8 Pilihan Obat yang Efektif Redakan Sakit Kepala

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 27 November 2020 . Waktu baca 9 menit
Bagikan sekarang

Mengonsumsi obat merupakan salah satu cara untuk mengatasi sakit kepala yang terus menyerang. Kebanyakan obat sakit kepala dapat Anda beli di apotek tanpa harus resep dokter. Meski demikian, jenis obat pereda nyeri yang Anda gunakan bisa saja berbeda dengan orang lain, tergantung penyebab sakit kepala dan apa gejala lainnya yang muncul. Jenis sakit kepala tertentu juga mungkin membutuhkan obat yang lebih spesifik dari dokter. Berikut daftarnya.

Daftar obat pereda sakit kepala yang dapat dibeli di apotek

Ada banyak pilihan obat untuk menghilangkan sakit kepala. Namun, dikutip dari Mayo Clinic, penting untuk Anda bisa mengenali lebih dulu apa penyebab serta tanda dan gejala sakit kepala yang Anda alami sebelum memilih obatnya.

Perlu diketahui pula, tidak semua obat OTC (on-the-counter/obat bebas nonresep) di apotek bisa meredakan semua kasus sakit kepala. Kadang, sakit kepala akibat kondisi medis tertentu atau yang sudah berlangsung lama butuh penanganan yang berbeda. Namun secara umum, berikut adalah obat yang paling ampuh dan sering digunakan untuk meredakan sakit kepala:

1. Aspirin

Aspirin adalah obat minum golongan antiinflamasi nonsteroid (NSAID) yang mengandung salisilat untuk meredakan nyeri kepala ringan sampai sedang. Biasanya, obat ini digunakan untuk mengatasi jenis sakit kepala tegang (tension headache) dan migrain.

Obat ini bekerja dengan menghalangi aktivitas enzim siklooksigenase-1 (COX-1) yang membentuk hormon prostaglandin, yaitu hormon yang membantu mengirimkan sinyal rasa sakit ke otak dan memicu peradangan. Dengan minum aspirin, kadar prostaglandin dapat berkurang dalam tubuh dan rasa nyeri pun mereda.

Obat sakit kepala ini biasanya tersedia dalam bentuk tablet yang bisa Anda beli di apotek dengan atau tanpa resep dokter. Terkait dosisnya, orang dewasa bisa mengonsumsi aspirin untuk meredakan sakit kepala sebanyak 300-600 miligram (mg) setiap empat hingga enam jam sekali. Namun, hindari mengonsumsi obat ini lebih dari dua kali seminggu karena dapat menimbulkan nyeri kepala berulang (rebound headache).

2. Ibuprofen

Ibuprofen Efek COVID-19

Ibuprofen juga merupakan obat golongan NSAID yang menghalangi kerja enzim siklooksigenase membentuk prostaglandin untuk memicu rasa sakit. Ibuprofen umumnya digunakan untuk mengatasi tension headache dan migrain.

Dosis ibuprofen yang disarankan untuk meredakan sakit kepala pada orang dewasa adalah 200-400 miligram dalam tiga kali sehari. Sementara dosis untuk anak ditentukan berdasarkan usia dan berat badan anak tersebut. Tanyakan lebih lanjut kepada dokter anak Anda mengenai penggunaan serta dosis ibuprofen sebagai obat sakit kepala pada anak.

Obat sakit kepala ibuprofen tersedia dalam bentuk generik atau bermerek yang dapat dibeli di apotek secara bebas, dengan atau tanpa resep dokter. Jenis obat ini pun dapat digunakan bersama aspirin dan naproxen atau obat-obatan analgesik, seperti celecoxib dan diclofenac untuk meredakan sakit.

Namun, jangan gunakan ibuprofen untuk mengatasi sakit kepala pada ibu hamil atau yang sedang merencanakan kehamilan. Pasalnya, ibuprofen berpotensi memengaruhi perkembangan janin. Untuk lebih jelas, tanyakan pada dokter mengenai obat sakit kepala yang aman untuk ibu hamil.

3. Acetaminophen (paracetamol)

Acetaminophen adalah golongan obat analgesik yang ampuh meredakan sakit kepala ringan hingga sedang, dan tersedia di apotek tanpa harus menyertakan resep dari dokter. Acetaminophen memiliki nama lain yaitu paracetamol.

Rekomendasi dosis penggunaan acetaminophen untuk dewasa berbeda-beda, tergantung sediaan obat yang Anda gunakan dan berat badan Anda. Namun secara umum, dosis paracetamol tablet untuk meredakan sakit kepala pada orang dewasa, yaitu 1-2 tablet per 500 mg yang diminum tiap 4-6 jam.

Obat ini dianggap bekerja lebih baik dibandingkan ibuprofen dalam mengatasi tension headache dan migrain. Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam The Journal of Head and Face Pain menyatakan bahwa acetaminophen dapat bekerja lebih baik mengatasi migrain saat digunakan bersamaan dengan aspirin dan kafein.

4. Indomethacin

Sama dengan ibuprofen dan aspirin, indomethacin juga tergolong sebagai obat golongan NSAID. Indomethacin dapat menjadi pilihan untuk pengobatan cluster headachemeski memerlukan dosis tinggi untuk efektivitasnya.

Selain itu, obat ini juga dapat membantu pengobatan sakit kepala kronis, sakit kepala yang berhubungan dengan stres atau saat beraktivitas, serta mencegah dan mengatasi serangan migrain yang cukup parah.

Namun berbeda dengan tiga obat di atas, indomethacin adalah obat sakit kepala yang bisa Anda beli di apotek dengan menyertakan resep dari dokter. Adapun dosisnya akan ditentukan oleh dokter berdasarkan penyebab dan keparahan gejala.

5. Sumatriptan

obat dan cara mengobati radang sendi

Sumatriptan adalah obat golongan selective serotonin receptor agonists yang hanya bisa dibeli dengan resep dari dokter. Obat ini bekerja dengan menyempitkan pembuluh darah untuk menghentikan sinyal rasa sakit yang dikirim ke otak dan menghalangi pelepasan zat alami pemicu rasa sakit, mual, dan gejala-gejala nyeri lainnya.

Obat ini paling efektif menghentikan migrain pada menit-menit ketika gejala awal mulai terasa, tetapi sakit kepala cluster juga bisa diatasi dengan sumatriptan. Jika gejala migrain membaik dan muncul kembali setelah dua jam menggunakan sumatriptan, Anda boleh mengonsumsi dosis kedua selama Anda mendapatkan izin dari dokter.

Namun, jika gejala tidak membaik meski telah mengonsumsi sumatriptan, jangan menggunakan obat ini kembali tanpa seizin dari dokter. Selalu ikuti instruksi dari dokter mengenai penggunaannya. Pasalnya, jika sumatriptan dikonsumsi secara berlebihan, yaitu lebih dari 10 hari dalam sebulan, sakit kepala Anda bisa semakin memburuk atau mungkin terjadi lebih sering.

6. Naproxen

Naproxen adalah obat lainnya dalam golongan NSAID yang digunakan untuk meredakan nyeri. Obat ini sering digunakan sebagai penghilang sakit kepala ringan hingga sedang, terutama jenis tension headache dan migrain.

Meski memiliki cara kerja yang sama dengan golongan NSAID lain, naproxen tergolong kurang efektif untuk meredakan sakit kepala. Oleh karena itu, obat ini sering digunakan sebagai pendamping dengan obat lainnya. Namun, sama seperti aspirin dan ibuprofen, naproxen pun bisa dibeli bebas di apotik, meski dokter juga bisa meresepkan obat ini untuk kondisi tertentu.

7. Ketorolac

Ketorolac (Toradol) merupakan obat golongan NSAID yang bermanfaat mengatasi sakit kepala sedang hingga berat, termasuk migrain dan tension headache. Obat ini diklaim memiliki kerja yang relatif cepat pada tubuh dengan durasi sekitar enam jam.

Jenis obat ini tersedia dalam dua bentuk, yaitu injeksi (suntik) dan oral. Ketorolac injeksi disebut lebih efektif dibandingkan oral, karena itu bentuk injeksi sering digunakan untuk pasien di ruang gawat darurat yang mengalami sakit kepala parah. Adapun ketorolac oral biasanya digunakan untuk pasien rawat jalan, tetapi hanya untuk jangka pendek, yaitu sekitar lima hari.

Meski relatif cepat, ketorolac pun bisa menimbulkan berbagai efek samping, seperti mual serta gangguan pada perut dan lambung. Pada jangka panjang, obat ini pun berisiko menimbulkan kerusakan ginjal.

8. Zolmitriptan

Zolmitriptan dapat digunakan untuk mengobati sakit kepala migrain karena membantu meredakan mual, sensitivitas mata terhadap cahaya, serta gejala migrain lainnya. Meski demikian, obat resep dokter ini hanya akan mengobati sakit kepala yang baru terjadi dan tidak bisa mencegah terjadinya sakit kepala atau mengurangi jumlah serangan.

Cara kerjanya adalah dengan mempersempit pembuluh darah di sekitar otak dan mengurangi produksi zat pemicu radang dalam tubuh. Sama seperti sumatriptan, jika gejala membaik setelah mengonsumsi obat ini dan serangan kembali lagi setelah 2 jam, Anda dapat mengonsumsi tabletnya kembali. Namun, jika gejala tidak membaik setelah mengonsumsi obat ini, jangan konsumsi kembali tanpa seizin dokter.

Perlu diketahui pula, zolmitriptan sebaiknya tidak digunakan bila Anda memiliki tekanan darah tinggi, masalah jantung, stroke, atau masalah yang menyebabkan gangguan sirkulasi darah di dalam tubuh. Konsultasikan dengan dokter untuk jenis obat yang tepat.

Jenis obat lainnya untuk mencegah serangan sakit kepala

saridon obat sakit kepala

Selain obat untuk meredakan sakit kepala, beberapa obat mungkin perlu Anda konsumsi untuk mencegah serangan nyeri pada masa berikutnya. Pemberian obat ini pun bisa berbeda tergantung pada jenis yang dialami serta kondisi masing-masing pasien. Berikut adalah beberapa jenis obat tersebut:

  • Obat tekanan darah, seperti beta blockers (metoprolol atau propranolol) dan calcium channel blockers (verapamil), terutama untuk migrain dan cluster headache kronis.
  • Antidepresan, seperti tricyclic antidepressants (amitriptyline) untuk mencegah migrain dan tension headache, serta jenis antidepresan lain, seperti venlafaxine dan mirtazapine untuk mencegah serangan tension headache. 
  • Obat antikejang, seperti valproate dan topiramate untuk mengurangi jumlah serangan migrain serta mencegah sakit kepala tegang dan cluster.
  • Kortikosteroid, seperti prednisone untuk mencegah serangan sakit kepala cluster, terutama jika periode sakit kepala Anda baru dimulai atau memiliki periode nyeri yang singat dan dengan remisi yang lama.

Beberapa obat lainnya untuk mencegah serangan sakit kepala mungkin akan diberikan dokter sesuai kondisi Anda. Pastikan Anda selalu memberi tahu mengenai gejala yang Anda alami, berapa lama gejala tersebut berlangsung, dan faktor apa saja yang mungkin menyebabkannya, untuk mendapat jenis pengobatan yang tepat.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Benarkah Terlalu Sering Minum Paracetamol Sebabkan Gangguan Pendengaran?

Hati-hati jika Anda sering minum obat penghilang nyeri, seperti paracetamol. Efek samping paracetamol berlebihan dapat menimbulkan gangguan pendengaran.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Hidup Sehat, Tips Sehat 23 September 2020 . Waktu baca 3 menit

Penggunaan Ibuprofen untuk Anak di Masa Pandemi, Apakah Aman?

Penggunaan Ibuprofen untuk anak dalam mengatasi nyeri, misalnya demam telah terbukti aman diminum di tengah pandemi COVID-19. Berikut penjelasan lengkapnya.

Ditulis oleh: Roby Rizki
Parenting, Tips Parenting 26 Agustus 2020 . Waktu baca 4 menit

6 Obat yang Ampuh Redakan Sakit Kepala Sebelah

Sakit kepala sebelah mempunyai serangan yang cukup sering terjadi. Daripada menahannya, simak obat sakit kepala sebelah kanan atau kiri yang ampuh ini!

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Nyeri Kronis, Health Centers 16 Mei 2020 . Waktu baca 6 menit

Pilihan Obat Sakit Kepala yang Diperbolehkan untuk Anak

Sakit kepala tidak hanya menyerang orang dewasa, anak-anak juga bisa mengalaminya. Lalu, apakah obat sakit untuk kepala anak yang tepat?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Kesehatan Anak, Parenting 24 Oktober 2019 . Waktu baca 6 menit

Direkomendasikan untuk Anda

obat sakit gigi

Pilihan Obat Sakit Gigi Antibiotik dan Apotek yang Ampuh untuk Anda

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 16 Oktober 2020 . Waktu baca 13 menit
obat batuk sirup ibuprofen untuk anak

Mematahkan Mitos bahwa Ibuprofen Tidak Aman untuk Anak

Ditulis oleh: Willyson Eveiro
Dipublikasikan tanggal: 3 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
obat yang aman untuk ibu menyusui

Jangan Sembarang Minum, Ini Daftar Pilihan Obat yang Aman untuk Ibu Menyusui

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 2 Oktober 2020 . Waktu baca 11 menit
alergi ibuprofen dan asam mefenamat

Mengenal Alergi Obat Pereda Nyeri: Ibuprofen dan Asam Mefenamat

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 24 September 2020 . Waktu baca 6 menit