Risiko Demensia Meningkat Jika Hidung Anda Kurang Tajam Mencium Bau

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum

Dalam keadaan sehat, hidung manusia bisa mencium hingga kira-kira satu triliun jenis aroma berbeda. Namun, ada juga orang-orang yang sudah tak bisa mencium bau apa pun atau hanya bisa mencium jenis bau-bauan tertentu saja. Menurut sebuah penelitian terbaru, berkurangnya kemampuan hidung untuk mencium bau dapat meningkatkan risiko gangguan kognitif otak, seperti risiko demensia atau penyakit Alzheimer.

Mengapa seseorang bisa kehilangan indra penciuman?

Kehilangan indra penciuman sepenuhnya dikenal dengan istilah anosmia. Untuk memahami bagaimana anosmia bisa terjadi, Anda harus tahu dulu bagaimana hidung bisa mencium bau. Hal-hal yang ada di sekitar Anda akan melepaskan molekul-molekul tertentu yang kemudian ditangkap oleh sel-sel saraf di hidung. Sel saraf tersebut lantas mengirimkan sinyal khusus ke otak. Otaklah yang akan mengenali bau-bauan yang Anda cium.

Gangguan apa pun yang terjadi dalam proses penciuman tersebut akan menyebabkan anosmia. Pemicunya bisa macam-macam. Mulai dari alergiinfeksi sinusitis, cedera di hidung atau kepala, penuaan, hingga kecacatan atau penyakit kronis tertentu.

Kaitan antara penurunan fungsi indra penciuman dengan risiko demensia dan Alzheimer

Sebuah studi jangka panjang asal Amerika Serikat menemukan kaitan antara penurunan fungsi hidung untuk membaui aroma di sekitar dengan peningkatan risiko demensia, setelah mengamati sebanyak 3.000 orang lansia berusia 57-85 tahun.

Peneliti menggunakan sebuah alat khusus berbentuk seperti pulpen yang telah dilumuri dengan bau-bauan berbeda. Setiap orang diminta untuk mencium alat tersebut, dan kemudian menjelaskan bau tersebut satu per satu.

Ada lima bau yang dijadikan bahan percobaan yaitu peppermint, ikan, jeruk, mawar, dan bahan kulit (leather). Hasil penelitian tersebut menunjukkan 18,7 persen orang mengalami hiposmia, alias penurunan kemampuan mencium bau, karena hanya berhasil menerka 2-3 jenis bau. Sebanyak 4,2 persen partisipan diketahui termasuk ke dalam kelompok anosmia, yang hanya dapat mengetahui satu aroma dari 5 pilihan yang tersedia atau bahkan tidak bisa sama sekali membedakan kesemuanya.

Lima tahun setelah tes tersebut, kelompok partisipan yang mengalami kesulitan membedakan setidaknya 4 dari 5 bau-bauan tersebut dilaporkan mengalami peningkatan risiko demensia hingga lebih dari dua kali lipat. Sebanyak 80 persen partisipan yang hanya dapat mengidentifikasi satu atau dua dari lima bau tersebut telah didiagnosis dengan demensia. Hampir semua partisipan yang sama sekali tidak dapat membedakan satu bau pun telah didiagnosis menderita demensia.

Penelitian lain dalam jurnal Annals of Neurology tahun 2008 mengungkapkan bahwa orang dewasa yang sudah tidak bisa mencium bau lebih rentan terhadap penyakit Alzheimer dan Parkinson di usia tua.

Mengapa demikian?

Indra penciuman Anda diatur oleh sel saraf olfaktorius yang terletak di sistem saraf pusat. Sel-sel tersebut seharusnya mampu memperbarui diri (regenerasi) secara terus menerus. Bila Anda tidak bisa mencium, maka sel-sel Anda sudah tak mampu melakukan regenerasi lagi. Ini berarti ada kerusakan yang serius dalam sistem saraf dan sel otak Anda.

Penurunan kemampuan mencium bau sering menjadi tanda awal penyakit Parkinson atau Alzheimer, dan bisa semakin memburuk seiring usia serta perkembangan penyakit tersebut. Demensia adalah perkembangan dari penyakit Alzheimer, yang ditandai dengan kerusakan sistem saraf akibat kematian sel otak, sehingga menyebabkan hilangnya memori dan penurunan cara berpikir.

Maka bisa disimpulkan bahwa kehilangan indra penciuman bukanlah masalah kesehatan yang bisa diremehkan begitu saja. Bila Anda mulai sulit mengenali atau mencium bau, tak ada salahnya untuk segera periksa ke dokter.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca