home
close

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Mengenal Penyebab Hingga Cara Mengatasi Diare pada Anak

Apa itu diare pada anak?|Tanda dan gejala diare pada anak|Penyebab diare pada anak|Faktor risiko diare pada anak|Diagnosis diare pada anak|Bagaimana cara mengatasi dan mengobati diare pada anak? |Cara mencegah diare pada anak
Mengenal Penyebab Hingga Cara Mengatasi Diare pada Anak

Saat anak buang air besar lebih dari biasanya, orangtua sebaiknya lebih waspada. Hal ini dilakukan agar anak tidak mengalami diare akut. Apalagi, anak lebih rentan mengalami kondisi ini. Apa saja penyebab diare pada anak dan bagaimana cara mengatasinya? Simak penjelasan lengkapnya di bawah ini!

Apa itu diare pada anak?

Diare pada anak adalah kondisi saat si kecil mengalami gangguan pencernaan yang mengakibatkan lebih sering buang air besar ketimbang normal.

Maka dari itu, orangtua perlu lebih sigap karena anak jadi lebih sering bolak-balik ke kamar mandi. Tidak hanya itu saja, feses pun menjadi lebih lunak bahkan encer.

Dikutip dari Hopkins Medicine, kondisi ini mungkin berlangsung selama satu hingga dua hari dan bisa hilang dengan sendirinya.

Apabila diare berlangsung lebih dari dua hari, ada kemungkinan ia mengalami masalah yang lebih serius.

Ada dua jenis diare yang bisa dialami oleh anak, yaitu berupa:

1. Diare jangka pendek (akut)

Ini merupakan jenis diare yang berlagsung selama satu hingga dua hari serta bisa berhenti dengan sendirinya.

Ada kemungkinan kondisi ini terjadi saat makanan atau minuman yang dikonsumsi terkontaminasi bakteri.

2. Diare jangka panjang (kronis)

Jenis diare yang dialami anak satu ini bisa berlangsung selama beberapa minggu.

Maka dari itu, ada kemungkinan ini bisa disebabkan oleh masalah kesehatan lainnya seperti sindrom iritasi usus besar (IBS) atau penyakit usus lainnya.

Seberapa umum kondisi ini pada anak?

Diara pada anak merupakan gangguan pencernaan yang cukup umum terjadi pada anak-anak di bawah usia lima tahun .

Apalagi, kondisi ini dapat terjadi dari waktu ke waktu, begitu juga diare pada bayi.

Dikutip dari American College of Gastroenterology, diare pada anak yang terjadi di negara berkembang bisa menyebabkan massalah serius seperti malnutrisi atau gizi buruk.

Tanda dan gejala diare pada anak

Tanda atau gejala awal yang seringkali dialami oleh anak adalah ketika ia merasakan sakit perut bahkan hingga terasa kram.

Lalu, anak akan mengalami diare atau keluarnya feses yang lebih encer dibanding biasanya.

Tidak hanya itu saja, ada pula beberapa gejala lainnya yang bisa dirasakan oleh anak, seperti:

  • Merasa harus segera ke kamar mandi untuk mengeluarkan feses
  • Sakit perut yang disertai kembung
  • Nyeri di bagian rektum
  • Anak merasa mual dan ingin muntah
  • Penurunan berat badan
  • Kehilangan selera makan
  • Demam
  • Dehidrasi

Saat terjadi diare pada anak, tidak menutup kemungkinan ia mengalami dehidrasi. Kondisi ini bisa terjadi ketika asupan cairannya kurang saat diare

Berikut tanda-tanda dehidrasi pada anak yang bisa terjadi ketika diare:

  • Anak jadi jarang buang air kecil
  • Bibir dan mulut menjadi kering
  • Tampak kehausan
  • Lemas
  • mata tampak cowong
  • tugor kulit melambat
  • Menjadi lebih rewel dari biasanya
  • Energi menurun dan lebih mudah mengantuk

Pada beberapa kasus, gejala atau tanda diare yang dialami anak mungkin akan terlihat seperti masalah kesehatan lainnya.

Anda harus lebih berhati-hati karena diare parah bisa menjadi tanda penyakit serius. Segera bawa ke dokter agar mendapatkan diagnosis yang tepat.

Penyebab diare pada anak

Bisa dikatakan bahwa diare menjadi salah satu masalah kesehatan yang cukup melelahkan.

Akan tetapi, diare pada anak juga merupakan cara tubuh membersihkan diri dari kuman maupun bakteri lainnya.

Berikut beberapa penyebab paling umum terjadinya diare yang dialami anak:

1. Perubahan pola makan

Anak dapat mengalami diare karena perubahan pola makan. Sebagai contoh, ketika pencernaannya tidak menolerir jus, buah, atau bahkan susu dalam jumlah banyak.

Apalagi, jus buah kemasan mengandung gula serta karbohidrat yang sulit diserap oleh saluran pencernaan anak.

Termasuk ketika anak tidak cocok dengan kandungan susu tertentu sehingga membuat perutnya menjadi kembung dan berujung terjadinya diare. Tidak ada salahnya untuk menganti susu anak.

2. Infeksi pada pencernaan

Penyebab diare pada anak lainnya adalah infeksi di saluran pencernaan, yaitu usus. Infeksi tersebut diakibatkan oleh virus (paling umum), bakteri, serta parasit.

Maka dari itu, tidak menutup kemungkinan anak mengalami diare karena keracunan makanan.

Infeksi virus

Infeksi yang terjadi akibat virus biasanya berasal dari rotavirus sehingga menyebabkan terjadinya diare cair. Jenis virus ini biasa terjadi di musim dingin atau musim hujan.

Lalu, ada pula virus gastroenteritis yang menyebabkan flu perut pada anak. Tidak hanya diare, anak juga bisa mengalami mual serta muntah.

Beberapa virus lainnya yang menjadi penyebab diare pada anak adalah enterovirus.

Bakteri

Berbagai jenis bakteri penyebab diare pada anak di antaranya adalah E. Coli, Salmonella, Campylobacter, dan Shigella.

Jenis bakteri ini lah yang membuat anak keracunan makanan sehingga mengalami diare.

Parasit

Infeksi dari parasit yang menjadi penyebab diare biasanya berasal dari giardiasis dan kriptosporidiosis.

3. Penyebab lainnya

Sudah dijelaskan sedikit di atas bahwa diare merupakan hal yang umum terjadi pada anak.

Akan tetapi, ada beberapa kondisi sehingga membuat diare atau mencret menjadi masalah kesehatan yang cukup serius, seperti:

  • Masalah pada saluran pencernaan, seperti penyakit radang usus atau intususepsi
  • Penyakit yang mengganggu pencernaan (malabsorpsi) seperti cystic fibrosis atau penyakit celiac

Faktor risiko diare pada anak

Seperti yang sudah diketahui bahwa anak bisa mengalami diare ketika terjadi gangguan pencernaan.

Sebagai orangtua, Anda juga perlu tahu bahwa ada beberapa kondisi lainnya yang bisa meningkatkan risiko anak mengalami diare, seperti:

  • Perjalanan ke luar kota atau luar negeri
  • Berenang di kolam atau danau yang ternyata tercemar
  • Kondisi tempat penitipan atau sekolah yang kotor
  • Penggunaan antibiotik

Diagnosis diare pada anak

Hal pertama yang akan dilakukan dokter adalah bertanya mengenai gejala, bagaimana riwayat kesehatan anak, serta melakukan pemeriksaan fisik.

Apabila diperlukan, ada kemungkinan ia juga akan melakukan tes laboratorium untuk pemeriksaan feses serta darah.

Hal ini dilakukan untuk mengetahui apa jenis bakteri atau virus penyebab diare pada anak.

Berikut beberapa pertanyaan yang mungkin ditanyakan dokter kepada Anda:

  • Apa asupan makanan atau minuman yang terakhir dikonsumsi?
  • Kapan gejala mulai muncul dan seberapa sering buang air besar?
  • Apakah diare berair dan muncul darah?

Lalu, ada kemungkinan dokter akan menggunakan sigmoidoskopi untuk memeriksa bagian dalam usus besar anak.

Ini membantu untuk mengetahui penyebab diare, sakit perut, sembelit, hingga pendarahan.

Bagaimana cara mengatasi dan mengobati diare pada anak?

Perawatan yang bisa dilakukan saat anak mengalami diare sebenarnya bergantung pada gejala, usia, serta riwayat kesehatannya. Itu juga bergantung pada seberapa parah kondisi kesehatan anak.

Perlu diketahui orangtua bahwa apabila disebabkan oleh virus, diare bisa berhenti dnegan sendirinya.

Apabila disebabkan oleh bakteri, tidak menutup kemungkinan Anda membutuhkan obat diare anak seperti antiobiotik. Jangan memberikan obat diare seperti dewasa untuk memadatkan feses.

Diare pada anak mungkin saja malah bertambah parah jika Anda tidak mendampinginya dengan cara yang tepat.

Nah, agar tidak salah langkah berikut adalah beberapa cara mengatasi yang bisa dilakukan untuk meredakan diare pada anak di rumah:

1. Berikan minum yang banyak

Diare pada anak biasanya membuatnya rewel lebih karena kehausan. Namun, pada beberapa kasus diare yang parah justru membuat anak jadi malas minum.

Terlepas dari anak sedang haus atau tidak, penting untuk rutin memberikan si kecil minum air putih jika sedang diare.

Memberikannya banyak minum air putih dapat mengatasi atau mencegah dehidrasi yang sering terjadi pada si kecil saat diare.

Jangan lupa untuk tetap memperhatikan kebersihan air minum untuk si kecil. Pastikan air minumnya berasal dari air bersih dan matang agar tidak meningkatkan risiko kontaminasi bakteri.

Lalu, hindari pula memberikan jus pada anak. Walaupun mengandung air, vitamin, dan mineral, jus cenderung memicu sakit perut sehingga dapat memperparah kondisi anak.

2. Selingi air putih dengan pemberian oralit

Selain air putih, pemberian oralit bisa jadi cara yang cepat untuk mengatasi diare pada anak di atas usia 6 bulan.

Oralit adalah obat untuk menggantikan kadar elektrolit dan cairan tubuh yang hilang akibat dehidrasi.

Tersedia dalam bentuk obat serbuk yang harus dilarutkan atau dalam bentuk cairan siap minum.

Anak di atas 1 tahun bisa diberikan sebanyak 100-200 mililiter. Namun, orangtua mungkin perlu menyendokkan larutan sedikit-sedikit ke mulut jika ia belum terbiasa minum sendiri dari gelas.

Oralit mampu mengembalikan kadar cairan tubuh dalam 8-12 jam setelah dikonsumsi.

Bisa langsung dibeli di toko obat atau apotek, Anda juga bisa membuat larutan ini sendiri sebagai cara mengatasi diare pada anak di rumah.

Anda cukup mencampurkan dua sendok teh gula dan setengah sendok teh garam dapur ke dalam satu gelas air bersih yang matang.

Jika Anda masih ragu menentukan dosis oralit pada anak, jangan ragu untuk konsultasi pada dokter.

3. Berikan ia makan dalam porsi kecil

Diare pada anak dapat menurunkan nafsu makan. Namun, ia tetap harus makan untuk mencukupi asupan nutrisi dan mengisi ulang tenaganya supaya tidak merasa lemas.

Anda dapat mengakalinya dengan memberikan makanan dalam porsi lebih kecil, tetapi sering.

Memberi makanan langsung dalam porsi banyak justru bisa memicu perutnya jadi lebih sakit.

Jadi, daripada si kecil makanan dalam porsi besar untuk 3 kali sehari, lebih baik berikan ia makanan yang padat kalori sebanyak 6 kali sehari.

4. Pilih makanan yang mudah dicerna

Jika anak sudah mulai terbiasa makan makanan padat, Anda harus lebih hati-hati lagi memilih makanan untuknya.

Cari tahu dulu apa makanan yang baik untuk anak saat diare dan mana makanan yang sebaiknya dihindari saat buang-buang air.

Makanan yang baik untuk mengatasi diare pada anak adalah makanan yang teksturnya lembut, padat kalori, dan mudah dicerna.

Sementara itu, hindari memberikan makanan yang tinggi serat. Makanan tinggi serat bisa membuat feses anak justru melunak sehingga diarenya jadi semakin parah.

Maka dari itu, sebaiknya hindari dahulu makanan seperti sayuran hijau serta buah tinggi serat.

Hindari juga makanan yang mengandung lemak tinggi dan yang digoreng dengan minyak karena memberatkan kerja usus sehingga memperlambat proses penyembuhan.

Perhatikan juga pilihan makanan tertentu jika anak punya alergi atau intoleransi. Pasalnya, makanan yang memicu sistem imun bereaksi berlebihan pun bisa membuat diare jadi lebih parah.

Bila hal di atas sudah Anda lakukan, tetapi anak masih diare maka segeralah berkonsutasi ke dokter. Biasanya dokter akan meresepkan zink dan probiotik untuk pencerenaan anak.

Cara mencegah diare pada anak

Mencegah terjadinya diare yang dialami anak mungkin merupakan hal yang cukup sulit dilakukan.

Akan tetapi, Anda bisa menurunkan peluangnya dengan melakukan hal di bawah ini:

  • Pastikan anak mencuci tangan rutin. Terutama setelah keluar dari kamar mandi, sebelum makan, dan setelah bermain.
  • Jaga kebersihan ruang tamu, kamar mandi, serta kamar anak.
  • Hindari minum dari air yang kurang bersih.
  • Hindari susu yang belum melalui proses untuk membunuh bakteri tertentu.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Diarrhea in Children – American College of Gastroenterology. (2020). Retrieved 30 November 2020, from https://gi.org/topics/diarrhea-in-children/

Toddler’s Diarrhea | Riley Children’s Health. (2020). Retrieved 30 November 2020, from https://www.rileychildrens.org/health-info/toddlers-diarrhea

Diarrhea, Age 11 and Younger | CS Mott Children’s Hospital | Michigan Medicine. (2020). Retrieved 30 November 2020, from https://www.mottchildren.org/health-library/diar3

Diarrhea, Age 11 and Younger | CS Mott Children’s Hospital | Michigan Medicine. (2020). Retrieved 30 November 2020, from https://www.mottchildren.org/health-library/diar3

Diarrhea in Children. (2020). Retrieved 30 November 2020, from https://www.hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/diarrhea-in-children

How to Treat Diarrhea in Infants and Young Children. (2020). Retrieved 30 November 2020, from https://www.fda.gov/consumers/consumer-updates/how-treat-diarrhea-infants-and-young-children

Diarrhea. (2020). Retrieved 30 November 2020, from https://www.seattlechildrens.org/conditions/a-z/diarrhea/

Bagaimana Memberi Makan Anak Saat Sedang Diare. (2017). Retrieved 30 November 2020, from https://www.idai.or.id/artikel/klinik/keluhan-anak/bagaimana-memberi-makan-anak-saat-sedang-diare

Oral rehydration salts | Medicines for Children. (2020). Retrieved 30 November 2020, from https://www.medicinesforchildren.org.uk/oral-rehydration-salts

Buku Saku Petugas Kesehatan: Lintas Diare, 5 Langkah Tuntaskan Diare. (2020). Retrieved 30 November 2020, from http://dinkes.acehselatankab.go.id/uploads/Buku%20Saku%2001.pdf

Koletzko, S., & Osterrieder, S. (2009). Acute Infectious Diarrhea in Children. Deutsches Aerzteblatt Online. doi: 10.3238/arztebl.2009.0539

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Atifa Adlina Diperbarui 06/01/2021
Ditinjau secara medis oleh dr Damar Upahita
x