Menelusuri Jumlah Kasus Positif COVID-19 Anak di Indonesia

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 29 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Anak ternyata menjadi salah satu kelompok yang rentan terinfeksi COVID-19. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mencatat bahwa angka kasus COVID-19 pada anak di Indonesia bahkan menjadi yang tertinggi di Asia.

Angka kasus ini kemungkinan lebih tinggi mengingat sedikitnya kasus orang tanpa gejala (OTG) yang melakukan pemeriksaan.

Kasus positif COVID-19 pada anak di Indonesia

stres anak saat pandemi

Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), DR. dr. Aman Bhakti Pulungan, SpA(K), FAAP, FRCPI (Hon) mengungkap data kasus COVID-19 pada anak di Indonesia beberapa waktu lalu.

Berikut rincian jumlah kasus dari data IDAI yang terbarui pada Senin (18/5).

  • Pasien dalam pengawasan (PDP) anak sebanyak 3.324 kasus.
  • Anak dengan status PDP yang meninggal sebanyak 129 kasus.
  • Anak terkonfirmasi positif COVID-19 sebanyak 584 kasus.
  • Kematian anak karena positif terinfeksi COVID-19 sebanyak 14 kasus.

Dokter Aman mengatakan jumlah kasus COVID-19 pada anak di Indonesia adalah yang tertinggi di Asia. Ia mencontohkan negara Singapura, Malaysia, dan Filipina yang sampai saat ini belum ada laporan kasus kematian anak karena COVID-19. 

Tingginya kasus penularan pada anak ini menurut dokter Aman disebabkan kurangnya pemeriksaan COVID-19 dan skrining yang dilakukan pada anak. Sedikitnya tes yang dilakukan berimbas pada keterlambatan deteksi dan penanganan.

“Jika deteksi dini dilakukan sebanyak mungkin, angka kasus COVID-19 pada anak tidak akan sebanyak ini,” kata dokter Aman dalam live instagram dengan komunitas Ayah Bunda pada Rabu (20/5). 

COVID-19 Outbreak updates
Country: Indonesia
Data

1,347,026

Confirmed

1,160,863

Recovered

36,518

Death
Distribution Map

Dalam pernyataan resmi pada Jumat (22/5), IDAI menganjurkan kepada pemerintah agar tidak membuka sekolah dalam waktu dekat. Pembukaan sekolah untuk saat ini bukan pilihan yang tepat karena penyebaran COVID-19 di sekolah akan sulit dikendalikan.

Dari data tersebut, IDAI juga menekankan bahwa anggapan anak bukan kelompok yang rentan COVID-19 adalah opini yang salah. Nyatanya, komplikasi infeksi COVID-19 juga bisa terjadi pada anak. Jika penularan pada anak terus bertambah dikhawatirkan rumah sakit akan kewalahan dan tidak mampu menampung pasien. 

“Rumah sakit tidak cukup jika angka penularan pada anak terus bertambah. Indonesia belum punya rumah sakit khusus anak untuk penanganan COVID-19,” jelas dokter Aman.  

Bagaimana risiko anak yang terinfeksi COVID-19?

anak infeksi covid-19

Melansir Harvard Health Publishing, sebuah studi pediatri di China menunjukkan sekitar 90% anak yang terinfeksi COVID-19 tidak mengalami gejala atau hanya mengalami gejala ringan hingga sedang.

Hal tersebut berarti ketika anak terkena COVID-19, mereka akan menunjukkan gejala yang lebih ringan seperti demam dan batuk.

Hanya saja, data tersebut terbantahkan dengan data kasus COVID-19 pada anak di Indonesia yang juga berisiko mengalami gejala yang berat. Jadi, pemahaman anak hanya akan mengalami gejala ringan saat terinfeksi COVID-19 terbantahkan.  

“Data temuan (IDAI) ini menunjukkan tingginya angka kesakitan dan kematian anak akibat COVID-19 di Indonesia,” tulis IDAI.

Gejala infeksi COVID-19 pada anak bisa sama dengan orang dewasa seperti batuk, panas, sesak, atau gejala pneumonia. Selain itu, anak yang terinfeksi COVID-19 juga bisa menunjukkan gejala diare, mual, dan muntah. 

“Kalau disebut anak (yang terinfeksi COVID-19) tidak bisa fatal itu tidak betul,” jelas dokter Aman. 

Dokter Aman mengelompokkan gejala tersebut ke dalam dua jenis yakni pneumonia dan diare. Dua jenis gejala ini harus menjadi perhatian, pneumonia dan diare berada di peringkat teratas penyebab kematian anak di Indonesia. Dari data UNICEF pada 2018, diperkirakan sekitar 19.000 anak Indonesia meninggal dunia akibat pneumonia.

anak imunisasi covid-19

Gejala yang ditimbulkan akibat infeksi COVID-19 memang ada yang berbeda-beda pada setiap pasien. Infeksi COVID-19 pada anak termasuk kasus yang rumit.

Di Amerika Serikat, puluhan anak dirawat karena mengalami gejala mirip penyakit kawasaki dan para ahli meyakini penyakit ini ada hubungannya dengan COVID-19. Jika tidak ditangani, penyakit ini bisa merusak pembuluh darah yang mengarah ke jantung. 

Gejala berat pada anak yang tertular COVID-19 juga rentan terjadi pada anak dengan penyakit penyerta lainnya. 

Apakah anak bisa menularkan pada orangtua?

anak orangtua infeksi covid-19

Meski kebanyakan kasus COVID-19 pada anak tertular dari orangtuanya, tapi anak juga berpotensi menularkan pada orang lain. 

Jika anak positif COVID-19 tanpa gejala sulit untuk mengetahui berapa besar potensi mereka menularkan virus corona pada orang lain. Hanya ada sedikit bukti bahwa anak tidak begitu berpotensi menularkan.

Penelitian yang dilakukan oleh University of Queensland menemukan bahwa anak-anak sebagai sumber penularan hanya kurang dari 10% kasus. Laporan ini dipublikasi oleh jurnal The Lancet tapi belum melalui review dari rekan sejawat (peer reviewed).

Untuk mencegah anak menjadi sumber penularan, IDAI menyarankan untuk menunda rencana sekolah dibuka saat COVID-19

Mereka juga menyarankan untuk lebih banyak melakukan screening pada anak. Dokter Aman mengatakan bahwa seharusnya saat pasien anak datang dengan keluhan gejala infeksi COVID-19, ia harus langsung diperiksa.

Tidak Cuma Lansia, Anak-anak Pun Berisiko Kena Komplikasi COVID-19

Testing harus sebanyak mungkin, yang saya maksud ini PCR bukan rapid test. Rapid test untuk anak, saya belum percaya dengan hasilnya,” kata dokter Aman. 

Memperbanyak dan mempercepat deteksi ini selain berfungsi mencegah penularan semakin luas, juga mempercepat penanganan pada anak. Perlu dicatat bahwa deteksi yang terlambat bisa membuat gejala yang timbul semakin parah.

“Terlepas dari comorbid (penyakit penyerta), jika deteksinya lebih tinggi maka lebih bisa kita selamatkan,” kata dokter Aman.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan berikut.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Vaksinasi COVID-19 Tahap 2 Dimulai, Siapa Saja Targetnya?

Pemerintah Indonesia mulai melakukan vaksinasi COVID-19 tahap 2 pada kelompok lansia dan petugas layanan publik. Bagaimana pelaksanaannya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 17 Februari 2021 . Waktu baca 3 menit

Digital Fatigue, Kelelahan Karena Penggunaan Media Digital

Meningkatnya penggunaan media digital perlu diwaspadai karena bisa menimbulkan masalah baru yang disebut sebagai digital fatigue. Apa itu?

Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Kesehatan Mental 16 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit

WHO Investigasi Asal Muasal COVID-19, Bagaimana Perkembangannya?

Setahun sejak kemunculannya, belum diketahui benar bagaimana asal muasal virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 ini. Berikut temuan terbarunya.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 16 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Reaksi Alergi Vaksin COVID-19 dan Hal-hal yang Perlu Diketahui

Sejumlah kecil penerima vaksin COVID-19 mengalami reaksi alergi, namun tidak semua berbahaya. Apa saja syarat kelayakan menerima vaksin?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 15 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

kopi untuk diabetes

Potensi Manfaat Kopi pada Penderita Prediabetes dan Diabetes di Masa Pandemi COVID-19

Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 5 Maret 2021 . Waktu baca 3 menit
Vaksin covid-19

Antisipasi dan Data Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi COVID-19 di Indonesia

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 25 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit
Alergi vaksin covid-19

Setelah Vaksinasi COVID-19 Berjalan, Kapan Indonesia Mencapai Herd Immunity?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 23 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit
Harimau dan Kasus Hewan Peliharaan yang Tertular COVID-19

Bayi Harimau Mati Diduga COVID-19, Bisakah Hewan Peliharaan Tertular Virus Corona?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 22 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit