Risiko Demensia Meningkat Jika Hidung Anda Kurang Tajam Mencium Bau

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 05/09/2019
Bagikan sekarang

Dalam keadaan sehat, hidung manusia bisa mencium hingga kira-kira satu triliun jenis aroma berbeda. Namun, ada juga orang-orang yang sudah tak bisa mencium bau apa pun atau hanya bisa mencium jenis bau-bauan tertentu saja. Menurut sebuah penelitian terbaru, berkurangnya kemampuan hidung untuk mencium bau dapat meningkatkan risiko gangguan kognitif otak, seperti risiko demensia atau penyakit Alzheimer.

Mengapa seseorang bisa kehilangan indra penciuman?

Kehilangan indra penciuman sepenuhnya dikenal dengan istilah anosmia. Untuk memahami bagaimana anosmia bisa terjadi, Anda harus tahu dulu bagaimana hidung bisa mencium bau. Hal-hal yang ada di sekitar Anda akan melepaskan molekul-molekul tertentu yang kemudian ditangkap oleh sel-sel saraf di hidung. Sel saraf tersebut lantas mengirimkan sinyal khusus ke otak. Otaklah yang akan mengenali bau-bauan yang Anda cium.

Gangguan apa pun yang terjadi dalam proses penciuman tersebut akan menyebabkan anosmia. Pemicunya bisa macam-macam. Mulai dari alergiinfeksi sinusitis, cedera di hidung atau kepala, penuaan, hingga kecacatan atau penyakit kronis tertentu.

Kaitan antara penurunan fungsi indra penciuman dengan risiko demensia dan Alzheimer

Sebuah studi jangka panjang asal Amerika Serikat menemukan kaitan antara penurunan fungsi hidung untuk membaui aroma di sekitar dengan peningkatan risiko demensia, setelah mengamati sebanyak 3.000 orang lansia berusia 57-85 tahun.

Peneliti menggunakan sebuah alat khusus berbentuk seperti pulpen yang telah dilumuri dengan bau-bauan berbeda. Setiap orang diminta untuk mencium alat tersebut, dan kemudian menjelaskan bau tersebut satu per satu.

Ada lima bau yang dijadikan bahan percobaan yaitu peppermint, ikan, jeruk, mawar, dan bahan kulit (leather). Hasil penelitian tersebut menunjukkan 18,7 persen orang mengalami hiposmia, alias penurunan kemampuan mencium bau, karena hanya berhasil menerka 2-3 jenis bau. Sebanyak 4,2 persen partisipan diketahui termasuk ke dalam kelompok anosmia, yang hanya dapat mengetahui satu aroma dari 5 pilihan yang tersedia atau bahkan tidak bisa sama sekali membedakan kesemuanya.

Lima tahun setelah tes tersebut, kelompok partisipan yang mengalami kesulitan membedakan setidaknya 4 dari 5 bau-bauan tersebut dilaporkan mengalami peningkatan risiko demensia hingga lebih dari dua kali lipat. Sebanyak 80 persen partisipan yang hanya dapat mengidentifikasi satu atau dua dari lima bau tersebut telah didiagnosis dengan demensia. Hampir semua partisipan yang sama sekali tidak dapat membedakan satu bau pun telah didiagnosis menderita demensia.

Penelitian lain dalam jurnal Annals of Neurology tahun 2008 mengungkapkan bahwa orang dewasa yang sudah tidak bisa mencium bau lebih rentan terhadap penyakit Alzheimer dan Parkinson di usia tua.

Mengapa demikian?

Indra penciuman Anda diatur oleh sel saraf olfaktorius yang terletak di sistem saraf pusat. Sel-sel tersebut seharusnya mampu memperbarui diri (regenerasi) secara terus menerus. Bila Anda tidak bisa mencium, maka sel-sel Anda sudah tak mampu melakukan regenerasi lagi. Ini berarti ada kerusakan yang serius dalam sistem saraf dan sel otak Anda.

Penurunan kemampuan mencium bau sering menjadi tanda awal penyakit Parkinson atau Alzheimer, dan bisa semakin memburuk seiring usia serta perkembangan penyakit tersebut. Demensia adalah perkembangan dari penyakit Alzheimer, yang ditandai dengan kerusakan sistem saraf akibat kematian sel otak, sehingga menyebabkan hilangnya memori dan penurunan cara berpikir.

Maka bisa disimpulkan bahwa kehilangan indra penciuman bukanlah masalah kesehatan yang bisa diremehkan begitu saja. Bila Anda mulai sulit mengenali atau mencium bau, tak ada salahnya untuk segera periksa ke dokter.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Tips Mengajak Orang Tua Pindah ke Tempat yang Baru

Orang tua sering kali enggan diajak untuk pindah karena tak mau meninggalkan segala kenangan di rumah lama. Bagaimana cara membujuknya?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha

Ragam Vitamin dan Mineral yang Baik untuk Sistem Imun Lansia

Kebutuhan vitamin dan mineral harian terus perlu dipenuhi. Apa saja kebutuhan nutrisi pada lansia dan bagaimana cara memenuhinya? Berikut ulasannya.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Nutrisi, Hidup Sehat 22/05/2020

5 Penyebab Mulut Anda Terasa Pahit Saat Puasa

Penyebab mulut terasa pahit saat puasa biasanya tidak berbahaya. Bisa jadi, mulut terasa pahit karena Anda lalai melakukan hal yang satu ini! Apa ya?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Hari Raya, Ramadan 19/05/2020

Rutin Minum Madu Saat Sahur Bisa Memberikan 5 Kebaikan Ini

Katanya, minum madu saat sahur bisa memberikan segudang manfaat baik bagi tubuh selama menjalani puasa. Tertarik ingin coba? Simak beragam khasiatnya.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Hari Raya, Ramadan 17/05/2020

Direkomendasikan untuk Anda

persiapan puasa untuk lansia

3 Hal yang Harus Diperhatikan Lansia Saat Sahur dan Berbuka Puasa

Ditinjau secara medis oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Dipublikasikan tanggal: 05/06/2020
gerimis bikin sakit

Benarkah Gerimis Lebih Bikin Sakit Daripada Hujan?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 31/05/2020

Mengapa Perlu Matikan Lampu Saat Tidur?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Dipublikasikan tanggal: 29/05/2020
buah untuk alzheimer

Rutin Makan Buah Bermanfaat Menurunkan Risiko Penyakit Alzheimer

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 27/05/2020