home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Apakah Orang yang Jarang Mimpi Lebih Rentan Pikun di Masa Tua?

Apakah Orang yang Jarang Mimpi Lebih Rentan Pikun di Masa Tua?

Kabar gembira bagi Anda yang sering mimpi di dalam tidur. Pasalnya, mimpi dalam tidur bisa memperkirakan apakah Anda berisiko terkena demensia di akhir usia Anda. Demensia adalah penyakit pikun yang biasanya menyerang para lansia (orang lanjut usia). Penyakit ini ditandai dengan menurunnya daya ingat, sering kebingungan, hingga terjadi perubahan perilaku. Jika Anda jarang bermimpi, para ahli menduga Anda berisiko mengalami demensia di kemudian hari. Bagaimana hal ini dapat terjadi?

Apa hubungannya antara sering mimpi dengan risiko pikun?

Demensia adalah penyakit yang disebabkan oleh rusaknya sel-sel di otak, sehingga memengaruhi kemampuan mengingat (pikun), berkomunikasi, hingga berpikir. Namun, jika Anda sering mimpi saat tidur, maka Anda akan memiliki risiko yang lebih kecil untuk terkena penyakit pikun ini.

Fakta ini terungkap dari penelitian yang diterbitkan dalam sebuah jurnal Neurology yang dilansir dari National Center for Biotechnology Information. Dari studi ini, para ahli menyatakan bahwa mimpi dapat melindungi seseorang dari risiko demensia ketika ia memasuki usia lanjut.

Penelitian ini melibatkan sebanyak 312 peserta yang berusia di atas 60 tahun. Dalam studi ini peserta diikuti dan diteliti tentang pola tidur serta frekuensi mimipinya selama kurang lebih 12 tahun. Kemudian, di akhir penelitian diketahui bahwa terdapat 32 orang yang mengalami demensia, yang diketahui jarang bermimpi di waktu tidurnya.

Sementara, kelompok yang tak mengalami demensia, justru sering mimpi di tiap malam ketika ia tidur. Maka dari itu, peneliti menyimpulkan bahwa, setiap kali Anda tak bermimpi, maka akan meningkatkan risiko demensia di masa tua sebanyak 9%.

Fase REM membuat Anda sering mimpi di dalam tidur

Jadi, sebenarnya ketika Anda tidur, Anda akan melewati beberapa tahap dalam tidur. Dalam tahapan tersebut terjadi fase non-REM (Rapid Eye Movement) yaitu di mana Anda mulai masuk ke dalam tidur Anda perlahan-lahan dan semakin dalam.

Setelah itu, terjadi fase REM, fase di mana Anda bermimpi di dalam tidur. Di masa tersebut, otak akan lebih aktif, detak jantung cepat, dan mata bergerak cepat meskipun sedang tertidur. Biasanya, dalam sekali tidur, Anda akan mengalami banyak fase REM yang membuat Anda sering bermimpi. Fase REM biasanya terjadi selama 1,5 sampai 2 jam dalam satu kali tidur.

tidur terlalu lama

Mengapa sering mimpi bisa mencegah demensia?

Nah, orang yang mengalami Alzheimer atau pun demensia pada penelitian ini diketahui memiliki fase REM yang lebih sedikit ketimbang dengan orang yang tak memiliki penyakit tersebut. Fase REM yang lebih sedikit bisa diakibatkan oleh berbagai hal. Para ahli mengungkapkan bahwa kondisi stres dan depresi dapat menyebabkan seseorang tidak bermimpi atau tak mengalami fase REM dalam tidurnya.

Selain itu, orang yang memiliki gangguan tidur seperti insomnia atau gangguan pernapasan saat tidur, juga bisa bikin fase REM ini tak terjadi, sehingga membuat Anda jarang bermimpi. Semua hal tersebut, juga secara otomatis dapat meningkatkan risiko demensia. Jadi, lebih baik mulai sekarang Anda harus memperbaiki pola tidur Anda, agar bisa sering mimpi dan akhirnya menurunkan risiko demensia di hari tua.

Para ahli juga menyebutkan bahwa orang yang sering mimpi, membuat otak lebih aktif di malam hari – karena adanya fase REM di waktu tidur – yang kemudian bisa mencegah kerusakan sel-sel saraf di masa depan. Jadi, mimpi ternyata sangat bermanfaat untuk melindungi otak. Semoga malam ini Anda mimpi indah, ya.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Matthew P. Pase, Jayandra J. Himali, Natalie A. Grima, Alexa S. Beiser, Claudia L. Satizabal, Hugo J. Aparicio, Robert J. Thomas, Daniel J. Gottlieb, Sandford H. Auerbach, Sudha Seshadri. Sleep architecture and the risk of incident dementia in the community. Neurology. Available at: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/28835407 [Accessed 4 Nov. 2017].

Sandoiu, A. (2017). Dreaming may keep dementia at bay. [online] Medical News Today. Available at: https://www.medicalnewstoday.com/articles/319099.php  [Accessed 4 Nov. 2017].

 

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh Nimas Mita Etika M
Tanggal diperbarui 07/11/2017
x