Kenapa Belum Ada Vaksin untuk Novel Coronavirus?

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Patricia Lukas Goentoro

Akibat wabah Novel coronavirus yang menyerang Tiongkok dan beberapa negara lainnya, lebih dari 800 orang terinfeksi dan 26 orang dilaporkan meninggal dunia. Infeksi virus dan bakteri umumnya dapat dicegah melalui pemberian vaksin. Namun, ada sejumlah kendala yang membuat vaksin Novel coronavirus hingga kini belum tersedia.

Jika digunakan secara efektif, vaksin tidak hanya dapat mencegah penularan penyakit berbahaya, tapi juga membuat penyakit tersebut tak lagi mematikan. Lantas, apa yang menjadi kendala dalam pengembangan vaksin virus ini?

Vaksin Novel coronavirus masih dikembangkan

Eksperimen vaksin hepatitis C

Novel coronavirus adalah bagian dari famili coronavirus yang menginfeksi saluran pernapasan. Kelompok virus ini dapat menyebabkan penyakit yang beragam, mulai dari pilek biasa, flu, hingga penyakit yang lebih parah seperti pneumonia dan bronkitis.

Coronavirus juga diketahui menyebabkan wabah Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) tahun 2002 dan Middle-East Respiratory Syndrome (MERS) tahun 2013 silam. Keduanya menginfeksi ribuan orang dan mengakibatkan ratusan orang meninggal.

Sebelum novel coronavirus muncul, banyak peneliti telah mencoba mengembangkan vaksin untuk SARS dan MERS. Sejumlah peneliti pada tahun 2003 berhasil menguji vaksin SARS terhadap manusia, tetapi pengembangan vaksin tidak dilanjutkan karena wabah SARS kala itu telah berakhir.

Pengembangan vaksin untuk MERS juga terkendala oleh waktu, biaya, dan risiko efek samping. Menurut W. Ian Lipkin, profesor di Mailman School of Public Health, AS, risiko seseorang terkena efek samping vaksin MERS akan lebih besar dibandingkan risikonya terinfeksi virus tersebut.

Walau demikian, penelitian tentang vaksin SARS dan MERS beberapa tahun lalu kini menjadi bekal bagi banyak ilmuwan untuk mengembangkan vaksin novel coronavirus. Pasalnya, ketiga virus tersebut disebut-sebut memiliki banyak kemiripan.

Sekelompok peneliti di Texas, New York, dan China kini masih berupaya mengenali kode genetik virus yang dinamai 2019-nCoV ini. Kabar baiknya, proses ini tidak lagi memakan waktu berbulan-bulan seperti pada kasus SARS dahulu, melainkan hanya beberapa minggu.

Kendala dalam mengembangkan vaksin novel coronavirus

Vaksin hepatitis

Hambatan dalam mengembangkan vaksin 2019-nCoV pada dasarnya sama dengan pembuatan vaksin lainnya. Ada dua faktor utama yang berperan, yakni faktor ilmiah dan kurangnya pendanaan.

Faktor ilmiah antara lain karakteristik bibit penyakit yang diteliti dan risiko efek samping vaksin. Sementara itu, kurangnya pendanaan dapat menghambat pengembangan serta penyebaran vaksin ke daerah tertentu, sekalipun daerah tersebut termasuk rentan.

Sebuah penelitian yang dimuat dalam Journal of Medical Microbiology memberikan gambaran mengenai beberapa kendala umum dalam pengembangan vaksin. Berikut di antaranya:

  • Data praklinis yang tidak memadai dan kurangnya informasi tentang imunitas masyarakat yang mungkin menggagalkan uji klinis nantinya.
  • Kurangnya informasi tentang paparan infeksi pada calon penerima vaksin.
  • Vaksin akan digunakan pada kelompok masyarakat yang sistem imunnya tidak begitu responsif.
  • Variasi bibit penyakit membuat peneliti harus selalu memperbarui formulasi vaksin.
  • Biaya pengembangan vaksin yang tinggi membuat produk potensial akhirnya terabaikan.
  • Kurangnya akses vaksin ke negara-negara yang lebih miskin.

Vaksin novel coronavirus memang masih berada dalam tahap pengembangan. Namun, proses yang panjang ini akan memberikan hasil sepadan di masa yang akan datang. Selama menantikan pembuatan vaksin, langkah terbaik yang dapat diambil saat ini adalah melakukan upaya pencegahan.

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: Januari 26, 2020 | Terakhir Diedit: Januari 24, 2020

Sumber
Yang juga perlu Anda baca