Tips Membantu Anak dengan Autisme Menghadapi Karantina COVID-19

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 27 Mei 2020 . Waktu baca 6 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Pandemi COVID-19 membuat banyak orangtua dan anak harus mengarantina diri di rumah demi memutus penyebaran virus. Beradaptasi dengan rutinitas karantina selama merebaknya COVID-19 tentu tidak mudah, apalagi bagi anak dengan autisme yang sering kesulitan menghadapi perubahan.

Selama masa karantina yang tidak pasti seperti saat ini, anak dengan autisme adalah yang paling berisiko mengalami stres dan kecemasan akibat COVID-19. Orangtua berperan penting dalam menyampaikan informasi yang tepat serta langkah yang dapat mereka lakukan untuk ikut serta mencegah penyebaran penyakit.

Tips bagi orangtua selama karantina COVID-19

cara mengatasi menangani anak autis

Anak-anak dengan autisme mungkin tidak memahami apa yang sedang terjadi. Atau, mereka tidak tahu bagaimana cara menunjukkan emosi dan rasa takutnya. Hal ini akan membuat karantina menjadi lebih sulit bagi mereka.

Anda dapat membantu buah hati tercinta menghadapi pandemi COVID-19 melalui cara yang lebih mudah dipahami, misalnya sebagai berikut:

1. Menjelaskan situasi tentang COVID-19 dengan bercerita

Informasi tentang COVID-19 penuh dengan istilah yang rumit. Walaupun anak mengerti, informasi yang datang bertubi-tubi bisa membuatnya bingung. Buatlah informasi ini jadi lebih sederhana dengan bercerita kepada anak melalui social stories (cerita sosial).

Cerita sosial mengajarkan anak dengan autisme tentang suatu keadaan dan apa yang harus mereka lakukan dalam situasi tersebut. Cerita ini biasanya juga disertai dengan gambar agar anak lebih mudah membayangkan dan memahaminya.

Ketika Anda menjelaskan COVID-19 kepada anak, cobalah bercerita sambil memakai gambar, video, emoji, atau alat bantu visual lainnya. Gunakan cara ini terutama untuk menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan:

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

257,388

Terkonfirmasi

187,958

Sembuh

9,977

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

2. Menyusun jadwal kegiatan yang baru

Jadwal kegiatan akan membantu anak pengidap autisme beradaptasi dengan rutinitas yang baru selama karantina COVID-19. Rutinitas juga penting agar orangtua tetap bisa memberikan reward kepada anak setelah ia melakukan kegiatannya dengan baik.

Anda bisa membuat jadwal kegiatan yang baru atau menyusunnya berdasarkan jadwal yang sudah dibuat oleh terapis. Sebagai gambaran, berikut jadwal kegiatan saat karantina yang dapat Anda sesuaikan dengan kebutuhan si buah hati:

  • Pukul 07:30: Bangun pagi, sarapan, mandi, dan berpakaian
  • Pukul 8:30: Sekolah online mengikuti jadwal yang sudah diberikan
  • Pukul 10:30: Istirahat sambil bergerak, berjalan kaki, atau meregangkan badan
  • Pukul 12:00: Makan siang (ajak anak membuatnya bersama bila mungkin)
  • Pukul 13:30: Sekolah selesai, anak boleh bermain medsos atau mengobrol dengan temannya
  • Pukul 15:00: Olahraga ringan dengan berjalan kaki atau menari
  • Pukul 16:00: Waktu bebas, tapi bukan untuk bermain ponsel atau menonton TV
  • Pukul 19:00: Makan malam bersama
  • Pukul 19:30: Waktu bebas, anak boleh bermain ponsel, menonton TV, membaca, dan lain-lain
  • Pukul 21:30: Siap-siap sebelum tidur

3. Memberikan lingkungan yang mendukung anak

Lingkungan sekitar pun ikut berperan ketika anak dengan autisme menjalani karantina COVID-19. Sebagai contoh, Anda bisa membantu anak tetap mandiri dengan menaruh benda-benda yang sering ia gunakan di tempat yang mudah dijangkau.

Meskipun anak tidak pergi ke mana pun selama karantina, biarkan ia tetap menyimpan alat tulis dan buku-bukunya di dalam tas. Atau, jika ia sangat menyukai mainan sensorik yang merangsang indera perabanya, biarkan ia bermain di tempat khusus yang sama.

Dengan cara ini, Anda membantu anak agar tetap aktif bergerak dan mandiri walaupun tidak keluar rumah. Di sisi lain, Anda juga dapat menjamin kebersihan diri anak maupun benda-benda yang sering ia sentuh.

cemas covid-19

4. Membatasi penggunaan gadget

anak main gadget

Gadget memang menyediakan sumber daya yang membantu orangtua dalam merawat anak dengan autisme. Akan tetapi, alat ini juga dapat menyita perhatian anak sehingga menghambat rutinitas. Inilah mengapa orangtua perlu bijak membatasi penggunaannya.

Karantina saat pandemi COVID-19 memang membuat anak dengan autisme gampang bosan. Namun, jangan hanya mengandalkan gadget untuk membuatnya belajar. Coba gunakan media lain seperti mainan, alat menggambar, alat musik, dan sebagainya. 

Membatasi gadget juga akan melindungi buah hati Anda dari berita terkait COVID-19 yang menimbulkan rasa takut dan cemas. Jadi, pastikan anak hanya menggunakan gadget selama waktu bebas yang sudah ditentukan.

5. Tetap berkomunikasi dengan terapis dan sesama orangtua

Walaupun terapi autisme tidak bisa dilakukan secara langsung, Anda tetap perlu berkonsultasi dengan terapis untuk memantau perkembangan anak. Konsultasi juga membantu Anda dan anak beradaptasi dengan lingkungan rumah dan rutinitas yang baru.

Bila perlu, manfaatkan pula jaringan di sekitar Anda. Cobalah bertanya kepada sesama orangtua untuk mengetahui penyesuaian seperti apa yang mereka lakukan di rumah. Anda juga bisa saling berbagi saran untuk mengatasi kendala selama karantina.

5 Langkah Cerdas Menjelaskan COVID-19 dan Penyakit Pandemi pada Anak

6. Mengelola stres yang Anda alami

Perubahan rutinitas, pekerjaan, dan kebutuhan anak tentu bisa menimbulkan stres dan cemas. Stres dan emosi negatif lambat laun dapat menumpuk sehingga membuat Anda lebih sulit menyampaikan sesuatu kepada anak.

Anda pun perlu mengelola stres yang muncul selama periode ini. Coba sediakan waktu untuk diri Anda sejenak, entah untuk beristirahat ataupun melakukan hal-hal yang Anda sukai. Selain itu, Anda juga dapat berkonsultasi dengan psikologis bila diperlukan.

Merawat anak dengan autisme di tengah karantina dan pandemi COVID-19 merupakan suatu tantangan tersendiri. Anda perlu membuat rutinitas yang baru, lebih sabar dalam menjelaskan hal-hal baru kepada anak, serta tetap mengelola stres selama masa ini.

Beberapa penyesuaian sederhana di atas mungkin dapat membuat hari-hari Anda dan si buah hati menjadi lebih mudah. Dengan demikian, Anda juga tetap dapat menjaga kebersihan diri dan melakukan upaya pencegahan COVID-19.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan di bawah ini.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Kasus Pasien COVID-19 Bunuh Diri dan Kesehatan Mental Selama Pandemi

Beberapa kasus pasien COVID-19 yang bunuh diri menandakan penanganan COVID-19 juga membutuhkan penanganan perhatian khusus pada kesehatan mental pasien.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 22 September 2020 . Waktu baca 5 menit

Klaster Penularan COVID-19 di Perkantoran Terus Bertambah, Apa yang Salah?

Memasuki new normal, angka penularan COVID-19 klaster perkantoran terus bertambah. Data terbaru mencatat setidaknya ada 90 klaster perkantoran di Jakarta.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 21 September 2020 . Waktu baca 5 menit

Kortikosteroid dan Keampuhannya Menyelamatkan Pasien COVID-19 Gejala Berat

Obat kortikosteroid terbukti ampuh menyelamatkan pasien COVID-19 dari keadaan kritis. Beberapa bukti ilmiah membuat obat ini dapat digunakan secara luas.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 21 September 2020 . Waktu baca 3 menit

Penularan COVID-19 dalam Aktivitas Sehari-hari, dari Makan Hingga Berenang

Berikut penjelasan ahli atas pertanyaan-pertanyaan seputar penularan COVID-19 dalam kehidupan sehari-hari. COVID-19 tidak menular dari air di kolam renang.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 21 September 2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Indonesia bisa menjadi episentrum covid-19 dunia

Apakah Indonesia akan Menjadi Episentrum COVID-19 di Dunia?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 23 September 2020 . Waktu baca 4 menit
thermo gun tidak merusak otak

Thermo Gun Tidak Merusak Saraf dan Otak, Cek Suhu di Dahi Lebih Akurat

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 23 September 2020 . Waktu baca 4 menit
risiko indonesia menjadi episentrum, penularan covid-19 saat konser pilkada 2020

Izin Konser saat Pilkada, Seberapa Bahaya Penularan COVID-19 di Tengah Konser?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 22 September 2020 . Waktu baca 4 menit
dampak jangka panjang covid-19

Dampak Jangka Panjang Setelah Pasien Sembuh dari COVID-19

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 22 September 2020 . Waktu baca 4 menit