home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Batuk pada Anak: Penyebab, Jenis dan Cara Mengatasinya

Apa yang menjadi penyebab batuk pada anak?|Jenis batuk pada anak yang perlu diwaspadai|Cara agar batuk pada anak cepat mereda|Kapan sebaiknya periksa ke dokter?
Batuk pada Anak: Penyebab, Jenis dan Cara Mengatasinya

Batuk pada anak memang cukup sering terjadi, terutama ketika anak sedang flu. Batuk biasanya akan sembuh seiring dengan pulihnya tubuh dari penyakit tersebut. Meski begitu, orangtua perlu memerhatikan jenis batuk yang sering menyerang anak. Berikut penjelasan seputar penyakit batuk pada anak.

Apa yang menjadi penyebab batuk pada anak?

Batuk dan pilek bisa disebabkan karena infeksi virus pada hidung, tenggorokan, dan sinus. Anak kecil bisa lebih sering mengalami batuk dan pilek karena belum mempunyai sistem kekebalan tubuh yang kuat.

Sebelum usia 7 tahun, sistem kekebalan tubuh anak belum kuat sepenuhnya. Di usia itu, tubuh anak belum membangun kekebalan pada lebih dari 100 virus berbeda yang menyebabkan batuk-pilek.

Saluran pernapasan atas anak (termasuk telinga dan bagian sekitarnya) belum sepenuhnya berkembang sampai setelah usia sekolah. Hal ini memungkinkan bakteri dan virus lebih bisa menyerang imunitas anak.

Namun, jika batuk pada anak tidak kunjung sembuh, jangan langsung beranggapan bahwa anak mempunyai sistem kekebalan tubuh yang lemah.

Pada saat ia terkena batuk, anak hanya sedang terpapar dengan banyak virus. Jika kondisi ini sering menyebabkan masalah yang lebih serius, mungkin sistem kekebalan tubuh anak sedang menurun.

Anak bisa terkena batuk karena tertular dari orang sekitarnya, seperti saudara, orang tua, anggota keluarga, teman, dan lainnya.

Anak yang sering bermain dengan temannya, mungkin akan lebih sering mengalami batuk dan pilek.

Musim penghujan juga dapat memengaruhi batuk pada anak. Usia balita bisa mengalami batuk dan pilek sampai 9 kali setiap tahun.

Sementara itu, orang dewasa bisa terkena batuk sebanyak 2-4 kali dalam setahun.

Saat anak sudah pernah terkena virus yang menyebabkan batuk, maka sistem kekebalan tubuh anak akan mengenalinya.

sehingga kekebalan tubuh anak pun menjadi lebih kuat. Oleh karena itu, frekuensi batuk dan pilek akan menurun pada anak yang lebih tua.

Jenis batuk pada anak yang perlu diwaspadai

batuk pada anak

Walau sering dianggap penyakit biasa, tapi orangtua perlu waspada. Pasalnya, batuk bisa menjadi gejala pada penyakit tertentu. Berikut jenis batuk pada anak yang perlu diperhatikan.

1. Batuk berdahak

Anak-anak sering terkena batuk karena pilek atau flu.

Ini menyebabkan hidung menjadi tersumbat atau berair, nafsu makan berkurang, mata berair, dan sakit tenggorokan.

Saat pilek, batuk berdahak juga sering menyertai dan biasanya sembuh dalam 1-2 minggu.

Namun, bila demam terus terjadi disertai berubahnya warna ingus menjadi kehijauan, segera periksa ke dokter.

Dikhawatirkan terjadi infeksi bakteri pada anak. Infeksi ini tidak hanya di tenggorokan saja tapi bisa sampai infeksi di paru-paru.

Menggunakan humidifier (alat pelembap udara), mandi dengan air hangat, serta mengonsumsi makanan atau minuman yang hangat bisa melegakan saluran napas anak dan meredakan sakit tenggorokan. Salah satu cara mengurangi batuk dan pilek tanpa obat.

2. Batuk mirip mengi pada anak

Kondisi ini terdengar seperti gejala batuk asma yaitu mengi. Mengi adalah suara napas yang mirip siulan bernada tinggi seperti ngik-ngik.

Ini memang umum terjadi pada anak yang berusia 6 bulan sampai 3 tahun.Namun jika mengi ini disebabkan karena asma biasanya terjadi di atas 2 tahun.

Batuk mengi biasanya akan membaik pada siang hari, tapi akan memburuk pada malam hari atau saat udara sekitarnya terasa dingin. Biasanya akan bertambah parah saat anak menangis atau merasa gelisah.

Batuk tersebut bisa disebabkan oleh penyakit croup.

Mengutip dari Kids Health, ini adalah infeksi pernapasan yang terjadi ketika laring (kotak suara), trakea (batang tenggorokan), serta bronkus (saluran udara ke paru-paru) mengalami iritasi dan membengkak.

Pembengkakan membuat saluran udara menyempit sehingga menyebabkan napas jadi lebih cepat dan dangkal serta batuk parah. Akibatnya anak akan sulit bernapas.

Croup paling rentan menyerang bayi usia 3 bulan sampai anak usia 5 tahun, tapi bisa juga dialami oleh anak-anak di atas 15 tahun.

Penyebabnya adalah infeksi virus seperti virus influenza, parainfluenza RSV, campak, dan adenovirus. Awalnya si kecil akan mengalami gejala pilek umum dan seiring waktu akan mengalami batuk mengi disertai demam.

Selain batuk mengi, gejala lain yang meliputinya adalah bernapas menjadi lebih cepat. Untuk meringankan kondisi batuk, menjaga agar anak tidak kedinginan merupakan cara termudah yang bisa dilakukan orangtua.

Batuk ini umumnya bisa ditangani di rumah dan mengonsumsi obat-obatan seperti ibuprofen atau acetaminophen.

Bila serangan batuk pada anak terjadi secara tiba-tiba disertai kesulitan bernapas atau mengi terjadi lebih dari lima menit hingga warna kulit di sekitar mulut anak berubah, segera bawa ke dokter.

3. Batuk kering di malam hari

Batuk ini akan memburuk ketika di malam hari atau sehabis beraktivitas fisik. Batuk kering merupakan gejala utama asma pada anak-anak.

Penyakit asma merupakan kondisi paru-paru yang meradang dan menyempit sehingga menghasilkan lendir berlebih.

Lendir di paru-paru menyebabkan sensasi menggelitik sehingga anak-anak dengan kondisi asma menjadi batuk.

Selain batuk, kondisi anak yang kurus, sering mengangkat dada ketika bernapas, atau mudah lelah bisa menjadi pertanda bahwa anak memiliki asma. Apalagi bila anak pernah mengalami kesulitan bernapas. Untuk memastikannya, periksa ke dokter.

Mencegah terjadinya serangan pada asma bisa dilakukan dengan menghindari pemicunya. Untuk kasus ringan, anak mungkin membutuhkan bronkodilator inhalasi dan obat pengendali asma.

4. Batuk tersengal-sengal

Ketika anak (terutama usia di bawah 2 tahun) mengalami batuk tersengal, bernapas dengan cepat dan suaranya terdengar serak, kemungkinan anak mengalami infeksi bronkiolus (bronkiolitis).

Bronkiolitis adalah kondisi di mana saluran kecil pada paru-paru mengalami pembengkakan dan berlendir.

Menurut American Academy of Pediatrics, infeksi yang disebabkan oleh virus sinsitial pernapasan ini tidak memerlukan sinar-X pada dada atau tes darah.

Dokter bisa mendiagnosis penyakit dengan melakukan pemeriksaan fisik dan menanyakan riwayat kesehatan secara menyeluruh.

Untuk kasus berat, anak mungkin memerlukan perawatan dari rumah sakit untuk menerima oksigen, cairan, dan obat-obatan.

5. Batuk rejan pada anak

Batuk rejan atau dikenal dengan pertusis terjadi akibat bakteri pertusis yang menyerang saluran pernapasan. Ini menyebabkan peradangan dan mempersempit bahkan menghalangi saluran pernapasan.

Bayi berisiko tinggi mengalami batuk ini. Apabila usianya belum mencapai satu tahun, ia harus mendapatkan perawatan di rumah sakit serta pengobatan antibiotik untuk mengobati batuk pada bayi karena pertusis.

Gejala batuk rejan awalnya seperti flu, tapi akan muncul batuk pada minggu kedua.

Batuknya biasanya lebih cepat dari batuk biasa disertai keluarnya semburan, bahkan bisa muntah atau tersedak karena napas berhenti sejenak.

Penyakit ini mudah menular dan bersifat sangat lama, bahkan batuknya bisa bertahan hingga lebih dari 6 bulan. Oleh karena itu, penyakit ini dikenal juga dengan istilah batuk 100 hari.

Cara agar batuk pada anak cepat mereda

anak batuk terus menerus

Untuk meredakan batuk pada si kecil, orangtua bisa mencoba berbagai pengobatan. Mulai dari obat batuk alami sampai obat dari dokter untuk anak.

Berikut beberapa obat untuk meredakan batuk pada anak:

  • Minum obat batuk khusus anak
  • Berikan anak cairan yang cukup
  • Hindari pemicu batuk dan alergi
  • Mengonsumsi madu

Obat batuk untuk anak bisa disesuaikan dengan kondisi si kecil, konsultasikan dengan dokter untuk lebih jelasnya.

Kapan sebaiknya periksa ke dokter?

Bila kondisi batuk sangat mengganggu, melakukan pemeriksaan ke dokter merupakan langkah yang tepat. Dokter bisa menyarankan pengobatan yang paling efektif untuk mempercepat proses penyembuhan.

Berikut adalah gejala batuk pada anak yang menandakan si kecil perlu segera di bawa ke dokter:

  • Anak batuk disertai demam tinggi
  • Anak sampai sulit bernapas karena batuk
  • Batuk rejan
  • Nyeri dada
  • Anak sulit atau tidak mau makan
  • Anak mengalami batuk darah
  • Anak mengalami batuk disertai muntah-muntah

Penting untuk memeriksakan ke dokter apabila batuk pada anak sudah berlangsung lebih dari 2 minggu.

Selain itu, apabila batuk pada anak sembuh dan kambuh terus selama lebih dari 3 bulan, orangtua wajib periksakan anak ke dokter untuk ditangani lebih lanjut.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Croup (for Parents) – Nemours KidsHealth. (2020). Kidshealth.org. Retrieved 6 May 2020, from https://kidshealth.org/en/parents/croup.html

Pertussis | Whooping Cough | Prevention | CDC. (2020). Retrieved 6 May 2020, from https://www.cdc.gov/pertussis/about/prevention/index.html

Pertussis | Whooping Cough | Signs and Symptoms | CDC. (2020). Retrieved 6 May 2020, from https://www.cdc.gov/pertussis/about/signs-symptoms.html

Home Treatments For Croup That Will Help Your Child’s Barking Cough. (2020). Retrieved 21 September 2020, from https://healthcare.utah.edu/the-scope/shows.php?shows=0_bo3b8lay

Croup. (2020). Retrieved 21 September 2020, from https://www.seattlechildrens.org/conditions/a-z/croup/

Croup (for Parents) – Nemours KidsHealth. (2020). Retrieved 21 September 2020, from https://kidshealth.org/en/parents/croup.html

Foto Penulis
Ditulis oleh Aprinda Puji pada 20/04/2021
Ditinjau oleh dr. Damar Upahita - Dokter Umum
x