5 Macam Obat Antiretroviral (ARV) Dalam Pengobatan HIV/AIDS

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 5 Februari 2021 . Waktu baca 8 menit
Bagikan sekarang

Pengobatan HIV dan AIDS umumnya dianjurkan dokter dengan menggunakan terapi antiretroviral (ARV). Terapi ini terdiri dari kombinasi obat antiviral untuk infeksi HIV. Pengobatan dengan obat ARV dianjurkan untuk semua orang dengan HIV/AIDS (ODHA), terlepas dari seberapa lama terinfeksi atau seberapa sehatnya kondisinya.

Nah, apa saja pilihan obat antiretroviral sebagai cara pengobatan HIV dan AIDS?

Cara pengobatan HIV/AIDS dengan obat antiretroviral (ARV)

obat arv retroviral untuk hiv aids

HIV/AIDS adalah kondisi kronis yang disebabkan oleh infeksi human immunodeficiency virus.

Pada orang yang terinfeksi HIV, sistem kekebalan tubuh akan melemah sehingga sulit melindungi dari berbagai penyakit infeksi. Bagi kebanyakan orang, minum obat ARV sangat efektif untuk mengendalikan gejala HIV.

Obat ini diharapkan dapat mengendalikan infeksi virus sehingga pasien ODHA bisa hidup sehat sekaligus mengurangi risiko penularan kepada orang lain.

Obat antiretroviral (ARV) bekerja dengan cara mengurangi jumlah viral load HIV sampai ke kadar yang sangat rendah, bahkan mungkin virus tidak lagi terdeteksi dalam tes viral load untuk HIV.

Dengan begitu, infeksi virus HIV tidak dapat menyebabkan gangguan pada sistem imun. Viral load HIV adalah perbandingan jumlah partikel virus HIV per 1 mililiter dalam darah.

Selain itu, menurut laman informasi HIV.gov, pengidap HIV/AIDS yang rutin minum obat ARV memiliki risiko sangat rendah untuk menularkan penyakit HIV secara seksual pada pasangannya yang HIV-negatif.

Berikut adalah berbagai golongan obat antiretroviral yang biasanya digunakan dalam pengobatan HIV:

1. Integrase strand transfer inhibitors (INSTIs)

Obat INSTIs adalah obat yang menghentikan aksi integrase. Integrase adalah enzim virus HIV yang digunakan untuk menginfeksi sel T dengan memasukkan DNA HIV ke dalam DNA manusia.

Obat integrase inhibitor biasanya diberikan pertama kali sejak seseorang didiagnosis tertular HIV.

Obat ini diberikan karena diyakini cukup ampuh untuk mencegah jumlah virus bertambah banyak dengan risiko efek samping yang sedikit. 

Berikut ini adalah jenis-jenis integrase inhibitor:

  • Bictegravir (tidak ada obat tunggalnya, tapi tersedia dalam kombinasi obat)
  • Dolutegravir 
  • Elvitegravir (tidak tersedia sebagai obat yang berdiri sendiri, tetapi tersedia dalam kombinasi obat Genvoya dan Stribild)
  • Raltegravir 

2. Nucleoside/Nucleotide Reverse Transcriptase Inhibitors (NRTI)

NRTI adalah salah satu golongan obat antiretroviral yang digunakan dalam pengobatan HIV dan AIDS. 

Obat antiretroviral ini bertugas mengganggu kemampuan virus untuk memperbanyak diri di dalam tubuh. 

Lebih spesifiknya, NRTI bekerja dengan cara menghalangi enzim HIV untuk bereplikasi. Biasanya, virus HIV akan memasuki sel-sel sistem kekebalan tubuh. Sel-sel ini disebut sel CD4 atau sel T.

Setelah virus HIV memasuki sel CD4, virus mulai menggandakan atau memperbanyak diri. Normalnya, sel sehat akan mengubah materi genetik dari DNA ke RNA.

Namun, virus HIV yang masuk ke dalam tubuh akan mengubah materi genetik menjadi kebalikannya, yakni dari RNA menjadi DNA. Proses ini disebut transkripsi terbalik dan membutuhkan enzim yang disebut reverse transcriptase.

Cara kerja obat NRTI yaitu dengan mencegah enzim reverse transcriptase virus menyalin RNA menjadi DNA. Tanpa adanya DNA, HIV dan AIDS tidak dapat memperbanyak diri.

Obat NRTI untuk HIV dan AIDS biasanya terdiri dari 2-3 kombinasi obat bertikut

  • Abacavir, lamivudine, dan zidovudine
  • Abacavir dan lamivudine 
  • Emtricitabine dan tenofovir alafenamide fumarate 
  • Emtricitabin dan tenofovir disoproxil fumarate 
  • Lamivudine dan tenofovir disoproxil fumarate 
  • Lamivudine dan zidovudine

3. Cytochrome P4503A (CYP3A) inhibitors

Cytochrome P4503A adalah enzim dalam organ hati yang membantu beberapa fungsi tubuh. Enzim ini dapat memecah atau obat-obatan yang masuk ke dalam tubuh. 

Cara pengobatan dengan CYP3A yakni meningkatkan fungsi kadar obat HIV serta obat non-HIV lainnya yang masuk ke dalam tubuh. Alhasil, efek pengobatan pun lebih manjur untuk mengoptimalkan kondisi kesehatan pasien.

Berikut adalah beberapa contoh obat ARV dari jenis CYP3A:

Obat cobicistat yang diminum tunggal atau tanpa campuran obat lain tidak mampu bekerja sebagai anti-HIV yang maksimal. Maka dari itu, ia selalu dipasangkan dengan obat ARV lain, misalnya dengan obat ritonavir.

Obat ritonavir pada dasarnya dapat bekerja sebagai antiretroviral bila digunakan sendiri.

Namun, ketika diminum sendiri, kedua obat tersebut harus digunakan dalam dosis yang cukup tinggi. Itu sebabnya, keduanya sering digabung agar pengobatan HIV dan AIDS lebih optimal.

4. Protease inhibitor (PI)

Protease inhibitor adalah salah satu obat HIV dan AIDS yang bekerja dengan cara mengikat enzim protease. 

Untuk bisa menyalin virus di dalam tubuh, HIV membutuhkan enzim protease. Jadi, ketika protease diikat oleh obat protease inhibitor, virus HIV tidak akan bisa membuat salinan virus baru.

Hal ini berguna untuk mengurangi jumlah virus HIV yang bisa menginfeksi lebih banyak sel sehat.

Obat-obatan PI yang digunakan untuk mengobati HIV dan AIDS antara lain sebagai berikut:

  • Atazanavir 
  • Darunavir 
  • Fosamprenavir 
  • Lopinavir (tidak tersedia sebagai obat yang berdiri sendiri, tetapi tersedia dengan ritonavir dalam kombinasi obat Kaletra)
  • Ritonavir 
  • Tipranavir 

Protease inhibitor hampir selalu digunakan bersamaan dengan cobicistat atau ritonavir yang termasuk golongan obat CYP3A.

Sebetulnya obat PI dapat diberikan sebagai obat tunggal, tetapi dokter selalu meresepkan dengan memberikan obat antiretroviral lainnya agar lebih ampuh. 

5. Entry inhibitors

Pengobatan menggunakan entry inhibitors bekerja dengan cara menghalangi virus HIV dan AIDS memasuki sel T yang sehat. Namun, obat ini jarang digunakan sebagai pengobatan pertama untuk HIV.

Ada 3 jenis obat entry inhibitor yang juga dapat membantu meredakan HIV dan AIDS. 

Fusion inhibitor

Fusion inhibitor adalah jenis obat lain yang termasuk dalam terapi HIV. HIV membutuhkan inang sel T untuk bisa memperbanyak diri. 

Nah, fusion inhibitor bekerja menghalangi virus HIV dan AIDS memasuki sel T inang. Ini karena fusion inhibitor mencegah virus HIV untuk memperbanyak diri. Hanya satu inhibitor fusi yang saat ini tersedia, yaitu enfuvirtide (Fuzeon).

Post-attachment inhibitors

Ibalizumab-uiyk (Trogarzo) adalah obat yang termasuk dalam jenis post attachment inhibitor. Obat ini sudah digunakan di Amerika melalui beberapa penelitian yang sebelumnya telah dilakukan oleh BPOM negara tersebut. 

Obat ini bekerja dengan cara mencegah virus berkembang bertambah banyak sekaligus mencegah HIV memasuki sel tertentu yang dapat mengacaukan sistem kekebalan tubuh.

Agar cara pengobatan HIV dan AIDS lebih optimal, obat ini harus digunakan dengan obat ARV lainnya.

Chemokine coreceptor antagonists (CCR5 antagonis)

CCR5 antagonis adalah obat HIV dan AIDS yang bekerja dengan  menghalangi virus HIV memasuki sel kekebalan tubuh.

Meski demikian, jenis antiretroviral ini belum pasti diresepkan dalam pengobatan HIV dan masih butuh penelitian lebih lanjut. 

Obat antagonis CCR5 yang saat ini tersedia berupa  maraviroc (Selzentry).

Efek samping dari terapi obat HIV dan AIDS

obat tekanan darah tinggi

Meskipun wajib diminum setiap hari, konsumsi obat ARV memiliki efek samping. Biasanya, efek samping akan timbul setelah obat diminum pertama kali.

Berikut adalah beberapa efek samping yang bisa terjadi:

Obat-obatan ini dapat menyebabkan efek samping selama beberapa minggu pertama. Jika efek samping bertambah buruk atau bertahan lebih lama dari beberapa minggu, sebaiknya konsultasikan ke dokter lebih lanjut. 

Dokter mungkin akan menyarankan beberapa tips dan cara untuk meringankan efek samping pengobatan HIV dan AIDS. Bila diperlukan, dokter dapat memberikan resep obat yang berbeda sesuai kebutuhan Anda.

Selain itu, mengonsumsi lebih dari satu obat antiretroviral juga membantu mencegah efek samping antiretroviral dan resistensi terhadap salah satu obat yang digunakan.

Pengobatan ARV sebaiknya sesegera mungkin dilakukan setelah terdiagnosis HIV. Ini karena terapi obat ARV diharapkan dapat membantu meningkatkan kualitas hidup pasien HIV/AIDS.

Dengan begitu, ODHA bisa hidup dengan normal dan terhindar dari infeksi oportunistik yang menyebabkan AIDS.

Kalkulator Masa Subur

Ingin Cepat Hamil? Cari tahu waktu terbaik untuk bercinta dengan suami lewat kalkulator berikut.

Kapan Ya?
general

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Berbagai Cara Penularan HIV, dari yang Umum Sampai Tak Terduga

Cara penularan HIV tak hanya semata lewat seks bebas dan narkoba. HIV AIDS bisa ditularkan pada siapa saja dan kapan saja lewat cara-cara mengejutkan ini.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
HIV/AIDS, Kesehatan Seksual 26 Januari 2021 . Waktu baca 14 menit

4 Jenis Tes HIV yang Mungkin Dianjurkan Dokter, Plus Siapa Saja yang Perlu

Tes HIV tidak hanya disarankan untuk orang yang baru saja terinfeksi. Lalu siapa saja yang butuh pemeriksaan HIV, dan apa saja jenis tes yang tersedia?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
HIV/AIDS, Kesehatan Seksual 25 Januari 2021 . Waktu baca 12 menit

HIV dan AIDS (HIV/AIDS)

HIV dan AIDS (HIV/AIDS) adalah penyakit kronis yang melemahkan sistem imun tubuh. Apa saya gejala dan penyebabnya? Bagaimana mengatasi kondisi ini?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
HIV/AIDS, Kesehatan Seksual 22 Januari 2021 . Waktu baca 13 menit

Obat Nyeri Otot: Mulai dari Obat Resep Dokter Hingga Herbal

Nyeri otot dapat mengganggu aktivitas harian. Temukan berbagai obat nyeri otot yang ampuh, mulai dari obat resep dokter hingga obat herbal.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Kesehatan Muskuloskeletal, Myalgia (Nyeri Otot) 17 Januari 2021 . Waktu baca 10 menit

Direkomendasikan untuk Anda

disunat

Disunat Atau Tidak, Mana yang Lebih Baik untuk Kesehatan?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
Dipublikasikan tanggal: 17 Februari 2021 . Waktu baca 4 menit
obat sakit perut sesuai penyebab

8 Obat Ampuh untuk Sakit Perut Sesuai Penyebabnya

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 4 Februari 2021 . Waktu baca 9 menit
Gejala awal HIV/AIDS

Mengenali Gejala Awal HIV yang Bisa Muncul Setelah Paparan Pertama

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Dipublikasikan tanggal: 2 Februari 2021 . Waktu baca 8 menit
Gejala dan tanda-tanda HIV AIDS

Mendeteksi Gejala HIV & AIDS Sesuai Dengan Stadiumnya

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: dr. Maizan Khairun Nissa
Dipublikasikan tanggal: 28 Januari 2021 . Waktu baca 12 menit