Bukan Ular atau Kelelawar, Novel Coronavirus Diduga Berasal dari Trenggiling

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 18 Desember 2020 . Waktu baca 6 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel berita seputar coronavirus (COVID-19) di sini.

Novel coronavirus yang kini merebak di 28 negara sempat diduga berasal dari ular dan kelelawar. Akan tetapi, dugaan ini ditampik oleh beberapa peneliti di Tiongkok, setelah mereka meneliti sampel virus pada lebih dari 1.000 hewan liar. Hasil pengamatan tersebut menemukan bahwa novel coronavirus kemungkinan berasal dari trenggiling.

Coronavirus adalah virus yang menular dengan perantara hewan. Jenis hewan yang berpotensi menyebarkan coronavirus pun beragam, mulai dari yang umum dikonsumsi hingga yang jarang ditemui seperti kelelawar dan trenggiling.

Banyaknya hewan yang berpotensi menyebarkan coronavirus menjadi kendala bagi peneliti dalam melacak penyebarannya. Lantas, bagaimana coronavirus akhirnya bisa ditemukan pada trenggiling?

Mengenal berbagai hewan penyebar coronavirus

Sumber: Wikimedia Commons

Coronavirus merupakan kelompok virus yang kerap menginfeksi saluran pernapasan manusia dan hewan. Virus berukuran besar ini terbagi menjadi beberapa tipe, dan novel coronavirus yang berasal dari Kota Wuhan, Tiongkok, adalah jenis yang paling baru.

Ada empat genus (marga) coronavirus yang sudah diketahui, yakni:

  • Alphacoronavirus dan betacoronavirus, hanya ditemukan pada mamalia seperti kelelawar, babi, serta manusia.
  • Gammacoronavirus dan deltacoronavirus, keduanya bisa menginfeksi mamalia serta burung.

Sebelum muncul isu novel coronavirus berasal dari trenggiling, peneliti di Tiongkok pada Januari lalu meyakini virus ini menyebar melalui ular. Dalam Journal of Medical Virology, mereka menyebut virus berpindah ke manusia melalui konsumsi daging ular.

Namun, hasil studi ini menuai kritik karena coronavirus belum terbukti dapat menjangkiti hewan selain mamalia dan burung. Menurut peneliti dari Pasteur Institute of Shanghai, Tiongkok, hewan penyebar virus berkode 2019-nCoV ini kemungkinan besar adalah kelelawar.

COVID-19 Outbreak updates
Country: Indonesia
Data

1,347,026

Confirmed

1,160,863

Recovered

36,518

Death
Distribution Map

Mereka menemukan kemiripan antara 2019-nCoV dan coronavirus penyebab Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) yang pernah mewabah pada 2003 lalu. Keduanya termasuk dalam kelompok betacoronavirus dan banyak ditemukan pada kelelawar.

Analisis genetik juga menunjukkan bahwa tipe virus yang saat ini mewabah 96% mirip dengan coronavirus pada kelelawar. Seluruh dunia pun meyakini coronavirus memang berasal dari kelelawar, hingga muncul hasil studi yang menemukan kaitan antara virus ini dengan trenggiling.

Belum lama ini, peneliti di Tiongkok dan Prancis menemukan bahwa mamalia yang menjadi asal penyebaran novel coronavirus bukanlah kelelawar, melainkan trenggiling. Seperti kelelawar, hewan ini pun dijual di Pasar Huanan, Wuhan, dan kerap dikonsumsi.

Menurut Arnaud Fontanet, seorang peneliti epidemiologi dari Pasteur Institute Prancis, coronavirus tidak berpindah secara langsung dari kelelawar ke manusia. Virus ini butuh hewan perantara untuk berpindah spesies, dan trenggiling mungkin adalah perantaranya.

Trenggiling, mata rantai penyebaran coronavirus dari kelelawar

Sumber: Wikipedia

Ada banyak hewan yang dapat menyebarkan virus ke spesies lain, dan hampir semua tipe coronavirus yang menjangkiti manusia ditularkan dari hewan liar. Kendati demikian, perpindahan virus dari hewan ke manusia tidak selalu terjadi secara langsung.

Beberapa penelitian terdahulu menunjukkan bahwa virus yang berasal dari kelelawar tidak mempunyai molekul yang diperlukan untuk menempel pada reseptor sel manusia. Virus-virus ini memerlukan missing link, atau mata rantai berupa hewan perantara.

Hewan yang menjadi perantara tidak selalu diketahui. Pada kasus novel coronavirus, peneliti awalnya belum menduga penyebarannya bersumber dari trenggiling. Fontanet meyakini perantaranya merupakan mamalia dari famili hewan yang sama dengan luak.

Pada 2003 ketika SARS merebak, mata rantai penularannya juga berasal dari kerabat luak, yakni musang. SARS-CoV dari kelelawar awalnya menjangkiti musang, kemudian berpindah ke manusia yang mengonsumsi daging hewan ini.

Guna menentukan mata rantai penyebaran novel coronavirus, peneliti dari South China Agricultural University, Tiongkok, menguji sampel virus pada lebih dari 1.000 jenis hewan liar. Hasilnya, urutan gen virus pada trenggiling memiliki 99% kemiripan dengan coronavirus yang berasal dari Wuhan.

Sebelum studi ini dilakukan, banyak peneliti sebenarnya telah mencurigai trenggiling sebagai perantara penularan virus dari kelelawar ke manusia. Inilah mengapa para peneliti tidak terkejut begitu mengetahui coronavirus pada trenggiling memiliki molekul yang dibutuhkan untuk berikatan dengan sel tubuh manusia.

Temuan ini memang menjanjikan, tapi ini tidak dapat dijadikan satu-satunya bukti. Para peneliti masih harus melakukan investigasi lebih lanjut untuk betul-betul mengetahui dalang di balik wabah yang telah memakan korban jiwa ratusan orang ini.

Pentingnya memutus mata rantai penyebaran virus

Sumber: Business Insider Singapore

Hasil penelitian menemukan kaitan kuat antara susunan genetik virus pada trenggiling dengan novel coronavirus dari Wuhan. Walau demikian, masih ada banyak faktor yang perlu dikaji sebelum para peneliti dapat memastikan hal ini dan menyebarluaskannya.

Saat ini, langkah terbaik yang dapat dilakukan masyarakat adalah melakukan upaya pencegahan dan menghentikan konsumsi daging hewan liar. Pasalnya, kedua faktor tersebut berperan penting dalam mencegah wabah bertambah luas.

Trenggiling merupakan hewan yang dilindungi, bahkan beberapa spesies trenggiling kini tergolong sebagai hewan langka. Sayangnya, kondisi tersebut ternyata tidak cukup untuk menghentikan perburuan hewan liar yang merajalela.

Tingginya minat beberapa kelompok masyarakat terhadap daging hewan liar membuat perburuan kian marak. Sebelum novel coronavirus merebak, daging trenggiling adalah satu dari 112 jenis hewan liar yang dijual di sudut terdalam pasar tersebut.

Indonesia pun mempunyai beberapa tempat penjualan daging hewan liar yang mirip dengan Pasar Huanan di Tiongkok. Meski telah lekat dengan keseharian masyarakat, pasar hewan liar sebenarnya merupakan tempat ideal bagi berkembangnya virus baru.

Hingga saat ini, tidak ada laporan mengenai perkembangan novel coronavirus di pasar daging hewan liar yang ada di Indonesia. Namun, masyarakat disarankan untuk menghindari konsumsi daging liar guna mencegah penyebaran virus lebih lanjut.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan di bawah ini.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

WHO Investigasi Asal Muasal COVID-19, Bagaimana Perkembangannya?

Setahun sejak kemunculannya, belum diketahui benar bagaimana asal muasal virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 ini. Berikut temuan terbarunya.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 16 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Proses Vaksinasi COVID-19 di Indonesia, Kelompok Prioritas Sampai Masyarakat Umum

Pelaksanaan vaksinasi COVID-19 di Indonesia telah berjalan, berikut tahapan cara registrasi hingga kondisi kesehatan yang perlu diperhatikan.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 10 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

China Gunakan Tes Swab Anal untuk COVID-19, Apa Bedanya dengan Swab Nasofaring?

Swab anal untuk COVID-19 dilakukan dengan memasukan kapas berukuran 3-5 cm ke dalam anus dan memutarnya untuk mengambil sampel feses.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 5 Februari 2021 . Waktu baca 3 menit

Virus Nipah Berpotensi Menjadi Wabah Besar Berikutnya

Virus Nipah, yang mewabah hampir setiap tahun di beberapa negara di Asia, berpotensi menjadi wabah besar berikutnya seperti pandemi COVID-19.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Penyakit Infeksi, Infeksi Virus 4 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Vaksin covid-19

Antisipasi dan Data Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi COVID-19 di Indonesia

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 25 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit
Alergi vaksin covid-19

Setelah Vaksinasi COVID-19 Berjalan, Kapan Indonesia Mencapai Herd Immunity?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 23 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit
Harimau dan Kasus Hewan Peliharaan yang Tertular COVID-19

Bayi Harimau Mati Diduga COVID-19, Bisakah Hewan Peliharaan Tertular Virus Corona?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 22 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit
Vaksin covid-19

Vaksinasi COVID-19 Tahap 2 Dimulai, Siapa Saja Targetnya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 17 Februari 2021 . Waktu baca 3 menit