Disentri

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 8 Februari 2021 . Waktu baca 9 menit
Bagikan sekarang

 

Kalkulator BMI

Benarkah berat badan Anda sudah ideal?

Ayo Cari Tahu!
general

Definisi disentri

Disentri adalah penyakit infeksi pada usus yang menyebabkan diare yang disertai darah atau lendir. Diare sendiri biasanya ditandai dengan sering BAB yang lembek atau cair. 

Berdasarkan penyebabnya, gangguan pencernaan ini dibagi menjadi dua jenis, meliputi: 

  • Disentri basiler (shigellosis) akibat infeksi bakteri Shigella, dan 
  • Disentri amuba (amoebiasis) akibat infeksi bakteri Entamoeba histolytica.

Amuba dan bakteri penyebab disentri dapat berpindah melalui kontak langsung dengan bakteri pada feses. Penyebaran keduanya juga bisa terjadi lewat makanan dan minuman yang terkontaminasi, atau air yang terpapar bakteri.

Penyakit ini sangat menular. Jika tidak segera ditangani, peradangan usus ini dapat menyebabkan dehidrasi berat yang mengancam jiwa. 

Seberapa umum penyakit disentri? 

Disentri merupakan gangguan pencernaan yang umum, tetapi cenderung terjadi pada anak-anak. Dilansir dari WHO, diperkirakan terdapat 165 juta kasus diare akibat bakteri shigella yang terjadi setiap tahun secara global. 

Penyakit yang menyebabkan diare parah ini juga lebih sering dijumpai pada negara berkembang dengan persentase 99 persen. Hal ini mungkin dikarenakan keterbatasan fasilitas sanitasi dan air bersih yang memadai. 

Anda bisa mengatasi gangguan pencernaan ini dengan mengurangi faktor risiko. Silakan diskusikan dengan dokter untuk informasi lebih lanjut. 

Tanda dan gejala disentri

Gejala disentri dapat muncul dalam skala ringan hingga berat. Selain itu, kebanyakan gejala juga tergantung pada tingkat penyebaran infeksi bakteri.

Sebagai contoh, gejala disentri di negara maju cenderung lebih ringan dibandingkan negara berkembang atau di daerah tropis. Kondisi yang bisa menjadi ciri-ciri disentri termasuk: 

Umumnya, gejala-gejala di atas akan muncul 1 – 2 hari setelah Anda terinfeksi. Penyakit ini juga dapat berlangsung selama 5 – 7 hari. 

Pada anak-anak dan lansia, diare bisa menjadi gejala serius dan memerlukan rawat inap di rumah sakit. Sementara itu, beberapa orang mungkin tidak mengalami gejala parah, tetapi masih bisa menyebarkan bakterinya ke orang lain.

Kemungkinan ada tanda-tanda dan gejala disentri yang tidak disebutkan di atas. Bila Anda memiliki kekhawatiran mengalami gejala disentri tertentu, jangan ragu untuk segera berkonsultasi ke dokter Anda.

Kapan harus periksa ke dokter? 

Segera hubungi dokter untuk mendapatkan penanganan medis bila mengalami gejala berupa: 

  • sering mengalami BAB berdarah
  • merasa sakit saat BAB, 
  • demam dengan suhu tubuh hingga 40º C, 
  • penurunan berat badan, dan
  • muncul gejala dehidrasi, seperti merasa haus dan jantung berdebar. 

Penyebab dan faktor risiko

Apa penyebab disentri? 

Penyebab disentri dibagi menjadi dua jenis, yaitu bakteri dan amuba. Berikut ini penjelasannya. 

Disentri akibat infeksi bakteri (disentri basiler)

Salah satu penyebab disentri adalah infeksi bakteri yang menyerang sistem pencernaan. Infeksi tersebut meliputi berbagai jenis bakteri, antara lain: 

Keempat jenis bakteri tersebut bisa dijumpai pada feses orang yang terinfeksi dan menyebar melalui banyak cara, yaitu: 

  • tidak mencuci tangan setelah BAB,
  • konsumsi makanan dan minuman yang terkontaminasi, 
  • memegang benda atau bagian tubuh yang terpapar bakteri, serta 
  • berenang di air yang terkontaminasi, baik danau maupun kolam renang. 

Penyakit yang menyebabkan diare ini lebih sering ditemukan di pusat penitipan anak, panti jompo, sekolah, dan tempat dengan jumlah orang yang banyak dan sanitasi buruk. 

Disentri amuba

Selain bakteri, amuba pun bisa menjadi penyebab seseorang mengalami disentri. Jenis amuba yang menjadi dalang dibalik penyakit ini adalah Entamoeba histolytica yang bisa ditemukan di negara tropis. 

Pada saat amuba yang berada di dalam usus penderita siap keluar dari tubuh, mereka akan berkumpul dan membentuk cangkang. Hal ini bertujuan untuk melindungi amuba dan dikenal sebagai kista. 

Kista yang keluar dari feses tersebut dapat bertahan hidup di luar tubuh. Itu sebabnya, ketika sanitasi tidak memadai dan feses tersebut dibuang sembarangan, amuba akan mencemari lingkungan sekitar, termasuk air. 

Bila orang lain makan dan minum yang terkontaminasi amuba, hewan tersebut akan masuk ke tubuh orang lain. Hal ini membuat disentri amuba cukup umum terjadi pada negara yang menggunakan kotoran manusia sebagai pupuk.

Selain melalui makanan dan minuman, amuba juga bisa menyebar secara seksual, terutama lewat kontak mulut ke anus.

Apa yang meningkatkan risiko terkena penyakit disentri? 

Ada banyak faktor yang bisa meningkatkan risiko mengalami penyakit disentri, meliputi: 

  • balita, terutama yang berusia 2 – 4 tahun,
  • tinggal di permukiman padat penduduk atau mengikuti aktivitas warga, 
  • tinggal atau bepergian ke daerah dengan sanitasi yang buruk, serta
  • pria yang berhubungan seks dengan pria lainnya. 

Komplikasi disentri

Bila tidak segera ditangani, disentri dapat menimbulkan sejumlah komplikasi serius. Berikut ini beberapa komplikasi yang perlu Anda waspadai.

Dehidrasi 

Salah satu komplikasi disentri yang paling sering terjadi adalah dehidrasi. Dehidrasi akibat diare berkepanjangan dapat menyebabkan tubuh kehilangan cairan yang dibutuhkan. 

Komplikasi yang satu ini cukup berbahaya, terutama pada anak-anak dan lansia. Segera periksakan diri ke dokter bila Anda atau anak mengalami gejala dehidrasi. 

Abses

Selain dehidrasi, disentri yang tidak diatasi dengan tepat juga bisa menyebabkan abses, baik asbes pada organ hati, paru-paru, maupun jantung.

Pasalnya, infeksi amuba dapat menyebar ke organ-organ tersebut, sehingga perlu mendapatkan perawatan segera.

Kejang

Anak-anak paling rentan mengalami kejang akibat komplikasi dari penyakit disentri. 

Sampai saat ini belum diketahui pasti mengapa anak-anak bisa mengalami komplikasi satu ini. Namun, kejang akibat sakit disentri umumnya akan hilang tanpa pengobatan.

Komplikasi lainnya

Ketiga kondisi di atas adalah komplikasi yang paling sering terjadi akibat penyakit disentri. Namun, ada berbagai kondisi lainnya yang bisa muncul akibat tidak mendapatkan pengobatan yang tepat, seperti: 

Diagnosis disentri

Bagaimana mendiagnosis disentri? 

Jika Anda atau anak Anda mengalami ciri-ciri disentri yang telah disebutkan, segera konsultasikan ke dokter. Pasalnya, ada banyak penyakit yang ditandai dengan demam dan BAB berdarah. 

Oleh karena itu, pemeriksaan laboratorium merupakan cara yang paling tepat untuk mendiagnosis kondisi ini. 

Selain pemeriksaan fisik dan bertanya seputar gejala serta riwayat kesehatan, Anda juga mungkin akan menjalani sejumlah tes, meliputi: 

Bagaimana cara mengobati disentri? 

Umumnya, disentri dengan gejala ringan akan pulih dengan sendirinya tanpa pengobatan khusus. Namun, Anda tetap harus menggantikan cairan tubuh yang hilang akibat diare yang parah. 

Penting untuk dipahami bahwa setiap orang membutuhkan penanganan berbeda berdasarkan tingkat keparahan gejala. Beberapa orang mungkin mendapatkan perawatan di rumah sakit, sementara lainnya perlu menjalani perawatan di rumah.

Berikut ini sejumlah pilihan pengobatan disentri yang biasa direkomendasikan oleh dokter. 

Antibiotik

Antibiotik merupakan salah satu cara mengobati disentri yang dinilai paling efektif. Dokter biasanya akan meresepkan antibiotik untuk melawan bakteri penyebab disentri. 

Beberapa antibiotik yang sering digunakan antara lain: 

Fungsi antibiotik akan bekerja ketika jumlah obat di dalam tubuh dijaga dengan tingkat yang konsisten. Anda tetap harus melanjutkan antibiotik hingga habis meski gejala disentri sudah hilang setelah beberapa hari. 

Beritahu dokter jika kondisi gejala yang Anda alami tidak kunjung hilang atau memburuk. Silakan konsultasi ke dokter untuk informasi lebih lanjut. 

Minum air yang banyak dan oralit

Selain antibiotik, dokter juga akan merekomendasikan Anda minum air yang banyak untuk menggantikan cairan yang hilang akibat diare. Kondisi ini bisa berujung pada dehidrasi bila dibiarkan begitu saja. 

Tidak hanya minum oralit, Anda juga bisa meningkatkan asupan cairan tubuh dan garam yang dibutuhkan dengan larutan oralit. Larutan oralit biasanya diberikan pada anak-anak. 

Meski begitu, perlu diingat bahwa oralit tidak dapat menyembuhkan disentri. Oralit hanya bisa membantu mencegah atau mengobati pasien mengalami dehidrasi. 

Bila Anda memiliki bayi berusia di bawah 6 bulan, tetap berikan ASI eksklusif untuk mencegah diare semakin parah. Kandungan ASI dapat menghambat pertumbuhan kuman penyebab diare. 

Bawa ke rumah sakit

Bagi anak dan orang tua yang mengalami dehidrasi parah memerlukan penanganan di unit gawat darurat rumah sakit. Hal ini agar mereka dapat menerima garam dan cairan melalui infus, dibanding lewat mulut. 

Hidrasi melalui infus memberikan air dan nutrisi yang penting pada tubuh lebih cepat dari cairan oral.

Pengobatan di rumah

Selain mendapatkan perawatan dari dokter, Anda juga perlu mengubah gaya hidup menjadi lebih bersih dan sehat agar cepat sembuh dari disentri. 

Tips mengubah gaya hidup saat terkena disentri meliputi sebagai berikut.

  • Lebih banyak beristirahat.
  • Minum obat sesuai aturan dokter.
  • Bersihkan tempat penggantian popok bayi dengan desinfektan.
  • Buang popok di tempat sampah yang tertutup.
  • Rajin mencuci tangan dengan sabun dan air hangat.
  • Tidak mempersiapkan makanan selama terinfeksi.
  • Jaga kebersihan makanan, minuman, dan alat makan.
  • Konsumsi makanan yang mudah dicerna, tinggi protein, dan rendah serat.
  • Hindari minum susu dan produk susu lainnya yang tidak dipasteurisasi.
  • Perbanyak minum air putih.
  • Kurangi makanan yang terlalu pedas, asam, berminyak, dan kurang matang. 

Bila Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut, konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan solusi yang tepat. 

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Kapan Waktu yang Tepat Minum Obat Cacing?

Cara terbaik untuk mencegah dan mengobati cacingan ini adalah dengan minum obat cacing. Namun, kapan tahu waktu yang tepat minum obat cacing?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Infeksi Melalui Makanan 28 Februari 2021 . Waktu baca 4 menit

5 Makanan dan Minuman Sehat yang Mengandung Bakteri Asam Laktat

Tahukah Anda kalau makanan yang mengandung bakteri asam laktat menyehatkan? Makanan apa saja itu? Mari simak jawabannya di sini.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Fakta Gizi, Nutrisi 26 Februari 2021 . Waktu baca 3 menit

BAB Sering Berdarah? Hati-hati, Bisa Jadi Tanda Kanker pada Saluran Cerna

Penyebab BAB berdarah bukan cuma ambeien alias wasir saja. Darah pada feses bisa jadi pertanda adanya kanker pada salah satu organ saluran cerna Anda.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: dr. Ivena
Kanker, Kanker Lambung 24 Februari 2021 . Waktu baca 3 menit

Pancolitis (Radang Usus Besar)

Pancolitis (radang usus besar) adalah peradangan kronis pada seluruh lapisan usus besar. Apa obat, gejala, dan penyebab kondisi ini?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Novita Joseph
Kesehatan Pencernaan, Gangguan Pencernaan Lainnya 19 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

penyebab septikemia

Waspada Septikemia, Keracunan pada Darah Akibat Bakteri

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Rizki Pratiwi
Dipublikasikan tanggal: 3 Maret 2021 . Waktu baca 5 menit
keracunan makanan

Keracunan Makanan

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 3 Maret 2021 . Waktu baca 11 menit
Infeksi Bakteri E Coli

Infeksi Bakteri E. coli

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Dipublikasikan tanggal: 3 Maret 2021 . Waktu baca 8 menit
sakit perut karena gas dan karena penyakit lain

Tips Membedakan Sakit Perut Karena Gas dan Karena Penyakit Lain

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Monika Nanda
Dipublikasikan tanggal: 2 Maret 2021 . Waktu baca 5 menit