berkembang dengan cepat, tetapi untungnya penyebaran virus ini tetap bisa dicegah dan dikendalikan.

Oleh karena itu, ada baiknya Anda dan pasangan mewaspadai risiko penularannya dengan rutin menjalani tes penyakit kelamin tahunan.

Banyak orang-orang yang tidak mengetahui atau bahkan menyadari bahwa dirinya telah terinfeksi karena di awal gejala HIV umumnya tidak langsung muncul.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Alder, M. W. (2012). ABC of HIV and AIDS, 6th Edition. BMJ Books. London. https://www.wiley.com/en-gb/ABC+of+HIV+and+AIDS%2C+6th+Edition-p-9781118425909

Maartens, G., Celum, C., & Lewin, S. (2014). HIV infection: epidemiology, pathogenesis, treatment, and prevention. The Lancet, 384(9939), 258-271. https://www.doi.org/10.1016/s0140-6736(14)60164-1

Deshpande, A. K., Jadhav, S. K., & Bandivdekar, A. H. (2011). Possible transmission of HIV Infection due to human bite. AIDS research and therapy8, 16. https://doi.org/10.1186/1742-6405-8-16

CDC. (2021). HIV Transmission | HIV Basics | HIV/AIDS | Retrieved 15 January 2021, from https://www.cdc.gov/hiv/basics/transmission.html

Avert. (2015). Blood transfusions & transplants and HIV. Retrieved 15 January 2021, from https://www.avert.org/hiv-transmission-prevention/blood-transfusions-transplants

ACOG. (2021). HIV and Pregnancy. Retrieved 15 January 2021, from https://www.acog.org/womens-health/faqs/hiv-and-pregnancy?utm_source=redirect&utm_medium=web&utm_campaign=otn

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh Fidhia Kemala
Tanggal diperbarui 26/01/2021
x