home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

5 Macam Obat Antiretroviral (ARV) Dalam Pengobatan HIV/AIDS

5 Macam Obat Antiretroviral (ARV) Dalam Pengobatan HIV/AIDS

Pengobatan HIV dan AIDS umumnya dianjurkan dokter dengan menggunakan terapi antiretroviral (ARV). Terapi ini terdiri dari kombinasi obat antiviral untuk infeksi HIV. Pengobatan dengan obat ARV dianjurkan untuk semua orang dengan HIV/AIDS (ODHA), terlepas dari seberapa lama terinfeksi atau seberapa sehatnya kondisinya.

Nah, apa saja pilihan obat antiretroviral sebagai cara pengobatan HIV dan AIDS?

Cara pengobatan HIV/AIDS dengan obat antiretroviral (ARV)

obat arv retroviral untuk hiv aids

HIV/AIDS adalah kondisi kronis yang disebabkan oleh infeksi human immunodeficiency virus.

Pada orang yang terinfeksi HIV, sistem kekebalan tubuh akan melemah sehingga sulit melindungi dari berbagai penyakit infeksi. Bagi kebanyakan orang, minum obat ARV sangat efektif untuk mengendalikan gejala HIV.

Obat ini diharapkan dapat mengendalikan infeksi virus sehingga pasien ODHA bisa hidup sehat sekaligus mengurangi risiko penularan kepada orang lain.

Obat antiretroviral (ARV) bekerja dengan cara mengurangi jumlah viral load HIV sampai ke kadar yang sangat rendah, bahkan mungkin virus tidak lagi terdeteksi dalam tes viral load untuk HIV.

Dengan begitu, infeksi virus HIV tidak dapat menyebabkan gangguan pada sistem imun. Viral load HIV adalah perbandingan jumlah partikel virus HIV per 1 mililiter dalam darah.

Selain itu, menurut laman informasi HIV.gov, pengidap HIV/AIDS yang rutin minum obat ARV memiliki risiko sangat rendah untuk menularkan penyakit HIV secara seksual pada pasangannya yang HIV-negatif.

Berikut adalah berbagai golongan obat antiretroviral yang biasanya digunakan dalam pengobatan HIV:

1. Integrase strand transfer inhibitors (INSTIs)

Obat INSTIs adalah obat yang menghentikan aksi integrase. Integrase adalah enzim virus HIV yang digunakan untuk menginfeksi sel T dengan memasukkan DNA HIV ke dalam DNA manusia.

Obat integrase inhibitor biasanya diberikan pertama kali sejak seseorang didiagnosis tertular HIV.

Obat ini diberikan karena diyakini cukup ampuh untuk mencegah jumlah virus bertambah banyak dengan risiko efek samping yang sedikit.

Berikut ini adalah jenis-jenis integrase inhibitor:

  • Bictegravir (tidak ada obat tunggalnya, tapi tersedia dalam kombinasi obat)
  • Dolutegravir
  • Elvitegravir (tidak tersedia sebagai obat yang berdiri sendiri, tetapi tersedia dalam kombinasi obat Genvoya dan Stribild)
  • Raltegravir

2. Nucleoside/Nucleotide Reverse Transcriptase Inhibitors (NRTI)

NRTI adalah salah satu golongan obat antiretroviral yang digunakan dalam pengobatan HIV dan AIDS.

Obat antiretroviral ini bertugas mengganggu kemampuan virus untuk memperbanyak diri di dalam tubuh.

Lebih spesifiknya, NRTI bekerja dengan cara menghalangi enzim HIV untuk bereplikasi. Biasanya, virus HIV akan memasuki sel-sel sistem kekebalan tubuh. Sel-sel ini disebut sel CD4 atau sel T.

Setelah virus HIV memasuki sel CD4, virus mulai menggandakan atau memperbanyak diri. Normalnya, sel sehat akan mengubah materi genetik dari DNA ke RNA.

Namun, virus HIV yang masuk ke dalam tubuh akan mengubah materi genetik menjadi kebalikannya, yakni dari RNA menjadi DNA. Proses ini disebut transkripsi terbalik dan membutuhkan enzim yang disebut reverse transcriptase.

Cara kerja obat NRTI yaitu dengan mencegah enzim reverse transcriptase virus menyalin RNA menjadi DNA. Tanpa adanya DNA, HIV dan AIDS tidak dapat memperbanyak diri.

Obat NRTI untuk HIV dan AIDS biasanya terdiri dari 2-3 kombinasi obat bertikut

  • Abacavir, lamivudine, dan zidovudine
  • Abacavir dan lamivudine
  • Emtricitabine dan tenofovir alafenamide fumarate
  • Emtricitabin dan tenofovir disoproxil fumarate
  • Lamivudine dan tenofovir disoproxil fumarate
  • Lamivudine dan zidovudine

3. Cytochrome P4503A (CYP3A) inhibitors

Cytochrome P4503A adalah enzim dalam organ hati yang membantu beberapa fungsi tubuh. Enzim ini dapat memecah atau obat-obatan yang masuk ke dalam tubuh.

Cara pengobatan dengan CYP3A yakni meningkatkan fungsi kadar obat HIV serta obat non-HIV lainnya yang masuk ke dalam tubuh. Alhasil, efek pengobatan pun lebih manjur untuk mengoptimalkan kondisi kesehatan pasien.

Berikut adalah beberapa contoh obat ARV dari jenis CYP3A:

Obat cobicistat yang diminum tunggal atau tanpa campuran obat lain tidak mampu bekerja sebagai anti-HIV yang maksimal. Maka dari itu, ia selalu dipasangkan dengan obat ARV lain, misalnya dengan obat ritonavir.

Obat ritonavir pada dasarnya dapat bekerja sebagai antiretroviral bila digunakan sendiri.

Namun, ketika diminum sendiri, kedua obat tersebut harus digunakan dalam dosis yang cukup tinggi. Itu sebabnya, keduanya sering digabung agar pengobatan HIV dan AIDS lebih optimal.

4. Protease inhibitor (PI)

Protease inhibitor adalah salah satu obat HIV dan AIDS yang bekerja dengan cara mengikat enzim protease.

Untuk bisa menyalin virus di dalam tubuh, HIV membutuhkan enzim protease. Jadi, ketika protease diikat oleh obat protease inhibitor, virus HIV tidak akan bisa membuat salinan virus baru.

Hal ini berguna untuk mengurangi jumlah virus HIV yang bisa menginfeksi lebih banyak sel sehat.

Obat-obatan PI yang digunakan untuk mengobati HIV dan AIDS antara lain sebagai berikut:

  • Atazanavir
  • Darunavir
  • Fosamprenavir
  • Lopinavir (tidak tersedia sebagai obat yang berdiri sendiri, tetapi tersedia dengan ritonavir dalam kombinasi obat Kaletra)
  • Ritonavir
  • Tipranavir

Protease inhibitor hampir selalu digunakan bersamaan dengan cobicistat atau ritonavir yang termasuk golongan obat CYP3A.

Sebetulnya obat PI dapat diberikan sebagai obat tunggal, tetapi dokter selalu meresepkan dengan memberikan obat antiretroviral lainnya agar lebih ampuh.

5. Entry inhibitors

Pengobatan menggunakan entry inhibitors bekerja dengan cara menghalangi virus HIV dan AIDS memasuki sel T yang sehat. Namun, obat ini jarang digunakan sebagai pengobatan pertama untuk HIV.

Ada 3 jenis obat entry inhibitor yang juga dapat membantu meredakan HIV dan AIDS.

Fusion inhibitor

Fusion inhibitor adalah jenis obat lain yang termasuk dalam terapi HIV. HIV membutuhkan inang sel T untuk bisa memperbanyak diri.

Nah, fusion inhibitor bekerja menghalangi virus HIV dan AIDS memasuki sel T inang. Ini karena fusion inhibitor mencegah virus HIV untuk memperbanyak diri. Hanya satu inhibitor fusi yang saat ini tersedia, yaitu enfuvirtide (Fuzeon).

Post-attachment inhibitors

Ibalizumab-uiyk (Trogarzo) adalah obat yang termasuk dalam jenis post attachment inhibitor. Obat ini sudah digunakan di Amerika melalui beberapa penelitian yang sebelumnya telah dilakukan oleh BPOM negara tersebut.

Obat ini bekerja dengan cara mencegah virus berkembang bertambah banyak sekaligus mencegah HIV memasuki sel tertentu yang dapat mengacaukan sistem kekebalan tubuh.

Agar cara pengobatan HIV dan AIDS lebih optimal, obat ini harus digunakan dengan obat ARV lainnya.

Chemokine coreceptor antagonists (CCR5 antagonis)

CCR5 antagonis adalah obat HIV dan AIDS yang bekerja dengan menghalangi virus HIV memasuki sel kekebalan tubuh.

Meski demikian, jenis antiretroviral ini belum pasti diresepkan dalam pengobatan HIV dan masih butuh penelitian lebih lanjut.

Obat antagonis CCR5 yang saat ini tersedia berupa maraviroc (Selzentry).

Efek samping dari terapi obat HIV dan AIDS

obat tekanan darah tinggi

Meskipun wajib diminum setiap hari, konsumsi obat ARV memiliki efek samping. Biasanya, efek samping akan timbul setelah obat diminum pertama kali.

Berikut adalah beberapa efek samping yang bisa terjadi:

Obat-obatan ini dapat menyebabkan efek samping selama beberapa minggu pertama. Jika efek samping bertambah buruk atau bertahan lebih lama dari beberapa minggu, sebaiknya konsultasikan ke dokter lebih lanjut.

Dokter mungkin akan menyarankan beberapa tips dan cara untuk meringankan efek samping pengobatan HIV dan AIDS. Bila diperlukan, dokter dapat memberikan resep obat yang berbeda sesuai kebutuhan Anda.

Selain itu, mengonsumsi lebih dari satu obat antiretroviral juga membantu mencegah efek samping antiretroviral dan resistensi terhadap salah satu obat yang digunakan.

Pengobatan ARV sebaiknya sesegera mungkin dilakukan setelah terdiagnosis HIV. Ini karena terapi obat ARV diharapkan dapat membantu meningkatkan kualitas hidup pasien HIV/AIDS.

Dengan begitu, ODHA bisa hidup dengan normal dan terhindar dari infeksi oportunistik yang menyebabkan AIDS.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Alder, M. W. (2012). ABC of HIV and AIDS, 6th Edition. BMJ Books. London. https://www.wiley.com/en-gb/ABC+of+HIV+and+AIDS%2C+6th+Edition-p-9781118425909

Maartens, G., Celum, C., & Lewin, S. (2014). HIV infection: epidemiology, pathogenesis, treatment, and prevention. The Lancet, 384(9939), 258-271. https://www.doi.org/10.1016/s0140-6736(14)60164-1

Günthard, H. F., Saag, M. S., Benson, C. A., del Rio, C., Eron, J. J., Gallant, J. E., Hoy, J. F., Mugavero, M. J., Sax, P. E., Thompson, M. A., Gandhi, R. T., Landovitz, R. J., Smith, D. M., Jacobsen, D. M., & Volberding, P. A. (2016). Antiretroviral Drugs for Treatment and Prevention of HIV Infection in Adults: 2016 Recommendations of the International Antiviral Society-USA Panel. JAMA, 316(2), 191–210. https://doi.org/10.1001/jama.2016.8900

HIV.gov. (2019). HIV Treatment Overview. Retrieved 15 January 2021, from https://www.hiv.gov/hiv-basics/staying-in-hiv-care/hiv-treatment/hiv-treatment-overview

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2014). Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 87 Tahun 2014 Tentang Pedoman Pengobatan Antiretroviral. Retrieved 15 January 2021, from https://siha.kemkes.go.id/portal/files_upload/Buku_Permenkes_ARV_Cetak.pdf

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Fidhia Kemala Diperbarui 05/02/2021
Ditinjau secara medis oleh dr Tania Savitri
x