Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasi Ruam Pada Kulit Pengidap HIV

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 19 Januari 2021 . Waktu baca 7 menit
Bagikan sekarang

Melansir UC San Diego Health, sekitar 90% orang yang terinfeksi HIV (ODHA) cenderung mengalami gejala pada kulit berupa ruam dalam beberapa bulan pertama setelah tertular virus. Ruam merupakan salah satu gejala awal HIV pada kulit yang biasanya dialami selama 2-4 minggu. Apa penyebabnya dan seperti apa ciri-ciri ruam pada kulit yang menandakan infeksi HIV?

Gejala ruam kulit pada pengidap HIV

Ciri-ciri HIV pada kulit ditandai dengan terbentuknya makulopapular atau ruam kulit. Ruam tersebut merupakan bercak berwarna merah berukuran kecil dan biasanya mengumpul rapat di satu titik. 

Ruam mungkin tampak berwarna merah terang pada orang berkulit putih atau pucat. Sementara pada kulit yang lebih gelap, ruam cenderung berwarna keunguan. Kemunculan ruam HIV ini dapat dibarengi dengan timbulnya luka borok di mulut alias sariawan HIV atau luka di alat kelamin.

Gejala HIV/AIDS pada kulit ini sebenarnya hampir mirip dengan ruam secara umum, seperti: 

  • Ruam berupa bintik-bintik merah yang tersebar merata
  • Bagian tengah ruam memiliki benjolan kecil
  • Terasa gatal
  • Ruam dapat menjalar dari wajah hingga ke seluruh tubuh, termasuk kaki dan tangan

Ruam tidak terasa gatal selama 2-3 minggu pertama kemunculannya. Bila HIV tidak segera diobati, daya tahan tubuh akan semakin menurun dan dapat membuat ruam semakin merah, gatal, dan perih. 

Walaupun tidak terlihat berbahaya, gejala awal HIV pada kulit ini harus segera diperiksakan ke dokter agar tidak terjadi komplikasi HIV di masa mendatang. 

Penyebab ruam pada kulit pengidap HIV

Penyebab dari HIV itu sendiri adalah infeksi virus yang menyerang dan menghancurkan sel CD4 dalam tubuh. Sel CD4 adalah jenis sel darah putih dalam sistem kekebalan tubuh yang berfungsi melawan infeksi.

Nah, timbulnya ruam pada tubuh berkaitan erat dengan penurunan kekebalan tubuh akibat infeksi HIV. Pada awalnya, gejala HIV hanya memunculkan keluhan samar dan umum menyerupai gejala flu yaitu demam HIV, sakit kepala, dan sakit tenggorokan. Gejala flu tersebut kemdian umum dibarengi dengan kemunculan satu atau dua ruam di beberapa bagian tubuh.

Gejala-gejala tersebut merupakan respon alami sistem imun saat melawan peradangan akibat infeksi virus di dalam tubuh. Sayangnya, sistem kekebalan tubuh tidak cukup kuat untuk membunuh virus HIV.

Selain itu, kemunculan ruam pada kulit ODHA juga dapat menjadi gejala infeksi oportunistik tertentu, seperti infeksi jamur Candida. Kemunculan suatu infeksi oportunistik menandakan stadium infeksi HIV akhir alias AIDS. Artinya, tak hanya muncul sebagai gejala awal HIV, ruam juga dapat menjadi gejala AIDS pada kulit.

Di luar dari faktor kekebalan tubuh, timbulnya gejala HIV pada kulit ini juga dapat dipengaruhi oleh:

1. Efek samping obat-obatan

obat tekanan darah tinggi

Orang-orang dengan HIV dan AIDS (ODHA) yang sudah memulai pengobatan dengan antiretroviral dapat mengalami efek samping berupa kemunculan ruam kulit.

Dilansir dari HIV.gov, terdapat tiga kelompok obat antiretroviral yang bisa menimbulkan ruam kulit pada penderita HIV, yaitu:

  • Non-nucleoside reverse transcriptase inhibitors (NNRTIs) atau inhibitor transkriptase balik non-nukleosida
  • Nucleoside reverse transcriptase inhibitors (NRTI) atau inhibitor transkriptase balik nukleosida
  • Protease inhibitors (PIs) atau inhibitor protease

Ruam paling sering muncul diakibatkan oleh efek samping obat nevirapine. Sekitar 15-20% pengguna obat ini melaporkan timbulnya ruam pada kulit mereka.

Ciri-ciri HIV pada kulit ini cenderung muncul dalam satu hingga dua minggu setelah pengobatan dimulai. Namun, ada juga yang muncul dalam hitungan 1 sampai 3 hari. Pada kasus ini, bentuk ruam HIV umumnya tampak seperti ruam campak.

Ruam akibat efek samping obat ARV cenderung menyebar ke anggota tubuh dan leher dalam pola simetris. Dalam beberapa kasus, ruam juga bisa lebih menonjol, dan kadang mengeluarkan sedikit cairan saat dikelupas. 

Pada umumnya, gejala HIV pada kulit ini akan hilang ketika tubuh sudah mulai terbiasa dengan efek samping pengobatan ARV.

2. Stevens-Johnson syndrome

ciri-ciri ruam HIV

Sindrom Stevens-Johnson (SJS) adalah kondisi yang terjadi akibat hipersensitivitas obat dan berisiko mengancam nyawa.

SJS diyakini sebagai gangguan sistem kekebalan tubuh yang dipicu oleh infeksi, obat, atau keduanya. SJS biasanya dimulai dengan demam dan sakit tenggorokan sekitar satu hingga tiga minggu setelah memulai terapi ARV. 

Gejala HIV pada kulit akibat SJS dapat berupa borok atau lesi dengan bentuk tidak beraturan. Lesi kulit ini muncul di mulut, alat kelamin, dan anus. Ukuran lesi atau borok biasanya sebesar satu inci, dan tersebar di wajah, perut, dada, tungkai, dan telapak kaki.

Nevirapine dan abacavir adalah dua obat antiretroviral yang paling berisiko tinggi menyebabkan SJS.

3. Dermatitis seboroik

Dermatitis seboroik adalah salah satu penyebab kemunculan ruam yang paling umum pada pengidap HIV/AIDS. Gejala pada kulit ini muncul pada sekitar 80 persen pengidap HIV, dan terdiagnosis sebagai penyakit komplikasi.

Ruam dermatitis seboroik biasanya kemerahan dan bersisik, yang suka muncul di bagian kulit berminyak, seperti kulit kepala, wajah, dan dada.

Dalam kasus yang lebih parah, ruam HIV pada kulit dapat muncul dengan ciri-ciri jerawat bersisik di sekitar wajah, di belakang dan bagian dalam telinga, hidung, alis, dada, punggung atas, atau ketiak.

Penyebab ruam ini belum diketahui pasti. Namun, penurunan kekebalan tubuh adalah salah satu pemicunya. 

Kapan harus ke dokter?

Temui dokter ketika ruam telah menyebar dengan cepat, disertai demam atau dengan lepuhan. Terlebih, jika ruam HIV pada kulit ternyata merupakan ciri-ciri masa infeksi HIV telah mengarah pada stadium akhir. 

Selain itu, Anda juga perlu segera memeriksakan diri ke dokter apabila kemunculan gejala HIV pada kulit juga disertai tanda-tanda alergi parah, misalnya:

  • Jantung berdebar
  • Sesak napas
  • Kehilangan kesadaran

Bila ruam muncul tidak lama setelah Anda meminum obat jenis baru, segera hentikan pemakaian obat dan diskusikan kembali dengan dokter.

Cara mengatasi ruam kulit untuk pengidap HIV

efek samping krim steroid

Ruam biasanya dapat menghilang dan sembuh dalam 1-2 minggu setelah memulai rejime pengobatan dengan antiretroviral (ARV).

Demi mempercepat penyembuhan gejala HIV pada kulit ini, umumnya dibutuhkan obat khusus dari dokter yang akan diresepkan setelah pemeriksaan lebih lanjut. Beberapa contoh obat yang dapat digunakan antara lain:

  • Krim hidrokortison
    Kandungan steroid dalam krim atau salepnya berfungsi untuk mengurangi gatal dan bengkak akiba ruam muncul.
  • Benadryl atau diphenhydramine
    Obat antihistamin seperti diphenhydramine dapat menghambat efek zat kimia penyebab gatal sehingga meredakan sensasi kulit gatal. 

Akan tetapi, perlu diingat bahwa penggunaan obat dapat berhasil bila Anda mengikuti aturan pakai dan sesuai dengan penyebab terjadinya ruam kulit. 

Selain menggunakan obat-obatan, Anda akan dianjurkan untuk menghindari paparan sinar matahari langsung agar ruam HIV tidak makin parah. 

Ruam kulit memang menjadi salah satu gejala yang dapat menandakan Anda terkena HIV. Akan tetapi, ingatlah bahwa Anda belum tentu kena HIV sekalipun muncul ruam di tubuh Anda, terlebih jika Anda tak memiliki risiko tertular HIV.

Jika Anda masih ragu, konsultasikan masalah penyakit menular seksual Anda dengan dokter Anda agar mendapatkan solusi terbaik.

Kalkulator Masa Subur

Ingin Cepat Hamil? Cari tahu waktu terbaik untuk bercinta dengan suami lewat kalkulator berikut.

Kapan Ya?
general

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Petechiae (Bintik Serupa Ruam di Kulit)

Petechiae adalah kondisi kulit yang ditandai dengan timbulnya ruam di kulit. Ada bebeapa penyakit yang bisa menjadi penyebab petechiae. Apa saja?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Andisa Shabrina
Kesehatan Kulit, Penyakit Kulit Lainnya 26 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit

Berbagai Penyebab Ruam Merah pada Kulit

Kulit Anda gatal kemerahan? Penyebabnya mungkin infeksi jamur yang menimbulkan ruam. Simak apa saja penyebab ruam kulit berikut ini.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Rr. Bamandhita Rahma Setiaji
Kesehatan Kulit, Penyakit Kulit Lainnya 26 Desember 2020 . Waktu baca 7 menit

Eksfoliasi, Apakah Aman dan Cocok untuk Semua Tipe Kulit?

Salah satu tren baru dalam dunia kecantikan adalah eksfoliasi. Simak apakah tipe kulit Anda bisa cocok dengan prosedur skincare yang satu ini.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Perawatan Kulit, Kesehatan Kulit 9 Desember 2020 . Waktu baca 10 menit

Beragam Cara Mudah Mengatasi Kulit Kering

Semua orang bisa memiliki kulit kering, baik dari paparan sinar matahari maupun udara ruangan. Cari tahu cara mengatasi kulit kering berikut!

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Perawatan Kulit, Kesehatan Kulit 9 Desember 2020 . Waktu baca 12 menit

Direkomendasikan untuk Anda

kanker anus

Kanker Anus

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Dipublikasikan tanggal: 7 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
efek tanning

Melakukan Tanning, Apa Efeknya untuk Kesehatan Kulit?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Monika Nanda
Dipublikasikan tanggal: 26 Desember 2020 . Waktu baca 6 menit
keratosis pilaris penyakit kulit ayam

Keratosis Pilaris (Penyakit Kulit Ayam)

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Dipublikasikan tanggal: 26 Desember 2020 . Waktu baca 8 menit
obat mata ikan di kaki

Berbagai Obat Mata Ikan yang Dapat Menghilangkan Secara Efektif

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 26 Desember 2020 . Waktu baca 7 menit