Terus pantau perkembangan soal COVID-19 di sini.

home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Menelusuri Jumlah Kasus Positif COVID-19 Anak di Indonesia

Menelusuri Jumlah Kasus Positif COVID-19 Anak di Indonesia

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Anak ternyata menjadi salah satu kelompok yang rentan terinfeksi COVID-19. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mencatat bahwa angka kasus COVID-19 pada anak di Indonesia bahkan menjadi yang tertinggi di Asia.

Angka kasus ini kemungkinan lebih tinggi mengingat sedikitnya kasus orang tanpa gejala (OTG) yang melakukan pemeriksaan.

Kasus positif COVID-19 pada anak di Indonesia

stres anak saat pandemi

Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), DR. dr. Aman Bhakti Pulungan, SpA(K), FAAP, FRCPI (Hon) mengungkap data kasus COVID-19 pada anak di Indonesia beberapa waktu lalu.

Berikut rincian jumlah kasus dari data IDAI yang terbarui pada Senin (18/5).

  • Pasien dalam pengawasan (PDP) anak sebanyak 3.324 kasus.
  • Anak dengan status PDP yang meninggal sebanyak 129 kasus.
  • Anak terkonfirmasi positif COVID-19 sebanyak 584 kasus.
  • Kematian anak karena positif terinfeksi COVID-19 sebanyak 14 kasus.

Dokter Aman mengatakan jumlah kasus COVID-19 pada anak di Indonesia adalah yang tertinggi di Asia. Ia mencontohkan negara Singapura, Malaysia, dan Filipina yang sampai saat ini belum ada laporan kasus kematian anak karena COVID-19.

Tingginya kasus penularan pada anak ini menurut dokter Aman disebabkan kurangnya pemeriksaan COVID-19 dan skrining yang dilakukan pada anak. Sedikitnya tes yang dilakukan berimbas pada keterlambatan deteksi dan penanganan.

“Jika deteksi dini dilakukan sebanyak mungkin, angka kasus COVID-19 pada anak tidak akan sebanyak ini,” kata dokter Aman dalam live instagram dengan komunitas Ayah Bunda pada Rabu (20/5).

Dalam pernyataan resmi pada Jumat (22/5), IDAI menganjurkan kepada pemerintah agar tidak membuka sekolah dalam waktu dekat. Pembukaan sekolah untuk saat ini bukan pilihan yang tepat karena penyebaran COVID-19 di sekolah akan sulit dikendalikan.

Dari data tersebut, IDAI juga menekankan bahwa anggapan anak bukan kelompok yang rentan COVID-19 adalah opini yang salah. Nyatanya, komplikasi infeksi COVID-19 juga bisa terjadi pada anak. Jika penularan pada anak terus bertambah dikhawatirkan rumah sakit akan kewalahan dan tidak mampu menampung pasien.

“Rumah sakit tidak cukup jika angka penularan pada anak terus bertambah. Indonesia belum punya rumah sakit khusus anak untuk penanganan COVID-19,” jelas dokter Aman.

Bagaimana risiko anak yang terinfeksi COVID-19?

anak infeksi covid-19

Melansir Harvard Health Publishing, sebuah studi pediatri di China menunjukkan sekitar 90% anak yang terinfeksi COVID-19 tidak mengalami gejala atau hanya mengalami gejala ringan hingga sedang.

Hal tersebut berarti ketika anak terkena COVID-19, mereka akan menunjukkan gejala yang lebih ringan seperti demam dan batuk.

Hanya saja, data tersebut terbantahkan dengan data kasus COVID-19 pada anak di Indonesia yang juga berisiko mengalami gejala yang berat. Jadi, pemahaman anak hanya akan mengalami gejala ringan saat terinfeksi COVID-19 terbantahkan.

“Data temuan (IDAI) ini menunjukkan tingginya angka kesakitan dan kematian anak akibat COVID-19 di Indonesia,” tulis IDAI.

Gejala infeksi COVID-19 pada anak bisa sama dengan orang dewasa seperti batuk, panas, sesak, atau gejala pneumonia. Selain itu, anak yang terinfeksi COVID-19 juga bisa menunjukkan gejala diare, mual, dan muntah.

“Kalau disebut anak (yang terinfeksi COVID-19) tidak bisa fatal itu tidak betul,” jelas dokter Aman.

Dokter Aman mengelompokkan gejala tersebut ke dalam dua jenis yakni pneumonia dan diare. Dua jenis gejala ini harus menjadi perhatian, pneumonia dan diare berada di peringkat teratas penyebab kematian anak di Indonesia. Dari data UNICEF pada 2018, diperkirakan sekitar 19.000 anak Indonesia meninggal dunia akibat pneumonia.

anak imunisasi covid-19

Gejala yang ditimbulkan akibat infeksi COVID-19 memang ada yang berbeda-beda pada setiap pasien. Infeksi COVID-19 pada anak termasuk kasus yang rumit.

Di Amerika Serikat, puluhan anak dirawat karena mengalami gejala mirip penyakit kawasaki dan para ahli meyakini penyakit ini ada hubungannya dengan COVID-19. Jika tidak ditangani, penyakit ini bisa merusak pembuluh darah yang mengarah ke jantung.

Gejala berat pada anak yang tertular COVID-19 juga rentan terjadi pada anak dengan penyakit penyerta lainnya.

Apakah anak bisa menularkan pada orangtua?

anak orangtua infeksi covid-19

Meski kebanyakan kasus COVID-19 pada anak tertular dari orangtuanya, tapi anak juga berpotensi menularkan pada orang lain.

Jika anak positif COVID-19 tanpa gejala sulit untuk mengetahui berapa besar potensi mereka menularkan virus corona pada orang lain. Hanya ada sedikit bukti bahwa anak tidak begitu berpotensi menularkan.

Penelitian yang dilakukan oleh University of Queensland menemukan bahwa anak-anak sebagai sumber penularan hanya kurang dari 10% kasus. Laporan ini dipublikasi oleh jurnal The Lancet tapi belum melalui review dari rekan sejawat (peer reviewed).

Untuk mencegah anak menjadi sumber penularan, IDAI menyarankan untuk menunda rencana sekolah dibuka saat COVID-19.

Mereka juga menyarankan untuk lebih banyak melakukan screening pada anak. Dokter Aman mengatakan bahwa seharusnya saat pasien anak datang dengan keluhan gejala infeksi COVID-19, ia harus langsung diperiksa.

Tidak Cuma Lansia, Anak-anak Pun Berisiko Kena Komplikasi COVID-19

Testing harus sebanyak mungkin, yang saya maksud ini PCR bukan rapid test. Rapid test untuk anak, saya belum percaya dengan hasilnya,” kata dokter Aman.

Memperbanyak dan mempercepat deteksi ini selain berfungsi mencegah penularan semakin luas, juga mempercepat penanganan pada anak. Perlu dicatat bahwa deteksi yang terlambat bisa membuat gejala yang timbul semakin parah.

“Terlepas dari comorbid (penyakit penyerta), jika deteksinya lebih tinggi maka lebih bisa kita selamatkan,” kata dokter Aman.

Lawan COVID-19 bersama!

Ikuti informasi terbaru dan cerita para pejuang COVID-19 di sekitar kita. Ayo gabung komunitas sekarang!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber
Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Ulfa Rahayu Diperbarui 31/03/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan
x