Disentri

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 15 Januari 2021 . Waktu baca 9 menit
Bagikan sekarang

 

Kalkulator BMI

Benarkah berat badan Anda sudah ideal?

Ayo Cari Tahu!
general

Definisi

Apa itu disentri? 

Disentri adalah penyakit infeksi pada usus yang menyebabkan diare yang disertai darah atau lendir. Diare sendiri biasanya ditandai dengan sering BAB yang lembek atau cair. 

Berdasarkan penyebabnya, gangguan pencernaan ini dibagi menjadi dua jenis, meliputi: 

  • Disentri basiler (shigellosis) akibat infeksi bakteri shigella dan 
  • Disentri amuba (amoebiasis) akibat infeksi bakteri Entamoeba histolytica.

Baik amuba dan bakteri penyebab disentri dapat berpindah melalui kontak langsung dengan bakteri pada feses. Penyebaran kedua kuman ini juga bisa terjadi lewat makanan dan minuman yang terkontaminasi, atau air yang terpapar bakteri.

Penyakit ini sangat menular. Jika tidak segera ditangani, peradangan usus ini dapat menyebabkan dehidrasi berat yang mengancam jiwa. 

Seberapa umum kondisi ini? 

Disentri adalah penyakit pencernaan yang umum, tetapi cenderung terjadi pada anak-anak. Dilansir dari WHO, diperkirakan terdapat 165 juta kasus diare akibat bakteri shigella yang terjadi setiap tahun secara global. 

Penyakit yang menyebabkan diare parah ini juga lebih sering dijumpai pada negara berkembang dengan persentase 99 persen. Hal ini mungkin dikarenakan keterbatasan fasilitas sanitasi dan air bersih yang memadai. 

Anda bisa mengatasi gangguan pencernaan ini dengan mengurangi faktor risiko. Silakan diskusikan dengan dokter untuk informasi lebih lanjut. 

Tanda-tanda & gejala

Apa saja tanda dan gejala disentri? 

Gejala disentri dapat muncul dalam skala ringan hingga berat. Selain itu, kebanyakan gejala juga tergantung pada tingkat penyebaran infeksi bakteri. Sebagai contoh, gejala disentri di negara maju cenderung lebih ringan dibandingkan negara berkembang atau di daerah tropis. 

Kondisi yang bisa menjadi ciri-ciri disentri diantaranya: 

Umumnya, gejala-gejala di atas akan muncul 1 hingga 2 hari setelah Anda terinfeksi. Penyakit ini juga bisa berlangsung selama 5 sampai 7 hari. 

Pada anak-anak dan lansia, diare bisa menjadi gejala yang serius dan memerlukan rawat inap di rumah sakit. Sementara itu, beberapa orang mungkin tidak mengalami gejala yang parah, tetapi masih bisa menyebarkan bakterinya ke orang lain. 

Kemungkinan ada tanda-tanda dan gejala disentri yang tidak disebutkan di atas. Bila Anda memiliki kekhawatiran mengalami gejala disentri tertentu, jangan ragu untuk segera berkonsultasi ke dokter Anda.

Kapan saya harus ke dokter? 

Segera hubungi dokter untuk mendapatkan penanganan medis bila mengalami gejala berupa: 

  • sering mengalami BAB berdarah, 
  • merasa sakit saat BAB, 
  • demam dengan suhu tubuh hingga 40º C, 
  • penurunan berat badan, dan
  • muncul gejala dehidrasi, seperti merasa haus dan jantung berdebar. 

Penyebab

Apa penyebab disentri? 

Penyebab disentri dibagi menjadi dua jenis, yaitu bakteri dan amuba. Berikut ini penjelasannya. 

Disentri akibat infeksi bakteri (disentri basiler)

Salah satu penyebab disentri adalah infeksi bakteri yang menyerang sistem pencernaan. Infeksi tersebut meliputi berbagai jenis bakteri, antara lain: 

Keempat jenis bakteri tersebut bisa dijumpai pada feses orang yang terinfeksi dan menyebar melalui banyak cara, yaitu: 

  • tidak mencuci tangan setelah BAB,
  • konsumsi makanan dan minuman yang terkontaminasi, 
  • memegang benda atau bagian tubuh yang terpapar bakteri, dan 
  • berenang di air yang terkontaminasi, baik danau maupun kolam renang. 

Penyakit yang menyebabkan diare ini lebih sering ditemukan di pusat penitipan anak, panti jompo, sekolah, dan tempat dengan jumlah orang yang banyak dan sanitasi buruk. 

Disentri amuba

Selain bakteri, amuba pun bisa menjadi penyebab seseorang mengalami disentri. Jenis amuba yang menjadi dalang dibalik penyakit ini adalah Entamoeba histolytica yang bisa ditemukan di negara tropis. 

Pada saat amuba yang berada di dalam usus penderita siap keluar dari tubuh, mereka akan berkumpul dan membentuk cangkang. Hal ini bertujuan untuk melindungi amuba dan dikenal sebagai kista. 

Kista yang keluar dari feses tersebut dapat bertahan hidup di luar tubuh. Itu sebabnya, ketika sanitasi tidak memadai dan feses tersebut dibuang sembarangan, amuba akan mencemari lingkungan sekitar, termasuk air. 

Bila orang lain makan dan minum yang telah terkontaminasi amuba, tentu hewan tersebut akan masuk ke tubuh orang lain. Hal ini yang membuat disentri amuba cukup umum terjadi pada negara yang menggunakan kotoran manusia sebagai pupuk.

Selain melalui makanan dan minuman, amuba juga bisa menyebar secara seksual, terutama lewat kontak mulut ke anus. 

Faktor-faktor risiko

Apa yang meningkatkan risiko saya terkena penyakit ini? 

Ada banyak faktor yang bisa meningkatkan risiko Anda mengalami penyakit disentri, meliputi: 

  • balita, terutama pada anak berusia antara 2 hingga 4 tahun, 
  • tinggal di permukiman padat penduduk atau mengikuti aktivitas warga, 
  • tinggal atau bepergian ke daerah dengan sanitasi yang buruk, dan
  • pria yang berhubungan seks dengan pria lainnya. 

Komplikasi

Apa saja komplikasi dari disentri? 

Bila tidak segera ditangani, disentri dapat menimbulkan sejumlah komplikasi serius. Berikut ini beberapa komplikasi yang perlu Anda waspadai. 

Dehidrasi 

Salah satu komplikasi disentri yang paling sering terjadi adalah dehidrasi. Dehidrasi akibat diare berkepanjangan dapat menyebabkan tubuh kehilangan cairan yang dibutuhkan. 

Komplikasi yang satu ini cukup berbahaya, terutama pada anak-anak dan lansia. Segera periksakan diri ke dokter bila Anda atau anak mengalami gejala dehidrasi. 

Abses

Selain dehidrasi, disentri yang tidak diatasi dengan tepat juga bisa menyebabkan abses, baik pada hati, paru-paru, maupun jantung. Pasalnya, infeksi amuba dapat menyebar ke organ-organ tersebut, sehingga perlu mendapatkan perawatan segera.

Kejang

Anak-anak paling rentan mengalami kejang akibat komplikasi dari penyakit disentri. 

Sampai saat ini belum diketahui pasti mengapa anak-anak bisa mengalami komplikasi satu ini. Namun, kejang akibat sakit disentri umumnya akan hilang tanpa pengobatan.

Komplikasi lainnya

Ketiga kondisi di atas adalah komplikasi yang paling sering terjadi akibat penyakit disentri. Namun, ada berbagai kondisi lainnya yang bisa muncul akibat tidak mendapatkan pengobatan yang tepat, seperti: 

  • kekurangan nutrisi, 
  • arthritis, 
  • infeksi aliran darah (septisemia), 
  • sindrom uremik hemolitik
  • kekurangan kalium, dan
  • prolaps rektum.

Diagnosis

Bagaimana mendiagnosis kondisi ini? 

Jika Anda atau anak Anda mengalami ciri-ciri disentri yang telah disebutkan, segera konsultasikan ke dokter. Pasalnya, ada banyak penyakit yang ditandai dengan demam dan BAB berdarah. 

Oleh karena itu, pemeriksaan laboratorium adalah cara yang paling tepat untuk mendiagnosis kondisi ini. 

Selain pemeriksaan fisik dan bertanya seputar gejala serta riwayat kesehatan, Anda juga mungkin akan menjalani sejumlah tes, meliputi: 

Obat & Pengobatan

Bagaimana cara mengobati disentri? 

Umumnya, disentri dengan gejala ringan akan pulih dengan sendirinya tanpa pengobatan khusus. Namun, Anda tetap harus menggantikan cairan tubuh yang hilang akibat diare yang parah. 

Selain itu, penting untuk dipahami bahwa setiap orang membutuhkan penanganan yang berbeda berdasarkan tingkat keparahan gejala. Beberapa orang mungkin mendapatkan perawatan di rumah sakit, sementara lainnya hanya perlu menjalani perawatan di rumah. 

Berikut ini sejumlah pilihan pengobatan disentri yang biasa direkomendasikan oleh dokter. 

Antibiotik

Antibiotik adalah salah satu cara mengobati disentri yang dinilai paling efektif. Dokter biasanya akan meresepkan antibiotik untuk melawan bakteri penyebab disentri. 

Beberapa antibiotik yang sering digunakan antara lain: 

Fungsi antibiotik akan bekerja ketika jumlah obat di dalam tubuh dijaga dengan tingkat yang konsisten. Anda tetap harus melanjutkan antibiotik hingga habis meski gejala disentri sudah hilang setelah beberapa hari. 

Beritahu dokter jika kondisi gejala yang Anda alami tidak kunjung hilang atau memburuk. Silakan konsultasi ke dokter untuk informasi lebih lanjut. 

Minum air yang banyak dan oralit

Selain antibiotik, dokter juga akan merekomendasikan Anda minum air yang banyak untuk menggantikan cairan yang hilang akibat diare. Kondisi ini bisa berujung pada dehidrasi bila dibiarkan begitu saja. 

Tidak hanya minum oralit, Anda juga bisa meningkatkan asupan cairan tubuh dan garam yang dibutuhkan dengan larutan oralit. Larutan oralit biasanya diberikan pada anak-anak. 

Meski begitu, perlu diingat bahwa oralit tidak dapat menyembuhkan disentri. Oralit hanya bisa membantu mencegah atau mengobati pasien mengalami dehidrasi. 

Bila Anda memiliki bayi berusia di bawah 6 bulan, tetap berikan ASI eksklusif untuk mencegah diare semakin parah. Kandungan ASI dapat menghambat pertumbuhan kuman penyebab diare. 

Sementara bagi anak-anak dan orang tua yang mengalami dehidrasi parah memerlukan penanganan di unit gawat darurat di rumah sakit. Hal ini agar mereka dapat menerima garam dan cairan melalui infus, dibanding lewat mulut. 

Hidrasi melalui infus memberikan air dan nutrisi yang penting pada tubuh lebih cepat dari cairan oral.

Pengobatan di rumah

Apa saja perubahan-perubahan gaya hidup atau pengobatan rumahan yang dapat dilakukan untuk mengatasi disentri?

Selain mendapatkan perawatan dari dokter, Anda juga perlu mengubah gaya hidup menjadi lebih bersih dan sehat agar cepat sembuh dari disentri. 

Tips mengubah gaya hidup saat terkena disentri meliputi: 

  • lebih banyak beristirahat, 
  • minum obat sesuai aturan dokter, 
  • bersihkan tempat penggantian popok bayi dengan desinfektan, 
  • buang popok di tempat sampah yang tertutup, 
  • rajin mencuci tangan dengan sabun dan air hangat, 
  • tidak mempersiapkan makanan selama terinfeksi, 
  • menjaga kebersihan makanan, minuman, dan alat makan, 
  • konsumsi makanan yang mudah dicerna, tinggi protein, dan rendah serat,
  • hindari minum susu dan produk susu lainnya yang tidak dipasteurisasi, 
  • perbanyak minum air putih, dan
  • kurangi makanan yang terlalu pedas, asam, berminyak, dan kurang matang. 

Bila Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut, silakan konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan solusi yang tepat. 

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Mengenal Bakteremia, Ketika Bakteri Hidup di dalam Darah

Bakteremia merupakan kondisi medis yang menggambarkan adanya bakteri di dalam darah. Jika tidak diobati, kondisi ini dapat berujung fatal.

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Penyakit Infeksi, Infeksi Bakteri 8 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit

Semua yang Perlu Anda Tahu tentang Infeksi Bakteri

Infeksi bakteri merupakan gangguan kesehatan akibat bakteri. Penyakit yang ditimbulkan berbeda-beda tergantung lokasi infeksi. Apa saja?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Penyakit Infeksi, Infeksi Bakteri 7 Januari 2021 . Waktu baca 8 menit

Ragam Cara Mudah Mengatasi Perut Kembung yang Cepat dan Ampuh

Perut kembung alias begah pasti rasanya tidak enak. Namun, jangan bingung dulu! Anda bisa coba berbagai cara mengatasi perut kembung ini!

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Kesehatan Pencernaan 7 Januari 2021 . Waktu baca 9 menit

Penyakit Pes

Penyakit pes adalah infeksi yang disebabkan oleh bakteri Y. pestis. Jika tidak segera ditangani, penyakit ini dapat berakibat pada kematian.

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Shylma Na'imah
Penyakit Infeksi, Infeksi Bakteri 6 Januari 2021 . Waktu baca 10 menit

Direkomendasikan untuk Anda

gastritis adalah radang lambung

Gastritis (Radang Lambung)

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 13 Januari 2021 . Waktu baca 13 menit
makan telur mentah

Makan Telur Mentah, Sehat atau Malah Berbahaya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 13 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
penyakit pada sistem pencernaan

11 Penyakit yang Paling Sering Terjadi pada Sistem Pencernaan

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 13 Januari 2021 . Waktu baca 12 menit
Perbedaan infeksi bakteri dan virus

Infeksi Staphylococcus aureus

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Dipublikasikan tanggal: 8 Januari 2021 . Waktu baca 8 menit