Gangguan Pencernaan yang Sering Dialami Bayi dan Anak-Anak

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 30 September 2020 . Waktu baca 10 menit
Bagikan sekarang

Kemampuan anak untuk mencerna makanan masih berkembang dan belum sempurna, terutama pada bayi. Kondisi tersebut membuat bayi dan anak sangat rentan terhadap berbagai masalah pencernaan. Padahal, asupan makanan sangat penting untuk pertumbuhan si kecil. Untuk itu, Anda perlu tahu apa saja gangguan pencernaan pada anak yang sering terjadi dan cara mengatasinya.

Jenis gangguan pencernaan pada bayi dan anak-anak

Walaupun sering terjadi, gangguan pencernaan pada anak sulit diketahui, terutama pada bayi. Ini karena ia masih belum bisa bicara dan hanya bereaksi lewat tangisan.

Berikut beberapa gangguan pencernaan yang sering terjadi pada anak dan bayi:

1. Diare

tanda bayi diare

Mengutip dari Standford Children, kondisi usus bayi yang masih lemah membuat makanan yang masuk ke perut tidak  bisa dicerna usus bayi sehingga mengganggu gerakan usus dan menyebabkan diare.

Selain terganggunya gerakan usus, rotavirus yang masuk ke tubuh bayi juga bisa menyebabkan diare. Beberapa penyebab diare yang termasuk gangguan pencernaan pada bayi dan anak yaitu:

  • Kurang menjaga kebersihan tubuh
  • Keracunan makanan
  • Alergi makanan
  • Mengonsumsi obat-obatan tertentu 
  • Kondisi kesehatan tertentu (seperti celiac, crohn, irritable bowel syndrome)

Sementara untuk untuk tanda dan gejala diare yaitu:

  • Anak mengeluh kram atau sakit pada perutnya
  • Perut anak kembung
  • Anak mengeluh mual dan ingin muntah
  • Anak sering kebelet buang air besar
  • Suhu tubuhnya meningkat alias demam
  • Wajah anak terlihat lesu dan lelah
  • Nafsu makan anak berkurang

Namun, gejala diare pada bayi berbeda dari anak usia balita ke atas. Berikut adalah gejala diare pada bayi yang harus orangtua tahu:

  • Kencing lebih jarang, bisa dilihat dari popok yang jarang basah
  • Bayi rewel dan nangis terus; tapi tidak keluar air mata sewaktu menangis
  • Mulut bayi kering
  • Bayi terus mengantuk dan lesu 
  • Kulit bayi tidak kenyal atau elastis seperti biasanya

Anda bisa berkonsultasi ke dokter untuk penanganan lebih lanjut.

Mengatasi diare yang termasuk gangguan pencernaan anak

Untuk mengatasi diare yang termasuk ke dalam gangguan pencernaan pada anak, ada beberapa cara yang perlu dilakukan sesuai dengan usia si kecil, yaitu:

  • Bayi baru lahir sampai berusia 6 bulan bisa diberikan ASI lebih sering dan lebih lama dari biasanya. Jangan berikan makanan atau minuman lain selain ASI eksklusif.
  • Bayi berusia 6 bulan ke atas juga masih terus diberikan ASI dan makanan pendamping yang sudah dihaluskan seperti bubur pisang.
  • Balita usia 1 tahun juga dapat diberikan ASI terus menerus dibarengi dengan MPASI dengan campuran telur, ayam, ikan, dan wortel
  • Balita usia 1 sampai  2 tahun disarankan untuk terus diberi ASI,dan makan makanan seperti sop ayam hangat. Jangan berikan makanan berminyak. 
  • Balita umur 2 tahun ke atas, berikan makanan sehat yang umum seperti nasi, pisang, roti, kentang, dan yoghurt 1 sampai 3 kali sehari 

Mengutip dari situs Children Hospital of Philadelphia, ibu yang sedang menyusui mungkin juga perlu menyesuaikan asupan makan mereka sendiri untuk menghindari makanan yang bisa memicu diare pada anak bayi mereka.

Hindari dulu makanan yang pedas, asam, dan berminyak. Pada anak yang usianya lebih besar, dokter mungkin akan merekomndasikan Anda menerapkan diet BRAT untuk mengatasi diare.

2. Muntah karena asam lambung atau kondisi lainnya

gangguan pencernaan pada bayi

Mengutip dari situs resmi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), muntah atau gumoh pada bayi bisa menjadi tanda kelainan bisa juga tidak. Gangguan pencernaan yang paling sering terjadi pada anak bayi adalah refluks gastroesofagus (RGE).

Itu adalah kondisi kembalinya isi lambung ke kerongkongan dan bisa terus keluar lewat mulut. Sampai bayi usia 1 tahun, RGE adalah hal normal asal si kecil tidak menolak minum susu dan berat badan bayi tetap naik sesuai usia. Bila kebalikannya, perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Sementara itu bila muntah terus menerus pada anak-anak sering disebabkan oleh refluks asam lambung, juga disebut gastroesophageal reflux disease (GERD).

Pada anak-anak, otot di ujung kerongkongan sering belum cukup kuat, sehingga refluks asam terjadi lebih umum pada anak-anak dibandingkan pada orang dewasa. 

Faktor-faktor yang berkontribusi terhadap gangguan pencernaan jenis refluks asam pada anak bayi tidak dapat dihindari, yaitu:

GERD adalah kondisi refluks asam yang paling populer pada anak-anak, tetapi ada juga gangguan lain seperti intoleransi makanan, eosinophilic esophagitis, dan stenosis pilorus. 

Pada anak-anak yang usianya lebih besar, kondisi ini bisa diakibatkan dari tekanan bawah kerongkongan atau dari otot kerongkongan yang melemah.

Gejala GERD pada anak

Gejala yang paling umum dari GERD pada bayi adalah:

  • Menolak makanan, berat badan tidak bertambah
  • Muntah, menyebabkan isi perut untuk keluar dari mulut mereka (muntah proyektil)
  • Muntah cairan hijau atau kuning, atau darah atau bahan yang terlihat seperti bubuk kopi
  • Memiliki darah dalam tinjanya
  • Mengalami kesulitan bernapas
  • Mulai muntah ketika masuk perkembangan bayi usia 6 bulan atau lebih

Sementara itu gejala GERD pada anak-anak dan remaja yaitu:

  • Memiliki rasa sakit atau rasa panas di dada bagian atas (heartburn)
  • Memiliki rasa sakit atau ketidaknyamanan saat menelan
  • Sering batuk atau mengi atau suara serak
  • Bersendawa berlebihan
  • Mual
  • Asam lambung terasa di tenggorokan
  • Merasa seperti makanan terjebak di tenggorokan
  • Memiliki rasa sakit yang lebih buruk ketika berbaring

Sementara gangguan pencernaan asam refluks dan GERD dapat hilang ketika anak bertambah dewasa, kondisi ini masih bisa berbahaya. Anda harus membawa anak Anda ke dokter jika anak Anda mengalami:

  • Pertumbuhan bayi yang buruk, sulit untuk menambah berat badan
  • Masalah pernapasan
  • Secara konsisten muntah dengan paksa
  • Memuntahkan cairan hijau atau kuning
  • Muntah darah atau bahan yang terlihat seperti bubuk kopi
  • Memiliki darah dalam tinjanya
  • Iritasi setelah makan

Di atas adalah tanda bahwa kondisi GERD sudah sangat berbahaya sehingga anak perlu dibawa ke dokter.

Pengobatan gerd pada anak

Orangtua bisa mengurangi risiko gangguan pencernaan GERD pada anak dengan mengubah gaya hidup dan pola makan. Jika perubahan ini tidak bekerja, dokter mungkin merekomendasikan obat atau operasi untuk mengobati GERD.

Untuk bayi:

  • Tinggikan kepala tempat tidur atau keranjang bayi
  • Pegang bayi agar dalam posisi tegak selama 30 menit setelah menyusui
  • Kentalkan susu dengan sereal (jangan melakukan hal ini tanpa persetujuan dokter Anda)
  • Susui bayi Anda dalam jumlah yang lebih kecil dan berilah makanan lebih sering
  • Cobalah makanan padat (dengan persetujuan dokter Anda)

Untuk anak-anak:

  • Tinggikan kepala tempat tidur anak.
  • Posisikan anak dalam posisi tegak setidaknya selama dua jam setelah makan.
  • Sajikan beberapa makanan kecil sepanjang hari, bukan tiga kali makan besar.
  • Pastikan anak Anda tidak makan berlebihan.
  • Batasi makanan dan minuman yang tampaknya memperburuk refluks asam anak, seperti makanan dengan lemak tinggi, gorengan atau makanan pedas, minuman berkarbonasi, dan kafein.

Anda juga bisa mengajak si kecil untuk berolahraga secara teratur untuk mengatasi GERD yang merupakan salah satu tipe gangguan pencernaan pada anak.

3. Sembelit

sembelit

Gangguan pencernaan pada anak berikutnya adalah sembelit. Menurut National Library of Medicine, bayi dan anak bisa mengalami sembelit karena berbagai hal.

Paling sering disebabkan oleh kurangnya asupan serat, kurang minum, dan peralihan ASI ke MPASI. Pada beberapa kasus, bisa juga disebabkan oleh kondisi medis yang memengaruhi usus dan penggunaan obat-obatan tertentu.

Tidak seperti orang dewasa, ciri sembelit pada bayi mungkin sulit untuk diketahui. Pasalnya, mereka belum bisa berkomunikasi dengan orangtua maupun pengasuhnya mengenai gejala sembelit yang ia rasakan.

Anak bayi yang mengalami gangguan pencernaan jenis sembelit akan menunjukkan gejala, seperti:

  • Kesakitan saat buang air
  • Ada darah pada kotoran bayi
  • Rewel
  • Feses bayi kering dan padat

Frekuensi buang air besar bayi baru lahir yang diberi ASI sekitar 3 kali sehari sampai usia usia 6 bulan. Setelah memulai makanan padat, ia akan lebih sering BAB. Namun, seiring waktu frekuensi buang air besarnya akan semakin berkurang.

Sementara pada bayi yang minum susu formula, normalnya akan buang air sebanyak 1 hingga 4 kali sehari.

Bila sudah mengonsumsi makanan padat, ia akan buang air lebih jarang, yakni 1 atau 2 kali sehari. Jika si kecil buang air besar lebih jarang dari frekuensi normal, ini bisa menandakan gejala sembelit.

Sementara pada anak, tidak ada ketentuan mengenai jumlah buang air besar yang normal, setidaknya paling sedikit 1 kali sehari. Oleh karena itu, orangtua bisa membandingkan frekuensi buang air besar saat sembelit dengan biasanya dan lihat gejala lain yang menyertai.

Umumnya gangguan pencernaan ini akan membaik dalam beberapa hari ketika anak meningkatkan asupan cairan dan makanan berserat, kembali olahraga secara rutin, dan minum obat pencahar alami maupun obat-obatan medis. 

Bila gejala sembelit tidak juga membaik setelah menerapkan perawatan di rumah, segera periksa ke dokter.

4. Intoleransi makanan salah satu gangguan pencernaan anak

perut kembung

Bayi yang lahir secara prematur, memiliki berat badan yang rendah, atau memiliki cacat bawaan pada ususnya biasanya mengalami intoleransi makanan.

Artinya, ada kandungan makanan yang dianggap tubuh sebagai ancaman sehingga menimbulkan reaksi muntah atau diare setelah mengonsumsi makanan tersebut.

Untuk kondisi ini, orangtua harus benar-benar memerhatikan apa pun yang dimakan si kecil. Kemungkinan Anda membutuhkan konsultasi dan pengobatan lebih lanjut pada dokter anak untuk mengendalikan gejala.

5. Perut kembung, jenis gangguan pencernaan anak

perut kembung pada anak

Perut kembung termasuk gangguan pencernaan yang tak hanya dialami oleh orang dewasa, anak-anak sampai bayi juga bisa mengalaminya.

Kembung pada bayi sering diserrtai gejala ganggguan pencernaan lain, seperti muntah, diare, sakit, perut, kolik, dan sembelit atau konstipasi. 

Beberapa kondisi yang menyebabkan bayi kembung yaitu:

  • Bayi sedang diare karena kadar kalium dalam perut berkurang
  • Bayi terus menangis karena banyak menelan udara
  • Bayi minum susu memakai botol yang lubang dotnya terlalu besar

Perut kembung disebabkan adanya banyak angin yang terperangkap di dalam perut anak. Si kecil bisa jadi rewel karena menahan rasa tidak nyaman pada perutnya saat kembung.

Untuk mengatasi gangguan pencernaan pada anak jenis perut kembung, Anda bisa melakukan beberapa hal, yaitu:

  • Menyendawakan bayi untuk mengurangi perut kembung
  • Istirahat yang cukup
  • Pada anak, berikan air putih agar tidak dehidrasi
  • Beri makanan berserat (bila perut kembung karena sembelit)

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia no. 28 tahun 2019, anjuran asupan serat harian untuk anak usia 1-3 tahun adalah 19 gram, sementara anak usia 4-6 tahun mencakup 20 gram serat per harinya.

Ibu bisa menambahkan apel, pir, dan kacang polong ke dalam camilan sehat si kecil. Selain itu, Anda juga bisa memberikan susu kaya serat untuk si kecil. 

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Benarkah Makanan Pedas Bisa Mengatasi Sakit Kepala Migrain?

Makanan pedas sering kali diandalkan untuk mengatasi rasa sakit kepala atau migrain. Tapi benarkah makanan itu dapat menyembuhkan sakit kepala Anda?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Nutrisi, Hidup Sehat, Fakta Unik 26 Oktober 2020 . Waktu baca 3 menit

Warna Dahak Merah, Hijau, Atau Hitam? Cari Tahu Artinya di Sini

Warna dahak yang normal adalah bening. Jika Anda mengeluarkan dahak yang berwarna, maka hal itu adalah tanda dari kondisi medis. Apa arti dari warna dahak?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Batuk, Kesehatan Pernapasan 26 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

Hemofilia

Hemofilia adalah kelainan darah akibat rusaknya faktor pembekuan darah. Ini adalah kondisi genetik yang menyebabkan perdarahan sulit dihentikan.

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Penyakit Kelainan Darah, Hemofilia 24 Oktober 2020 . Waktu baca 10 menit

Pertolongan Pertama untuk Mengobati Sengatan Lebah

Katanya, sengatan lebah bisa bikin seseorang meriang dan panas dingin. Lalu bagaimana cara pertolongan pertama dalam mengobati sengatan lebah?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Hidup Sehat, Tips Sehat 23 Oktober 2020 . Waktu baca 3 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Konten Bersponsor
keluarga sehat karena melakukan perilaku hidup bersih dan sehat

4 Tips Perilaku Hidup Bersih dan Sehat untuk Lindungi Diri dan Keluarga di Era New Normal

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Willyson Eveiro
Dipublikasikan tanggal: 27 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit
proses inflamasi

Proses Inflamasi Ternyata Penting Bagi Tubuh, Begini Mekanismenya

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Kemal Al Fajar
Dipublikasikan tanggal: 27 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
memanaskan makanan

Bolehkah Memanaskan Makanan Dalam Wadah Plastik di Microwave?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 27 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit
Penyebab sakit pinggang

Cari Tahu Gejala, Penyebab dan Pengobatan untuk Sakit Pinggang

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Dipublikasikan tanggal: 27 Oktober 2020 . Waktu baca 10 menit