Novel Coronavirus Menyebabkan Pneumonia, Siapa yang Paling Rentan?

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Patricia Lukas Goentoro

Hingga Jumat (31/1), novel coronavirus yang menyerang Tiongkok dan belasan negara lainnya telah menyebabkan lebih dari 9.000 orang terinfeksi dan 213 orang meninggal dunia. Rata-rata, kematian disebabkan oleh komplikasi berupa pneumonia pada pasien dengan kondisi kesehatan yang telah menurun.

Novel coronavirus terbilang sebagai penyakit baru dan para ilmuwan pun belum dapat memastikan seberapa berbahaya penyakit ini. Meski demikian, dampaknya selama satu bulan terakhir ini cukup besar dan mengkhawatirkan. Apa sebenarnya yang membuat novel coronavirus menjadi mematikan?

Novel coronavirus menyebabkan pneumonia

Kondisi paru penyebab batuk berdarah

Novel coronavirus disebabkan oleh infeksi virus tipe baru dari famili besar coronavirus. Ada enam jenis coronavirus yang dapat menyerang sistem pernapasan manusia. Novel coronavirus dari Kota Wuhan, Tiongkok, adalah yang ketujuh.

Kelompok virus berukuran besar ini menyerang sistem pernapasan dan menyebabkan masalah pernapasan dengan tingkat keparahan yang beragam. Hingga saat ini, coronavirus yang telah ditemukan terbagi sebagai berikut:

  • 229E (alpha coronavirus)
  • NL63 (alpha coronavirus)
  • OC43 (beta coronavirus)
  • HKU1 (beta coronavirus)
  • MERS-CoV
  • SARS-CoV
  • 2019 Novel Coronavirus (2019-nCoV)

Sebagian besar coronavirus sebenarnya memicu masalah pernapasan yang cukup umum seperti pilek atau gejala mirip flu. Namun, SARS-CoV, MERS-CoV, dan novel coronavirus dapat menyebabkan komplikasi yang lebih berbahaya, yakni pneumonia.

SARS-CoV adalah coronavirus penyebab penyakit Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) yang mewabah tahun 2003 lalu. Sementara itu, MERS-CoV menyebabkan wabah Middle East Respiratory Syndrome yang merebak di 21 negara tahun 2013.

Saat muncul pertama kali di Kota Wuhan, novel coronavirus menyebabkan gejala mirip pneumonia. Gejala ini membuat ilmuwan menduga bahwa pneumonia adalah penyebabnya. Padahal, pasien justru mengalami komplikasi dari infeksi novel coronavirus.

Proses yang terjadi saat seseorang terinfeksi novel coronavirus

Pneumonia disebabkan bakteri penyebab batuk berdarah

Kendati dapat menyebabkan pneumonia, novel coronavirus sebenarnya bukan penyakit yang pasti mematikan. Sebelum mengalami pneumonia, orang yang terjangkit novel coronavirus akan menunjukkan gejala yang cukup umum, seperti demam, batuk kering, dan lemas.

Gejala dapat berlangsung selama satu minggu sebelum benar-benar mengganggu dan membuat pasien merasa harus pergi ke dokter. Sayangnya, penanganan pada periode ini mungkin agak terlambat karena gejala akan bertambah parah pada minggu kedua.

Memasuki minggu kedua, novel coronavirus mungkin belum menyebabkan pneumonia, tapi pasien mulai sesak napas akibat luka pada paru-paru. Sekitar 25 hingga 32 persen orang yang terinfeksi akan membutuhkan perawatan intensif di ICU.

Jika tidak ditangani, kerusakan paru-paru akibat novel coronavirus bisa menyebabkan komplikasi lain seperti septic shock, gagal ginjal, dan pneumonia yang diperparah oleh infeksi bakteri. Dokter sebenarnya dapat mengatasi pneumonia bakteri dengan mudah, tapi penyakit ini menjadi lebih sulit ditangani karena infeksi virus sebelumnya.

Novel coronavirus memang dapat menyebabkan pneumonia, tapi tidak semua kasus infeksi virus ini bersifat mematikan. Dengan deteksi dini dan perawatan yang tepat, kondisi pasien bisa kembali stabil atau bahkan pulih secara menyeluruh.

Menurut data yang terhimpun dalam Worldometer, tingkat kematian akibat infeksi novel coronavirus adalah sekitar tiga persen. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan SARS yang mencapai 9,6% atau MERS sebesar 34,4% di seluruh dunia.

Dari seluruh kasus kematian akibat infeksi novel coronavirus, sebanyak 15 persen di antaranya terjadi pada pasien lansia dengan kondisi kesehatan yang sudah menurun. Novel coronavirus memang menyebabkan pneumonia, tapi hal ini dialami pasien yang sudah menderita penyakit sebelumnya.

Siapa yang rentan mengalami kematian akibat novel coronavirus?

pengobatan lansia

Para peneliti sejauh ini belum seutuhnya memahami seberapa mematikan infeksi novel coronavirus. Kabar baiknya, angka kematian yang lebih kecil dapat menjadi petunjuk bahwa infeksi novel coronavirus tidak seberbahaya SARS maupun MERS.

Meski begitu, penularan novel coronavirus dinilai lebih cepat daripada kedua penyakit tersebut. David Fisman, profesor di University of Toronto, Kanada, menyebutkan bahwa tingkat penularannya berkisar antara 1,4 hingga 3,8. Ini berarti satu orang pasien dapat menularkan infeksi ke 1 hingga 3 orang yang sehat.

Sementara itu, peneliti di Tiongkok meyakini bahwa tingkat penularan infeksi virus berkode 2019-nCoV ini mungkin mencapai 5,5. Hal ini cukup mencemaskan, mengingat infeksi novel coronavirus bisa menyebabkan komplikasi berbahaya seperti pneumonia.

Setiap orang yang tidak melakukan upaya pencegahan sebenarnya berisiko terjangkit novel coronavirus dan mengalami komplikasinya. Akan tetapi, ada beberapa kelompok yang paling berisiko, yakni:

1. Pasien lansia yang menderita penyakit penyerta

Novel coronavirus dapat menjangkiti siapa saja. Namun, sebanyak 15 persen kematian terjadi pada lansia yang sudah memiliki komorbiditas atau penyakit penyerta. Pasien umumnya menderita diabetes, tekanan darah tinggi, dan penyakit jantung koroner.

2. Pasien dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah

Pasien dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah tidak dapat melawan infeksi sebaik orang-orang dengan sistem kekebalan tubuh normal. Akibatnya, infeksi novel coronavirus bisa menyebabkan pneumonia dan komplikasi lainnya dengan lebih cepat.

3. Ibu hamil

Janin belum memiliki sistem kekebalan tubuh sendiri. Sistem kekebalan tubuh ibu pun menurun selama hamil karena tubuhnya harus melindungi janin sekaligus. Ini sebabnya novel coronavirus lebih mudah menginfeksi ibu hamil dan menyebabkan pneumonia.

4. Pernah mendapatkan vaksin booster

Pasien novel coronavirus berjenis kelamin laki-laki lebih banyak dibanding perempuan. Penyebabnya diduga karena perempuan rutin mendapatkan vaksin booster rubella saat remaja. Akan tetapi, para peneliti masih perlu mengkajinya kembali. Jika vaksin rubella memang berpengaruh, hal ini tentu membantu pembuatan vaksin novel coronavirus.

Infeksi novel coronavirus bisa menyebabkan komplikasi berbahaya berupa pneumonia. Walau demikian, infeksi novel coronavirus tidak tergolong mematikan dan tidak semua pasien yang terinfeksi akan mengalaminya. Ada faktor-faktor yang perlu diperhitungkan sebelum menentukan seberapa parah dampak infeksi novel coronavirus.

Sumber foto: Cleveland Clinic

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: Februari 3, 2020 | Terakhir Diedit: Januari 31, 2020

Sumber
Yang juga perlu Anda baca