Vaksin MMR: Manfaat, Jadwal, dan Efek Samping

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 16 Oktober 2020 . Waktu baca 9 menit
Bagikan sekarang

Pemberian imunisasi pada anak adalah salah satu cara pencegahan penyakit infeksi berbahaya sejak usia dini. Salah satu jenis vaksin yang harus didapat oleh orang-orang Indonesia adalah vaksin MMR. Imunisasi ini untuk melindungi anak dari penyakit Measles atau campak, Mumps atau gondongan, dan Rubella atau campak Jerman. Jangan anggap sepele ketiga penyakit tersebut, berikut penjelasan seputar vaksin MMR.

Apa itu vaksin MMR?

penyakit campak pada bayi

Vaksin MMR adalah salah satu cara yang efektif untuk mencegah tiga penyakit sekaligus. MMR adalah singkatan dari tiga macam penyakit infeksi yang paling rentan menyerang anak-anak di tahun pertama kehidupannya.

Anak-anak adalah kelompok usia yang paling rentan terinfeksi MMR karena daya tahan tubuhnya belum sekuat orang dewasa. Namun, orang dewasa yang memiliki sistem kekebalan tubuh lemah juga berpeluang untuk ketularan salah satu atau lebih dari penyakit ini.

Apalagi jika orang dewasa tidak mendapatkan vaksin MMR ketika masih kecil. Berikut penjelasan seputar penyakit campak, gondongan, dan rubella.

1. Meales (campak)

Measles atau campak adalah infeksi virus sangat menular yang menyerang pernapasan.

Virus penyebab campak dapat sangat mudah menyebar melalui percikan liur atau lendir yang keluar dari mulut orang sakit campak saat batuk atau bersin.

Penyakit campak juga mudah menular dari sentuhan langsung dengan cairan tubuh orang yang terinfeksi atau kebiasaan saling berbagi barang pribadi, seperti pinjam-meminjam alat makan atau minum dari gelas yang sama.

Gejala campak yang harus diwaspadai adalah:

  • Ruam merah di kulit
  • Batuk
  • Hidung mengeluarkan ingus
  • Demam
  • Bintik putih di mulut (bintik Koplik)

Campak yang sudah parah dapat menyebabkan pneumonia pada anak (radang paru), infeksi telinga, dan kerusakan otak. Komplikasi campak lainnya yang juga fatal adalah ensefalitis (radang otak) yang dapat menyebabkan anak kejang-kejang sehingga membutuhkan imunisasi.

2. Mumps (gondongan)

Mumps (parotitis) atau di Indonesia sering disebut dengan nama gondongan adalah infeksi virus menular yang menyerang kelenjar ludah. Setiap orang dapat terinfeksi gondongan, tapi penyakit ini biasanya terjadi pada anak berusia 2-12 tahun.

Virus penyebab gondongan menular lewat air liur (ludah) yang keluar bersama embusan udara saat orang sakit gondongan batuk atau bersin. Selain itu, si kecil juga dapat terkena penyakit ini jika bersentuhan langsung atau menggunakan barang seseorang yang terjangkit penyakit gondongan.

Gejala gondongan yang paling  jelas adalah pembengkakan kelenjar ludah sehingga area pipi dan sekitar leher terlihat bulat, bengkak membesar. Berikut adalah gejala gondongan lainnya:

  • Demam
  • Sakit kepala
  • Pembengkakan kelenjar ludah
  • Nyeri otot
  • Rasa sakit saat mengunyah atau menelan
  • Nyeri pada wajah atau kedua sisi pipi
  • Sakit tenggorokan

Kadang-kadang, virus gondongan juga dapat menyebabkan peradangan pada testis, ovarium, pankreas, atau meninges (selaput yang mengelilingi otak dan sumsum tulang belakang).

Tuli dan meningitis adalah risiko komplikasi lainnya yang mungkin terjadi akibat gondongan. Kondisi ini membuat semua orang membutuhkan vaksin MMR sebagai langkah pencegahan.

3. Rubella (campak jerman)

Rubella atau sering disebut dengan campak jerman adalah infeksi virus rubella yang menyebabkan kemunculan bintik-bintik ruam merah di kulit. Virus penyebab campak jerman juga menyebabkan kelenjar getah bening leher dan belakang telinga membengkak.

Tanda-tanda dan gejala rubella seringkali sangat ringan sehingga sulit untuk diperhatikan, terutama pada anak-anak.

Gejala campak jerman pada anak biasanya mulai muncul sekitar 2-3 minggu setelah tubuh mulai terpapar virus. Berikut gejalanya:

  • Demam
  • Sakit kepala
  • Hidung tersumbat atau pilek
  • Mata merah meradang
  • Ruam merah muda halus yang dimulai pada wajah dan dengan cepat menyebar ke batang tubuh, kemudian ke lengan dan kaki, sebelum menghilang dalam urutan yang sama.
  • Sendi-sendi tubuh sakit, terutama pada wanita.
Semua orang berisiko terkena rubella. Rubella pada anak dan dewasa pada umumnya dapat cepat membaik, tidak berbahaya, dan jarang menyebabkan komplikasi fatal.
Campak jerman barulah sangat berbahaya jika terjadi pada wanita hamil, khususnya dalam 4 bulan pertama kehamilannya. Jika seorang wanita terinfeksi rubella saat hamil muda, bayi berisiko mengalami kecacatan atau bahkan lahir mati.

Siapa yang perlu mendapatkan vaksin MMR?

vaksin mmr untuk bayi

Tiap orang wajib mendapatkan vaksin campak paling tidak sekali seumur hidup. Perlu diketahui bahwa di Indonesia, vaksin campak dan campak jerman (vaksin MR) sengaja dipisah dari vaksin gondongan karena gondongan sudah lebih jarang ditemui.

Namun, bukan berarti ini menjadi alasan buat Anda tidak mendapatkan ketiganya. Vaksin MMR penting untuk mencegah penyakit campak, gondong, dan rubella yang sebaiknya diberikan pada anak Anda.

Berikut kelompok orang yang perlu mendapatan vaksin MMR:

Anak kecil dan balita

Berdasarkan rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), vaksin MMR wajib diberikan pada anak mulai usia 9 bulan sampai selambat-lambatnya kurang dari 15 tahun.

Imunisasi yang mencakup untuk penyakit campak ini juga akan masuk ke dalam jadwal vaksinasi rutin selanjutnya. Jadwal imunisasi rutin akan diberikan pada anak di usia 18 bulan dan anak kelas 1 SD sederajat (usia 6-7 tahun) atau saat anak baru masuk sekolah, tanpa dipungut biaya.

Selain itu, anak-anak berusia 6-11 bulan yang akan bepergian ke luar negeri harus menerima setidaknya dosis pertama vaksin MMR sebelum keberangkatan. Sebelum berusia 12 bulan, anak-anak juga harus sudah menerima dosis vaksin kedua.

Orang dewasa

Menurut Center for Disease Control and Prevention, (CDC), orang dewasa berusia 18 tahun harus menerima dua dosis imunisasi campak sekaligus kapan saja jika tidak pernah mendapatkan vaksin ini sebelumnya.

Orang dewasa barulah hanya diwajibkan imunisasi susulan dengan 1 dosis saja apabila mereka dapat membuktikan bahwa mereka telah mendapat vaksin atau sudah pernah terkena penyakit MMR sebelumnya.

Siapa pun yang berusia 12 bulan atau lebih yang telah menerima setidaknya satu dosis vaksin MMR tetapi dianggap berpeluang besar terkena gondong, harus mendapatkan satu lagi vaksin gondong secepatnya.

Dalam semua kasus, dosis harus diberikan setidaknya 28 hari setelah imunisasi pertama atau kedua didapatkan.

Apa kondisi yang membuat anak bisa menunda imunisasi MMR?

bayi tidur setelah imunisasi

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), badan pengendalian dan pencegahan penyakit di Amerika Serikat, ada beberapa kelompok orang tertentu yang tidak perlu mendapatkan vaksin MMR.

Mereka adalah orang-orang yang tidak dapat terlindungi oleh vaksin secara langsung, tapi dapat merasakan perlindungan dari penyakit MMR apabila orang-orang di sekitarnya sudah melengkapi vaksin.

Hal ini membuat tidak ada lagi yang bisa menularkan penyakit MMR ke mereka. Efek ini disebut dengan herd immunity. Berikut adalah kriterianya:

  • Orang yang memiliki reaksi alergi yang parah atau mengancam jiwa terhadap neomycin atau komponen lain dari vaksin.
  • Orang yang telah memiliki reaksi serius terhadap dosis MMR atau MMRV masa lalu (campak, gondong, rubella, dan varicella).
  • Orang yang menderita kanker atau menerima perawatan kanker yang melemahkan sistem kekebalan tubuh.
  • Orang menderita HIV/AIDS atau gangguan sistem kekebalan tubuh lainnya.
  • Orang yang menerima obat apa pun yang memengaruhi sistem kekebalan tubuh, seperti steroid.
  • Orang yang sedang menderita TBC atau tuberculosis.

Selain itu, kemungkinan Anda diperbolehkan menunda vaksin MMR apabila memiliki kondisi berikut:

  • Saat ini memiliki penyakit kronis dari stadium sedang hingga parah.
  • Sedang hamil atau dalam program hamil.
  • Baru-baru ini menjalani transfusi darah atau memiliki kondisi yang membuat Anda mudah berdarah atau memar.
  • Telah menerima vaksin untuk penyakit lain selain MMR, dalam empat minggu terakhir.

Jika Anda memiliki pertanyaan tentang apakah Anda atau si kecil harus mendapatkan vaksin MMR, bicarakan dengan dokter.

Apa efek samping vaksin MMR?

bayi mandi saat demam setelah imunisasi polio

Vaksin termasuk ke dalam jenis obat sehingga bisa menimbulkan efek samping. Reaksi yang ditimbulkan biasanya ringan dan akan hilang dengan sendirinya. Namun pada kasus yang sangat jarang, bisa menimbulkan masalah serius.

Efek samping imunisasi campak, gondongan, dan rubella (MMR) tingkat ringan seperti:

  • Nyeri di bagian yang disuntik
  • Demam ringan
  • Kemerahan di area suntikan

Kalau ini terjadi, biasanya dimulai dalam waktu dua minggu setelah pemberian vaksin MMR. Kemungkinan untuk terkena efek samping akan menurun ketika ini adalah vaksin kedua si kecil.

Sementara itu, efek samping lain yang mungkin muncul tetapi sangat jarang terjadi yaitu:

  • Kejang (mata terbelalak dan tersentak) yang terjadi karena demam
  • Ruam seluruh tubuh
  • Trombosit rendah yang bersifat sementara
  • Tuli
  • Kerusakan otak

Kondisi berat di atas hanya terjadi 1 dari 1 juta pemberian vaksin MMR, sehingga kemungkinannya sangat kecil untuk menyebabkan cedera serius.

Efek samping anak  yang tidak diimunisasi lebih berbahaya karena ia tidak mendapatkan kekebalan tubuh untuk melawan penyakit menular.

Vaksin MMR tidak menyebabkan autisme

Vaksin MR atau MMR sering dikaitkan dengan autisme, padahal sebenarnya tidak. Berdasarkan keterangan dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), efek samping vaksin MR umumnya hanya berupa reaksi ringan.

Berdasarkan penelitian berjudul The MMR Vaccine and Autisme, kedua hal ini tidak memiliki hubungan. Autisme merupakan kondisi gangguan perkembangan saraf yang berhubungan dengan genetik sebelum bayi berusia 1 tahun.

Nah di usia sebelum 1 tahun itu adalah waktu anak diberikan vaksin MMR. Berdasarkan studi epidemiologi, hubungan antara keduanya sejauh ini belum ditemukan.

Kapan harus ke dokter?

vaksin mmr

Anda perlu membawa anak ke dokter ketika mengalami efek samping vaksin MMR yang berat. Apalagi jika dtambah jika anak memiliki tanda-tanda reaksi alergi berat yang bisa mengancam jiwa, seperti:

  • Wajah dan tenggorokan bengkak
  • Kesulitan bernapas
  • Denyut jantung cepat
  • Kelelahan
  • Gatal-gatal

Tanda-tanda di atas biasanya akan dimulai beberapa menit sampai jam setelah vaksin diberikan. Saat membawa anak ke dokter, beritahu petugas medis bahwa ini adalah kali pertama si kecil mendapat vaksin MMR. Ini akan membantu dokter dalam mengenali kondisi anak.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Mengenal Berbagai Efek Samping Imunisasi: Bahaya Atau Tidak?

Jangan sampai berbagai efek samping imunisasi (vaksin) bikin Anda takut apalagi ragu diimunisasi. Pelajari dulu seluk-beluknya di sini, yuk.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Imunisasi, Kesehatan Anak, Parenting 16 Oktober 2020 . Waktu baca 12 menit

11 Prinsip Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut Sehari-hari

Banyak kebiasaan sehari-hari yang tanpa Anda sadari dapat berdampak negatif pada kesehatan mulut dan gigi. Begini cara mengakalinya.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Gigi dan Mulut, Hidup Sehat 16 Oktober 2020 . Waktu baca 6 menit

Pilihan Obat Sakit Gigi Antibiotik dan Apotek yang Ampuh untuk Anda

Obat apa yang Anda andalkan ketika sakit gigi menyerang? Berikut adalah obat sakit gigi paling ampuh yang bisa dijadikan pilihan!

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Gigi dan Mulut, Hidup Sehat 16 Oktober 2020 . Waktu baca 13 menit

Alergi Binatang Kucing dan Anjing: Penyebab dan Cara Mengatasinya

Suka gatal dan bersin saat di dekat hewan berbulu? Bisa jadi itu pertanda Anda alergi binatang seperti kucing atau anjing. Cari tahu di sini.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Novita Joseph
Alergi, Penyakit Alergi Lainnya 15 Oktober 2020 . Waktu baca 8 menit

Direkomendasikan untuk Anda

daging ayam belum matang

4 Penyakit Akibat Makan Daging Ayam Belum Matang (Plus Ciri-cirinya)

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 20 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
perlukah lansia minum susu

Apakah Lansia Masih Perlu Minum Susu? Berapa Banyak yang Dibutuhkan?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 20 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
bahaya makanan asin

Kenapa Kita Tak Boleh Terlalu Banyak Makan Makanan Asin?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Dipublikasikan tanggal: 19 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
terlambat imunisasi

Hal yang Harus Dilakukan Orangtua saat Lupa Jadwal Imunisasi Anak

Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 16 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit