Penyakit Parkinson

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 12 November 2020 . Waktu baca 12 menit
Bagikan sekarang

Definisi penyakit Parkinson

Apa itu penyakit Parkinson?

Pengertian penyakit Parkinson (Parkinson’s disease) adalah kelainan sistem saraf progresif yang memengaruhi gerakan tubuh. Disebut progresif, karena penyakit ini berkembang secara bertahap dan memburuk seiring waktu. 

Kelainan ini terjadi ketika sel saraf di salah satu bagian otak ada yang mati sehingga tidak menghasilkan cukup dopamin, yaitu bahan kimia otak yang berperan dalam mengendalikan gerakan otot. Akibatnya, kontrol gerakan otot menjadi menurun, sehingga penderitanya kesulitan untuk berjalan, bicara, hingga mengalami masalah keseimbangan dan koordinasi. 

Penyakit Parkinson adalah kelainan yang tidak dapat sembuh sepenuhnya. Namun, berbagai pilihan obat dan pengobatan dari dokter dapat dilakukan untuk membantu meringankan gejala guna menunjang kualitas hidup yang lebih baik. Pasalnya, meski penyakit ini tidak berakibat fatal, komplikasi penyakit bisa menjadi sesuatu yang serius. 

Seberapa umum penyakit ini?

NHS menyebut, diperkirakan sekitar 1 dari 500 orang di dunia terkena penyakit Parkinson. Sebagian besar penderitanya mulai mengalami gejala ketika berusia di atas 50 tahun. Namun, sekitar 1 dari 20 orang dengan kondisi ini mengaku pertama kali merasakan gejala pada usia di bawah 40 tahun. 

Adapun penyakit ini menyerang pria sekitar 50 persen lebih banyak daripada wanita. Anda dapat mencegah penyakit ini dengan mengurangi faktor risiko yang ada. Diskusikan dengan dokter untuk informasi lebih lanjut.

Tanda & gejala penyakit Parkinson

Apa saja tanda dan gejala penyakit Parkinson?

Setiap orang mungkin memiliki tanda dan gejala yang berbeda satu sama lain. Secara umum, tanda dan gejala penyakit Parkinson adalah:

  • Tubuh bergetar atau tremor, yang biasanya dimulai di tungkai kaki, tangan, atau jari.
  • Gerakan melambat (bradikinesia) secara bertahap.
  • Otot kaku dan tidak fleksibel, terutama pada lengan, tungkai kaki, atau batang tubuh.
  • Keseimbangan dan koordinasi terganggu, seperti postur tubuh menjadi bungkuk dan terkadang menyebabkan terjatuh.
  • Hilangnya gerakan otomatis, seperti berkedip, tersenyum, atau mengayunkan tangan saat berjalan.
  • Perubahan berbicara, seperti bicara terlalu cepat, cadel, atau lainnya.
  • Kesulitan menulis.

Selain tanda yang umum, penderita penyakit ini pun kerap mengalami berbagai gejala fisik dan psikologis lainnya, seperti depresi dan gangguan kecemasan, masalah buang air kecil, sembelit, masalah kulit, gangguan tidur, hingga masalah memori. 

Gejala-gejala dan tanda-tanda di atas muncul secara bertahap. Meski demikian, sulit mengetahui mana yang menjadi tanda awal dari penyakit ini. Pasalnya, gejala yang muncul pada setiap orang bisa berbeda, baik dalam urutan dan intensitas.

Meski demikian, dilansir dari Parkinson’s Foundation, ada pola khas yang menggambarkan perkembangan gejala penyakit ini, yang kemudian disebut dengan grade atau stadium. Berikut adalah gambaran grade, stadium, atau tahapan penyakit Parkinson:

  • Stadium atau tahapan 1

Pada tahap ini, penderita mengalami gejala ringan yang tidak mengganggu aktivitas sehari-hari, seperti tremor di satu sisi tubuh serta perubahan postur, berjalan, dan ekspresi wajah.

  • Stadium atau tahapan 2

Pada tahapan ke-2, gejala mulai memburuk yang ditandai dengan tremor, kekakuan otot, dan gejala gerakan lainnya yang memengaruhi kedua sisi tubuh. Penderita masih bisa hidup sendiri, tetapi sudah kesulitan menjalankan aktivitas sehari-hari dan lebih lama.

  • Stadium atau tahapan 3

Di tahap inilah gejala sudah mulai terasa signifikan, seperti kehilangan keseimbangan dan lambatnya gerakan, sehingga sudah mengganggu aktivitas sehari-sehari, seperti berpakaian dan makan.

  • Stadium atau tahapan 4

Pada tahap 4, gejala Parkinson sudah parah hingga membatasi aktivitas sehari-hari penderitanya, seperti sulit berjalan yang kerap membutuhkan alat bantu jalan.

  • Stadium atau tahapan 5

Ini merupakan tahap yang paling parah dengan tanda kekakuan di otot kaki, sehingga penderitanya tidak bisa berdiri atau berjalan dan harus menggunakan kursi roda atau hanya terbaring di tempat tidur. Gejala yang tidak terkait dengan gerakan pun sudah mulai muncul, termasuk mengalami halusinasi dan delusi.

Selain yang disebutkan di atas, tanda dan gejala lainnya mungkin saja muncul. Bila Anda khawatir akan perubahan tertentu dalam diri Anda sebaiknya segera hubungi dokter.

Kapan saya harus periksa ke dokter?

Bila Anda memiliki tanda atau gejala di atas atau ingin bertanya, konsultasikanlah kepada dokter. Setiap tubuh bertindak berbeda satu sama lain. Selalu diskusi dengan dokter untuk mendapatkan solusi terbaik untuk kondisi yang Anda alami.

Penyebab & faktor risiko penyakit Parkinson

Apa penyebab penyakit Parkinson?

Penyakit Parkinson terjadi ketika sel saraf (neuron) di bagian otak bernama substansia nigra menjadi terganggu atau mati. Bagian otak ini menghasilkan zat kimia otak penting yang disebut dopamin, dan berfungsi mengontrol gerakan di dalam tubuh. Bila sel saraf rusak atau mati, produksi dopamin menjadi terganggu sehingga menyebabkan masalah pada pergerakan.

Meski demikian, penyebab matinya sel saraf penghasil dopamin ini masih belum diketahui. Para ilmuwan berasumsi bahwa penyebab penyakit Parkinson adalah kombinasi antara faktor genetik dan lingkungan. 

Selain itu, para peneliti juga mencatat banyak perubahan muncul di otak pada penderita Parkinson, meskipun tidak jelas mengapa perubahan tersebut terjadi. Perubahan ini termasuk adanya body Lewy, yaitu gumpalan zat tertentu dalam sel otak sebagai penanda mikroskopis Parkinson, serta A-synuclein, yaitu protein alami yang tersebar luas di dalam body Lewy

Apa yang meningkatkan risiko penyakit Parkinson?

Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit Parkinson adalah:

  • Usia lanjut, yaitu di atas 50 tahun.
  • Faktor keturunan atau memiliki anggota keluarga yang mengidap Parkinson.
  • Jenis kelamin, yaitu pria lebih banyak terpengaruh daripada wanita.
  • Paparan racun, seperti herbisida dan pestisida.
  • Paparan logam.
  • Cedera kepala atau cedera otak traumatis.

Tidak ada faktor risiko bukan berarti Anda tidak bisa mengidap penyakit Parkinson. Tanda ini hanya sebagai referensi. Konsultasikan dengan dokter untuk informasi lebih lanjut.

Diagnosis & Pengobatan penyakit Parkinson

Informasi yang tersedia bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasi dengan dokter atau apoteker.

Bagaimana dokter melakukan diagnosis penyakit Parkinson?

Untuk membuat diagnosis penyakit Parkinson, dokter akan menanyakan riwayat medis Anda serta melakukan pemeriksaan neurologis dan fisik guna melihat tanda dan gejala yang dialami. Setelah itu, dokter mungkin menyarankan Anda melakukan beberapa tes pemeriksaan penunjang parkinson, seperti: 

  • Tes single-photon emission computerized tomography (SPECT) yang spesifik disebut dopamine transporter scan (DaTscan).
  • Tes laboratorium, seperti tes darah, untuk menyingkirkan kondisi lain yang mungkin menyebabkan gejala.
  • Tes pencitraan, seperti MRI, ultrasound otak, CT scan, PET scan, yang juga dapat membantu menyingkirkan penyebab lain.

Selain itu, dokter mungkin akan meresepkan obat penyakit Parkinson, yaitu carbidopa-levodopa. Jika gejala berkurang karena obat ini, dokter memastikan bahwa Anda memang terkena penyakit Parkinson. 

Terkadang, membutuhkan waktu lebih banyak untuk mendiagnosis penyakit ini. Oleh karena itu, dokter mungkin menyarankan Anda untuk menemui ahli saraf yang terlatih dalam gangguan gerakan pada kunjungan selanjutnya. Hal ini untuk mengevaluasi  gejala yang Anda alami dari waktu ke waktu serta membuat diagnosis yang tepat. 

Apa saja pilihan pengobatan untuk penyakit Parkinson?

Tidak ada pengobatan khusus yang bisa benar-benar menyembuhkan kondisi ini. Namun, beberapa obat dan pengobatan dapat membantu mengontrol gejala yang timbul. Berikut adalah beberapa obat dan pengobatan penyakit Parkinson yang umum diberikan dokter: 

  • Obat

Obat-obatan tertentu dapat meningkatkan atau mengganti dopamin yang hilang untuk membantu mengatasi masalah gerak dan tremor yang umum dialami penderita Parkinson. Beberapa obat tersebut, yaitu carbidopa-levodopa, dopamine agonists, MAO-B inhibitors, catechol O-methyltransferase (COMT) inhibitors, antikolinergik, dan amantadine. 

  • Operasi

Jika pasien tidak merespon secara positif terhadap obat, operasi mungkin perlu dilakukan. Salah satunya adalah prosedur deep brain stimulation (DBS) yang dilakukan dengan menanamkan implan elektroda ke bagian otak dan menghubungkannya ke perangkat listrik kecil yang ditanam di dada. 

  • Terapi

Terapi, seperti terapi fisik, wicara, dan okupasi, juga dapat dilakukan untuk membantu mengatasi masalah gerak, kekakuan, serta penurunan fungsi mental pada penderita Parkinson. Selain untuk meringankan gejala, terapi juga dapat membantu penderitanya untuk menjalani aktivitas sehari-hari.

Pengobatan penyakit Parkinson di rumah

Apa saja perubahan gaya hidup atau pengobatan rumahan yang dapat membantu mengatasi penyakit ini?

Selain secara medis, gaya hidup dan pengobatan rumahan mungkin dapat membantu mengatasi penyakit ini. Berikut adalah beberapa pengobatan rumahan untuk penyakit Parkinson yang bisa Anda lakukan: 

  • Minum obat sesuai resep dokter.
  • Istirahat yang cukup.
  • Berolahraga secara teratur, seperti berjalan, berenang, dan lain-lain, yang dapat membantu menjaga otot tetap lentur dan kuat.
  • Menerapkan pola makan sehat yang mungkin dapat membantu meringankan gejala, seperti mengonsumsi makanan tinggi serat dan minum banyak air putih.
  • Mencegah hal-hal yang meningkatkan risiko terjatuh, seperti tidak berjalan mundur, tidak membawa benda berat, dan sebagainya.
  • Melakukan pengobatan tradisional untuk Parkinson, seperti pijat, meditasi, yoga, dan sebagainya.

Bila ada pertanyaan, konsultasikanlah dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda.

Komplikasi penyakit Parkinson

Apa saja komplikasi dari penyakit Parkinson yang mungkin terjadi?

Parkinson adalah penyakit yang dapat menurunkan kualitas hidup seseorang. Meski tidak mematikan, penderita penyakit ini tidak bisa melakukan kegiatan sehari-hari seperti yang dilakukan orang pada umumnya. Selain itu, kelainan ini pun kerap disertai dengan beberapa kondisi medis lain yang dapat semakin mengganggu kesehatan penderitanya.

Oleh karena itu, Parkinson mungkin bisa dianggap sebagai penyakit yang bahaya. Apalagi, penyakit ini terus berkembang seiring berjalannya waktu dan tidak bisa disembuhkan. Dengan demikian, penderitanya mau tidak mau akan mengalami penurunan kualitas hidup ini.

Beberapa komplikasi dan kondisi medis lain yang juga mungkin timbul pada penderita penyakit Parkinson adalah:

  • Kesulitan berpikir dan demensia

Masalah kognitif (demensia) dan kesulitan berpikir kerap timbul pada penderita penyakit ini, terutama jika penyakit sudah berkembang ke tahap selanjutnya.

  • Depresi dan perubahan emosional

Terkadang, penderita penyakit ini kerap mengalami depresi, ketakutan, kecemasan, hingga kehilangan motivasi, yang bisa terjadi sejak tahap awal. Mengobati kondisi ini dapat mempermudah penanganan masalah lain yang timbul akibat Parkinson.

  • Masalah menelan

Anda mungkin mengalami masalah menelan seiring berjalannya waktu. Adapun kondisi ini menyebabkan air liur menumpuk di mulut dan sering menimbulkan “ngeces“.

  • Masalah mengunyah

Parkinson stadium akhir akan memengaruhi otot-otot di mulut, sehingga dapat membuat penderitanya sulit mengunyah. Adapun hal ini dapat menyebabkan masalah gizi atau menimbulkan tersedak saat makan.

  • Gangguan tidur

Penderita penyakit ini seringkali mengalami gangguan tidur, seperti terbangun sepanjang malam dan tertidur pada siang hari.

  • Masalah kandung kemih

Penyakit ini dapat menyebabkan masalah kandung kemih, seperti tidak dapat mengontrol urine atau kesulitan buang air kecil.

  • Sembelit

Sembelit atau konstipasi seringkali dialami penderita penyakit ini karena saluran pencernaan yang lebih lambat.

  • Hipotensi ortostatik

Penderita penyakit Parkinson kerap merasakan pusing saat berdiri karena penurunan tekanan darah yang terjadi secara tiba-tiba atau disebut hipotensi ortostatik. Penurunan tekanan darah ini dapat mencapai 20 mmHg untuk sistolik dan 10 mmHg untuk diastolik.

  • Masalah penciuman

Masalah dengan indera penciuman pun kerap terjadi pada penderita penyakit ini, seperti kesulitan mengenal atau membedakan bau.

  • Kelelahan

Meski tidak diketahui penyebabnya, penderita Parkinson kerap mengalami kehilangan energi hingga kelelahan pada kemudian hari.

  • Nyeri

Rasa nyeri atau sakit di area tubuh tertentu atau seluruh tubuh juga sering dirasakan penderita penyakit ini.

  • Disfungsi seksual

Beberapa orang dengan penyakit ini pun merasakan adanya penurunan hasrat seksual mereka.

  • Melanoma

Melanoma adalah bentuk kanker kulit yang invasif. Penyakit ini kerap terjadi pada penderita Parkinson, terutama bila sudah berkembang ke tahap lebih lanjut.

Beberapa kondisi lain bisa saja dirasakan oleh Anda. Konsultasikan selalu dengan dokter jika ini terjadi. Dokter akan membantu mengatasi masalah tersebut.

Pencegahan penyakit Parkinson

Bagaimana mencegah penyakit Parkinson?

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, penyebab Parkinson memang tidak diketahui pasti. Oleh karena itu, tidak ada cara tertentu yang terbukti dapat mencegah penyakit Parkinson.

Meski demikian, beberapa penelitian telah menunjukkan ada beberapa hal yang dapat membantu mengurangi risiko terjadinya penyakit ini, seperti olahraga aerobik secara rutin dan teratur atau mengonsumsi kafein (teh, kopi, atau minuman bersoda) dan teh hijau. Namun, saat ini tidak ada bukti yang cukup kuat untuk menyarankan seseorang mengonsumsi minuman berkafein agar terlindungi dari Parkinson.

Selain itu, beberapa cara lainnya juga mungkin dapat membantu menurunkan risiko Parkinson serta mencegah penyakit ini semakin berkembang. Beberapa cara tersebut, yaitu:

  • Menghindari paparan zat kimia berbahaya, seperti herbisida dan pestisida.
  • Menerapkan pola makan sehat, seperti mengonsumsi banyak sayuran dan asam lemak omega-3.
  • Meningkatkan kadar vitamin D.
  • Mengurangi stres.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

13 Komplikasi yang Mungkin Terjadi Akibat Stroke, Apa Saja?

Konsekuensi paling umum akibat stroke adalah lumpuh, biasanya merupakan kelumpuhan hemiplegia atau hemiparesis. Ketahui informasi lebih lanjut di sini.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Stroke, Kesehatan Otak dan Saraf 12 Februari 2021 . Waktu baca 7 menit

Psikopat

Psikopat adalah gangguan kepribadian yang penderitanya cenderung bertindak kriminal. Simak informasi lengkap mengenai psikopat di sini.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Kesehatan Mental, Gangguan Mental Lainnya 10 Februari 2021 . Waktu baca 12 menit

Lebih Baik Kompres Dingin atau Hangat untuk Menurunkan Demam?

Mana yang lebih baik untuk menurunkan demam: kompres dingin atau hangat? Simak masing-masing penjelasannya di sini.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Kesehatan, Gejala dan Kondisi Umum 10 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Apa yang Terjadi pada Pasien Setelah Stroke Berlalu?

Setelah kondisi stroke, terdapat beberapa dampak yang mungkin muncul pada tubuh. Berikut adalah hal yang dapat terjadi pasca stroke.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Stroke, Kesehatan Otak dan Saraf 10 Februari 2021 . Waktu baca 7 menit

Direkomendasikan untuk Anda

oral thrush

Meski Tampak Sama, Ini Beda Oral Trush, Lidah Peta, dan Oral Hairy Leukoplakia (OHL)

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 17 Februari 2021 . Waktu baca 3 menit
posisi tidur baik dan buruk

Berbagai Posisi Tidur yang Baik dan Buruk untuk Kesehatan

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Adinda Rudystina
Dipublikasikan tanggal: 15 Februari 2021 . Waktu baca 4 menit
sindrom pura-pura sakit

Pura-pura Sakit? Bisa Jadi Anda Mengidap Sindrom Munchausen

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 13 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit
gejala parkinson

Kenali Gejala-gejala Penyakit Parkinson yang Mungkin Terabaikan

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Dipublikasikan tanggal: 13 Februari 2021 . Waktu baca 7 menit