home
close

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Nyeri Otot pada Anak, Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

Penyebab nyeri otot pada anak|Cara mengatasi nyeri otot pada anak|Kondisi yang membuat anak harus ke dokter
Nyeri Otot pada Anak, Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

Anak yang aktif bergerak rentan mengalami nyeri otot. Usia anak-anak adalah masa ketika si kecil senang berlari atau melompat yang berisiko jatuh dan cedera. Namun, ada kondisi yang membuat anak mengalami sakit pada otot meski ia tidak jatuh. Berikut penjelasan lengkap seputar penyebab nyeri otot pada anak dan cara mengatasinya.

Penyebab nyeri otot pada anak

Pada dasarnya, saat anak mengeluhkan otot sakit, orangtua perlu memperhatikan dengan detail. Ada beberapa penyebab nyeri otot pada anak yang perlu orangtua perhatikan. Berikut penjelasannya.

Otot tegang

Sakit pada kaki anak sering terjadi karena otot tegang setelah olahraga atau aktivitas berat. Sebut saja, berlari atau melompat terlalu banyak dan sering.

Biasanya, rasa sakit pada otot anak karena tegang bisa terjadi lebih lama dari kram otot. Durasinya sekitar beberapa jam sampai 7 hari setelah aktivitas fisik.

Otot tegang juga bisa terjadi karena cedera, misalnya terjatuh saat bermain atau berjalan.

Growing pain

Penyebab otot yang tidak nyaman adalah growing pain, nyeri pada tulang dan otot yang berhubungan dengan pertumbuhan anak.

Berdasarkan penelitian dari Clinical and Experimental Rheumatology, 30 persen anak usia sekolah dasar mengalami sakit muskuloskeletal (otot dan tulang) kronis.

Biasanya nyeri pada otot anak akan hilang saat usia remaja dan ini bukan masalah yang berbahaya atau serius.

Mengutip dari Kids Health, usia anak yang paling sering mengalami ini yaitu 3, 5, 8, dan 12 tahun.

Growing pain bisa terjadi di otot paha, betis, belakang lutut, atau lengan anak. Biasanya, anak-anak akan mengalami kram saat malam hari sebelum tidur.

Growing pain juga bisa terjadi karena anak terlalu lelah dan aktif selama seharian, misalnya berlari, melompat, atau memanjat saat bermain.

Masalah kesehatan serius

Meski umumnya rasa sakit otot anak tidak bukan hal yang serius, orangtua tetap perlu waspada bila si kecil mengeluh sakit tak tertahankan.

Pasalnya, ada kemungkinan lain penyebab nyeri sendi dan otot pada anak yang mungkin terjadi lebih parah. Sebut saja, arthritis, lupus, lyme disease, dan leukimia.

Cara mengatasi nyeri otot pada anak

Ketika anak datang dan mengeluh sakit, orangtua perlu memeriksa nyeri untuk mengetahui pengobatan yang tepat. Berikut beberapa cara untuk mengatasi nyeri otot pada anak.

Kenali rasa sakit anak

Ayah dan ibu bisa minta anak untuk menilai rasa sakit dari skala 1 sampai 10. Langkah ini dapat memberitahu orangtua mengenai tingkat rasa sakit anak dan penanganannya.

Bisa juga dengan menganalogikan rasa sakit yang ia rasakan. Ambil contoh, “Adik, rasa sakit kakinya kayak ditusuk jarum, digigit semut, atau dicubit?”

Cara ini mungkin sulit si kecil kenali bila ia belum lancar bicara. Ibu bisa juga mengenali gejala lain yang berhubungan dengan nyeri otot, seperti:

  • demam,
  • cedera, atau
  • perubahan sikap anak.

Bila mengetahui penyebab, ibu dapat mengobati nyeri otot dengan menangani pemicu sakit pada anak terlebih dahulu.

Kompres hangat

Setelah nyeri dan kejang otot berkurang, ibu dapat menempelkan kompresan hangat untuk melancarkan aliran darah dan mempercepat proses penyembuhannya.

Mengutip dari situs resmi Univerisity of Rochester Medical Center, kompres hangat bisa membawa lebih banyak darah untuk mengurangi kekakuan sendi dan kejang otot.

Suhu yang hangat bisa memperlebar pembuluh darah sehingga aliran darah dan suplai oksigen bisa mencapai area yang nyeri.

Kompres dengan suhu hangat juga akan mengurangi kekakuan dan meningkatkan rentang gerak bagian tubuh yang nyeri.

Pijat lembut

Pijatan dapat melancarkan aliran darah, meringankan rasa sakit, serta melemaskan otot anak yang sakit.

Ibu bisa menggunakan minyak kelapa atau minyak telon agar kulit anak tetap lembap saat dipijat. Minyak juga membuat kulit lebih licin saat ibu memijat dan mengurangi iritasi.

Pemberian obat

Ketika metode non-obat tidak berhasil, ibu dapat mencoba beberapa obat untuk meringankan rasa sakit.

Dokter atau apoteker dapat merekomendasikan paracetamol atau ibuprofen. Hindari memberikan aspirin pada anak karena bisa memicu masalah serius, seperti sindrom Reye.

Tetap pantau kondisi anak setelah perawatan. Segera hubungi dokter jika nyeri semakin memburuk.

Kondisi yang membuat anak harus ke dokter

Meski nyeri otot pada anak sering tidak menandakan masalah kesehatan yang berbahaya, ibu tetap perlu perhatikan kondisi yang membuat si kecil harus ke dokter.

Berikut beberapa kondisi yang membuat anak perlu ke dokter:

  • demam,
  • pincang saat berjalan, atau
  • kaki tampak merah atau bengkak (menggembung).

Umumnya, rasa sakit pada otot tidak menghalangi anak untuk berlari, bermain, dan melakukan apa yang biasanya ia lakukan.

Jika rasa sakit mengganggu aktivitas sehari-hari, konsultasikan dengan dokter untuk mendapat penanganan yang tepat.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

F, S., M, B., M, P., N, M., F, V., & F, Z. (2014). Joint hypermobility, growing pain and obesity are mutually exclusive as causes of musculoskeletal pain in schoolchildren. Clinical And Experimental Rheumatology, 32(1). Retrieved from https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/24093536/

Vehapoglu, A., Turel, O., Turkmen, S., Inal, B., Aksoy, T., Ozgurhan, G., & Ersoy, M. (2015). Are Growing Pains Related to Vitamin D Deficiency? Efficacy of Vitamin D Therapy for Resolution of Symptoms. Medical Principles And Practice, 24(4), 332-338. doi: 10.1159/000431035

Leg Pain. (2021). Retrieved 10 May 2021, from https://www.seattlechildrens.org/conditions/a-z/leg-pain/

What a Pain! Kids and Growing Pains (for Kids) – Nemours KidsHealth. (2021). Retrieved 10 May 2021, from https://kidshealth.org/en/kids/growing-pains.html

 

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Riska Herliafifah Diperbarui 29/06/2021
Ditinjau secara medis oleh dr Damar Upahita
x