Apakah Saya Berisiko Terinfeksi HIV? Waspadai Berbagai Penyebab HIV AIDS

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 29/01/2020
Bagikan sekarang

HIV/AIDS masih erat kaitannya dengan penyakit yang sering menjangkiti para pekerja seks komersial, orang-orang yang melakukan “seks bebas”, lelaki gay (homoseksual), dan pengguna narkoba. Namun, tahukah Anda bahwa ada golongan lain yang juga memiliki risiko tertular HIV sama besarnya seperti mereka yang tersebut di atas? Sebetulnya semua orang di dunia sama-sama memiliki risiko HIV/AIDS jika tidak melakukan langkah pencegahan yang pasti. Ini karena penyebab HIV dan AIDS bukan cuma dari hubungan seks tanpa kondom. 

Ketahui lebih dalam seputar berbagai penyebab HIV dan AIDS dan siapa saja paling berisiko tertular penyakit ini untuk menghindari penularan HIV makin meluas.

Mengenal virus penyebab penyakit HIV dan AIDS

HIV adalah penyakit infeksi yang menular melalui cairan tubuh tertentu. Penyebab utama dari HIV itu sendiri adalah Human Immunodeficiency Virus. Virus penyebab HIV menyebar lewat beberapa aktivitas tertentu yang memungkinkan pertukaran atau perpindahan cairan-cairan tubuh dari satu orang ke lainnya.

Di antara banyak cairan tubuh yang diproduksi manusia, darah, air mani (cairan ejakulasi pria), cairan pra-ejakulasi, cairan anus (rektum), cairan vagina, dan ASI merupakan yang paling rentan menjadi perantara penyebaran virus penyebab HIV.

HIV adalah virus yang menyerang sel CD4 dalam sistem imun. Sel CD4 atau sel T adalah jenis sel darah putih yang bertugas sebagai lini pertama pertahanan tubuh untuk melawan infeksi. Manusia bisa menghasilkan jutaan sel T setiap hari untuk menjaga kekebalan tubuh.

Begitu HIV masuk di tubuh Anda, virus akan “membajak” sel CD4 yang sehat dan terus menggandakan diri. Akhirnya, sel CD4 yang terinfeksi jadi membengkak, pecah, dan hancur. Apabila jumlah sel CD4 terus turun drastis hingga di bawah 200 per mililiter darah, kondisi akan berkembang menjadi AIDS.

Cara virus penyebab HIV dan AIDS memunculkan penyakitnya

HIV adalah penyakit kronis. Virus penyebab HIV dan AIDS akan terus ada di dalam darah Anda seumur hidup jika tidak dikendalikan.

Selama ada dalam tubuh, virus penyebab HIV akan terus berkembang biak dan melemahkan sistem kekebalan tubuh Anda. Kondisi ini dapat membuat Anda sangat rentan terkena penyakit kronis dan infeksi oportunis serius.

Ketika membicarakan berapa lama waktu yang dibutuhkan oleh virus penyebab HIV untuk memicu infeksi, jawaban umumnya adalah sekitar 72 jam setelah paparan pertama. Namun, tubuh biasanya tidak langsung mengalami gejala HIV saat sudah terinfeksi virus penyebab penyakit tersebut.

Dua aktivitas penyebab HIV dan AIDS yang utama

Virus penyebab HIV menyebar dari satu orang ke lainnya lewat cairan tubuh, seperti darah, air mani, cairan pra-ejakulasi, dan cairan vagina.

Pertukaran keempat cairan tubuh ini sangat lumrah terjadi saat hubungan seksual. Perpindahan darah juga mudah terjadi dari pemakaian jarum tidak steril, yang notabene sering terlihat pada pengguna narkoba suntik.

Dua jenis aktivitas berisiko tersebut merupakan penyebab HIV yang paling utama. Berikut penjelasan lebih lengkapnya:

1. Aktivitas seksual yang tidak aman

Virus penyebab HIV rentan ditularkan secara seksual; paling sering lewat hubungan seks vaginal (penis ke vagina) dan seks anal (penis ke anus).

Penetrasi penis ke vaginal merupakan jalur penularan HIV yang paling umum di antara kelompok heteroseksual, sementara penularan lewat seks anal paling umum bagi kelompok gay.

Hubungan seksual merupakan penyebab HIV dan AIDS yang paling umum karena aktivitas ini memungkinkan pertukaran cairan tubuh, seperti air mani, cairan anus, dan cairan vagina, yang mengandung virus dari pengidap kepada orang sehat.

Risiko penularan akan lebih tinggi terutama jika partner seks yang sehat memiliki luka terbuka atau lecet di kulit, kemaluan, ataupun jaringan lunak lainnya, sementara aktivitas seksual tersebut dilakukan tanpa pakai kondom.

Bagaimana dengan seks oral? Seks oral juga dapat menjadi perantara penyebaran virus penyebab HIV dan AIDS. Namun, risikonya rendah karena liur mengandung sangat sedikit virus. Risiko tertular dapat lebih tinggi jika pihak yang non-HIV memiliki luka terbuka pada mulutnya, seperti sariawan di bibir atau lidah maupun gusi berdarah.

Jika Anda sudah tergolong aktif secara seksual, risiko penularan virus penyebab HIV/AIDS juga tinggi apabila Anda bergonta-ganti pasangan seks.

2. Pemakaian jarum suntik tidak steril

Salah satu penyebab yang terkait erat dengan wabah HIV di Indonesia adalah penggunaan jarum suntik bekas secara bergantian untuk obat-obatan terlarang. Jenis narkoba yang biasa dikonsumsi lewat suntikan di antaranya adalah  kokain dan methamphetamine (sabu-sabu atau “meth”).

Jarum yang telah digunakan oleh orang lain akan meninggalkan sisa-sisa darah. Nah, virus penyebab HIV dapat bertahan hidup di dalam jarum selama kurang lebih 42 hari setelah kontak pertama kali.

Residu darah yang tertinggal pada jarum dapat masuk ke tubuh pemakai jarum selanjutnya lewat luka bekas suntikan. Maka, ada kemungkinan bahwa satu jarum bekas dapat menjadi perantara perpindahan virus HIV kepada banyak orang di waktu bersamaan atau berbeda.

Penggunaan obat melalui suntikan merupakan rute langsung dari transmisi. Namun demikian, perilaku berisiko lainnya yang terkait dengan pemakaian narkoba, seperti minum-minum alkohol, merokok, dan seks bebas juga terkait dengan peningkatan risiko penyebab HIV dan AIDS.

Perilaku-perilaku berisiko di atas dapat meningkatkan risiko HIV dengan mengaburkan logika dan menurunkan kesadaran pengguna untuk menalar. Pada orang yang telah terinfeksi, perilaku-perilaku ini dapat mempercepat perkembangan HIV dan berdampak buruk pada pengobatan HIV.

Menggunakan peralatan untuk membuat tattoo atau tindik badan – termasuk tinta – yang tidak steril atau bersih juga dapat menjadi perilaku penyebab HIV AIDS.

Orang-orang yang berisiko tertular virus penyebab HIV

Dari penjelasan di atas, risiko penularan HIV tampak paling banyak dan umum pada orang-orang yang berhubungan seks tanpa kondom dan pemakai narkoba.

Namun berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan tahun 2017, ada tren kenaikan jumlah kasus HIV baru pada anak-anak dan ibu rumah tangga. Kenapa begitu?

1. Ibu rumah tangga

Sampai saat ini tidak sedikit jumlah ibu rumah tangga yang didiagnosis mengidap HIV.

Seperti dikutip dari Jakarta Globe, Emi Yuliana dari Komisi Pencegahan AIDS Surabaya mengatakan jumlah ibu rumah tangga yang mengidap HIV/AIDS meningkat lebih banyak ketimbang kelompok wanita pekerja seks komersil. Pun menurut Kepala Badan Penanggulangan AIDS Daerah Bogor, sekitar 60% dari penderita HIV/AIDS di Kota Bogor adalah ibu rumah tangga.

Ini kemungkinan disebabkan oleh hubungan seksual dengan pasangan yang positif HIV dan kurangnya intervensi terhadap pencegahan dari penyebab HIV dan AIDS pada ibu rumah tangga.  Berbeda dengan upaya pencegahan pada pekerja seks komersial yang lebih digalakkan. 

Kendala utamanya yang diketahui adalah penolakan untuk menjalani tes HIV/AIDS setelah menikah, terutama pada kebanyakan ibu hamil ataupun yang berencana hamil. Penolakan biasanya terjadi karena merasa malu, tabu, atau merasa baik dirinya maupun pasangannya tidak pernah berhubungan seksual dengan orang lain.

Hanya ada kurang dari 10% yang bersedia menjalani tes HIV setelah menikah.

2. Petugas kesehatan

Kelompok lainnya yang berisiko tinggi terinfeksi virus penyebab HIV adalah petugas pusat layanan kesehatan, seperti dokter, perawat, petugas laboratorium, hingga petugas pembersih limbah fasilitas kesehatan. Penyebab HIV di institusi medis biasanya berasal dari darah yang terinfeksi.

Darah dari pasien yang positif HIV dapat menularkan HIV kepada petugas kesehatan tersebut melalui luka terbuka. 

Ada beberapa cara virus penyebab HIV dapat ditularkan ke petugas kesehatan, yaitu:

  • Jika jarum suntik yang telah dipakai oleh pasien yang terinfeksi virus penyebab HIV tidak sengaja tertancap ke petugas kesehatan (disebut juga needle-stick injury)
  • Jika darah yang terkontaminasi virus penyebab HIV mengenai membran mukosa seperti misalnya mata, hidung, dan mulut.
  • Jika darah yang terkontaminasi virus penyebab HIV mengenai luka terbuka.

Penularan virus penyebab HIV kepada petugas kesehatan dapat dicegah dengan cara:

  • Gunakan pelindung diri seperti masker, baju khusus rumah sakit, goggle atau kacamata khusus, dan sarung tangan.
  • Selalu tutup luka terbuka dengan plester atau perban.
  • Selalu berhati-hati jika menangani benda-benda tajam.
  • Buang limbah rumah sakit yang berpotensi mentransfer virus penyebab HIV (seperti jarum suntik misalnya) ke tempat sampah yang solid atau keras, tidak hanya di dalam plastik saja karena ujung jarum suntik yang tajam bisa saja menyembul keluar.
  • Bersihkan darah yang berceceran sesegera mungkin.
  • Selalu cuci tangan menggunakan cairan pembersih setelah melakukan kontak dengan pasien terutama jika terkena darah pasien.

3. Bayi

Ibu hamil yang menderita HIV dapat menularkan virus tersebut kepada bayinya.

Virus penyebab HIV dan AIDS ini dapat berpindah ketika bayi masih di dalam janin, ketika proses kelahiran, dan ketika menyusui. Penularan dari ibu ke bayi ini adalah penyebab HIV AIDS yang utama pada anak-anak.

Penyebab HIV AIDS yang ditularkan dari ibu ke bayi sebenarnya bisa dicegah, jika:

  • Perempuan yang mengidap HIV mendapatkan pengobatan HIV selama kehamilan dan saat proses melahirkan atau secara khusus menjadwalkan kelahiran melalui operasi caesar. Operasi caesar menimalisir penularan virus penyebab HIV seperti kemungkinan cairan-cairan tubuh ibu menginfeksi bayi saat proses kelahiran berlangsung.
  • Bayi yang dilahirkan dari ibu yang menderita HIV kemudian diberi obat HIV selama 6 minggu setelah lahir dan tidak diberi ASI. Untuk menghindari virus penyebab HIV, ibu yang terinfeksi dianjurkan untuk tidak menyusui bayinya dan mengganti ASI dengan susu formula sebagai salah satu pilihan untuk mencukupi kebutuhan gizi bayi.

Obat-obatan HIV mengurangi jumlah virus penyebab HIV dalam tubuh. Berkurangnya jumlah virus penyebab HIV secara langsung dapat menurunkan peluang penularan HIV pada bayi selama di dalam kandungan maupun saat proses kelahiran. Obat-obatan bisa ditransfer melalui plasenta sehingga dapat melindungi bayi dari infeksi virus penyebab HIV.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasi Ruam Pada Kulit Pengidap HIV

Ruam kulit kemerahan muncul pada sekitar 90% orang yang terinfeksi HIV dalam beberapa bulan pertama setelah terdiagnosis. Apakah ini berbahaya?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nabila Azmi

Tips Hidup Sehat dan Panjang Umur untuk Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA)

Ada banyak hal yang bisa dilakukan para ODHA atau penderita HIV supaya tetap segar dan fit. Simak berbagai tips sehat untuk ODHA berikut ini. 

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari

Selain Infeksi Menular Seksual, Ini Dampaknya Jika Sering Gonta-ganti Pasangan

Kecenderungan gonta-ganti pasangan dapat menimbulkan sejumlah dampak bagi kesehatan fisik dan psikis. Berikut di antaranya.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Diah Ayu

Penyebab Orang dengan HIV/AIDS Susah Gemuk, Plus Solusi Ampuh Naikkan Berat Badan

Orang dengan HIV/AIDS memang cenderung berbadan kurus. Selain karena virus itu sendiri, ada banyak faktor lain yang membuat ODHA susah gemuk.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini

Direkomendasikan untuk Anda

penyakit berisiko pada ODHA

Penyakit yang Paling Berisiko Dialami oleh Orang dengan HIV/AIDS (ODHA)

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Dipublikasikan tanggal: 27/05/2020
merawat anak HIV AIDS

Cara Merawat Anak yang Terkena HIV/AIDS

Ditinjau secara medis oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Dipublikasikan tanggal: 21/03/2020

Pasien Kedua yang Dinyatakan Sembuh dari HIV, Ini Faktanya

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 14/03/2020
anak terkena hiv

Cara Menyampaikan Bahwa Anak Anda Terkena HIV

Ditinjau secara medis oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Shylma Na'imah
Dipublikasikan tanggal: 22/11/2019